Hamil dan Pergi dari Alan

1351 Words
“Sialan, apa orang-orang itu tidak akan pergi? Bagaimana aku mau melangkah kalau begini?” Rose melihat di balik jendela rumah, ada dua orang suruhan Alan yang mengawasi rumahnya setiap hari. Dari pagi sampai petang mereka selalu saja ada di sekitar rumahnya dan membuat tidak nyaman. Pengacara yang dipakai Rose untuk mendampinginya menggugat Alan mendadak mengundurkan diri. Itu juga pasti karena ulah Alan sendiri. Lelaki itu benar-benar ingin memberi hukuman untuk Rose dengan cara tidak memberi kebebasan. Uang tabungan Rose juga semakin menipis untuk biaya sehari-hari. Dia bahkan hanya keluar sesekali untuk membeli makan. “Apa aku harus menghubungi daddy dan meminta bantuannya?” Rose menggigit kecil bibir bawahnya, sebab agak ragu dengan keputusan itu. Apa Carlton akan menerima dia lagi? Sementara dia tahu ayahnya sangat keras sekali. Namun, ketika berpikir. Kepala Rose mendadak pening disertai mual luar biasa hingga dia harus berjalan cepat menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana. “Ooeekk!” Rose terus-menerus muntah, perutnya sampai keram dan yang keluar pun hanya tersisa air. Dia pun bergegas membasuh mulut setelah sedikit membaik, kemudian duduk meringkuk di lantai kamar mandi. Rose begitu sadar, sekarang dia tengah hamil. Garis dua berwarna biru di testpack 3 hari lalu menunjukkan semuanya. Harusnya ini menjadi sebuah kabar bagus, bukan? Rose telah menginginkan anak selama 2 tahun. Sekarang anak itu hadir dalam rahimnya sesuai keinginan Rose. Namun, sialnya keadaan mereka malah seperti ini. Rose tidak mungkin memberitahu Alan. Bisa-bisa dia dituduh hamil oleh orang lain. “Aku tidak tahan lagi. Bagaimana aku bisa bertahan dengan anak ini kalau uangku semakin menipis? Aku tidak mau kehilangannya.” Rose menangis seraya memegang perutnya yang mulai menunjukkan bulatan kecil khas ibu hamil. Rose mengira kehamilannya pasti sudah menginjak dua bulan lebih sebab dia telah tidak haid tiga bulan belakangan. Rose awalnya hanya mau memastikan itu setelah 4 bulan, sebab dia memang memiliki kebiasaan haid yang tidak lancar. Rose pun beranjak dari lantai, dia tidak boleh begini terus. Alan akan semakin mengintimidasinya jika tahu Rose hamil. Rose mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. “Dominic ... Tolong aku!” “Ya, ampun. Tenanglah, kau mengagetkanku. Bicara pelan-pelan, ada apa, Rose?” Suara seorang lelaki bernama Dominic Collin Williams—kakak Rose yang tinggal di California AS terdengar tenang. “Tolong, aku dalam masalah besar, Dom. Alan menuduhku berselingkuh, dia juga mengusirku dari rumah. Sekarang aku bingung harus apa, aku tidak punya pekerjaan dan kelaparan. Apalagi aku sedang hamil ....” Dengan sedikit sandiwara dan air mata palsu, Rose tampak berhasil menghasut Dominic. Raut wajah lelaki dewasa itu langsung tegang di layar ponsel. “Dia melakukan semua itu?” Rose mengangguk pelan. “Aku tidak bisa menghubungi momy atau daddy. Kau tahu, aku dalam masalah besar kalau mereka tahu aku yang sekarang. Cuma kamu satu-satunya yang bisa menolongku, Dom. Setidaknya keluarkan aku dari sini, Alan tidak mau melepasku meski dia sudah mengusirku dari rumahnya.” Dominic tampak beranjak dari kursi kerjanya. “Beritahu aku di mana alamat rumahmu. Sekarang juga aku akan mengirim orang untuk mengeluarkanmu dari sana.” Rose tersenyum. Dia tidak memiliki pilihan lain, sungguh! Jika Alan mau sekali saja mendengar penjelasannya, mungkin Rose akan datang dengan membawa kejujuran ini. Mereka berdua memang menanti kehadiran seorang anak. Namun, lelaki itu sungguh mengecewakannya. *** Beberapa hari kemudian. Sementara itu jauh di luar kota, Alan tengah duduk di sebuah kelab malam dengan memperhatikan layar ponsel. Di sana tengah menampakkan suasana rumah Rose yang kecil dan pengap juga hening. Sudah hampir satu jam Alan hanya memperhatikan saja, sebuah kamera CCTV yang diam-diam ditempatkannya di rumah itu bekerja dengan baik. Rose tampak hanya terdiam meringkuk di sofa ruang tengah sambil menangis, tidak ada yang dilakukannya selain dari itu. “Apa dia tidak mau makan? Dasar bodoh, harusnya dia panggil saja selingkuhannya itu. Mungkin perutnya sekarang sudah terisi penuh. Bahkan mungkin lebih dari sekedar makanan masuk dalam perutnya,” gumam Alan ketika dikirimi video baru oleh orang suruhannya. Dia masih menganggap Rose berselingkuh hingga melakukan semua ini demi melihat dengan mata kepalanya langsung. Cctv di rumah memperlihatkan Laki-laki itu masuk seorang diri menuju kamar dengan leluasa. Dan memang hanya di bagian kamar utama yang tidak dipasang kamera sebab Alan ingin privasinya terjaga. Seluruh penghuni rumah pun begitu kompak, menyebut Rose kerap membawa laki-laki ke rumah jika Alan bekerja. Jika Rose tertangkap basah melakukan perselingkuhan, Alan akan lebih mudah menjatuhi Rose dengan hukuman yang setimpal. “Apa ini? Siapa dia?” Alan mendadak membenarkan posisi duduk setelah menerima sebuah video lanjutan dari orang suruhannya. Sebuah rekaman selanjutnya menampakkan sesosok lelaki bertubuh jangkung dengan jas hitam mendekati sofa yang ditiduri Rose. Alan sama sekali tidak mengenal orang itu. Rose yang terkulai lemas tampak sudah berpindah di kedua lengan lelaki itu, lalu mereka pergi dari sana. Beberapa detik kemudian, Alan menerima sebuah panggilan. “Maaf, Tuan. Nona Rose berhasil melarikan diri.” “Apa? Lalu apa kerjanya orang yang berjaga di sana?! Apa kalian tidak bisa menangani satu orang wanita?!” Alan langsung mengamuk. “Di—dia dibantu oleh orang tidak dikenal. Lelaki itu membawa bodyguard yang melindungi mereka, kami tidak bisa mempertahankan Nona yang hendak dibawa ke bandara.” “Bandara?” Alan mulai mendapat firasat buruk. “Ya, Nona Rose telah terdaftar di sebuah penerbangan menuju California. Kami tidak tahu karena ini mendadak sekali. Maafkan kami, Tuan.” Alan spontan bangkit dari duduk dengan napas tidak teratur. “California? Cepat cari tahu siapa orang yang membawanya! Kalau sampai kau kehilangan jejak, aku sendiri yang akan membunuhmu!” “Ba—baik, Tuan.” Panggilan berakhir, Alan berlalu dari tempat itu dengan membawa kekesalan. Apa yang ada di pikiran Rose sekarang? Apa itu adalah orang suruhan ayahnya? Tidak ... Carlton Williams tidak mungkin menyuruh orang dengan berpenampilan serapi itu untuk Rose. Apalagi, orang itu berani menyentuh tubuh Rose tanpa ragu. Lalu siapa yang datang? *** “Apa saja kerjamu, hah?! Cepat temukan wanita itu!” Brak! Alan melempar sebuah botol Wine kosong ke arah seorang lelaki hingga hancur berantakkan di lantai. Emosinya memuncak, itu dipicu oleh tidak becusnya mereka yang dia perintahkan untuk mencari keberadaan Rose padahal ini sudah memakan waktu satu bulan. California sepertinya menjadi tempat persembunyian terbaik untuk Rose sebab di sana adalah daerah kampung halamannya. Namun, yang Alan tahu Rose tidak bersama kedua orang tuanya. Seseorang menyembunyikan Rose. Siapa orang yang melakukan pekerjaan sebersih ini? Bahkan Alan sekalipun tidak bisa mencarinya. “Baik, Tuan.” Lelaki itu pun pergi. Alan mengerang kesal. Ini adalah orang ke lima yang dia suruh dan pekerjaannya sangat buruk! Orang sebelumnya telah disingkirkan, Alan bukan tipe pemaaf apalagi memberi kesempatan kedua bagi sebuah kegagalan. “Alan, apa yang terjadi? Ruanganmu kotor sekali.” Seorang wanita mendadak muncul di ruang kerja Alan. Itu adalah Shine—rekan bisnis yang sekarang tengah dekat dengannya. Shine melangkah mendekat, sesudah itu menaruh tas kecilnya di atas kursi sedangkan dia sendiri duduk di tepian meja kerja Alan. “Lalu wajahmu? Kau sedang marah? Karena apa?” tanya Shine lagi karena Alan tidak membalas pertanyaannya yang tadi. Alan tidak menjawab. Sudah cukup dia kesal hari ini, sekarang Shine mengganggunya? Namun, Alan tidak berniat mengusir wanita ini karena urusan pekerjaan. Mereka sedang bekerja sama dalam bisnis dan itu sangat menguntungkan untuk Alan, meski faktanya wanita ini menganggap lebih atas kedekatan mereka. “Apa karena Rose?” tanya Shine. Dia pun turun dari meja, lalu memutari Alan sejenak sebelum berakhir duduk di pangkuannya. “Lupakan dia, Alan. Dia Cuma wanita yang gemar berselingkuh. Sudah waktunya kau mengakuiku sebagai penggantinya, aku pastikan akan membuatmu tidak menyesal telah memilihku.” Alan masih diam ketika jemari lentik Shine mulai bergerak nakal di area rahangnya, menyentuh lembut rambut-rambut tipis yang tubuh di sana dan mencoba menggodanya. Shine juga seperti sengaja tidak mengancingkan pakaiannya dua baris, hingga belahan gundukan padat itu sedikit muncul. “Apa kau yakin mau menjadi pengganti Rose, hmh?” tanya Alan mulai memancing. “Kau mau?” “Dia adalah wanita yang sangat pintar dan agresif, aku tidak yakin kau bisa mengimbanginya. Apalagi, aku tidak suka wanita lemah.” “Mana kau tahu kalau belum mencobanya? Aku tunggu malam ini di apartemenku, hmh. Aku jamin akan memuaskanmu melebihi Rose.” Alan tersenyum miring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD