Malam itu, Ucup sedang memasak dua bungkus mie instan sekaligus dalam satu panci kecil.
"Lo kalau lagi bokek jangan barbar juga dong, Cup. Pengap nih!" protes Bima sambil menutup hidungnya dengan bantal kusam.
"Ini namanya investasi perut, Bang," jawab Ucup santai tanpa menoleh. "Biar tengah malam nanti gue nggak perlu bangun buat nyari remah-remah biskuit lo."
Aku tersenyum tipis melihat kelakuan mereka. Aku duduk menyudut di pojokan, membiarkan punggungku menempel pada tembok beton yang lembap. Seluruh badanku terasa remuk setelah shift panjang tadi, tapi kepalaku justru sedang bekerja ekstra keras. Tekanan dari Dedi hari ini sudah mulai terang-terangan, dan aku tahu itu baru permulaan dari badai yang sesungguhnya.
Ponsel di pangkuanku bergetar. Getaran yang kini mulai kunantikan.
Kali ini bukan sekadar satu pesan singkat. Ada beberapa baris kalimat yang masuk bertubi-tubi. Aku membukanya dengan perasaan was-was.
“Reza… rumahnya sudah kosong sekarang. Tadi aku bantu beres-beres terakhir kali. Aneh banget rasanya melihat kamar kita nggak ada isinya.”
Bayangan rumah yang kini sepi tanpa jejak Ayah menghantam ulu hatiku. Aku melanjutkan membaca.
“Kami sudah pindah ke daerah sebelah. Rumahnya jauh lebih kecil. Ibu bilang ini cuma sementara, sampai uang sisa penjualan cair semua…”
Aku terdiam, mencerna informasi itu. Akhirnya aku tahu di mana mereka sekarang. Informasi ini kusimpan baik-baik. Bukan untuk kusamperin sekarang, tapi untuk suatu hari nanti—saat aku sudah punya cukup kekuatan untuk berdiri tegak di depan mereka.
Pesan terakhir Ria muncul.
“Reza… kamu sudah makan belum hari ini?”
Aku menatap layar itu cukup lama. Aneh rasanya. Dari semua drama pengusiran dan kehilangan rumah, pertanyaan sederhana soal makan inilah yang justru paling membuat pertahananku goyah.
"Pacar lo ya?" Suara cempreng Ucup tiba-tiba memecah lamunanku.
Aku langsung melirik tajam ke arahnya. Dia hanya nyengir lebar sambil menyeruput mie. Bima ikut menoleh, matanya seolah menuntut penjelasan.
"Adik gue," jawabku datar.
"Ooo…" Ucup manggut-manggut. "Yang tempo hari nelpon sambil nangis-nangis itu ya?"
Aku mengangguk singkat. Bima tidak berkomentar, tapi dari sorot matanya, aku tahu dia menghargai caraku tetap menjaga hubungan itu. Aku menarik napas, jemariku mulai mengetik di atas layar.
“Sudah makan. Lo sendiri gimana?”
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
“Sudah juga. Tapi rasanya nggak enak. Bukan karena masakannya, tapi karena ini bukan di rumah kita.”
Aku tertegun. Kalimat itu begitu jujur hingga aku bisa merasakan pahitnya. Aku sempat mengetik “Biasain saja,” tapi segera kuhapus. Terlalu kasar.
Aku menarik napas, lalu mengetik ulang dengan lebih manusiawi.
"Pelan-pelan saja. Gue juga di sini lagi mulai semuanya dari nol.”
Sebuah pengakuan kecil bahwa aku pun sedang berjuang di lumpur yang sama dengannya.
Bima bicara pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Kadang, Za... yang bikin kita tetap tegak itu bukan gaji atau kerjaan."
Aku menoleh ke arahnya.
"Tapi orang yang masih peduli buat nanya kita sudah makan atau belum," lanjutnya sambil menatap langit-langit.
Aku tidak menjawab, tapi aku mengerti sepenuhnya. Di tengah dunia yang b******n ini, kepedulian sekecil itu adalah oksigen.
Keesokan harinya, aku datang lebih pagi. Ini bukan lagi sekadar kebiasaan untuk menghindari macet, tapi sudah menjadi kebutuhan untuk bertahan.
Aku menggunakan waktu ekstra sebelum shift dimulai untuk belajar di sana. Aku membaca catatan manifes, mempelajari alur distribusi, bahkan sesekali mengobrol ringan dengan staf administrasi tentang bagaimana mereka menginput data. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat mencolok, namun tetap konsisten.
"Rajin banget kamu belakangan ini, Reza." Suara berat Pak Hendra membuatku tersentak.
Aku menoleh dan mendapati sang pengawas gudang berdiri di belakangku.
"Iya, Pak. Mumpung sepi, sekalian pengen tahu lebih banyak soal alurnya," jawabku sopan.
Beliau mengangguk, menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya dengan pandangan yang sulit dibaca. "Bagus. Lanjutkan," katanya singkat sebelum berlalu.
Kerja dimulai, dan sesuai prediksiku, Dedi langsung memanggilku.
"Reza! Ikut gue sekarang!"
Aku mengikutinya ke bagian belakang gudang, area yang lebih terpencil dan dipenuhi tumpukan barang curah yang beratnya minta ampun.
"Angkat semua karung ini ke truk di ujung sana. Sendirian. Jangan ada yang tersisa sebelum jam makan siang," perintahnya dengan nada menantang.
Aku menatap tumpukan karung goni itu. "Biasanya ini dikerjakan dua orang, Ded."
Dedi melangkah mendekat, menyeringai sinis. "Kenapa? Nggak sanggup? Kalau mental lo tempe, bilang saja. Gue bisa cari orang lain yang lebih becus."
Aku menatap matanya dengan dingin. "Iya. Gue kerjain."
Aku mulai mengangkat beban itu. Satu per satu. Jauh lebih berat dari biasanya, jauh lebih melelahkan. Napasku mulai memburu dan keringat membanjiri tubuhku hingga kaosku bisa diperas.
Namun kali ini, aku tidak membiarkan diriku dikuasai rasa panik atau amarah. Aku menggunakan teknik yang kupelajari: mengatur napas, memosisikan tumpuan kaki, dan menjaga ritme agar jantungku tidak meledak.
Dedi berdiri di kejauhan, bersandar pada pilar beton, menunggu momen di mana lututku akan gemetar dan aku akan jatuh tersungkur.
Tapi itu tidak terjadi.
Meski badanku bergetar hebat menahan beban, aku tetap tegak. Aku menyelesaikan karung terakhir tepat saat bel istirahat berbunyi.
Siang itu, aku terduduk lemas di lantai. Paru-paruku terasa terbakar. Ucup datang dan melempar botol air dingin ke arahku. Aku menangkapnya dengan tangan yang masih gemetar.
"Lo gila ya? Itu beneran kerjaan buat dua orang dewasa," kata Ucup sambil geleng-geleng kepala.
Aku menenggak air itu hingga tandas. "Lumayan buat olahraga," jawabku sambil menyeringai tipis.
Bima tertawa kecil di sampingku. "Dia bukan lagi cuma coba bertahan hidup, Cup."
Aku menoleh. "Lalu?"
"Dia lagi merangkak naik," sahut Bima mantap.
Aku diam, namun di dalam hati, aku membenarkan perkataannya.
Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Ria lagi.
"Tadi aku lihat kamar baruku… sempit banget. Tapi ya sudah, mau gimana lagi.”
Aku teringat kamar kos kami yang pengap dan panas. Aku mengetik balasan.
“Sama. Gue juga sekarang tinggal bertiga di kamar seukuran liang lahat.”
Balasannya datang sangat cepat.
“Serius? Terus gimana rasanya tinggal bareng orang asing?”
Aku melirik Ucup yang sedang berdebat seru dengan Bima soal sepak bola di tengah panasnya siang. Kamar sempit, berisik, dan bau keringat. Tapi anehnya...
Rame. Jauh lebih enak daripada kesepian di tempat yang luas.
Sore hari saat shift berakhir, aku berdiri di depan gerbang gudang. Badanku terasa remuk, tapi mental ku tetap utuh. Dedi lewat di depanku, berhenti sejenak, dan menatapku. kemudian dia berlalu tanpa sepatah kata pun.
Malam kembali tiba di kamar sempit kami. Ucup sedang asyik bercerita ngalor-ngidul, Bima sesekali menimpali dengan komentar pedasnya. Aku hanya diam menyimak, namun pikiranku sudah melompat jauh ke depan.
Tabungan di ATM masih aman. Aku tidak akan menyentuhnya kecuali dalam keadaan darurat yang mengancam nyawa. Uang itu adalah peluru untuk langkah besarku nanti. Aku menatap telapak tanganku yang kini penuh kapalan dan bekas luka baru.
"Pelan-pelan saja..." gumamku lirih.
Bima menoleh. "Apa?"
"Gue harus sukses, Bang."
Ucup tertawa pecah. "Ya sudah, kalau nanti jadi bos jangan lupa traktir gue nasi padang pake ayam pop dua!"
Aku tersenyum tipis. "Pasti."