Ponsel di saku celanaku bergetar saat aku masih berada di tengah riuhnya aktivitas gudang. Aku merogohnya, melihat nama Ria di layar, seketika jantungku memacu ritme yang tidak beraturan.
Aku ragu sejenak, menghirup udara pengap gudang dalam-dalam sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
Tidak ada basa-basi di seberang sana. Hanya ada tarikan napas yang berat. "Reza..."
Suaranya lebih pelan dari biasanya. Ada nada duka yang tertahan di sana, dan seketika, firasat burukku terkonfirmasi.
"Sudah... selesai," katanya lirih.
Aku terdiam di tempat. Dunia di sekitarku seolah melambat, menyisakan kekosongan yang menyesakkan. "...apa?"
"Rumahnya. Barusan ditandatangani di depan notaris. Mereka sudah bayar uang muka, sisanya akan menyusul minggu depan."
Tanganku perlahan turun, meski ponsel itu masih menempel erat di telinga. Pikiranku mendadak kosong. Bersih dari segala rencana.
Rumah itu... tempat di mana Ayah dulu tertawa, tempat di mana kenangan kecilku terkunci rapat, kini resmi berpindah tangan. Bukan lagi milik kami. Bukan lagi milikku. Semuanya menguap hanya dalam satu coretan tinta.
"Reza...?" suara Ria memanggil, terdengar cemas.
Aku tidak langsung menjawab. Dadaku terasa sesak, tapi anehnya, bukan kemarahan yang kurasakan. Bukan pula kesedihan yang meledak-ledak. Melainkan kehampaan yang luar biasa dingin. Seperti ada lubang besar yang baru saja menganga di ulu hatiku.
"Ya," jawabku akhirnya. Pendek. Datar.
"Aku pikir kamu perlu tahu," sambung Ria.
Aku mengangguk pelan, meski sadar dia tak bisa melihat kepasrahanku. "Iya. Makasih."
"Maaf..." bisiknya, suaranya pecah.
Aku memejamkan mata kuat-kuat. "Lo nggak salah, Ria," kataku pelan. Dan aku bersungguh-sungguh.
Yang salah bukan dia. Yang salah adalah situasi ini, dan aku—yang masih terlalu lemah untuk mempertahankan warisan terakhir milik Ayah.
"Reza... kamu nggak apa-apa?"
Pertanyaan itu terdengar sangat jauh, seolah datang dari dunia lain. Aku menarik napas panjang, membuka mata, dan menatap lantai gudang yang penuh bercak oli dan debu.
"Aku harus kerja," jawabku singkat.
Ria terdiam, lalu membisikkan sesuatu yang hampir tak terdengar. "...jaga diri."
Aku tidak membalas. Langsung kumatikan telepon itu.
Aku berdiri mematung selama beberapa detik. Ponsel masih tergenggam erat di tangan, tapi di mataku, segalanya terasa sunyi. Padahal di sekelilingku, forklift masih menderu, orang-orang masih berteriak saling sahut, dan truk-truk masih bergerak masuk.
Rumah itu hilang. Tempat terakhir yang menyimpan jejak Ayah sudah dirampas. Kenangan kami telah dijual demi uang yang tak seberapa oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku yang kering. Rahangku mengeras hingga otot-otot di pipiku berkedut.
"Lanjut! Jangan bengong saja!" Suara Pak Hendra membentak dari kejauhan.
Aku tersentak. "Iya, Pak!"
Aku langsung bergerak lagi. Memanggul karung, menumpuk kardus, bergerak tanpa henti. Tapi kali ini, setiap gerakan terasa sepuluh kali lebih berat. Bukan karena ototku melemah, tapi karena isi kepalaku sedang menanggung beban yang tak kasat mata.
"Eh! Fokus, woy! Mau hancur itu barang?"
Suara melengking Dedi menusuk telingaku.
Aku baru sadar bahwa kardus di tanganku sudah miring dan hampir terlepas. Aku segera memperbaiki cengkeramanku, menahannya agar tidak jatuh.
"Kalau nggak niat kerja, mending keluar saja sekarang! Jangan jadi beban di sini!" lanjutnya dengan nada menghina yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Beberapa pekerja lain berhenti sejenak, menunggu reaksiku. Aku diam, menatap kardus di tanganku dengan napas yang memburu.
Aku menoleh perlahan ke arah Dedi. Aku menatap matanya cukup lama. Sampai dia sedikit mengerutkan dahi.
"Aku lagi kerja, Ded. Jangan ganggu," kataku dengan suara rendah, namun ada getaran ancaman yang sangat nyata di sana.
Dedi terdiam sejenak. Mungkin dia kaget. Ini pertama kalinya aku menjawabnya dengan nada seperti itu—bukan nada bertahan, tapi nada yang siap menyerang balik.
"Ya sudah, kerja yang bener!" balasnya, sedikit terbata sebelum akhirnya berbalik pergi.
Aku tidak melanjutkan pertikaian itu. Aku kembali bekerja. Tapi di dalam jiwaku, ada sesuatu yang sudah berubah secara permanen.
Siang hari, nasi bungkus di sampingku tetap utuh. Aku tidak punya selera untuk memasukkan apa pun ke dalam mulutku. Aku hanya duduk bersandar, menatap kosong ke arah pintu keluar gudang yang terang benderang.
Bima datang dan duduk di sampingku tanpa suara. "Kenapa lo?"
Aku diam beberapa detik, mencoba mengumpulkan kata-kata yang terserak. "Rumah gue... sudah kejual, Bang."
Kalimat itu keluar begitu saja, terasa asing di telingaku. Bima tidak menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan. Dia hanya mengangguk pelan, seolah sudah pernah mendengar cerita seperti ini seribu kali sebelumnya.
"Rumah orang tua?" tanyanya datar.
Aku mengangguk.
"Tersisa apa sekarang buat lo?" lanjut Bima. Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk tepat di ulu hati.
Aku berpikir sejenak. Mencari-cari apa yang masih bisa kusebut milikku. Lalu, aku menjawab dengan satu kata jujur. "Gue."
Bima menatapku, memberikan jeda yang cukup panjang sebelum berkata, "Berarti semuanya masih ada."
Aku menoleh ke arahnya, sedikit bingung. Bima berdiri, menepuk pundakku sekali dengan tangannya yang kasar. "Selama lo masih ada, selama lo belum mati, dunia ini belum selesai, Za."
Dia pergi meninggalkanku sendirian. Tapi kata-katanya tertinggal di udara, berputar-putar di kepalaku seperti mantra.
Aku kembali bekerja seperti biasa. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Tapi aku jauh lebih fokus. Tidak ada lagi distraksi, tidak ada lagi keraguan yang membayangi gerakanku.
Karena sekarang, tidak ada lagi yang tersisa untuk kulindungi. Semuanya sudah hancur.
Aku tidak lagi takut kehilangan apa pun, karena aku memang sudah kehilangan segalanya.
Malam tiba. Di kamar kos yang remang, aku duduk bersandar pada dinding yang lembap. Bima sudah bersiap tidur, sementara Ucup masih sibuk dengan dunianya sendiri. Aku membuka tas ranselku, mengambil amplop cokelat dari Ayah.
Aku menatapnya lama di bawah cahaya lampu yang redup. Rumah itu mungkin sudah hilang secara hukum, tapi surat ini... ini adalah satu-satunya kompas yang masih kupunya. Aku membacanya lagi, perlahan, setiap kata, setiap garis tinta. Pesannya masih sama: tentang bertahan dan mencari jalan sendiri.
Aku melipatnya kembali dengan gerakan hati-hati, menyimpannya di tempat yang paling aman. Tanganku mengepal kuat.
"Ya sudah," bisikku pelan pada kegelapan. "Kalau semuanya sudah diambil dari gue..."
Aku mengangkat kepala, menatap dinding kusam di depanku dengan tatapan yang kini mengeras seperti baja. "...gue bakal ambil balik semuanya suatu saat nanti."
Bukan hari ini, bukan besok. Tapi aku bersumpah pada diri sendiri, suatu saat aku akan kembali. Aku berdiri dan menatap ruang sempit itu. Ini adalah titik terendah dalam hidupku. Dan justru karena itu, aku tidak punya arah lain selain naik.