Amarah tanpa batas

423 Words
BAB 31 – AMARAH TANPA BATAS Butik Eksklusif – Milan, Italia Ruangan butik yang elegan kini terasa seperti medan perang. Liam menelan ludah ketika melihat Grayson berdiri di ambang pintu dengan pistol masih terangkat. Sorot mata pria itu begitu gelap, penuh amarah yang mendidih. "Grayson," Liam berusaha tetap tenang, tetapi nada suaranya sedikit bergetar. "This is unnecessary. Aku hanya datang untuk berbicara dengan Exelina." Grayson tidak bereaksi. Ia hanya berjalan pelan ke arah Liam, setiap langkahnya terdengar seperti dentuman kematian. "You touched what’s mine," suaranya rendah, tetapi begitu berbahaya. "And now, you’ll pay the price." Liam mundur sedikit, menyadari bahwa ia tidak dalam posisi untuk menang. "Aku tidak menyentuhnya," katanya buru-buru. "Aku hanya ingin melihat wanita yang berhasil menaklukkan seorang Grayson Walker." DOR! Peluru melesat dan menghantam bahu Liam. Pria itu berteriak, tubuhnya terhuyung ke belakang, darah mulai merembes dari jas mahalnya. Exelina tersentak melihatnya, tetapi ia tidak merasa kasihan. Ini adalah peringatan yang pantas. Grayson masih menatapnya dengan dingin. "Next time, I won’t miss your head." Liam menggertakkan giginya, menekan lukanya dengan tangan. "Kau benar-benar gila." "And you just realized that?" Grayson menyeringai kecil. "Keluarlah sebelum aku berubah pikiran dan menghabisimu di sini." Liam tahu ia tidak bisa menang kali ini. Dengan tatapan penuh kebencian, ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak darah di lantai butik. Saat pintu tertutup, Grayson segera mengarahkan pandangannya pada Exelina. "Are you okay, Nonaku?" Exelina mengangguk pelan, meskipun jantungnya masih berdegup kencang. "Aku baik-baik saja." Grayson mendekat, meraih dagunya dengan lembut, seolah ingin memastikan sendiri bahwa tidak ada goresan di wajahnya. "He won't come near you again," suaranya tenang, tetapi ada janji kematian di balik kata-kata itu. Exelina menatap matanya yang tajam, lalu tersenyum tipis. "Aku tahu. Karena kau tidak akan membiarkannya, kan?" Grayson menelusuri bibirnya dengan ibu jarinya, sebelum membisikkan kata-kata yang membuat Exelina merasakan getaran di sekujur tubuhnya. "I will destroy anyone who dares to lay a finger on you." Dan Exelina percaya. --- Liam Tidak Akan Berhenti Sementara itu, Liam berjalan tertatih ke mobilnya, wajahnya memerah karena amarah. Ia tidak bisa menerima penghinaan ini. Dengan napas terengah, ia mengangkat ponselnya dan menelepon seseorang. "Aku ingin kau mempersiapkan rencana berikutnya. Jika aku tidak bisa menyentuh Exelina, maka aku akan menghancurkan Grayson dari dalam." Suara di ujung telepon terdengar dingin. "Apa yang kau inginkan?" Liam menyeringai meskipun masih kesakitan. "Serang bisnisnya. Buat dia kehilangan segalanya." Ia menutup telepon, lalu menatap ke luar jendela dengan ekspresi gelap. "Let's see how long you can protect her, Grayson." Perang belum berakhir. Ini baru saja dimulai. --- TO BE CONTINUED…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD