Risma menatap nanar refleksi bayangannya di cermin,
sambil meratapi kalimat Chris yang terputar di otaknya bagai kaset pita yang rusak. Ia menangis sesenggukan seperti remaja konyol yang baru diputus kekasihnya. Riasan yang terpulas cantik telah luntur hingga warna hitam maskara turut membasahi pipi. Tiada lagi wajah bersemu merah dan cantik diterpa cahaya lampu pesta yang gemerlap.
Perasaannya kacau, mirip seperti cermin retak karena termuai oleh panasnya mentari. Pesta yang belum sepenuhnya selesai itu berakhir karena satu kekecewaan.
Drrt.
Panggilan masuk; ibu.
“…Halo?” Risma buru-buru mengusap ingus dan tangisnya.
“Halo, Ris? Gimana, pestanya lancar?”
Risma berbohong pada Chris—pasal dirinya yang belum izin pada ibu. Karena kenyataannya, ia telah menelpon wanita itu beberapa jam lalu untuk menyampaikan kabar pesta. Ia terlalu excited hingga bersorak di telepon tentang agenda interview yang berubah menjadi kencan mendadak ke Bandung.
Wanita yang ia panggil ibu itu tak masalah, justru beliau terdengar sama excited-nya karena Risma dipercaya untuk menjadi kencan pendamping bosnya malam ini. Beliau hanya berpesan, “Jangan malu-maluin bosmu, temennya konglomerat semua.”
Namun, ibu tak tahu kalau prosesi pesta ini berakhir mengecewakan untuk putrinya.
“…”
“Ris, halo? Putus-putus, ya?”
“Nggak kok,” ia mengusap ingus. “Pestanya belum selesai, buk. Masih banyak tamu, ini aku izin sebentar buat ke kamar mandi.”
“Oh, yaudah kalau gitu. Kamu nggak minum aneh-aneh, kan, di sana?”
Risma tertawa kecil, lalu mengucap ‘nggak’ dengan suara kecil.
“Buk, aku mau balik lagi ke venue, ditungguin Pak bos. Paling bentar lagi pulang.”
“Iya, hati-hati.”
Sambungan telepon terputus. Risma memasukkan ponselnya ke sling bag dan lanjut menghapus riasan. Beberapa saat lalu, ia memang izin pulang pada Chris—alibi untuk menutupi rasa sakit hatinya, lalu meluncur ke kamar mandi untuk ganti baju dan bersih-bersih.
Ia selesai setelah menghabiskan sekian menit di depan cermin dan kembali seperti gadis lugu yang clueless akan make-up. Kembali mengenakan sweater warna beige dan jeans denim, serta converse hitam belel yang tampak bertahun-tahun tak dicuci.
Risma mengalungkan sling-bag di bahunya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi perempuan.
“Lho, Farisma?”
Januar berjalan dari arah berlawanan. Pria itu masih di sini ternyata, pikir Risma. Ia tak memakai suit atau apapun, mungkin ikut ambil bagian di pengurusan event.
“Mau pulang?”
Gadis di depannya mengangguk.
“Sama siapa? Saya lihat tadi Chris masih stay di venue, kamu pesen taksi?”
“Pak Chris yang pesen taksi. beliau nyuruh saya nunggu di depan.”
Januar mengangguk paham, lalu berceloteh kecil tentang para tamu yang diam-diam membicarakannya karena mencuri highlight pesta. Ia juga memberikan compliment pada Risma karena membantu Chris menutupi status single-nya. Di sisi lain, Januar bersyukur atasannya mau membawa seorang wanita di hadapan kolega
Januar bodoh. Ia tak tahu Risma justru merasakan sebaliknya. Ia membatin miris, tersenyum kecil seperti biasa tanpa menyiratkan ekspresi sedih.
“Ya udah, take care.”
Mereka berpisah di koridor. Gadis itu berjalan melewati Januar untuk menuju area depan restoran. Ia duduk di salah satu kursi pengunjung untuk menunggu taksi jemputannya, meski tak yakin yang mana.
Pasalnya Chris tak bilang spesifikasi kendaraan yang akan mengantarnya pulang. Bos besar itu justru masih asyik di venue seperti yang Januar bilang, ia bahkan tak berusaha mengucap salam perpisahan atau sedikit pun terimakasih padanya.
Mulai hari ini, ia berniat untuk menormalisasi kelakuan Chris yang punya ‘sisi lain’ seperti tadi. Well, meskipun bukan suatu yang besar namun menoleransi habit seorang konglomerat lajang macam Christian harus dimulai dari sekarang.
***
“Bukain, Ris!”
Risma menatap aneh pada pintu itu. “Ini gimana caranya?”
Januar menepuk jidat. Ia maju beberapa langkah sambil terus merangkul Chris yang telah mabuk berat. Jarinya menekan beberapa digit angka di pintu masuk berfitur smart lock itu. Ketiganya masuk dengan susah payah karena si pria Chinese yang terbilang berbobot.
Baik, mari kita perjelas. Runut dari saat mereka di lokasi pesta hingga sampai ke villa pribadi milik Chris yang berakhir mabuk.
Saat itu pukul 22.25, Farisma masih dengan kesendiriannya di kuri depan resto. Taksi online yang dijanjikan Chris adalah omong kosong, karena tak satupun kendaraan yang singgah di sana selama berjam-jam. Ia mulai kedinginan dengan sweater yang tak cukup tebal itu. Kakinya cuma terbungkus jeans denim dan sepatu berbahan kanvas. Ia menerka-nerka apakah sebaiknya menghubungi bosnya dan meminta kepastian perihal taksi, atau duduk menunggu.
Siapa tahu Chris sedang sibuk dengan para kolega di sana. Namun, hingga pesta mulai bubar pun, Risma masih mematung seperti orang t***l.
“Farisma, kok kamu masih di sini?” Januar mendadak datang dengan tas dan jaket yang tertenteng. “Taksinya belum dateng?”
Risma menggeleng, memeluk dirinya yang diselimuti angin dingin.
“Bentar,”
Beruntung, pria yang menjabat sebagai asisten bosnya itu mau membantu menghubungi Chris yang masih sibuk di venue. Ia menelpon kilat, menghubungi nomor bosnya namun justru ngacir ke belakang usai mendapat jawaban.
Risma hanya memasang muka cengo seperti, Lah gimana si, pak asisten?
Penasarannya terjawab beberapa saat kemudian, ketika Januar justru muncul Bersama Chris,
yang gelendotan di bahunya.
Apa pria itu mabuk?
“Risma, tolong kamu bukain mobil item yang paling utara, ya!” ucap Januar yang nampak kepayahan.
Gadis itu langsung paham—ia bangkit untuk menuju mobil yang dimaksud. Meski masih shock mengetahui bosnya teler, ia tetap membantu Januar yang berusaha membopong Chris.
Mereka memposisikan tubuh pria berkulit pucat itu di kursi penumpang, memastikan bahwa ia tidur dengan posisi nyaman. Sementara Januar maju ke kursi kemudi, Risma mengambil tempat di samping Chris untuk menjaganya.
Bau alkohol menyeruak di Honda CRV itu. Lalu memenuhi rongga paru-paru Risma yang masih tabu dengan aromanya. Ia tak tahu seberapa banyak prianya minum, namun yang pasti tak sekedar satu-dua gelas yang ditenggak.
Mobil Januar memakan lima belas menit untuk sampai di private villa milik Christian, yang berlokasi tak jauh dari restoran..
Risma berbinar saat melihat rumah kabin yang mengombinasikan unsur modern dan konsep hutan, agak asing namun indah dan tampak homey. Pekarangan depan rumah itu ditumbuhi bunga sepatu yang berjajar rapi, jauh dari kesan horror meski letaknya cukup di pelosok. Ada beberapa lampu di sepanjang jalan menuju rumah itu—mirip lampu taman.
Begitu pintunya terbuka, lampu rumah otomatis menyala. Mereka masuk untuk segera meletakkan tubuh bongsor itu ke sofa. Januar segera berlari ke dapur untuk mengambil sebaskom air dingin—katanya untuk mengusap tubuh Chris. Setidaknya ia bisa menghilangkan bau alkohol di tubuh pria itu.
Sementara bosnya terpejam, Risma berinisiatif untuk melepas beberapa kancing bagian atas. Tangannya mengusap buliran keringat yang mengalir di pelipis. Entah apa yang membuatnya hilang kontrol, Chris tak sebodoh itu untuk mabuk-mabukan di pesta orang, meski di tempat sendiri.
“Dasar…” Risma berucap pelan, membelai anak rambut yang lengket di dahi pria itu.
Ia baru saja hendak beranjak kalau tangannya tak tertarik secara tiba-tiba. Ia hampir terjerembab ke belakang, namun beruntung ia justru jatuh di pinggir sofa, tepat di depan d**a Chris.
“…P-pak?”
Kalau kalian bisa melihat, posisi mereka sekarang sangat canggung. Risma hampir tak bisa bergerak karena cengkraman kuat di lengannya. Hembusan hangat nafas Chris mengenai ubun-ubunnya, bahkan ia mampu mendengar detak jantung pria itu.
“Stay here…”
Risma menahan nafas, “Pak Chris udah sadar?”
“Don’t leave me.”
Ah, Risma tak menahu kebiasaan pria itu saat mabuk. Namun suaranya terdengar dua kali lebih manja. Tubuh bongsor itu menempel padanya, yang terasa seperti guling.
Ketika Risma bahkan ingin melepas pelukan dan cengkraman prianya, hal lain justru terjadi; tubuhnya ditarik untuk saling berhadapan, menyisakan jarak beberapa senti,
Chris memulai ciuman kecil di bibir Risma.
Bibir tebal kemerahan itu melumat lembut bibirnya, yang tentu masih tabu dengan hal ini. Chris meraih tengkuk Risma untuk membawa aktivitas mereka jauh lebih intens. Sementara sang gadis hanya terbelalak saat bibirnya dieksplor oleh sang dominan. Ia merasakan benda tak bertulang itu mulai menerobos, menginvasi rongga mulutnya.
Berkat ini, sekarang Risma jadi tahu bagaimana rasa alkohol meskipun harus melalui mulut Chris.