20. Telepon Malam Itu

771 Words
Malam itu kamar kost terasa jauh lebih sunyi, padahal Ucup masih sibuk mengoceh dan Bima sesekali menyahut. Masalahnya, pikiranku tidak ada di sana. Pertemuan di taman tadi terus berputar seperti kaset rusak. Wajah Ibu, tatapan tajam Anton, dan yang paling mengganggu—Ria. "Lo nggak biasa diam gini," celetuk Bima sambil melirikku. Aku menoleh sedikit, mencoba kembali ke realita. "Capek aja," jawabku singkat. Ucup langsung menyambar dengan seringai khasnya, "Capek hati, ya?" Aku tidak membalas. Biasanya aku akan balik meledek atau setidaknya melempar bantal, tapi kali ini aku hanya memilih rebahan dan menatap langit-langit kamar. Kipas angin berputar lambat di atas sana. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, emosi itu kembali muncul. Bukan marah atau sedih yang meledak-ledak, melainkan campuran rasa sesak yang sulit didefinisikan. Ponselku bergetar di samping bantal, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. Nama Ria muncul di layar. Aku langsung membukanya. “Reza… kamu udah sampai?” Aku mengetik balasan cepat. “Udah.” Hanya butuh beberapa detik sampai balasan berikutnya masuk. “Maaf ya… tadi aku nggak bisa ngomong banyak.” Aku menatap layar cukup lama, menimbang apa yang harus kukatakan. “Gue ngerti,” ketikku jujur. “Aku takut… tapi aku juga nggak mau kamu mikir aku sama kayak mereka,” lanjutnya di pesan berikutnya. Dadaku terasa agak sesak membacanya. Aku duduk perlahan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu mengetik tanpa pikir panjang lagi. “Lo beda.” Sunyi selama beberapa detik, lalu muncul balasan singkat. “…makasih.” Cuma satu kata, tapi entah kenapa rasanya hangat. Aku terus menatap layar ponsel, lalu entah dorongan dari mana, aku mulai mengetik lagi. Sesuatu yang biasanya aku simpan sendiri. "Kerjaan gue mulai stabil. Udah mulai dikasih tanggung jawab lebih.” Aku berhenti sejenak, sedikit heran pada diri sendiri kenapa aku menceritakan perkembangan karierku padanya. Balasannya datang lebih cepat dari sebelumnya. “Serius? Aku bangga…” Tanganku membeku. Bangga. Kata itu sudah sangat lama tidak mampir di telingaku. Aku menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang muncul tanpa sadar. "Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" suara Ucup membuyarkan lamunan. Tanpa banyak bicara, aku langsung menyambar bantal dan melemparnya tepat ke wajahnya. "Diam lo." Mereka tertawa, dan malam itu untuk pertama kalinya aku bisa tidur dengan kepala yang terasa sedikit lebih ringan. Keesokan paginya aku bangun lebih awal. Tubuhku terasa lebih segar, sebuah anomali yang menyenangkan. Suasana gudang masih seperti biasa; ramai, berisik, dan penuh aroma debu, tapi kali ini aku masuk dengan kepala yang lebih jernih. "Reza!" suara Pak Hendra menginterupsi kegiatanku. Aku segera mendekat. "Iya, Pak?" Beliau tidak langsung bicara. Dia memperhatikanku sebentar dari atas ke bawah sebelum akhirnya bersuara. "Mulai minggu depan, kamu bantu saya di bagian penerimaan barang. Kamu bakal lebih sering pegang catatan dan administrasi, tapi tetap bantu angkat-angkat kalau memang diperlukan." Aku sempat membeku sepersekian detik. Ini bukan promosi jabatan yang mentereng, tapi ini jelas sebuah peningkatan posisi. "Iya, Pak. Siap," jawabku mantap, mencoba menahan kegembiraan agar tidak terlihat berlebihan. Dari sudut mata, aku bisa melihat Dedi sedang memperhatikanku. Tatapan sinisnya kali ini tidak bisa dia sembunyikan lagi. Aku tahu dia tidak suka, tapi itu justru membuatku merasa sedang di jalur yang benar. Pekerjaan hari itu terasa lebih cepat selesai. Sekarang aku punya posisi, sekecil apa pun itu. Siang harinya, aku duduk beristirahat bersama Bima. "Gue bilang juga apa, kerja lo pasti dilihat," katanya santai sambil meneguk air mineral. Aku mengangguk pelan. "Ini baru awal." Ucup datang menyusul dengan wajah ceria. "Traktir kapan nih, bos baru?" Aku tertawa kecil. "Nanti kalau gajian pertama di bagian baru." Aku menatap telapak tanganku sendiri. Masih kasar dan masih sering terasa pegal, tapi setidaknya sekarang aku punya arah yang jelas. Malamnya, aku duduk sendiri di teras kost. Udara dingin terasa menenangkan. Aku membuka dompet dan mengeluarkan kartu ATM. Saldo di dalamnya masih aman karena jarang kusentuh. Dulu, aku menyimpan uang ini hanya untuk bertahan hidup. Tapi sekarang aku sadar, ini bukan cuma soal bertahan. "Ini buat modal naik kelas," gumamku pelan sambil memasukkan kembali kartu itu. Aku menarik napas panjang, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Pelan-pelan aja... tapi gue bakal gerak lebih cepat dari yang mereka kira." Baru saja aku ingin masuk ke dalam, ponsel di saku kembali bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Aku mengernyitkan dahi, lalu mengangkatnya dengan ragu. "Halo?" Hening selama beberapa detik di seberang sana. Aku hampir menutup teleponnya sampai terdengar suara pria yang dalam dan sangat tenang. "Reza?" Jantungku tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. "...iya, siapa ya?" "Nama saya Hendra." Aku semakin bingung. "Pak Hendra bos gudang?" "…Bukan." Suasana mendadak terasa lebih dingin dan mencekam. Ada jeda panjang sebelum pria itu melanjutkan kalimatnya. "Saya dulu… teman lama ayahmu." Darahku langsung berdesir hebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD