“Itu tadi siapa?” Pukul tujuh waktu Indonesia bagian barat, Risma melepas sepatu kets-nya di hadapan sang ayah. Wajah beliau masam. Ia tiba di rumah usai menghabiskan semalaman di unit apartemen milik Sam. Sebenarnya dia sudah mengirim pesan ke orang rumah terkait kepulangannya yang terlambat—namun beliau tak menyangka bahwa putrinya akan seterlambat ini. Apalagi dengan kondisi kusut dan rambut yang terikat seadanya, diantar cowok pula. Kurang nethink bagaimana lagi? “Temen, yah. Temen kampus.” “Kok nggak jawab pas semalem ayah telepon?” “Udah keburu off, neng lagi makan-makan sama kak Sam.” “Namanya Sam?” Risma mengangguk sambil berjalan melewati daun pintu. Ia melempar sling bag-nya sebelum menghempaskan tubuh ke sofa. Menghirup napas dalam-dalam, menatap plafon atap dengan sinar

