Risma tak mampu untuk berpikir waras ketika Chris mendekatkan tubuh dan mengecup pipi kirinya di depan Tuan dan Nyonya Arnold. Kecupan pipi berdurasi dua detik itu tak hanya membuat pipinya yang panas, namun seluruh tubuhnya ikut tremor. Beruntung ia menggenggam tangan prianya, kalau tidak, mungkin ia sudah melorot ke bawah dengan sangat tidak elitnya.
Kalau dirunut, telah begitu banyak kejutan yang ia terima hari ini; mulai dari trip dadakan ke bandung, tiba-tiba menjadi partner kencan Chris—yang notabene pemilik tempat ini, mendapat pengakuan sebagai kekasih di depan pemilik pesta yang dilanjut dengan kecupan kecil di pipi kiri.
Apalagi panggilan darling di akhir kalimat yang membuatnya semakin melayang. Ia merasa dunianya terpusat pada pria itu, perasaan asing itu muncul karena tak pernah sekalipun ia diperlakukan layaknya putri di pesta dansa,
Pipi Risma makin memerah ketika Pak Arnold berucap, “Wah, setelah sekian lama melajang. Selamat, Pak Christian. Semoga awet ya, kali ini dengan nona Farisma.”
Meskipun setelahnya Chris tertawa dan tak menganggap serius, Risma masih berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Ia tak bisa munafik untuk tak merasa terkejut, namun di sisi lain juga tak menampik rasa bahagia yang menyelimuti dirinya.
Ia sibuk memikirkan ucapan Chris yang mengakuinya sebagai kekasih, hingga tak sadar ketika Chris telah membawanya pergi ke stan minuman.
“Fa, you good? Mikiran apa, sih?”
Risma menggeleng, menahan senyumnya pada Chris.
Mereka berjalan beberapa langkah ke stan makanan. Di sana ada kue-kue pastri yang tersusun rapi dan tak kalah cantik. Beberapa nampak asing di mata Risma; mungkin ini kudapan para orang kaya.
Sambil berbincang ringan, ia mengambil sebuah kue berbentuk persegi panjang ditemani Chris yang sedang menggigit brownies.
“I’ve never tried this one.” Risma mengunyah kue itu perlahan.
“Financiér.” ucap Chris. “Khas Prancis.”
“Rasanya kayak almond.”
“It is. Itu emang almond.” pria itu melanjutkan. “Untuk seorang yang basic-nya bukan di kuliner, lidah kamu cukup peka ya.”
Oh, ayolah.
“Kan, rasanya memang almond, Pak Chris.” Risma menahan tawanya.
“Well, jarang loh, orang-orang yang bisa mengidentifikasi bahan makanan. Maksimal paling, rasa kacang gitu.”
Risma tertawa, masih dengan sepotong financiér di mulutnya.
“Kalau mau, saya bisa tunjukin kamu produk pastri lainnya di sini. Atau kita bisa explore Bandung buat kenalan sama kue-kue kesukaan saya, kamu pasti seneng.” mata Chris menyipit saat tersenyum. “Saya tahu tempat-tempat di sini yang jual kue khas asing, nggak kalah sama yang di hotel Michelin star.”
Dalam beberapa menit selanjutnya, mereka masih berpusat pada obrolan kuliner. Chris sibuk menjelaskan seluk beluk pembangunan bisnis kuliner ini sementara Risma hanya menyimak seperti murid. Musik yang mengalun di seisi area mengiringi malam yang semakin larut. Beberapa orang ada yang sudah meninggalkan venue, sementara si pemilik pesta masih asyik mengobrol dengan para kolega.
“Pak?”
Chris menoleh pada Risma. “Yes, darl?”
“Bapak nggak mau duduk di dalem aja?”
“Kenapa, kamu kedinginan, ya?” Chris sudah bersiap melepas jasnya.
“Bukan, bukan itu. Bapak kan, udah terlalu banyak minum. Apa nggak sebaiknya kita ke dalem sekarang?”
“Tenang. Saya masih kuat, kok.” pria itu tersenyum, lalu mengangkat gelas champagne-nya lagi.
Pak Chris, please…
Mereka saling tatap. Chris memandang heran pada Risma yang sekarang tengah menahan lengannya. Gadis itu menggeleng—berusaha mencegah prianya untuk lebih mabuk dari ini.
Ia melepas cekalan tangan itu. “Easy, darl. Saya udah puluhan kali minum ini sebelumnya. Toleransi alkohol saya tinggi, dan sebelum benar-benar mabuk, saya pasti berhenti, kok. I’m more than you know, okay?”
