Hari selanjutnya.
Setelah pulang sekolah, Rasya pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian lalu kemudian berniat datang kembali ke rumah Emira. Tapi Rasya urungkan, sebab dari pintu gerbang rumah Emira, Rasya melihat ada dua pasang sepatu di depan teras rumah Emira. Rasya yakin, itu milik Airin dan Dita.
Rasya berbalik dan kembali menuju rumahnya. Mungkin nanti malam Rasya akan kembali ke rumah Emira lagi.
Di rumah Emira,
Airin dan Dita berada di dalam kamar Emira, di lantai bawah. Mereka menanyakan keadaan Emira.
Masih bengkak dan belum bisa di pakai jalan, makanya Emira masih berada di dalam kamar.
" Ra, kenapa gak di bawa ke RS aja sih? ngilu aku lihatnya." Ucap Airin melihat ngeri lutut Emira yang sebegitu parahnya.
" Iya, mama juga pengennya gitu. Tapi masih nunggu Om Feri dulu."
Om Feri adalah adik dari mama nya Emira. Yang mungkin akan datang sore hari sepulang kerja.
Dan di rumah Rasya,
Rasya rungsing sendiri, kapan Airin dan Dita akan pulang? Sebab, Rasya ingin melihat keadaan Emira..Entahlah, mungkin karena ingin lihat Emira juga. Seharian belum ketemu soalnya. Jadi mungkin ada rasa kangen juga. ehm.
Sudah dua jam Rasya mengamati rumah Emira dari balkon kamarnya. Akhirnya melihat 3 perempuan di teras rumah Emira. Ya mereka Mama Emira, Dita dan Airin.
Rasya lihat bergantian Dita dan Airin menyalami dan mencium tangan mama Emira.
Rasya tidak langsung turun dan pergi ke rumah Emira, Rasya pikir, tidak enak hati nampaknya apabila langsung bertamu ke sana. Sedangkan tamu yang sebelumnya baru saja berpamitan. Biarkan Emira dan mamanya beristirahat dulu.
Malampun tiba,
Selepas maghrib tadi Rasya datang ke rumah Emira. Sempat memapah Emira untuk keluar kamar dan duduk di sofa di ruang keluarga. Bukan duduk, Emira rebahan di sofa panjang dengan bantal di sandarkan di tangan sofa. Dan Rasya duduk di ujung sofa tepatnya di bawah kaki Emira. Anteng bersandar pada pinggiran sofa. Sesekali ekor matanya melirik Emira yang sedang fokus dengan drama yang di tontonnya. Yang buat Rasya berfikir dalam diamnya, ternyata cewek tomboy suka juga nonton drama korea. Apakah ada aktor tampan yang Emira sukai? Seperti gadis-gadis lain pada umumnya.
Mama Emira sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk putrinya. Untuk Rasya juga, kalau tadi Rasya tidak menolak dengan alasan ' saya sudah makan tadi, tante'. Jadi, sepertinya mama Emira tidak jadi membuatkan makan untuk Rasya juga. Tapi, mama Emira sudah suguhkan air sirup serta cemilan untuk Rasya.
Emira dan Rasya tidak banyak ngobrol. Emira fokus dengan tontonan drakor di TV smartnya. Emira seakan tidak memperdulikan eksistensi Rasya di dekatnya. Padahal banyak yang Rasya ingin obrolkan. Tapi, tak apa, berada di dekat Emira seperti ini sudah cukup buat perasaan Rasya berbunga. Senang sekali rasanya.
Bukannya Emira sengaja nyuekin Rasya, hanya saja, Emira bingung. Kenapa Rasya datang lagi, seolah mereka dekat. Padahal belum lama kenal. Akrab pun juga enggak. Emira nya saja tidak sadar, bahwa Rasya yang sedang ingin pendekatan.
