Bab 5: Teman atau Bukan?

1002 Words
Bab 5: Teman atau Bukan?  *** "Dia teman sekelasku." Tidak ada yang salah dari jawaban Emily. Namun, raut Evaldo tidak berubah. "Oh ya?" Diliriknya tajam pemuda blonde itu. Yang ditatap justru balas menatap tanpa merasa terintimidasi. Malahan wajahnya bersemringah. "Halo. Namaku Louis," katanya tersenyum riang.  Mata Evaldo bergerak memperhatikan sekilas pemuda ini. Style pakaian rock dengan jaket kulit hitam, kaos putih dan celana jeans hitam. Kelihatan bukan pemuda baik-baik menurutnya.  "Apa kau kakaknya?" ujar Louis.  "Bagaimana kau bisa tahu?" Evaldo menaikkan sebelah alisnya.  "Wajah kalian sangat mirip, jadi kupikir kalian bersaudara kandung." "Dan kau sudah tahu itu, maka jangan mengganggu Emily barang semenit pun." Entah mengapa kata yang diucapkan itu, Louis mendengar sebuah ancaman tersirat.  Kemudian Evaldo berpaling kepada si adik. "Ambillah barang belanjaa yang mau kau bawa, setelah itu kita pulang." Ada ketegasan dalam nada perintah tersebut. Membuat Emily tidak dapat membantahnya. "Aku hanya mau beli miniatur ini saja, kok," kata Emily dengan kotak miniatur di tangannya.  "Bagus! Ayo kita pulang!" Emily mengangguk kecil pada Louis lalu berbalik dengan rangkulan lengan Evaldo dibahunya.  *** Baru kali ini bagi Evaldo memergoki Emily bicara dengan teman laki-laki. Benaknya merasa gerah saat melihat mereka berdua berdiri berhadapan dengan saling menatap bicara. Jemari panjang Evaldo menari di atas genggaman setir. Menahan cemburu yang sedang membakar dadanya sekarang. Dasi di kemejanya terasa mencekik leher. Padahal pendingin udara sudah dihidupkan. "Apa kau dan pemuda itu berteman akrab?" tanya Evaldo.  Emily mendengus dengan senyum masam. "Kami bahkan tidak seakrab itu."  "Kenapa? Kalian satu kelas bukan?" Evaldo tidak akan puas bertanya hanya dengan satu pertanyaan saja.  Emily menggeleng. "Dia seperti bintang yang bersinar di atas langit. Walaupun terlihat indah dan dekat, tapi dia sulit dijangkau olehku. Semua orang menyukainya." "Dan kau jatuh cinta padanya?" Suaranya menuduh. Membuat kening Emily merespon dengan kernyitan. Emily melempar tatapan tajam pada kakaknya yang sedang menyetir. "Aku tidak jatuh cinta pada manusia," tegas Emily dengan bibir mengerucut. Evaldo tidak merasa aneh dengan ungkapan itu. Sudah biasa dia dengar dari mulut manis Emily. "Makhluk dua dimensi yang jelas-jelas tidak hidup itu hanya bersifat sementara untukmu, suatu saat kau akan terpesona oleh seseorang yang nyata," ucap Evaldo. Dia khawatir sebenarnya. Khawatir kalau Emily sampai jatuh cinta pada lelaki lain.  Emily tidak bisa membantah lagi. Dia terdiam bingung. Tidak yakin dengan perkataannya sendiri.  *** Selesai dari toko anime siang itu Emily diantar ke rumah. Ketika mobil Evaldo berhenti di pekarangan istana mereka, dan saat Emily hendak membuka pintu, satu tangan pria itu menahan pergelangan sang adik tiba-tiba. Emily memalingkan wajah ke balik bahu. "Kau lupa sesuatu sebelum aku pergi," kata Evaldo mengingatkan.  Emily mencerna kalimat itu. Hingga kemudian dia menemukan arti dari ucapan kakaknya. "Satu ciuman sebelum pergi, kan?" kata Emily. Senyum Evaldo mengembang. Satu ciuman dari Emily seperti ritual penghantar keberuntungan bagi Evaldo. Dan gadis itu hampir tidak pernah absen mencium wajahnya di mana pun yang Evaldo pinta.  "Tetap di kursimu, sayang," kata pria itu. Melepas sabuk pengaman yang menahan tubuh depannya. Lalu Evaldo menyerongkan posisi yang membuat wajah mereka terlihat dekat. Rahang tegas Evaldo diraih tangan kurus gadis itu sembari memiringkan wajah dan kemudian menutup mata bersama. Evaldo meraup dan mendominasi ciuman mereka.  