Bab 6: Kegaduhan Di Malam Hari
***
Evaldo mendengus ketika melihat senyum lebar Jeremy yang asal masuk ke ruangannya. Sekertaris kantor itu segera pergi dan meninggalkan kedua lelaki itu di dalam ruangan. "Aku tidak tahu kau akan datang hari ini," celetuk Evaldo di kursi putarnya. Padahal sebelumnya dia sudah menelpon Jeremy untuk datang ke kantornya kemarin, meski lelaki itu tidak menjanjikan kapan akan datang. Jeremy adalah rekan sekolah. Kedatangan teman masa sekolah dulu bukan hal mengejutkan apalagi merasa seperti reuni. Tidak. Mereka masih berkomunikasi dengan baik sampai sekarang walau via ponsel, karena kesibukan keduanya yang tidak memungkinkan punya waktu luang untuk bercengkrama.
"Aku sedang menganggur. Jadi kuputuskan untuk menemuimu karena kupikir kau jenuh di kantor," balas Jeremy. Pria pirang itu mendudukkan diri di sofa tanpa dipersilakan oleh pemilik ruangan. "Aku melihat pengumuman itu. Mengapa kau tidak memilih model terbaik untuk menjadi brand ambassador-mu?"
"Aku tahu hal seperti itu adalah jalan tercepat untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi, aku ingin memberikan kesempatan bagi semua wanita untuk menjadi model. Itulah ciri khas dari perusahaan kami." Jawaban sang direktur Xander itu sedikit mengejutkan Jeremy. "Itu bagus! Perusahaan berbaik hati kepada mereka. Tidak ada lho perusahaan bisnis yang seperti ini."
"Dan aku mengundangmu untuk menjadi juri tamu mereka," sambung Evaldo cepat, to the point. Membuat Jeremy diam sejenak kemudian mendengus dengan seringai. "Sebelumnya kau meneleponku, menanyakan apakah aku sedang sibuk atau tidak, lalu kujawab bahwa aku sedang menyelesaikan satu pekerjaan, dan kau menyahut untuk menemuiku segera tanpa menjelaskan rinciannya. Evaldo, rekanku, sobatku, kau tidak berubah sejak sekolah dulu. Dan aku selalu suka dengan kabar yang kau katakan. Bagaikan kejutan."
"Jadi?" Evaldo menunggu.
"Akan jadi berita heboh jika tahu aku menjadi juri mereka. Baiklah aku terima pekerjaan ini," tandas Jeremy dan hari itu mereka menyepakati kerjasama.
***
Evaldo membuka pintu kamar adiknya dan menemukan gadis itu masih asik bermain game online di komputer. "Emily kenapa kau belum tidur? Besok kau sekolah. Aku tak mau kau terlambat datang ke sekolah, ya." Evaldo menegur di ambang pintu. Sementara jam sudah menunjukkan setengah dua belas malam.
"Sebentar lagi, kak!" kata Emily tanpa menengok ke pria itu. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Tampak di layar komputernya menampilkan dua karakter kartun saling bertarung, dengan level nyawa hijau dan kuning bagi Emily. Meskipun mata sudah merasa kantuk, Emily percaya bisa mengalahkan lawan mainnya itu. Emily semakin tersudutkan dan tingkat nyawanya kian menurun hampir mendekati warna merah. Dia gemas sekali. Tidak mau kalah. Lantas dengan segenap kekuatannya dia mengerahkan lawan secara membabi-buta. Aksinya berhasil membuat level nyawa lawan menurun ke warna kuning. Emily menyeringai. Sebentar lagi dia akan memenangkan pertarungan ini dan mendapatkan koin emas! Ya begitulah tujuannya sebelum layar komputer berubah hitam, dan Emily tersentak mematung.
Lalu dia sadar dengan keberadaan sang kakak di dekatnya. Dengan horror Emily mendongak pada Evaldo. Colokan sudah dipegang tangan pria itu. Berarti penyebab komputernya mati adalah... "Kakaak!!!" teriak Emily meledak. Sedangkan Evaldo hanya menaikkan sebelah alisnya dengan muka sok innocent. "Tidur." Satu kata bernada perintah itu mengerucutkan bibir Emily. Emily tidak suka. Ingin marah atas perbuatan pria itu yang mematikan komputernya sembarangan. Padahal sedikit lagi dia mencapai kemenangan. Menjengkelkan sekali.
Tapi Emily tidak bisa membantah ataupun meneriaki kakaknya dengan amarah. Dia takut melihat wajah serius Evaldo. Akhirnya dengan cemberut Emily bangkit dari kursi kemudian naik ke atas kasur, berbaring sambil menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Setelah memastikan gadis itu meninggalkan komputernya, Evaldo beranjak mematikan lampu kamar sebelum menutup pintu dan dia menghela napas panjang. Walau cuma lima menit di dalam kamar adiknya tadi, Evaldo sempat kegerahan mendadak. Bagaimana tidak? Melihat Emily hanya mengenakan hotpants dan tanktop membuat percikan gairah muncul lagi di benaknya. Setidaknya dia masih dapat menahan binatang di dalam tubuhnya.
***
Mungkin paparazi tidak mudah mengenali seorang wanita yang keluar bergerombol bersama turis lain dari pintu kedatangan itu. Dia berjalan anggun dengan angkuh. Kacamata berlensa cokelat menutupi separuh wajah mulus wanita itu. Rambut sewarna digerai lurus. Pakaian semi formal berupa blazer krem dan celana jeans ketat yang membentuk kaki rampingnya dengan sempurna. Perjalanan dari California memakan waktu beberapa jam saja sebelum landing di bandara tujuan.
Bersama seorang wanita baya di samping, wanita berkulit eksotis itu membuka bibir merahnya. "Mama, kudengar Presdir Goldie sedang di Eropa? Aku melihat temanku berfoto dengannya. Lalu siapa yang mengurus perusahaan di sini?"
"Apa kau lupa, sayang? Putera sulungnya sudah diangkat menjadi direktur utama tiga tahun lalu," jawab mamanya santai. Memori kepala Margaret pun langsung teringat pada keluarga Xander. "Ah! Sekarang aku ingat siapa dia!" pekik Margaret tertahan.
Olivia berdecak sebal. "Kau harus mengingat semua anggota keluarganya. Semakin banyak pengetahuanmu, semakin mudah disukai orang saat bertemu dengan orang-orang sekelas mereka," kata mamanya. "Iya, iya~ aku mengerti. Aku menjadi seperti paparazi yang kepoin hidup orang lain." Margaret memutar matanya malas mendengar penuturan wanita baya itu. Lalu sebuah taksi ekslusif segera mengantar mereka begitu keluar dari gedung bandara.
***
Dua menit telah lalu sejak Evaldo duduk dipinggir ranjang sambil memperhatikan wajah terlelap Emily. Hari sudah pagi tetapi gadis ini masih betah di alam mimpi. Evaldo sudah menduga kalau Emily tidak akan bangun sesuai jam alarm berdering. Bahkan jam digital itu terlihat mengenaskan di lantai. Cara termanis membangunkan gadis kesayangan hanyalah dengan melakukan sesuatu yang lembut tapi membuatnya terusik. Lantas Evaldo merundukan punggungnya dan mendekat ke wajah adiknya. Dia mengecup bibir Emily. Tidak sekali. Berulang kali mencium singkat dengan gemas di tempat yang sama. Hingga kening gadis itu nampak mengerut.
Emily merasa tidur terganggu. Sangat terganggu. Bukan karena suara alarm. Melainkan sesuatu yang kenyal menekan-nekan bibirnya. Maka Emily terpaksa membuka matanya dengan berat. Dia mengerucutkan mata saat butuh beberapa detik untuk menyesuaikan pandangan buramnya sampai dapat mengenali wajah Evaldo di atasnya. Memenuhi seluruh pandangan Emily. "Ugh! Kakak~" rengek Emily terganggu.
"Bangun sayangku. Saatnya berangkat ke sekolah," kata Evaldo dengan suara semerdu lonceng. Mode suara yang sangat Emily sukai. Karena mendengarnya membuat dia seakan mendapatkan kenyamanan yang tak dapat dijelaskan. Emily tersenyum kecil. "Kakak habis minum apa sih?" tanya Emily tiba-tiba. Pertanyaan yang terdengar aneh bagi Evaldo yang berkedip bingung. "Kenapa memangnya?" balas pria itu.
Emily mempertimbangkan sejenak jawabannya. Kalau dia akan bicara jujur, tingkat kepedean kakaknya itu sering membuatnya sebal. "Aku ingin minum jus tomat." Benak Emily meringis saat sadar yang keluar dari mulutnya malah perkataan demikian. Tanpa disangka senyuman riang terbit di bibir Evaldo. "Baiklah tuan puteri." Lalu dia mengecup lagi bibir Emily sekilas sebelum menarik punggungnya tegak kembali. "Waktumu hanya satu jam untuk bersiap," kata Evaldo beranjak menuju pintu.
"Iya aku mengerti~" sahut Emily ketika pria itu menutup pintu kamarnya lagi. Dia beringsut duduk. Menguap sejenak sambil merenggangkan badannya. Gara-gara tidur kemalaman, kini dia harus terpaksa bangun dengan mata masih digantungi kantuk. Malas sebenarnya, tapi jika tidak pergi ke sekolah, kakak akan marah. Pria itu tidak mau dia mendapat nilai paling buruk di kelas. Baik kakak maupun orang tua sama saja! Namun, Evaldo tidak pernah menuntut nilai bagus kepadanya. Itu masih lebih baik daripada orang tua mereka.
***
Note: cerita ini sedang hiatus sampai penulis selesai sidang, ya. Kepoin juga ya novel "Yandere Obsession: More Blood" reverse harem lho alias banyak cogannya. Terima kasih!
PINDAH KE w*****d & f***o @elgacadistira