Acara yang telah dirancang Widya berjalan begitu meriah. Suara musik bercampur dengan gelak tawa para tamu undangan yang hadir pun menghiasi acara tersebut.
Tamu-tamu tersebut hadir dari kalangan pengusaha dan model. Termasuk artis papan atas. Baik sebagai MC maupun tamu undangan. Suasana tampak riuh penuh dengan kebahagiaan. Setiap tamu yang datang pun tidak putus memberikan selamat kepada Elang dan Widya atas anniversary pernikahan mereka yang keenam.
Diantara kata selamat yang terucap, terselip pula doa untuk mereka berdua agar segera memiliki momongan. Kado terindah yang diimpikan oleh setiap pasangan suami istri.
"Kalau anak kalian laki-laki, akan aku jodohkan dengan anakku yang kecil. Dia sangat cantik dan menggemaskan."
"Kami selalu berdoa untuk kalian berdua agar segera diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati."
"Tidak perlu berkecil hati. Teruslah berusaha dan berdoa, kami yakin kalian pasti akan mendapatkan kepercayaan itu suatu saat nanti."
Begitulah rata-rata doa tambahan yang terucap dari tamu undangan. Mereka sangat berharap Elang dan Widya segera diberikan kebahagiaan seperti mereka.
Widya yang belum mau memiliki momongan tentu saja hanya tersenyum. Sesekali terkekeh ringan untuk menutupi rasa tidak nyaman karena doa yang dianggap akan mendatangkan musibah tersebut.
Namun, sangat berbeda dengan Elang. Ia ikut mengaminkan doa yang diberikan para tamu untuknya dan Widya. Seraya berdoa, agar hati kecil Widya terketuk dan mengubah segala keputusannya. Betapa Elang bahagia jika Widya tiba-tiba saja datang padanya dan mengatakan siap untuk melakukan program hamil agar mereka bisa segera memiliki momongan.
Elang tersenyum tipis. Memandangi sang istri yang kini tengah mengobrol dengan rekan kerjanya. Tertawa dengan lepas, seakan tidak ada beban di dadanya. Padahal sebelum acara dimulai tadi mereka berdua sempat cekcok. Dengan Widya yang masih mengancam ingin bercerai jika sang ibu masih saja membahas tentang anak di depannya.
Cukup lama acara berlangsung. Hingga tawa yang tengah menghiasi acara tersebut berganti dengan kepanikan. Suara tamu undangan yang bertanya ada apa, kenapa, dan siapa? Ketika melihat salah seorang keluarga tuan rumah yang hadir tiba-tiba saja jatuh pingsan. Seketika menghentikan acara yang sedang berlangsung tersebut.
"Mama, aku mohon … jangan tinggalkan aku!" pinta Elang tiada henti. Menggendong sang ibu, yang tiba-tiba saja jatuh pingsan. Sigap ia membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Elang yang telah putus asa dengan segala keinginan sang ibu, semakin tidak tahu harus berbuat apa lagi. Keinginan sang ibu yang ingin memiliki cucu harus berseberangan dengan Widya, yang masih sibuk menjalani aktivitas sebagai seorang model. Jika begitu terus, maka tidak akan pernah ada jalan keluar untuk mereka, karena Elang pun tidak mau menikah lagi sebagai pilihan terakhir diantara dua masalah.
"Lang …!" seru Meri, ketika ia mulai membuka matanya. Kedua bibirnya terangkat, tersenyum kepada Elang yang sedari tadi menunggunya sadar.
"Mama membuatku takut," sahut Elang cepat. Meraih tangan sang ibu dan menggenggam dengan erat. "Jangan sakit lagi, Ma. Hanya Mama satu-satunya yang aku miliki. Setelah Widya tentunya."
"Sayangnya Mama tidak ingin menjadi ibumu lagi. Setelah mendengar keputusan yang kamu ambil, padahal Widya telah memberimu sebuah kemudahan. Tapi, nyatanya apa? Sangat sulit bagimu untuk memberikan cucu untuk Mama." Menepis tangan Elang, yang kini tengah menggenggam tangannya.
Meri merasa sakit hati. Tidak anak, tidak menantu, sama saja. Keras hati dan tidak mau menuruti permintaannya. Ibu mana yang tidak sakit hati jika dipermainkan seperti sekarang. Awal menikah, tunggu satu tahun sampai kontrak Widya selesai.
Usai kontrak, bukannya menepati janji Widya malah menerima kontrak baru demi karirnya agar lebih cemerlang lagi. Puncaknya di anniversary pernikahan mereka yang keenam ini. Widya janji akan memberikan kado berupa program kehamilan untuknya. Tapi, nyatanya apa? Kontrak baru selama dua tahun ke depan justru menjadi kado yang sesungguhnya.
"Aku tidak akan pernah bisa menduakan Widya, Ma." Sanggah Elang, dengan menekankan setiap kata yang diucapkannya. "Aku sangat mencintainya dan akan terus setia padanya. Jadi aku mohon, Mama sabar lagi. Menunggu dua tahun lagi bukanlah waktu yang lama, Ma."
Meri mendengus. "Mama tidak pernah memintamu untuk mendua. Tapi menikahi Yaselin agar kamu bisa punya anak. Kamu bisa melakukannya tanpa cinta dan berhenti ketika Yaselin hamil. Mama rasa itu tidak sulit dan tidak akan membagi cintamu kepadanya."
Tidak mau banyak bicara, apalagi menerima alasan Elang, Meri mengangkat satu tangannya. Membuat Elang menelan kembali kata-katanya.
"Sekarang kamu jawab, apakah mau menikah dengan Yaselin atau tidak. Kalau tidak, jangan pernah temui Mama lagi dan jangan terkejut ketika kamu mendengar Mama mati bunuh …."
"Ma, tolonglah!" potong Elang cepat. Sebelum Meri menyelesaikan kata-kata yang membuat Elang semakin terdesak.
Sakit rasanya diancam Widya dengan sebuah perceraian, maka lebih sakit lagi ketika wanita yang melahirkannya ke dunia mengancam akan bunuh diri.
"Tidakkah ada cara lain selain menikahi Yaselin?" Lirih Elang, dengan nafas yang tercekat. "Bayi tabung misalnya? Aku dan Widya cukup menyewa rahimnya saja, sehingga tidak merusak apapun dari Yaselin."
Meri menggeleng. "Bayi tabung butuh biaya yang sangat besar." Menatap tajam kepada Elang. "Bukan hanya biaya, tapi juga waktu. Bisa saja menunggu dari proses satu ke yang lainnya butuh waktu lama. Berbeda dengan menikahi Yaselin, kamu dan dia bisa memiliki anak dengan cepat. Tidak menutup kemungkinan setelah menikah dia langsung hamil."
Elang tersenyum tipis. Mengejek kepastian yang diucapkan Meri. "Mama pikir kalau aku dan dia menikah bisa langsung menghasilkan anak?" Kepalanya menggeleng. "Tidak. Tetap menunggu sampai Tuhan menjawab doaku."
"Sama saja. Tapi dengan begitu tidak ada biaya yang terbuang percuma." Meri menyipitkan matanya. "Menikah lagi, atau Mama bunuh diri?"
"Ma …"
Meri mengibaskan tangannya. "Pergi kamu! Aku tidak memiliki anak pembangkang seperti kamu!"
"Aku mohon mengertilah!"
"Pergi kamu!" Menarik selang infus yang sedang terhubung di punggung tangannya. Hingga mengeluarkan darah segar dari bekas jarum tersebut. "Kamu bukan anakku lagi!"
Meri meronta. Ketika Elang memeluk dan menghentikan hal gila yang ia lakukan.
"Lepaskan aku anak durhaka!!" pekik Meri. Terus mendorong dan memukuli Elang dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Lepaskan aku, Elang!!" Meri menangis. "Pa, jemput Mama. Agar Mama tak lagi disakiti anak dan menantumu. Jemput Mama, Pa."
Tangis Meri pecah. Diiringi kata-kata yang membuat hati Elang terenyuh. Sang ibu, terus menyeru nama sang ayah yang telah lama meninggalkan mereka berdua.
"Tidakkah Papa sayang kepada Mama? Sehingga pergi dan tak kembali lagi? Meninggalkan segala luka yang aku tanggung sendirian? Kamu kejam." Sambungnya. Masih dengan isakan yang terdengar begitu pilu.
Elang tergugu. Ini kali kedua ia melihat sang ibu menangis sesenggukan. Setelah kehilangan belahan jiwanya beberapa tahun yang lalu. Dadanya terasa sesak, tapi tak pula sanggup menerima tawaran untuk menikah lagi.
"Lepaskan aku! Aku mohon padamu, izinkan aku menyusul suamiku agar segala penderitaanku segera berakhir." serak Meri. Menahan gumpalan pahit yang kini mengganjal di pangkal tenggorokannya. "Izinkan aku pergi, agar tak menjadi beban bagimu." Menatap nanar kepada Elang yang masih memeluknya.
"Ya, Ma. Iya!" tegas Elang. Matanya yang memerah kini mulai meneteskan buliran bening. "A-aku akan menikah dengan Yaselin. Memberikan cucu untuk Mama."
"Terima kasih." Meri langsung memeluk Elang. Sebelum menangkup kedua pipinya. Mencium kedua pipi Elang dengan gemas. Layaknya seorang ibu yang tahu anaknya juara umum di kelas.
Elang hanya mengangguk. Memaksakan senyuman meskipun hatinya terasa sakit. Harus melanggar janjinya kepada Widya, untuk setia hingga mati.
"Widya, maafkan aku," gumamnya dalam hati.
"Yas, kemarilah!" pinta Meri, kepada Yaselin yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang ruang rawatnya. Cukup heran dengan keberadaan Yaselin. Karena seharusnya yang datang bukan Yaselin, tapi Widya.
Gadis itu menunduk. Tak mampu menatap wajah Elang yang mengeras, sarat akan kebencian padanya. Padahal Yaselin sendiri ikut tertekan dalam rencana Widya ini.
"Yaselin ...," seru Meri lagi, seraya melambaikan tangannya. Meminta Yaselin agar semakin mendekat padanya.
Namun, langkah Yaselin terhenti. Karena elang yang tiba-tiba saja bangkit dan mendekatinya. Menggenggam erat lengan Yaselin, tanpa peduli rasa sakit yang gadis itu rasa.
"Tolong turuti saja apa yang ibu saya katakan, kalau tidak ingin hidupmu menderita!" bisik Elang tepat di telinga Yaselin, dengan menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya.
Yaselin tergugu. Wajahnya terangkat menatap nanar kepada Elang. Dari tatapan matanya yang begitu sendu, Yaselin ingin menyampaikan ia pun tak sudi menikah dengan pria angkuh seperti Elang.
Namun, apa daya. Semua kendali ada di tangan Widya yang telah menukarnya dengan sejumlah uang.
"Lang, kenapa Yaselin ditahan begitu?" tanya Meri, membuyarkan tatapan kebencian antara dan Elang. "Daripada kamu tahan dia disana, lebih baik ajak kesini, karena Mama ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian." Sambungnya, dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Tidak perlu, Ma. Aku yakin dia sudah tahu tentang rencana Widya karena dia sendiri yang menjual harga dirinya demi sejumlah uang," dengus Elang, seiiring semakin kuatnya cengkeraman di lengan Yaselin.
Yaselin menggigit bibirnya. Menahan rasa sakit di hatinya, yang jauh lebih besar daripada cengkeraman Elang.
"Ck, kamu jangan sembarangan berbicara." Desis Meri. "Mama bilang bawa Yaselin kesini, ya, kesini agar Mama bisa menyampaikan kalau besok adalah pernikahan kalian. Biar sederhana, tak masalah asalkan jadi."
"A-apa, Ma?" Elang menoleh ke arah sang ibu. "Besok?"
"Iya, Mama tidak ingin kamu dan Yaselin berubah pikiran," sahut Meri acuh. Tidak peduli dengan Yaselin yang kini semakin ketakutan melihat tatapan tajam Elang yang kini menghunus ke dalam matanya.
"Selamat. Kau telah berhasil menggoda istri dan ibuku. Maka kau harus siap menghadapi neraka dalam hidupmu!" bisik Elang, semakin menekan Yaselin agar mundur dari rencana gila Widya.
Alih-alih menolak dan menangis minta ampun kepada Elang, Yaselin justru mengangkat wajahnya. Mengulas senyum kepada Elang, "Saya tidak akan pernah mundur. Kalau perlu malam ini juga kita akan menikah!" Balasnya sengit.