11. Kerja Cerdas

1155 Words
Tubuhku masih terasa seperti dipukuli setiap kali bergerak, tapi sekarang aku sudah mulai mengenali polanya. Rasa sakit itu bukan lagi musuh asing yang membuatku panik, melainkan kawan lama yang menyapa setiap pagi. Sakitnya tetap ada, menusuk-nusuk di setiap persendian, tapi mental gue sudah beradaptasi. Aku terduduk di lantai semen kamar yang dingin, menarik tali sepatu dengan gerakan yang lebih luwes. Bima sudah berdiri di depan pintu, siap berangkat. Sementara itu, Ucup masih terlelap, dengkurannya yang halus menjadi irama latar di kamar pengap ini. "Bangun jam segini terus setiap hari... bisa mati muda gue," gumamku sambil berdiri, merentangkan otot punggung yang masih kaku. Bima tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak khas orang baru bangun tidur. "Kalau nggak bangun, lo mati kelaparan duluan, Za. Pilih mana?" Masuk akal. Sangat masuk akal. Kami keluar bersama, menembus udara pagi yang masih menggigit kulit. Gang sempit itu masih sepi, hanya ada beberapa lampu jalan yang berkedip sekarat. Namun, langkahku hari ini terasa sedikit lebih ringan. Aku mulai menemukan cara untuk berdamai dengan keadaan ini. Di gudang, hawa panas sudah mulai terasa sejak matahari belum naik sepenuhnya. "Target hari ini tinggi! Jangan ada yang lambat, atau kita semua bakal lembur sampai malam!" teriak Pak Hendra, suaranya menggelegar di sela-sela suara mesin. "Iya, Pak!" sahut kami serentak. Aku segera masuk ke dalam ritme kerja. Angkat, taruh, putar, ulang. Semua berjalan normal sampai sebuah suara yang sangat kukenali menghentikan gerakanku. "Reza!" Aku menoleh. Dedi berdiri di dekat rak belakang, wajahnya tampak menyebalkan seperti biasa. "Lo bagian situ hari ini. Urus tumpukan karung itu sampai beres." Aku menatap area yang dia tunjuk. Letaknya di sudut terjauh, berantakan, dan dipenuhi karung-karung goni raksasa yang seharusnya dikerjakan minimal dua orang. Hari ini, aku sengaja dipasang sendirian di sana. Aku diam sejenak, menatap tumpukan itu, lalu beralih menatap Dedi yang sedang menyeringai tipis. Aku mengangguk pelan. "Iya." Tanpa ada debat dan tanpa banyak tanya. Aku tahu ini bukan soal pembagian kerja yang adil. Ini adalah ujian. Dia ingin melihat kapan aku akan berlutut dan memohon ampun. Aku mulai bekerja dari tumpukan paling bawah. Karung goni itu terasa kasar di tanganku, beratnya seolah ingin menghancurkan tulang bahuku. Satu, dua, tiga... napasku mulai memburu. Keringat turun lebih deras dari biasanya, membasahi kaos yang sudah kumal. Baru saja pekerjaan mencapai setengah jalan, tiba-tiba... Brak! Tumpukan kardus di sampingku roboh dengan suara menggelegar. Aku refleks melompat mundur. Debu-debu tua naik ke udara, menyesakkan napas. Beberapa kardus jatuh berserakan, menimpa tumpukan yang baru saja kubereskan. "Eh! Gimana sih lo! Kerja yang bener, dong!" Suara Dedi tiba-tiba muncul di belakangku. Aku menoleh cepat. Dia sudah berdiri di sana dengan wajah yang dibuat-buat kesal. Padahal semenit yang lalu, area ini kosong melompong. Aku mengernyitkan dahi. "Tadi jatuh sendiri, kayak ada yang dorong..." "Alasan lo!" potongnya kasar, suaranya sengaja ditinggikan agar semua orang menoleh. Beberapa pekerja mulai memperhatikan kami. Pak Hendra pun menoleh dari kejauhan dengan tatapan menyelidik. Aku menatap tumpukan itu sekali lagi. Jatuhnya sangat aneh, seolah-olah memang dipicu oleh dorongan sengaja. Tapi aku tidak punya bukti, dan berdebat dengannya hanya akan membuang tenagaku. Aku menarik napas panjang, meredam emosi yang nyaris meledak. "Ya sudah. Gue beresin lagi." Aku berjongkok, mulai menyusun ulang satu per satu. Tanpa banyak bicara, tanpa perlawanan verbal. Dedi berdiri beberapa detik di sana, seolah menunggu ledakan emosiku yang tidak kunjung datang. Akhirnya, dia pergi dengan wajah dongkol karena misinya gagal total. Aku duduk bersandar di dinding lebih lama dari biasanya siang itu. Tenagaku benar-benar terkuras habis oleh ulah Dedi tadi. Bima datang membawa botol minum dan duduk di sampingku. "Lumayan. Lo sudah mulai jadi target utama," katanya dengan nada santai yang sedikit mengesalkan. Aku menoleh ke arahnya. "Dia yang jatuhin, kan?" Bima hanya mengangkat bahu. "Di sini, kalau lo nggak punya teman atau nggak punya pengaruh, lo cuma bakal jadi samsat hidup. Siap-siap saja." Aku mengangguk pelan, meresapi pahitnya kenyataan. "Gue nggak butuh ribut di sini, Bang." "Bagus. Tapi jangan juga mau jadi sasaran empuk terus," balas Bima sambil menatap lurus ke depan. Aku terdiam. Itu bagian yang tersulit. Melawan berarti mencari masalah besar, tapi diam berarti akan terus ditekan sampai hancur. Aku menghela napas berat, lalu bertanya hal yang sejak tadi berputar di kepalaku. "Gimana caranya bisa naik posisi di sini?" Bima menoleh sepenuhnya, menatapku dengan sorot mata serius. "Naik?" "Iya. Gue nggak mau selamanya cuma jadi kuli yang angkat-angkat barang sampai punggung gue patah." Bima tersenyum tipis, jenis senyuman yang baru pertama kali kulihat darinya. "Akhirnya otak lo mulai jalan juga." Aku tidak membalas senyumnya. "Gue nggak mau cuma sekadar bertahan hidup, Bang." Kalimat itu keluar begitu tegas. Ini bukan lagi soal emosi sesaat, tapi keputusan bulat. Bima mengangguk pelan. "Kalau lo mau naik, ada dua cara di tempat begini." Aku langsung memfokuskan seluruh perhatianku padanya. "Satu, lo harus jadi yang paling kuat. Sampai nggak ada satu pun orang yang berani geser posisi lo." "Yang kedua?" "Lo harus jadi orang yang berguna. Bukan cuma sekadar tenaga, tapi otak lo juga dipakai," Bima menunjuk kepalanya sendiri. "Perhatiin sistem di sini. Barang masuk, keluar, dicatat. Banyak orang di sini yang asal kerja pakai otot doang. Kalau lo ngerti alur logistiknya, lo bakal jadi orang yang beda di mata atasan." Aku tertegun. Selama ini fokusku hanya terbatas pada bagaimana cara mengangkat karung tanpa pingsan. Aku tidak pernah terpikir untuk melihat gambaran besarnya. "Jadi... bukan cuma soal kerja keras," gumamku. "Kerja cerdas, Za," jawab Bima singkat. Kalimat itu meresap dalam ke kepalaku, menetap di sana seperti janji baru. Sore harinya aku mulai memperhatikan segalanya dengan cara yang berbeda. Bukan cuma barangnya, tapi alurnya. Siapa yang memegang daftar manifes, siapa yang mengatur posisi truk, dan siapa yang memiliki kontrol penuh atas arus barang. Aku menyadari sesuatu di sini: orang-orang yang paling didengar di sini justru bukan mereka yang paling banyak mengangkat barang, tapi mereka yang tahu ke mana barang-barang itu harus pergi. "Reza!" Suara berat Pak Hendra memanggilku. Aku segera mendekat. "Iya, Pak?" "Besok datang lebih pagi, jam enam. Ada bongkaran besar dari kapal," katanya sambil mencatat sesuatu di papan klipnya. "Siap, Pak." Dia berhenti sejenak, menatapku dari balik kacamata bacanya yang sudah agak miring. "Kamu... masih kuat?" Aku mengangguk tanpa ragu. "Masih, Pak. Sangat kuat." Dia hanya mengangguk balik, sebuah pengakuan kecil yang terasa berharga. "Bagus." Malam harinya, aku duduk di pojok kamar baru kami. Bima sedang merokok di dekat jendela, sementara Ucup sibuk dengan ponselnya. Aku menatap telapak tanganku yang masih kasar dan penuh luka baru. Rasa sakitnya masih ada, tapi sekarang kepalaku dipenuhi oleh strategi-strategi baru. Aku bukan lagi sekadar pelari yang mencoba menghindari kejaran masa lalu. Aku mengangkat kepala, menatap dinding kusam di depanku dengan tatapan nyalang. "Kalau gue terus-terusan di bawah..." napasku terasa berat namun mantap, "...gue nggak akan pernah punya kekuatan yang cukup untuk membungkam mereka." Wajah Ibu dan Anton kembali melintas. Tatapan menghina mereka adalah bahan bakar terbaikku saat ini. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. "Gue nggak akan balik ke rumah itu sebagai pecundang yang sama." Aku menutup mata, mendengarkan putaran kipas angin tua yang berisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD