Malam itu...aku tidak langsung membiarkan kesadaranku hilang ditelan kantuk. Aku terduduk kaku di tepi kasur losmen yang mulai terasa akrab dengan aroma lembapnya. Dompet kumal itu terbuka lebar di tanganku, memperlihatkan sisa lembaran uang yang kutarik dari mesin ATM beberapa hari lalu.
Aku mulai menghitung. Satu per satu lembaran itu kupindahkan ke atas sprei kusam dengan jemari yang masih gemetar karena kelelahan.
Satu malam di losmen ini memakan seratus lima puluh ribu. Makan sehari, paling irit, tiga puluh sampai empat puluh ribu. Belum lagi ojek kalau kakiku sudah benar-benar mati rasa untuk berjalan. Aku menarik napas panjang, membiarkan dadaku terasa sesak oleh kalkulasi yang kejam.
Dua belas juta mungkin terdengar seperti harta karun bagi orang sepertiku, tapi di kota yang tidak pernah tidur ini, uang itu bisa menguap secepat embun pagi. Jika ritme pengeluaranku tetap seperti ini, aku akan bangkrut bahkan sebelum sempat melihat slip gaji pertamaku.
Aku menyandarkan punggung ke dinding beton yang dingin, menatap langit-langit yang retak. "Belum juga gajian... lubangnya sudah bocor di mana-mana," bisikku getir.
Pikiranku mendadak riuh. Kerja berat yang menghancurkan badan, tekanan dari senior di gudang, dan sekarang—ancaman kemiskinan yang nyata. Aku tertawa kecil, sebuah tawa kering yang pecah di kesunyian kamar. Aku baru saja memulai perang ini, dan aku tidak boleh membiarkan pertahananku jebol hanya karena salah hitung.
Aku menyambar ponsel, jariku bergerak cepat menelusuri kolom iklan kos murah. Hasilnya ratusan, tapi hampir semuanya meminta uang muka yang tidak sedikit. Aku menggigit bibir bawahku. Aku harus bertahan. Setidaknya seminggu lagi di sini, atau aku harus menemukan celah lain.
"Besok... besok harus dipikirkan lagi," gumamku sambil mematikan lampu.
Keesokan paginya tubuhku masih terasa seperti habis digilas truk. Namun beban di kepalaku terasa jauh lebih berat daripada nyeri di punggung. Di gudang, suasana mendadak berubah menjadi medan perang yang lebih liar.
"Kiriman menumpuk! Jangan ada yang lelet kalau nggak mau kena potong!" Suara Pak Hendra menggelegar, memicu adrenalin di antara debu-debu yang beterbangan.
Semua orang bergerak kesetanan. Aku mencoba menyesuaikan diri, menggunakan irama yang diajarkan Bima kemarin. Tidak asal hantam, tapi tetap efisien. Namun, kegilaan hari ini seolah menuntut lebih dari sekadar ritme.
"Reza! Bagian belakang masih berantakan, urus sekarang!" Teriak seseorang.
Aku segera berlari ke sudut gudang yang penuh dengan tumpukan kardus tinggi yang nyaris roboh. Aku mulai menyusunnya kembali, mencoba menciptakan keteraturan di tengah kekacauan. Baru saja aku mengangkat kardus ketiga, sebuah bentakan kasar menghentikan gerakanku.
"Eh! Jangan taruh di situ, g****k!"
Aku menoleh. Pria itu lagi. Orang yang sejak hari pertama memandangku seolah aku adalah noda di sepatunya. Dia berjalan mendekat dengan wajah merah padam, matanya menyalang penuh permusuhan.
"Itu jalur buat pengiriman siang! Lo malah bikin macet jalan!" bentaknya.
Aku mengernyit, mencoba tetap tenang di tengah kepungan tatapan pekerja lain.
"Tadi nggak ada yang bilang kalau ini jalur..."
