Ponsel di saku celanaku bergetar pendek. Aku langsung menyambarnya, seolah benda retak itu adalah satu-satunya penyambung nyawaku. Sebuah pesan dari Bima muncul di layar.
“Ada. Tapi sempit. Kalau lo nggak masalah, besok pulang kerja ikut gue.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali. Sempit? Aku sudah terbiasa hidup dalam kesempitan selama bertahun-tahun di rumah itu, meski ruangannya luas. Yang kubutuhkan saat ini bukan kenyamanan atau estetika, melainkan benteng pertahanan finansial agar aku tidak berakhir menggelandang di trotoar.
"Gue ikut.” Balasku singkat, tanpa ragu sedikit pun.
Hari itu berjalan terasa lebih lamban. Bukan karena beban pekerjaannya, tapi karena pikiranku terus melompat ke depan—membayangkan tempat baru yang akan kutinggali. Selama ini, losmen hanyalah ruang tunggu bagi nasibku yang tak menentu. Sekarang, aku benar-benar akan menanam akar di titik nol.
Sore harinya, aku sudah berdiri di depan gerbang gudang, menunggu Bima. Tak lama, dia muncul dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
"Sudah siap jadi anak kos?" tanyanya dengan seringai tipis.
Aku mengangguk mantap. "Yang penting bisa buat meluruskan punggung."
Bima tertawa kecil, suara tawanya tenggelam di antara deru mesin truk yang lewat. "Jangan berharap lebih dari itu, Za."
Kami berjalan meninggalkan area industri, menyusuri jalan aspal yang semakin lama semakin menyempit menjadi gang-gang tikus yang lembap. Kami masuk semakin dalam, melewati barisan rumah tua dengan cat yang mengelupas dan suara televisi yang bersahut-sahutan dari balik jendela kayu.
"Di sini?" tanyaku saat kami sampai di depan bangunan dua lantai yang tampak seperti labirin petakan.
"Murah itu nggak pernah ada di pinggir jalan utama, Za. Harus masuk ke jantungnya," jawab Bima santai.
Dia mengetuk salah satu pintu triplek yang warnanya sudah memudar. Tak lama, pintu terbuka, menampakkan seorang pria kurus dengan rambut berantakan dan mata yang tampak kurang tidur.
"Ini orangnya?" tanya pria itu, melirikku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Iya. Temen kerja gue," jawab Bima pendek.
Pria itu mengangguk singkat, lalu memberi isyarat agar kami masuk.
Kamar itu... sangat jauh dari kata layak bagi kebanyakan orang. Ukurannya mungkin tak lebih dari tiga kali tiga meter.
Di lantai hanya ada kasur busa tipis yang sudah cekung di tengah, sebuah kipas angin plastik yang berputar dengan suara berisik, dan dinding kusam yang penuh noda.
Aku berdiri mematung sejenak, mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan ruang yang begitu sesak untuk dihuni tiga orang laki-laki dewasa.
"Namanya Ucup," Bima menunjuk pria kurus tadi. "Dia sudah lama di sini."
Ucup hanya bergumam tidak jelas lalu kembali merebahkan diri.
"Lima ratus ribu sebulan, dibagi tiga," lanjut Bima.
Otakku langsung bekerja. Seratus enam puluh ribuan per orang. Itu setara dengan harga satu malam di losmen tempatku tinggal sekarang. Tabunganku akan bernapas jauh lebih lega.
"Kalau lo mau, mulai malam ini juga bisa pindah." Tawar Bima.
Aku menatap sekeliling sekali lagi. Sempit, pengap, dan panas. Tapi inilah realitas. Inilah hidup yang sebenarnya sedang kujalani.
"Gue ambil," kataku tegas.
Malam itu aku kembali ke losmen untuk terakhir kalinya. Aku duduk di tepi kasur, menatap ruangan yang telah menjadi saksi bisu saat aku jatuh di hari pertama dan hampir menyerah di hari ketiga.
Aku pergi sekarang, bukan karena aku kalah oleh keadaan, tapi karena aku sedang menyusun strategi untuk naik level. Pelan, namun pasti.
Aku mulai memasukkan barang-berangku ke dalam tas. Memang sejak awal, aku tidak membawa banyak hal dari rumah itu. Tidak ada yang benar-benar menjadi milikku, kecuali satu hal yang paling berharga: amplop cokelat dari Ayah.
Aku mengambilnya, merasakan tekstur kertasnya yang kasar di jemariku, lalu menyimpannya di bagian paling dalam tas.
"Hidup gue mulai dari sini," bisikku pada kesunyian kamar. "Dan gue nggak akan berhenti sampai di sini saja."
Keesokan harinya, aku resmi pindah. Tanpa drama, tanpa perpisahan. Hanya satu tas ransel di pundak dan satu keputusan bulat di kepala.
Hari kerja di gudang berjalan seperti biasa, namun atmosfernya terasa sedikit berbeda bagiku. Ada rasa kepemilikan yang lebih kuat pada nasibku sendiri.
"Reza! Angkat ini semua ke belakang! Jangan pakai lama!"
Aku menoleh ke arah Dedi. Dia menunjuk tumpukan kardus yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari porsi biasanya. Jelas sekali dia sedang mencoba menekan titik jenuhku.
Aku menatap Dedi sebentar, cukup lama hingga dia terlihat sedikit tidak nyaman. "Ada masalah?" tanyaku dengan nada sedatar mungkin.
Dia menyeringai miring, menantang. "Nggak ada. Cuma mau lihat, lo itu kuat beneran atau cuma akting."
Beberapa pekerja lain mulai melambatkan gerakan mereka, menonton drama yang mulai memanas.
Aku hanya mengangguk pelan. "Ya sudah."
Aku langsung bekerja. Satu per satu kardus itu kupindahkan. Aku tidak protes, tidak memaki, bahkan tidak menunjukkan emosi di wajahku. Aku menerapkan apa yang diajarkan Bima—atur napas, gunakan ritme, fokus pada setiap gerakan.
Keringat mulai membanjiri kaosku, napasku mulai berat, tapi aku tidak berhenti. Satu per satu, tumpukan itu berkurang hingga tak bersisa. Saat kardus terakhir mendarat di tempatnya, aku menarik napas panjang dan menoleh ke arah Dedi.
Dia masih berdiri di sana, mengawasi. Kami bertatapan selama beberapa detik dalam keheningan yang tegang. Tanpa sepatah kata pun, Dedi berbalik dan pergi.
Aku tidak merasa menang, tidak juga merasa bangga. Tapi di dalam hatiku, ada sesuatu yang bergeser. Untuk pertama kalinya, aku didorong sampai batasnya, dan aku tidak jatuh.
Malam harinya aku duduk bersandar di dinding kamar baru yang kusam. Kipas angin tua berputar pelan di atas kepalaku, mencoba menghalau udara panas. Bima duduk di sampingku, sementara Ucup sudah mendengkur halus.
Aku menatap telapak tanganku. Masih kasar, masih ada bekas lecet yang perih, tapi rasanya jauh lebih kuat.
"Aneh ya," kataku lirih.
Bima menoleh sedikit. "Apa yang aneh?"
"Gue kira dunia gue kiamat waktu diusir dari rumah itu," aku menatap lurus ke arah pintu kayu yang rapuh. "Ternyata... itu baru permulaan."
Bima terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil—sebuah senyum yang penuh pengertian. "Selamat datang di dunia nyata, Reza."
Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepala ke dinding. Besok mungkin akan lebih keras lagi, atau mungkin ada tantangan baru yang lebih gila.