23. Satu Langkah Didepan

1089 Words

Pagi itu aku datang jauh lebih awal dari biasanya. Bukan karena aku mendadak jadi karyawan teladan, tapi karena aku tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Pesan misterius semalam masih terngiang jelas di kepalaku: “Lihat siapa yang benar-benar main di gudang itu.” Gudang masih tertutup rapat dan suasana sekitar masih sangat sepi. Namun, aku menyadari ada yang aneh; lampu di kantor kecil samping area utama sudah menyala. Biasanya jam segini belum ada satu orang pun yang datang. Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara di atas lantai semen yang dingin. Aku tidak menuju area kerja, melainkan menyelinap ke sisi meja tempat buku catatan administrasi disimpan. Di sana, aku berhenti seketika. Dedi. Dia sedang berdiri membelakangiku, tangannya sibuk membola

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD