Mama selalu berbicara benar, apa adanya. Aku, sudah dewasa namun kekanakan. Mungkin alasan Bagas meninggalkan aku salahsatunya tidak dewasa, plin – plan bahkan tidak punya tujuan. Jadi, dia bisa seenaknya mempermainkan aku yang delapan tahun menyandang status pacar tanpa kepastian. " Mama tuh, mau ngomongin kamu tapi nggak enak." Kata Mama padaku setelah berultimatum hampir lima belas menit." Kamu kan sudah dewasa, masa harus Mama ingatkan." Aku menarik bantal sofa, membaringkan diri di sebelah Mama. " Namanya juga sifat manusia beda – beda Ma, bawaan dari orang tua aku kali." Jawabku alakadar," Lena nggak sih." " Apanya yang tidak, Arkan sendiri yang ngomong. Kalian itu sama – sama plin – plan, ambil keputusan A akhirnya yang dipilih C." Aku terkikik." Ma, gimana ya caranya aku bisa