"Ya sekarang gue bilang, paham nggak?!" potongnya kasar, melangkah satu tindak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku.
Aku menarik napas dalam, meredam emosi yang mulai mendidih di d**a. "Oke. Gue pindahin."
Aku mulai menggeser kardus-kardus itu, namun dia tetap berdiri di sana, bersedekap, seolah sedang menonton pertunjukan kuli amatir. "Pelan amat sih! Niat kerja nggak lo?!" sindirnya lagi.
Tanganku berhenti bergerak. Rahangku mengeras hingga gigiku berderit. "Gue lagi kerjain ini, kan?" jawabku pendek, menatapnya dengan pandangan datar namun tajam.
Dia maju selangkah lagi, suaranya merendah tapi penuh ancaman. "Nada bicara lo masih tinggi ya buat ukuran anak baru."
Aku menatap matanya dalam-dalam, menolak untuk tunduk. "Gue di sini buat kerja, bukan buat cari ribut," kataku pelan namun sangat jelas.
Suasana mendadak senyap. Dia menyeringai miring, sebuah seringai yang menjanjikan kesulitan lebih besar di hari-hari mendatang. "Ya sudah. Kita lihat saja berapa lama lo bisa bertahan di sini."
Aku tidak membalas. Aku langsung membelakanginya dan melanjutkan pekerjaan. Aku tahu, jika aku terpancing sekarang, aku bukan hanya kalah darinya, tapi kalah dari egoku sendiri.
Jam istirahat tiba, aku kembali ke sudut favoritku. Nasi bungkus di tanganku kuhabiskan dengan cepat. Aku tidak punya waktu untuk mengeluh atau merasakan lelah.
Bima datang dan duduk di sampingku dengan gaya santainya yang biasa. "Masalah lagi sama si Dedi?"
Aku menggeleng pelan sambil mengelap keringat. "Cuma... gangguan biasa."
"Dedi itu senior. Sudah lama di sini dan dia paling nggak suka kalau ada anak baru yang kelihatannya lebih tahan banting dari dia." Jelas Bima. "Dia merasa terancam sama orang kayak lo."
Aku menoleh, sedikit heran. "Terancam?"
Bima mengangkat bahu. "Lo masih ada di sini di hari keempat. Itu sudah cukup buat bikin egonya keganggu. Fokus saja sama kerjaan lo, nggak usah masuk ke dalam permainannya."
Aku mengangguk. "Iya, Bang."
Hening sejenak di antara kami, sebelum akhirnya aku memberanikan diri bertanya. "Di sini... ada yang tinggal di losmen juga?"
Bima tertawa kecil, seolah pertanyaanku adalah lelucon paling lucu hari ini. "Ngapain? Mahal, Za. Uang lo bakal habis cuma buat tidur di kasur bau."
Aku tersenyum kecut. "Iya, baru kerasa sekarang lubang di dompetnya."
"Anak-anak sini biasanya ngekos atau sharing kamar. Satu kamar bertiga, jadi bayarnya jauh lebih murah," tambah Bima.
Pikiranku langsung berputar. Sharing kamar. Itu jawaban untuk pertahanan finansialku.
Sore itu beban di pundakku terasa lebih stabil. Dedi berkali-kali lewat dan melempar tatapan sinis, tapi aku menjadikannya angin lalu. Musuhku saat ini bukan lagi mulut besarnya, melainkan jam dinding dan saldo di dompetku.
Setibanya di losmen, aku langsung mengunci pintu dan kembali menghitung uang. Angka yang sama, namun rasanya semakin mengecil setiap detik. Aku harus segera pindah.
Aku menatap ponsel di tanganku, ragu sejenak sebelum mencari kontak Bima. Jariku berhenti tepat di atas namanya. Aku menarik napas, lalu mengetik pesan singkat.
"Bang, kalau sharing kamar... masih ada slot kosong nggak?”
Aku menekan tombol kirim.
Aku kembali menatap langit-langit yang retak, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda.