Usai perundingan serius, Chris dan anak buahnya memutuskan untuk mencari supplier lain. Mereka berangkat setelah mendapat info dari kolega yang bekerja di industri yang sama.
Pria itu berpesan sebelum berangkat, “Terserah kalau kamu mau tidur atau baca-baca di kantor. Saya nggak akan lama.”
Risma hanya mengangguk, lalu berjalan ke kantor bosnya. Ruangan 3 x 5 meter itu dipenuhi buku dan sebuah meja kayu. Ada lilin aroma terapi yang menyala di sudut meja dengan api kecil, mengeluarkan aroma vanilla yang manis. Gadis berstatus mahasiswi itu duduk di kursi milik Chris sebelum berjalan mendekati rak buku.
Ada puluhan buku tebal dengan konsep bisnis dan kuliner yang hampir sama. Namun tangannya justru mengambil sebuah buku prosa tipis, yang menyembulkan selembar foto kusut di tengahnya.
Ia tahu ini mungkin privasi sang bos, namun ia tak mampu menahan penasarannya
“Saya cuma mau lihat sebentar, jangan pecat saya Pak Chris.” monolognya.
Dengan perlahan, ia membuka halaman itu. Mendapati foto Chris bersama seorang gadis cantik—juga berbadan apik dengan lipstik merah menyala. Mereka tampak sangat bahagia, terlebih karena Chris mencium pipi gadis itu dengan mata terpejam. Mengekspresikan sayangnya yang nampak tulus.
Namun bagian paling mengejutkan adalah, Risma tahu siapa wanita itu. Wanita dengan wajah berseri yang sedang dicium oleh bosnya; Christian. Tak hanya ia, bahkan kalian juga akan mengenalinya.
Hanya saja, Risma terkejut kalau wanita masa lalau Chris adalah,
“Bu Asna?”
***
Rombongan Chris kembali tiga jam kemudian, bersama tumpukan kardus dan keranjang berisi bahan yang akan diolah menjadi jamuan pesta. Sang bos bahkan menelpon beberapa koki yang tak bertugas hari ini untuk membantu proses memasak. Hampir tiap orang di restoran itu sibuk, tak terkecuali Risma.
Gadis itu berinisiatif untuk membantu para staff; menyusun bunga, membawakan champagne, hingga menata letak kursi dan meja. Meskipun Chris telah melarang, Risma tetap ngeyel untuk memabantu sebab seluruh pekerja sibuk. Pria itu pun akhirnya mengalah dan membiarkan ‘teman spesial’ yang dibawanya ikut ambil bagian.
Hari semakin gelap, angin dingin mulai menembus kulit saat mereka sibuk menyusun champagne flute di meja. Seisi venue telah siap untuk pesta yang akan digelar satu jam mendatang. Sang bos yang sedari tadi memantau dapur, memutuskan menemui ‘kencannya’.
Kaki jenjangnya melangkah menuju venue yang tampak gemerlap oleh lampu. Ia genggam lengan gadis itu, lalu menyuruhnya menunggu di kantor.
“Kita pulang sekarang?”
“Nggak, kita di sini sampai pestanya selesai.”
Lho?
“Yang reservasi teman saya, beliau mau ngerayain anniversary pernikahannya di tempat ini.” ucap Chris. “And I’m invited.”
Pak Chris diundang?
“Ya. Dan kamu yang akan jadi kencan saya malam ini.”
“Oh…”
Oh?!
Risma berkedip beberapa kali, apa katanya?
Otaknya mendadak blank. Ia tak mampu memproses ucapan Chris—apalagi setelah kalimat ‘kencan’ itu diucapkan. Daya pikirnya seolah melambat. Ia memandang pria di depannya dengan mata membulat dan mulut yang setengah menganga.
“I know, ini terlalu mendadak karena pemilik pestanya sendiri yang berpesan ke saya. Sekalian mau meet up karena lama nggak ketemu, kami juga mau ngomongin bisnis.” jelas Chris. “So, you’re gonna be my date tonight.”
Kepala Risma menggeleng keras. “Nggak, Pak Chris. Saya nggak bisa jadi kencan Bapak, saya nggak bisa ikut ke pesta—”
“Sst, saya nggak nanya kamu mau apa nggak. Sekarang ke kantor saya, tunggu sampai Januar datang. Dia yang bawain gaun kamu untuk malam ini.”
“…Tapi, k-kenapa baru bilang sekarang sih, Pak Chris?!”
“Karena kalau saya bilang dari tadi sore, mungkin kamu bakal mesen ojek buat kabur.”
Bisa-bisanya beliau bercanda di kondisi sekalut ini.
“M-masalahnya, saya nggak pernah diundang ke pesta sebesar ini, Pak Chris. Saya takut mempermalukan bapak.” ia terdengar sangat cemas. “Event ini nggak mungkin dihadiri orang-orang seperti saya, kan?”
“Fa,” Chris mencengkram lembut bahu gadis itu. “Listen to me, ini bukan acara besar. Hanya pesta ulangtahun biasa, yang orang-orang lakukan nanti cuma makan dan ngobrol, kayak birthday party pada umumnya.”
Tatapan Risma beradu dengan iris gelap milik Chris.
“Dan kamu kencan saya, kamu yang bakal berdiri di samping saya di sepanjang acara. It will be fine, saya yang bakal handle semuanya. Kamu cuma perlu diam dan pegang tangan saya sampai selesai.” pria itu berucap serius. “Paham?”
Gadis itu masih pucat. Menggigit bibir seperti akan pidato di depan gubernur.
“Simpan insecure kamu, orang nggak bakal tanya macam-macam ke pasangan saya. Mereka sibuk show off dan minum, who cares anyway?”
Seolah tak mendapat opsi lain, Risma pun mengangguk. Ia menghela nafas lesu sambil memberikan tatapan memelas pada bosnya.
“That’s my girl.”
Usai Chris mengusak rambutnya pelan, Risma bergegas pergi ke kantor untuk menunggu Januar. Kakinya bergerak cemas sambil memikirkan cara untuk kabur dari situasi ini,
apa ia harus berpura-pura sakit?
Tidak, itu sangat klise. Akan sangat mencolok kalau ia berbohong. Apa ia harus menonton sesuatu hingga perutnya mual?
Ide itu tak terdengar bagus.
“Gimana dong, anjir?!” Risma mengacak rambutnya frustasi.
Ia memutuskan untuk meng-unlock ponsel dan memencet nomor milik Nova—yang sebenarnya sia-sia. Karena meskipun status panggilannya berdering, sohibnya itu tak segera mengangkat.
Risma semakin gugup ketika pintu kantor terbuka dan menampilkan Januar yang datang dengan paper bag berisi kotak ber-merk. Pria itu tersenyum santai seolah siap mendandaninya menjadi pusat perhatian dari gala malam ini.
“Risma, ya?”
Ia mengangguki pertanyaan Januar.
“Ini gaun yang dipesen Chris tadi, dipakai, ya!”
Orang itu nampak hampir seumuran dengan Chris, bicaranya lugas, tampak seperti tipe pria yang friendly. Ia bahkan menenangkan Risma yang sudah berkeringat dingin untuk rileks.
“Nggak usah gugup. Orang-orang di pesta nanti emang kebanyakan eksekutif, tapi mereka nggak terlalu peduli kok, sama pasangan tamu. Paling nanyain udah kerja apa masih mahasiswi? Gitu doang.” ia menjelaskan. “Habis itu bahas bisnis, udah.”
Januar pasti menengar semuanya dari Chris. Risma hanya tersenyum tipis, tak sanggup merespon apapun karena cemas yang meliputi tubuhnya.
Sementara itu, Januar yang masih stay di ruangan itu mulai membuka boks-nya. Karton kubus milik high-end brand itu berisi sebuah gaun satin warna biru langit yang sangat sesuai dengan kulitnya. Gaun panjang ini tak memakai banyak aksesori gemerlap, dan meskipun tak terlalu mewah, satin biru itu memancarkan kesan indah di setiap mata yang memandang. Desainnya simpel dengan model off-shoulder, namun tak terlalu mengekspos d**a dan punggung.
Sangat pas di tubuh Risma.
Tak cukup dengan gaun, ternyata Chris juga mendatangkan salah satu koleganya yang bekerja di bidang tata rias. Wanita itu datang dengan sekotak besar peralatan make-up setelah Risma mengenakan gaunnya. Ia mengaplikasikan skill riasan di wajahnya usai berkenalan.
“Kalau kamu cukup pakai make-up natural aja, sih. Karena aslinya udah cantik.” komentar wanita itu membuat klien-nya tersenyum malu.
Kurang lebih tiga puluh menit Risma habiskan waktunya untuk dirias. Eye-shadow yang terlukis di matanya berpadu dengan warna blush kemerahan tipis di pipi.
Setelah memulaskan lipstik, Risma muncul dengan balutan gaun di depan Chris. Menyeret sepatu heels sambil mengangkat gaunnya dengan hati-hati. Perlahan ia hampiri pria dua puluh delapan tahun itu yang juga tampak rapi berbalut tuxedo putih.
Mereka menghampiri satu sama lain di koridor depan kantor. Dengan netra yang menyiratkan kekaguman. Keduanya tersenyum
“Risma,” ucap Chris sambil mendekat. “Udah siap?”
Kencannya mengangguk. Tak mengetahui bahwa di dalam hati, gadis itu menjeritkan ketampanannya. Tubuh mereka merapat, saling bergandengan dan mulai berjalan.
Keduanya datang beriringan memasuki venue, persis seperti pasangan baru menikah yang bahagia akan satu sama lain. Gadis cantik yang menggandeng pria berwajah Chinese ini mencuri perhatian tiap pasang mata di tiap sudut area. Beberapa staff di sana tak menyangka bahwa gadis yang membantu mereka menyiapkan venue tadi bisa berubah secantik ini. Bahkan si pemilik pesta menyambut keduanya.
“Pak Rahardja?”
Chris menjabat tangan koleganya. “Pak Arnold.”
“Apa kabar?”
“Baik.”
Setelah menjabat tangan Chris, Pak Arnold menganggukkan kepalanya pada Risma sebagai bentuk penghormatan, “Nona.”
Yang juga dibalas anggukan kecil oleh teman kencan Chris itu.
Seperti yang diduga, mereka berbincang sambil mengomentari restoran milik Christian yang memilih lokasi jauh dari perkotaan. Tak lupa mereka mengusung bahasan bisnis yang membuat Risma menatap cengo tak mengerti dan wacana bermain golf yang sempat tertunda.
Di samping Pak Arnold, ada istrinya yang tampil cantik dengan gaun putih yang dilapisi kain kaca di bagian pinggang. Mereka sama-sama memegang gelas berisi champagne putih sambil tertawa-tawa.
Di detik itu, Risma sadar bahwa circle yang ditempati Chris tak diisi sembarang orang. Mereka terlihat seperti sekelompok orang yang tak ragu menghamburkan uangnya demi sekedar pesta.
“Kekasih baru?”
Oh, crap. Akhirnya pertanyaan itu muncul.
Sekarang tatapan Pak Arnold dan istrinya tertuju pada Risma yang sedari tadi diam tak berucap. Mereka sama-sama menahan napas, namun Chris nampak tetap stabil.
“Bukan, Tuan. Saya hanya—”
“Benar. Ini kekasih baru saya.” Chris menjawab santai,
yang otomatis membuat ketiga orang di sekelilingnya terkejut, terkhusus Risma. Ia mati-matian menahan gejolak keterkejutannya dan bersikap normal, ketika prianya justru menatap dengan mata penuh cinta di hadapan mereka.
Tarikan senyum pria itu membuat rona merah semakin menjalar ke pipi Risma. Sikap malu-malu si gadis membuat Pak Arnold maupun istrinya spontan tersenyum.
“Oh, ya? Siapa namamu, nona?”
“Farisma, Tuan.”
“Sembilan belas tahun.” Chris menambahkan. “She’s young. But mature.”
Risma memandang pria di sebelahnya, terkejut bukan main. Apalagi ketika Chris mengeratkan genggaman tangan mereka,
lalu memajukan tubuh untuk mengecup pipi kirinya dengan lembut. “Right, darl?”