“Ris…” dari balik loker seragam kerja, Nova mendekat dengan ekspresi terkejut bukan main. “Kok lo udah masuk?” “Iya.” Farisma yang sibuk menata peralatannya hanya menjawab tanpa menoleh. “Ini baru beberapa hari, anjir. Lo udah sembuh?” “Gue nggak sakit, Va.” Sejujurnya, keputusan Risma untuk masuk kerja pagi ini didasari banyak pertimbangan. Meski diam-diam khawatir bertemu Chris, namun di sisi lain dia tak sanggup bila harus berbohong terlalu lama pada ayahnya. Risma hanya akan datang dan bekerja. Persetan dengan eksistensi sang bos, toh masing-masing punya tugas di lokasi yang berbeda. “Gue nggak mau potong gaji.” “Ck, ck. Dan rambut lo? Lo potong sendiri?” Kali ini Risma menoleh dengan senyum melebar. “Iya, bagus, nggak?” “Jelek banget sumpah.” Nova berkata jujur. “Mana nggak sa

