Semenjak kejadian itu, Rose tidak pernah kembali lagi ke rumah. Terhitung dua bulan kepergiannya, Alan enggan mencari keberadaan Rose atau menanyakan kabar wanita itu kepada siapa pun. Dia benar-benar dibuat kecewa, padahal dia telah menaruh kepercayaan sangat besar kepada istrinya. Sekarang Alan tidak lagi ingin menerima alasan apa pun.
“Maaf, Tuan. Boleh saya masuk?” Suara seorang wanita bernama Mia—asisten pribadi Sean, datang.
“Silakan.”
Wanita cantik berkulit kuning langsat yang mengenakan setelan rok dan atasan ketat itu muncul dari balik pintu. Lalu menghampiri Alan yang tengah duduk di kursi kerjanya.
“Ada surat untuk Tuan. Sepertinya ini dari Nona Rose,” ujar Mia sekaligus menaruh sebuah surat ke meja.
Alan segera mengambil itu, di sana dia melihat jelas sebuah surat gugatan cerai untuknya dari Rose. Lama menghilang tanpa kabar, ternyata wanita itu ingin bercerai dengannya.
“Semudah itu?” Alan bergumam kecil. Dia menebak Rose sepertinya sudah gatal sekali ingin terbebas darinya dan lari bersama lelaki selingkuhannya. “Datangi alamat ini, sampaikan pesanku padanya. Kalau aku tidak akan pernah mengabulkan permohonannya ini.”
Alan lebih dulu menyobek-nyobek kertas yang dipegangnya, lalu memasukkannya lagi ke dalam amplop sebelum menyerahkan itu kepada Mia. Di sana Alan hanya menyisakan sebuah alamat yang tertera, sepertinya tempat tersebut adalah rumah tinggal Rose sekarang.
Jika Rose bersikeras, wanita itu pasti akan datang menemuinya. Alan hafal betul tabiat Rose yang keras kepala.
***
Satu minggu kemudian, Alan bekerja seperti biasa. Menjalani aktivitas di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bahan baku otomotif itu membuatnya sangat sibuk, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain kecuali satu-satunya hal yang sangat mengganggu. Itu adalah ingatan tentang keseharian Rose yang manis dan terkadang selalu menantang.
Alan ingat, setiap kali dia pulang bekerja, Rose pasti belum tidur di kamar hanya untuk menunggunya. Gaun tidur paling seksi dikenakan, ditambah riasan wajah dengan warna bibir merah padam yang terus membangkitkan keinginan Alan setiap malam.
“Kau melakukannya lagi, Rose. Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain menggodaku?” Ingatan Alan akhirnya benar-benar berlabuh pada saat Rose menghiasi malamnya dengan sebuah godaan kecil.
“Tidak ... karena aku lebih senang menggodamu.” Tangan Rose mulai merayap di bahu Sean, berjalan mengelilingi lelaki itu sebentar sebelum berakhir berdiri di hadapannya. Kedua lengan Rose bahkan telah melingkar sempurna di tengkuk Sean.
“Katakan, apa yang kau inginkan? Apa kau ingin membeli tas baru? Atau pakaian baru?” tanya Sean.
“Aku menginginkanmu, Sean.”
Jawaban singkat Rose membuat Alan tersenyum manis.
“Berikan aku satu atau dua anak. Baru aku akan berhenti menggodamu.”
“Yakin bisa melakukan itu, hmh? Aku tahu kau lebih dari sekedar liar, Rose. Itu yang membuatmu sangat spesial di mataku,” ujar Alan yang mulai menyingkirkan anak rambut di kening Rose. Wajah cantik jelita keturunan Amerika asli itu tampak sangat nyata, membuat Alan begitu tidak sabar meraih bibir kemerahannya yang selalu manis.
Rose jelas tidak hanya diam, dia merapatkan aktivitas Alan di bibirnya, lalu mendorong lelaki itu hingga ke tempat tidur. Pakaian yang dikenakan Alan mulai ditanggalkan olehnya, membuat Alan segera menahan pergerakan Rose yang terlalu terburu-buru.
“Astaga, kau membuatku takut. Apa kau mau memaksaku?” tanya Sean.
Rose hanya menyeringai kecil, tetapi tetap melanjutkan keinginannya. Malam panas mereka selalu diawali oleh Rose sendiri, siapa lelaki yang tidak akan terpancing jika begini?
Bahkan Alan yang terkenal arogan dan ketus kepada semua orang, dibuat luluh oleh tingkah Rose yang satu ini.
