Suara logam sendok yang menghantam lantai semen dengan nyaring menyentak kesadaranku.
Ceklek.
Aku membuka mata perlahan, disambut putaran kipas angin tua di atas kepala yang berderit lelah. Udara kamar pengap, bercampur bau minyak goreng samar yang menyelinap dari warung di depan gang. Di dekat pintu, Ucup sedang berjongkok, asyik menyantap mie instan langsung dari pancinya.
"Pagi-pagi sudah ribut," gumamku.
Ucup melirik sekilas tanpa menghentikan kunyahannya. "Kalau bangun kesiangan, jangan salahin sendok gue," jawabnya santai.
Bima masih rebahan di kasur tipisnya, kedua tangannya terlipat di belakang kepala. "Dia belum biasa sama alarm alami di sini, Cup. Kasih waktu," sahutnya tanpa membuka mata.
Aku bangkit dan duduk di tepi kasur. Mengusap wajah kuat-kuat, mencoba mengusir sisa kantuk. Seluruh badanku masih terasa pegal. Aku berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin yang segar, lalu kembali duduk melihat mereka.
Baru beberapa hari tinggal di sini, tapi suasana pengap ini sudah terasa lebih hidup daripada kesunyian losmen yang dingin.
"Kerja lagi hari ini, Za?" tanya Ucup sambil menyeruput kuah mie.
"Gaji masih jauh, Cup. Belum turun," jawabku singkat.
Dia nyengir lebar. "Ya kali lo mau libur."
Bima akhirnya bangun dan duduk bersandar. "Reza sekarang beda," katanya sambil memperhatikanku. "Sudah nggak kelihatan kayak orang mau mati tiap bangun pagi."
Aku tersenyum tipis, hampir tak kentara. "Dikit lagi, Bang."
Mereka tertawa kecil. Sebuah tawa yang ringan dan sederhana, namun cukup untuk memberiku dorongan ekstra sebelum menghadapi kerasnya gudang.
Di gudang, aku langsung membaur ke dalam ritme kerja. Namun sekarang, aku punya protokol baru dalam kepalaku. Aku sengaja datang lebih awal untuk mempelajari daftar manifes, menghafal label, dan membaca pola arus barang.
Siapa yang memegang kendali, ke mana arah barang keluar, dan bagaimana prioritas ditentukan. Tanpa sadar, aku mulai tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum perintah keluar dari mulut pengawas.
"Reza! Angkut itu ke bagian belakang!" teriak salah satu pekerja.
"Yang ini duluan, Bang. Ini kiriman pagi buat rute kota. Yang di belakang bisa tunggu setelah jam istirahat," jawabku tenang.
Pria itu terdiam sebentar, memeriksa kembali catatannya, lalu mengangguk. "Oke, lo bener."
Dari kejauhan, aku bisa merasakan sepasang mata mengawasi. Dedi berdiri di dekat tumpukan palet dengan raut wajah yang berubah. Bukan lagi sekadar meremehkan, tapi mulai ada kilat ketidaksukaan yang nyata di sana.
Kerja hari ini terasa lebih teratur. Aku tidak lagi mengandalkan otot secara membabi buta. Aku memilih beban, mengatur posisi tumpukan agar mudah dipindah, dan hasilnya—tenagaku tidak terkuras habis sebelum waktunya. Masih lelah, tapi lelah yang terkendali.
"Lo sudah merasa jadi mandor sekarang?"
Suara Dedi muncul tiba-tiba tepat di belakangku. Aku menoleh perlahan. Dia berdiri menatapku tajam dengan tangan terlipat di d**a.
"Aku cuma kerja, Ded," jawabku datar.
Dia mendekat, mencoba mengintimidasi ruang gerakku. "Di sini bukan tempat buat pinter-pinteran sendiri, apalagi buat anak baru kayak lo."
Aku menatapnya dengan ketenangan yang mungkin membuatnya semakin geram. "Kalau kerjaan selesai lebih cepat dan rapi, bukannya itu bagus buat kita semua?"
Beberapa pekerja lain mulai memperlambat gerakannya, menonton ketegangan yang tercipta. Dedi menyeringai dingin. "Lo mulai berani bicara, ya."
Aku tidak menjawab. Tidak ada gunanya beradu mulut dengan orang yang merasa posisinya terancam. Aku langsung kembali bekerja, dan kali ini, dia benar-benar tidak bisa menemukan celah untuk menyalahkanku.
Siang hari, aku duduk bersama Bima dan ucup di area parkir. Ini pertama kalinya aku makan bersama mereka; biasanya aku menyepi di sudut paling gelap gudang.
Ucup membuka bungkus nasinya dengan bangga. "Lauk gue hari ini mewah, Coy!"
Aku melirik. Telur dadar. "Gue juga bisa kalau mau," kataku bercanda.
"Tapi lo pelit sama diri sendiri," sahut Ucup cepat.
Bima tertawa, suaranya berat. "Dia lagi nabung buat sesuatu yang besar, Cup."
Aku mengangguk pelan. "Harus."
Ucup menatapku, kali ini tanpa candaan. "Lo ada target, ya?"
Aku diam sejenak, memandangi nasi di tanganku sebelum berkata lirih namun tegas, "Gue nggak mau selamanya jadi kuli di sini."
Bima mengangguk paham, sementara Ucup menghela napas panjang. "Bagus. Kalau nggak punya target, lo bakal kejebak selamanya di sini sampai punggung lo patah."
Kalimat Ucup barusan terasa jujur, sekaligus ngeri.
Ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Ria.
"Reza… hari ini orang yang beli rumah itu datang lagi. Aku lihat mereka mulai mengukur-ukur halaman. Aneh rasanya… kayak semuanya cepat banget berubah.”
Aku terdiam, membaca kalimat itu berulang kali. Ada rasa sakit yang mencubit di ulu hati, tapi aku segera menekannya. Pesan berikutnya masuk.
“Kamu kerja terus, ya? Jangan sampai sakit.”
Bima melirik sekilas. "Adik lo?" tanyanya santai.
"Iya," jawabku pendek.
Aku mulai mengetik balasan. “Gue kerja.” Tapi segera kuhapus. Terlalu dingin, bahkan untuk ukuran orang yang sedang mencoba mati rasa sepertiku. Aku menarik napas, lalu mengetik ulang.
“Iya. Gue lagi kerja. Lo jaga diri juga di sana.”
Kirim. Tidak panjang, tapi itu adalah caraku untuk tetap terhubung dengan kenyataan yang dulu kupunya.
Sore harinya, aku melakukan sesuatu yang berbeda. Aku mulai bertanya pada bagian administrasi.
"Bang, cara mencatat manifes masuk ini alurnya gimana?" tanyaku pada petugas admin yang sedang sibuk.
Dia menatapku heran. "Lo mau tahu urusan beginian?"
"Iya, biar saya nggak salah susun barang lagi," alasanku.
Dia akhirnya menunjukkan sistemnya. Sederhana, namun sangat krusial. Aku memperhatikan setiap langkahnya, menghafal polanya, dan mencatatnya dalam gudang memoriku. Dari kejauhan, aku melihat Bima kembali tersenyum kecil. Dia tahu aku sedang merayap naik.
Malam tiba. Kami bertiga kembali ke kamar sempit itu. Ucup sudah rebahan sambil asyik dengan ponselnya, sementara Bima duduk santai merokok di dekat jendela. Aku bersandar di dinding kusam, merasakan denyut di otot-ototku.
"Gue lagi mikir," kataku pelan, memecah keheningan.
"Mikir apaan?" tanya Ucup tanpa menoleh.
"Kalau gue ngerti semua alur logistik di gudang itu... gue bisa naik posisi jadi admin atau pengawas, kan?"
Bima mengangguk pasti. "Bisa. Sangat bisa."
"Tapi prosesnya lama, Za," tambah Ucup, kali ini dia menaruh ponselnya.
Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke depan. "Gue nggak cari yang cuma sekadar cepat, Cup."
Sunyi sebentar. Lalu aku menambahkan dengan nada yang lebih dalam, "Gue cari yang pasti."
Bima menatapku dengan sorot mata yang lebih serius dari biasanya. "Selama lo konsisten dan nggak berhenti belajar... lo sudah beda dari ribuan kuli di luar sana."
Kalimat itu terasa berat dan memotivasiku secara bersamaan. Ponselku kembali bergetar. Balasan dari Ria.
“Makasih ya… udah mau bales. Aku kira kamu masih marah besar sama aku.”
Aku menatap layar itu lama. Jari-jariku mengetik dengan pelan.
“Nggak sepenuhnya.”
Itu adalah kejujuran paling jujur yang bisa kuberikan saat ini.
Aku menaruh ponsel, menyandarkan kepala, dan menutup mata. Hari ini, aku tidak hanya sekadar bertahan hidup dari hantaman beban. Aku mulai mendaki. Sedikit demi sedikit, jalan di depanku mulai terlihat polanya.
Masih jauh memang, dan jalannya pasti masih terjal. Tapi sekarang, aku tidak lagi berjalan dalam kegelapan tanpa arah. Aku tahu persis ke mana kaki ini harus melangkah.