“Mau makan apa?” “Ayam bakar aja kalau ada, Pak.” “Oke.” Aku memesan ayam bakar sementara Pak Andro memesan bebek goreng. Jangan lupakan es teh manisnya. Selama menunggu makanan datang, kami mengobrol. Bahkan setelah makanan datang kami makan sambil terus mengobrol. Sengaja kami memilih berada di pojokan dengan posisi duduk bersisian. Bahkan sesekali kedua bahu kami bergesekan. Sssrrtt des des des. Rasanya bikin hati sir-sir berdesir tapi tentu dong aku pura-pura cuek dan memilih fokus pada makananku. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa kali mobil Pak Andro berhenti, maklumlah sopir kan butuh istirahat juga. Yang kusuka dari Pak Andro ternyata dia bukan perokok. Meski dia bilang pernah mencoba merokok saat SMA tapi tidak dia lanjutkan karena tidak suka rasanya. “Capek