“Sayang sekali ... ternyata kau melakukan itu tidak hanya denganku. Kau sangat mengecewakanku, Rose.” Alan bergumam ketika ingatannya berpindah pada pengkhianatan Rose pagi itu. Alan melihat dengan jelas, Rose tidur dengan lelaki lain di kamar pribadi mereka.
Brak!
Brak!
Terdengar suara bising dari arah luar, ada seseorang yang menggedor pintu ruang kerja Alan sangat keras. Tidak berapa lama, pintu terbuka bersamaan dengan keributan besar yang terjadi di antara dua wanita. Mereka adalah Rose dan Mia. Rose tampak memaksa masuk, padahal Mia telah melarangnya
“Tolong jangan masuk, Nona. Tuan Alan sedang sibuk.”
“Diamlah, apa kau tuli? Aku tidak peduli dia sibuk atau tidak, aku ingin bertemu dengannya!” Rose mendorong Mia dengan tenaganya, hingga wanita itu tersingkir meski terus mengikuti langkah Rose dengan raut wajah cemas.
Setelah Rose sampai di depan meja kerja Sean, pandangan mereka akhirnya bertemu. Rose pun mengambil sebuah surat dalam tasnya, lalu menaruh itu cukup keras ke atas meja.
“Cepat setujui ini!”
“Surat baru? Apa kau serius ingin bercerai denganku, hmh? Harusnya aku yang melakukan ini, Rose. Karena aku adalah korbannya. Kau bersikap begini ... apa kau begitu ingin bersama dengan bajjingan rendahan itu?” tanya Alan kepada Rose dengan nada santai.
“Kau sungguh berpikir begitu?” Napas Rose masih terengah-engah karena amarah.
“Lalu apa yang harus kupikirkan?”
“Minta maaflah karena kau telah menginjak harga diriku!” sambut Rose dengan nada keras. “Padahal aku telah menyerahkan semuanya, semua yang kumiliki sampai aku rela meninggalkan kedua orang tuaku demi kau. Tapi apa balasanmu? Kau menghinaku, bahkan ketika aku memohon seperti pengemis!” Rose semakin emosi.
Alan terdiam sejenak, dia tidak lagi kaget ketika Rose memberontak dan lantang seperti ini. Sebab ini adalah Rose yang dia kenal, tapi untuk perselingkuhan beberapa waktu lalu, Alan tidak akan pernah memaafkan itu.
“Kau sendiri yang menurunkan harga diri, Rose. Sekarang kau menyalahkanku karena tidak bersedia menandatangani ini?” Alan membuka kembali salinan surat baru yang dibuat Rose. Dia pun merobeknya langsung di hadapan wanita itu.
Rose tampak mengepalkan tangan seolah akan menghancurkan seisi ruangan ini. Namun, ternyata dia tidak melakukan apa-apa.
“Jangan harap aku akan melepasmu. Ini adalah hukuman sekaligus kebebasan bagimu, Rose. Kau mau pergi dengan lelaki lain? Pergilah Semaumu, tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu mendapat status resmi dari pengadilan. Kau tahu apa yang bisa kulakukan.”
Seketika Rose melangkah mendekat hanya untuk melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Sean. Itu terasa begitu perih, bahkan meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih pucat Sean.
“Dan kau tahu aku akan lebih dari sekedar menjadi peran antagonis dalam kehidupanmu. Sudah cukup aku menangis dan terhina oleh lelaki bodoh sepertimu, Sean. Akan kupastikan kau akan menyesal telah menuduhku atas fitnah keji itu.”
Alan tidak membalas, Rose pun hanya menatap bersama kilat amarahnya yang tajam sebentar sebelum berlalu dari ruangannya tanpa ingin berdebat lagi. Apa Rose akan mengajukan proses perceraian lagi ke pengadilan? Sebenarnya Alan tidak terlaku peduli.
Rose yang sekarang tidak memiliki apa pun termasuk harga diri, semua telah hilang di mata Sean. Namun, jika Rose kembali pada keluarganya, mungkin itu akan menjadi sedikit masalah bagi Sean.
“Setelah melakukan kesalahan pun, dia tetap menjadi yang paling ganas.” Alan tersenyum miring, dia semakin tidak ingin memberikan kebebasan untuk Rose karena telah berkhianat. Jika mereka tidak bercerai secara hukum, itu artinya Rose tidak bisa menikah dengan orang lain.
Alan akan dengan mudah membuat hidup Rose hancur sama seperti hancurnya kepercayaan Alan sekarang.
“Pastikan kau tetap mengawasinya, Mia. Siapa pengacara yang mendampingi Rose, laporkan padaku. Tidak akan kubiarkan dia mendapatkan keinginannya,” ujar Alan kepada Mia.
“Ba—baik, Tuan.”