Mama Emira datang dari dapur membawa nampan yang di atasnya ada piring yang berisi nasi, capcay dan sepotong ayam goreng tepung yang di geprek dengan sambal yang diuleg kasar oleh mamanya dan juga ada segelas air putih di sana. Namanya ayam geprek kalau Emira bilang.
"Ra, makan dulu. Nak Rasya makan juga ya, tante siapkan." Sekali lagi Mama Emira mencoba menawarkan Rasya untuk makan.
Tapi, Rasya tetap menolaknya dengan halus. Beneran tadi Rasya sudah makan sebelum maghrib. Rasanya masih kenyang perutnya. Sebab, yang Rasya makan tadi selain nasi, Rasya juga makan seporsi siomay yang ia beli di abang-abang yang lewat di depan rumahnya. Jadi, beneran Rasya masih kenyang, bukannya gengsi.
Emira pun berusaha duduk, Rasya bangkit membantu Emira untuk duduk. Skinship seperti ini sudah ke tiga kali. Emira kikuk sendiri. Sementara Rasya dengan senang hati.
Nampan sudah berada di pangkuan Emira. Melihat ke samping, ke arah Rasya. Bodo amatlah, makan aja. Habis Emira sudah lapar tingkat kelurahan. Tapi, tidak lupa basa-basi pada Rasya. "Ras, aku makan dulu. Kamu kok gak mau makan juga sih?."
Yang di angguki oleh Rasya. "Silahkan, Ra. Aku beneran masih kenyang. Abis makan siomay juga tadi."
Emira pun khusyuk dengan makanan di hadapannya. Dalam batinnya pun bertanya-tanya. 'kenapa sih dengan ini anak, perasaan betah banget di sini, padahal dari tadi diem aja'. Sambil mengunyah dengan tenang, Emira memikirkan hal itu. Jadi tidak fokus dengan drakor yang dia tonton tadi.
Om Feri ternyata batal datang dan mengantar kan Emira ke rumah sakit. Katanya, tidak sempat. Tadi, Om Feri harus ke kantor cabang yang di Tangerang. Ada sedikit masalah di sana. Padahal sudah dipaksain jam 6 berangkat dari Tangerang menuju rumah Emira. Tapi ini sudah jam setengah delapan. Om Feri masih terjebak macet. Ada kecelakan di jalan yang akan Om Feri lewati. Macet total. Sebab mobil yang kecelakaan belum di evakuasi.
Mendengar kabar itu, ya sudah tidak apa-apa. Lagian Emira sudah bisa berjalan walaupun harus di papah. Tidak seperti kemarin malam yang bergerak saja Emira sampai panas dingin tubuh Emira merasakannya.
Emira menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Rasya mengamati, 'mungkin dia lapar, apa masakan tante nya enak banget?' yang tidak Rasya ungkapkan. Rasya batin saja.
Setelah Emira tandaskan Air putihnya. Kemudian meletakkan di atas nampan.
Rasya ambil nampan dari pangkuan Emira, kemudian Rasya bawa ke dapur. Dan diletakkan di tempat mencuci piring. Padahal tadi, mau Emira taruh di meja yang berada di depannya saja. Sementara itu Emira melongo di tempat, terkejut. Ada apa sih dengan Rasya. Perlakuannya benar-benar membuat Emira bingung.
Rasya sudah duduk kembali duduk di sofa, kali ini di samping Emira. Tidak dekat, masih ada space diantara mereka.
Emira masih mengamati Rasya sejak dari tadi melewatinya hingga mendaratkan bokonya di sofa. Di sebelahnya. Tentu daja denga kebingungannya.
"Ras, makasih dah bantuin naro nampan tadi." Ucap Emira akhirnya.
Yang Rasya menoleh ke arah Emira, pandangan mereka bersinggungan sesaat. Emira yang mengalihkan pandangan ke arah TV. Sementara Rasya, betah menatap perempuan di sampingnya.
"Sama-sama."
______________________________________