Risma terdiam. Ia hanya memandangi pria di depannya yang agak tipsy, namun enggan untuk menegur lagi.
“You know that Arnold guy?”
Pak Arnold? “Yang punya pesta, iya saya tahu.” jawab Risma.
“Tau nggak, beliau itu hobinya nyomblangin saya sama cewek-cewek kenalannya. Apalagi di pesta seperti ini, banyak yang nanyain saya udah punya calon apa belum, bla bla bla...” jelas Chris. “Makanya saya bilang aja kalau saya udah punya kekasih.”
Maksudnya gue? batin Risma sembari mengangkat alis.
“Maaf kalau terlambat, tapi saya mau pinjem kamu malam ini.” Chris terkekeh. “Jadi teman kencan sekaligus kekasih saya di depan orang-orang yang suka ngatain single.”
…
“Saya bosan dikasih pertanyaan monoton. Nggak apa-apa kan, kalau saya show off ke orang-orang kalau kamu kekasih saya buat malam ini aja?”
Oh.
Begitu.
Baiklah. Risma hanya menatap Chris dengan senyum yang perlahan memudar. Ia mengangguk kecil sebelum menggigit bibir dalam.
“Thanks.” pria berbalut tuksedo itu kembali meminum champagne-nya. “Anyway, kamu mau makan lagi? Biar saya ambilin kalau mau…”
Pria itu mencerocos tanpa memedulikan ekspresi gadisnya yang berubah. Merasa tak bersalah usai ‘menggunakan’ dirinya sebagai objek pengakuan di depan umum.
Lagi-lagi Risma dikecewakan oleh ekspektasinya. Ia dilempar ke dasar palung usai dibawa terbang. Tak hanya hati, harga dirinya seolah dipermainkan untuk menutupi realita pahit pria itu, hanya karena status lajang. Setidaknya, bisakah mereka briefing terlebih dahulu kalau Chris tak berniat membuatnya sakit hati?
Risma merasa bodoh sendiri.
Dasar menyebalkan.
Alkohol sialan.
Tepian gaun satin yang berkilauan itu ia remat, sembari menahan lelehan air yang siap meluncur dari pelupuk mata. Ia tak menangis karena Chris. Ia menangis karena ia kesal, dan ingin menampar wajah pucat pria Chinese itu. Namun tak bisa.
Wajah Risma menghadap lampu-lampu yang menggantung, tanpa menghiraukan Christian yang masih bercerita sana-sini. Di detik ini juga ia ingin berlari, merobek gaun satinnya dan kembali ke rumah untuk menangis sekeras-kerasnya.
Untuk pertama kalinya ia menemukan satu hal menyedihkan dalam diri Chris; pria itu sama bajingannya dengan lelaki yang dulu pernah dicintainya.
Mereka sama-sama menganggap wanita sebagai objek.
“Risma?” Chris kembali menggandeng tangannya. “Are you okay?”
Gadis itu melepas telapak besar Chris. “Saya mau ke kamar mandi.”
“Wait.” pria bermata sipit itu menahannya. “Ada apa di mata kamu? Apa riasannya luntur?”
Bukan, bukan riasannya yang luntur.
Risma menggeleng, “Nggak.” sialan, air matanya jatuh.
“Darl, are you crying?”
“Tolong jangan panggil saya darling.” ucap Risma yang membuat Chris mengernyit.
Keduanya sama-sama terdiam sesaat.
“…Fa, apa jangan-jangan kamu kecewa soal tadi?”
“Tidak, Pak Chris.”
Lalu kenapa kamu nangis?
“Saya cuma takut ibu nyariin saya, soalnya dari tadi saya belum ngabarin.”
Ooh. Chris terlalu mabuk untuk tak percaya.
“Oke, kalau gitu saya anter kamu pulang habis ini.”
“Nggak!”
Sentakan Risma membuat Chris terkejut. Untuk kedua kalinya, mereka saling terdiam.
“M-maaf, maksud saya nggak usah, lagipula bapak sedang di bawah pengaruh alkohol.”
Pria ini menghela nafas. “…Oke, kalo gitu saya panggilin taksi.”
Risma ingin mengelak, namun ia tak punya pilihan lain. Selagi pria itu kembali menenggak champagne, ia berjalan menjauh dari kerumunan sambil merutuk. Air matanya mengalir semakin deras.
Seharusnya Bu Asna yang berdiri di samping Pak Chris, bukan saya.