16. Garis Batas

931 Words
Pagi itu, gudang terasa berbeda. Udara yang biasanya hanya pengap, kini terasa lebih tegang dan menekan. Ritme kerja terasa lebih cepat. Aku bisa merasakannya di balik tengkukku. "Reza! Sini lo!" Suara melengking Dedi membelah kebisingan mesin forklift. Keras dan penuh ketidaksabaran. Aku menoleh perlahan, mendapati pria itu berdiri angkuh di dekat truk bongkaran yang baru saja merapat. Muatannya meluap, tumpukan peti kayu dan kardus besar yang terlihat sangat berat. Aku berjalan mendekat tanpa terburu-buru. Aku tidak ingin memberinya kepuasan dengan melihatku berlari kecil. "Apa?" tanyaku singkat. Dia menunjuk tumpukan raksasa di dalam bak truk dengan dagunya. "Semua ini lo yang bereskan. Sendirian sampai bersih." Aku menatap muatan itu, lalu beralih menatap Dedi. Aku diam selama beberapa detik yang terasa sangat lama. "Itu kerjaan tim, Ded. Minimal tiga orang kalau mau cepat," kataku datar. Sebuah fakta, bukan keluhan. Dedi melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Wajahnya memerah. "Mulai sekarang, itu kerjaan lo. Paham?" Beberapa pekerja di sekitar kami mulai memperlambat gerakan, telinga mereka memanjang. Aku menatap matanya dalam-dalam. Jika di hari-hari sebelumnya aku mungkin akan langsung menelan harga diriku dan mulai bekerja, hari ini semuanya berbeda. "Bagi kerjaan itu harus jelas dari awal," kataku pelan. Tapi ada ketegasan yang dingin di sana. Dedi menyeringai miring, matanya menyipit. "Lo nolak perintah gue?" Aku tidak menjawab langsung. Aku melirik sekeliling; semua mata tertuju pada kami. Aku kembali menatapnya. "Aku kerja sesuai aturan gudang, bukan aturan lo." Kalimat itu sederhana, tapi efeknya seperti menyiram bensin ke bara api. Dedi langsung mendorong bahuku dengan telapak tangannya. Aku terhuyung satu langkah, tapi tidak jatuh. Seluruh gudang mendadak senyap. "Aturan?" katanya sinis, suaranya naik satu oktav. "Lo anak baru kemarin sore sudah berani ngajarin gue?" Tanganku refleks mengepal di samping tubuh, karena amarah yang mulai mendidih. Ini sudah melewati batas. Aku menatapnya lebih tajam, memberikan tekanan yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya. "Jangan sentuh gue lagi," desisku. Beberapa kuli senior berdiri dari duduknya, bersiap jika keadaan berubah menjadi baku hantam. Dedi maju satu langkah lagi, menempelkan dadanya ke dadaku. "Hah? Lo mau apa? Mau mukul gue?" Jarak kami tinggal satu helaan napas. Otot lenganku sudah menegang, siap meledak jika dia berani mendorongku sekali lagi. "HEI! BUBAR!" Suara menggelegar Pak Hendra memotong ketegangan itu tepat waktu. Beliau berjalan cepat ke arah kami, wajahnya yang keras tampak lebih menyeramkan dari biasanya. "Apa-apaan ini?" Tidak ada yang menjawab. Dedi mundur setengah langkah, mencoba mengatur mimik wajahnya. "Ada yang sok pintar ngatur kerjaan senior, Pak," adunya cepat. Aku tetap diam, berdiri tegak dengan pandangan lurus ke depan. Pak Hendra menoleh ke arahku, alisnya bertaut. "Kamu, Reza?" Aku menarik napas dalam, menetralkan detak jantungku. "Aku cuma bilang itu kerjaan tim, Pak. Sesuai prosedur bongkar muat." Pak Hendra melirik ke arah bak truk yang penuh sesak, lalu menatap Dedi dengan pandangan dingin yang membuat pria itu langsung menelan ludah. "Itu memang kerjaan tim. Jangan asal lempar beban ke satu orang," kata Pak Hendra tegas. Dedi terdiam, tak berani membantah. "Kerjakan sesuai bagian masing-masing!" lanjut Pak Hendra sambil menatap kami berdua secara bergantian. "Saya tidak mau lihat keributan konyol lagi di sini. Paham?" "Paham, Pak," jawabku duluan. Dedi menyusul dengan gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Kerja kembali berlanjut. Aku kembali memanggul barang seperti biasa, namun kali ini ada rasa hormat yang samar dari pekerja lain. Siang hari, aku terduduk di samping Bima. Napasku masih berat, namun bukan karena kelelahan fisik. Adrenalin tadi masih menyisakan getaran di tanganku. "Tadi... hampir saja ya," gumam Bima sambil menyodorkan botol air. Aku mengangguk singkat. "Kalau Pak Hendra telat dikit, mungkin gue sudah dipecat karena mukul orang." Ucup datang dan bergabung, wajahnya tampak antusias. "Lo gila, Za! Akhirnya ada yang berani jawab si Dedi secara langsung. Nyali lo oke juga." Aku menatap air di tanganku yang keruh oleh debu. "Bukan soal nyali, Cup," kataku lirih. "Gue cuma sudah terlalu capek untuk terus-terusan diam." Mereka terdiam, mengerti bahwa capek yang kumaksud bukan sekadar soal otot. Ponselku bergetar. Pesan dari Ria masuk lagi. “Reza… hari ini aku lewat rumah lama kita. Sudah mulai direnovasi total oleh pemilik barunya." Dadaku mendadak terasa nyeri, sebuah rasa kehilangan yang akut. Aku melanjutkan membaca. "Cat putihnya diubah jadi abu-abu gelap. Halamannya dibongkar buat garasi besar. Rasanya seperti melihat tempat yang sama sekali asing.” Aku memejamkan mata. Bayangan rumah masa kecilku yang hangat kini dirusak secara visual dalam kepalaku. Aku mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar. "Jangan sering-sering lewat sana lagi.” Balasannya datang hampir seketika. “Tadi nggak sengaja lewat karena mau beli sesuatu di dekat sana. Cuma… aku kangen saja, Za." Aku terdiam cukup lama. Ada dorongan kuat yang muncul dari dalam diriku, sebuah janji yang bahkan belum berani kuucapkan pada diri sendiri. Aku mengetik perlahan. "Simpan saja kangennya. Nanti kita ambil lagi rumah itu.” Aku sempat ragu. Kata kita terasa begitu berat. Tapi aku tetap menekannya. Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Layar ponselku tetap gelap. Lalu, sebuah balasan pendek muncul. “…kita?” Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Aku menatap layar itu, menatap pantulan wajahku yang kusam di sana. Aku mengetik jawaban final. “Iya. Kita.” Malam harinya, di kamar kos. Suasana terasa lebih tenang. Ucup sibuk berceloteh sementara Bima sesekali menanggapi dengan tawa kecilnya. Aku hanya diam, bersandar pada dinding. Di dalam kepalaku, aku sedang membangun sebuah pondasi. Pelan, namun pasti. Kemarahan tadi siang berubah menjadi tekad yang dingin. "Gimana rasanya hampir baku hantam tadi?" tanya Ucup tiba-tiba. Aku menoleh. "Biasa saja. Terasa normal." Bima tertawa kecil. "Berarti lo sudah benar-benar beradaptasi dengan dunia ini, Za." Aku tersenyum tipis. Mungkin benar. Aku merebahkan badan, menatap langit-langit kamar yang penuh noda lembap. Kipas angin berputar, membelah udara panas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD