Hari itu akhirnya datang juga—hari libur pertama yang benar-benar terasa seperti libur. Tanpa deru mesin gudang, tanpa tumpukan kardus yang menunggu diangkut, dan yang paling penting, tanpa gangguan dari Dedi. Aku bangun lebih pagi dari biasanya.
"Lo kenapa, Za? Masih pagi sudah duduk tegak gitu," suara sengau Ucup terdengar dari kasurnya.
Aku mengusap wajah, mencoba mengusir sisa kantuk yang tanggung. "Nggak tahu, Cup. Nggak terbiasa saja diam kayak gini."
Bima yang masih rebahan di kasurnya menyahut santai tanpa membuka mata. "Wajar. Tubuh lo sudah ke-setting buat tempur di gudang. Kalau berhenti mendadak, otak lo jadi bingung."
Aku tertawa kecil mendengarnya. Mungkin Bima benar.
"Jalan-jalan yuk," tiba-tiba Ucup mengusulkan sambil bangkit duduk. "Suntuk gue kalau di kamar terus. Bisa-bisa gue hafal jumlah sarang laba-laba di langit-langit ini."
Bima langsung membuka mata sepenuhnya. "Gas. Gue juga butuh udara yang nggak bau kardus lembap."
Aku sempat ragu sejenak, memikirkan uang di saku yang harus dihemat. Tapi melihat antusiasme mereka, aku akhirnya mengangguk. "Ya sudah, ayo."
Kami bertiga keluar siang itu, hanya dengan pakaian santai dan sandal jepit. Kami memilih taman kota, tempat yang sederhana namun cukup hidup. Suasana di sana sangat ramai, ada anak-anak berlarian, penjual kaki lima menjajakan dagangannya, dan orang-orang tampak menikmati hari mereka.
Kami duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang. Ucup sibuk menikmati es plastiknya, sementara Bima mengamati orang-orang yang lewat. Aku menyandarkan punggung, menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak aku diusir dari rumah itu, aku merasa tidak sedang dikejar oleh bayang-bayang kegagalan.
"Enak juga ya sesekali santai begini." Gumam Ucup.
Aku mengangguk pelan. "Iya. Terasa manusiawi."
Bima menoleh ke arahku, tatapannya sedikit lebih serius. "Lo butuh begini sesekali, Za. Biar otak lo isinya nggak cuma kerjaan."
Aku tidak menjawab, tapi aku tahu Bima benar. Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan dan tawa kecil. Kepalaku terasa sedikit lebih ringan, sampai akhirnya langkahku terhenti saat aku melihat sosok yang sangat kukenal di kejauhan.
Jantungku mendadak berdetak tidak beraturan. Di sana, membelakangi arah kami, berdiri seorang gadis. Ria. Dia tidak sendirian. Di sampingnya ada Anton, dan beberapa langkah di belakang mereka, tampak Ibu sedang berjalan perlahan. Dunia yang tadinya terasa tenang seketika berubah menjadi dingin.
"Kenapa, Za?" tanya Bima yang menyadari perubahan ekspresiku.
Aku hanya diam, hanya menatap lurus ke arah mereka. Ucup mengikuti arah pandangku dan langsung bergumam pelan, "Waduh..."
Ria menoleh dan melihat ke arahku. Dia terdiam di tempat. Anton yang menyadari perubahan sikap Ria langsung mengikuti arah pandangnya. Wajahnya seketika berubah masam. Dan terakhir, Ibu. Beliau menoleh perlahan, menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan meremehkan yang masih sama seperti dulu.
Hening tercipta di tengah keramaian taman. Aku berdiri perlahan, diikuti oleh Bima dan Ucup yang langsung memasang posisi siaga di belakangku.
"Kau?" suara Ibu terdengar datar dan dingin saat kami sudah cukup dekat.
Aku tersenyum tipis. "Nggak nyangka bakal ketemu di sini."
Anton mendengus kasar, wajahnya tampak sangat tidak suka. "Masih hidup lo?"
Aku meliriknya dengan tatapan tajam.
Wajah Anton mengeras. Ria hanya diam, menatapku dengan sorot mata yang sedih.
Ibu melipat tangan di d**a. "Tidak usah sok santai, Reza. Kamu sudah bukan bagian dari keluarga ini sejak hari itu. Kamu itu sampah yang sudah kami buang."
Dulu, kalimat itu mungkin akan langsung menghancurkan mentalku. Tapi sekarang, aku hanya mengangguk pelan. "Iya, Bu. Semuanya sudah jelas sejak hari itu."
Aku melangkah sedikit lebih dekat. "Rumahnya gimana? Sudah laku, kan?"
Sunyi sesaat. Pertanyaan itu sepertinya mengenai saraf sensitif mereka.
Anton mengerutkan dahi. "Bukan urusan lo lagi."
"Rumah itu... rumah Ayah. Satu-satunya peninggalan yang dia jaga mati-matian." Kataku dengan nada yang lebih dalam.
Ibu menyela dengan nada ketus. "Sudah kami jual. Dan seperti yang dikatakan Anton, itu bukan urusanmu lagi. Kami butuh uang itu untuk masa depan yang lebih jelas, bukan untuk membiayai pengangguran seperti kamu."
Aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar pahit di telingaku sendiri. "Iya... dijual murah buat nutup utang judi Anton, kan?"
Anton langsung maju setengah langkah, wajahnya merah padam. "Jaga mulut lo, ya!"
Aku menatap matanya tepat di depan wajahnya. "Kenapa? Gue benar, kan?"
Beberapa pengunjung taman mulai melirik ke arah kami. Aku mengalihkan pandangan langsung ke Ibu. "Utang-utangnya sudah lunas? Aku harap sih iya. Karena itu satu-satunya hal berharga yang Ayah punya dan kalian membuangnya begitu saja."
Ria menunduk lebih dalam, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Sudah selesai bicaranya?" kata Ibu dengan nada dingin. "Kalau sudah, minggir. Jangan bikin malu di depan umum dengan penampilan dekilmu itu."
Aku tersenyum lebih lebar kali ini. "Malu? Waktu kalian mengusir aku tanpa sepeser pun uang di tengah malam... kalian nggak mikir soal malu?"
Suasana semakin tegang. Bima berdiri tegap di sampingku, sementara Ucup sudah siap dengan pandangan menantang.
Ibu menatapku dengan penuh kebencian. "Kamu tidak akan pernah jadi apa-apa, Reza. Camkan itu. Nanti juga kamu akan kembali merangkak ke kaki saya untuk minta-minta."
"Kita lihat saja nanti, Bu."
Aku menoleh ke arah Ria sebentar. Tatapan kami bertemu lagi dan kali ini terasa lebih dalam. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi tertahan oleh situasi.
"Jaga diri lo baik-baik, Ria." Kataku pelan, hanya untuk dia.
Aku berbalik tanpa menunggu jawaban dari mereka. "Yuk, balik," ajakku pada Bima dan Ucup.
Kami berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Aku bisa merasakan tatapan benci mereka menusuk punggungku.
Setelah beberapa langkah, Ucup langsung mengembuskan napas panjang. "Gila... hawanya mendadak panas banget tadi."
Bima tertawa kecil sambil menepuk pundakku. "Tapi pertemuan tadi perlu, Za. Biar mereka tahu lo masih hidup dan nggak hancur."
Aku diam sejenak, lalu berkata lirih, "Itu baru permulaan, Bang."
Saat kami hampir sampai di gerbang keluar taman, ponselku bergetar di saku. Sebuah pesan dari Ria masuk.
“Reza… maafin kelakuan ibu dan bang Anton tadi."
Aku berhenti melangkah, menatap layar ponsel dengan napas tertahan. Tak lama, pesan berikutnya menyusul.
“Aku juga minta maaf, karena cuma diam nggak bisa ngebelain kamu."
Aku mengangkat kepala, menatap langit sore yang mulai menguning. Napas terasa sedikit lebih berat.