“Dari mana, neng?” Itu ayah, beliau tengah sibuk memotong dahan-dahan kering di depan rumah. Matanya menelisik eksistensi putrinya yang baru tampak pagi ini—pucat, rambut kusut tak tersisir, dibonceng pria berjaket hijau; abang ojol. “Rumah temen.” “Nova?” Risma berdecak, “Temen aku bukan cuma Nova doang kali, yah.” wajah kusutnya mewakili mood pagi ini yang kurang bersahabat. Bibirnya kering, seperti orang yang telah puasa seharian. Jadi, usai Chris menghabiskan malam di kota kembang bersamanya kemarin, ada Januar yang tiba-tiba datang sambil mengetuk pintu vila dengan tak sabar. Mereka baru tidur 3 jam yang lalu dengan kondisi berkeringat pasca aktivitas malam. Pria ini—Januar, datang dengan kabar perusahaan yang kurang enak didengar. Ada urgensi yang musti segera ditangani dan Chr