Akal sehat Evaldo nyaris hilang acap kali mereka bertukar ciuman bibir. Pria waras mana yang berciuman dengan adik kandungnya sendiri? Entah sejak kapan bibir Emily menjadi candu paling memabukkan: sebuah hasrat yang mendidihkan gairah seksualnya. Tapi, terhadap adik sendiri? Apa bukan sinting namanya? Namun, Evaldo melakukannya dengan akal yang sehat serta kesadaran penuh tanpa setetes alkohol.  Ting! Suara notifikasi masuk seakan berganti fungsi menjadi bel waktu habis. Terbukti dengan berhentinya Evaldo dalam kegiatannya. Evaldo tahu dia tidak boleh memperpanjang waktu ciuman mereka. Pokoknya tidak boleh. Lantas, dia menarik tubuhnya lagi ke kursi kemudi.  "Kapan kakak pulang?" Emily bertanya.  "Akan kupastikan tidak pulang terlambat." Dibelainya rambut Emily dengan sayang.  "Baiklah, aku akan menunggu untuk makan malam." Gadis itu melebarkan senyumnya.  Evaldo baru akan pergi setelah melihat Emily masuk ke dalam rumah.  *** Emily mengecek ponselnya. Barusan dia menerima pemberitahuan pesan masuk. Rupanya dari kontak bernama L yang sekarang dia ketahui milik Louis. "Aah, jadi L itu inisial namanya?" gumam Emily menyimpulkan saat membuka pintu kamar sambil membaca pesan masuk. Meletakkan paper bag ke meja belajar, dia mengetikkan balasan. Lihat, dia sampai mengabaikan miniatur yang sempat didambakannya sebelum mengenal L.  Sesaat Emily terpegun. Menyadari dirinya nyaris asyik sendiri chatingan dengan Louis. Seolah-olah mereka adalah teman akrab. Padahal di dunia nyata, mereka jarang bertukar sapa apalagi mengobrol. Emily mendengus ringan, kemudian menyudahi chatingan ini tanpa peduli jika ada pesan masuk dari Louis. Emily akan membuka dan membalasnya beberapa jam kemudian!  *** Evaldo menghela napas panjang. Karena tindakannya sendiri sejam yang lalu di mobil dan berciuman panas dengan adiknya sendiri, kini fokus Evaldo tidak dapat terarah. Wajah memerah Emily terus membayanginya. Menggoda sekali. Evaldo memijit keningnya pelan. Dia harus fokus untuk menyelesaikan sejumlah berkas laporan lagi di depan matanya itu.  Juga, kenapa dari tadi layar ponselnya menyala terus? Sehingga atensi Evaldo terus teralihkan oleh wallpaper di touchscreen itu. Wajah ceria Emily menghiasi layarnya penuh. Evaldo seperti merindukan seorang kekasih yang telah lama tak bertemu. Omong kosong! Dirinya dan Emily bahkan sepasang saudara, bukan kekasih! Evaldo pikir dirinya memang sudah gila mendambakan adik perempuan.  Ketika Evaldo memfokuskan pikirannya lagi, suara ketukan pintu s****n betul membuyarkan upayanya. Dengan mengendalikan dirinya ke sikap dingin, Evaldo berpura-pura sibuk membaca laporan ketika sekertarisnya masuk ke dalam. Dia meletakkan satu map lagi ke meja kerja bosnya. Sempat melirik sekilas layar ponsel Evaldo yang hidup dengan pencahayaan terang sehingga melihat wallpaper bergambar seorang gadis. "Ada yang ingin bertemu dengan anda, tuan Evaldo," katanya.  "Siapa?" sahut Evaldo sambil membubuhi tanda tangan.  Pada saat yang sama, seorang pria berjas kelabu menarik langkah anggun di lantai marmer sembari melepas kacamata hitamnya. Dia memasuki lift yang mengarah naik ke lantai teratas. Kurang dari dua menit dia sudah melangkah keluar lift dengan melewati dua lukisan abstrak yang menghiasi dinding krem lorong pendek ini. Tertuju pada satu tikungan di depan.  "Tuan Jeremy," jawab sekretaris itu.  Kemudian pintu ganda segera pria itu buka dengan angkuh. Seringai lebar menyapa Evaldo.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD