04. Dibalik Dinding Rumah

1004 Words
"Aku..." Suara di ujung telepon itu terputus sejenak, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di telingaku. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak beraturan—berat, ragu, dan dipenuhi ketakutan yang nyata. Jantungku berdegup kencang, menebak-nebak siapa yang berani menghubungiku di saat duniaku baru saja jungkir balik. "...Ria." Seketika, darahku seperti berdesir hebat. Nama itu menghantamku seperti godam. Aku refleks melangkah mundur hingga bagian belakang lututku membentur tepi kasur yang keras. Aku terduduk di sana, terpaku. "Ria?" ulangku dengan suara yang sengaja kubuat sedingin es. Aku tidak ingin dia tahu betapa hancurnya aku saat ini. Di seberang sana, keheningan kembali merayap selama beberapa detik yang menyiksa. "Aku... aku cuma mau tahu kamu di mana, Za," katanya pelan, nyaris berbisik. Aku tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terasa seperti duri di tenggorokan. "Ngapain?" balasku tajam. "Mau kasih laporan ke Ibu biar dia bisa nyuruh orang buat ngusir gue lagi? Atau Anton mau nambahin beberapa luka memar lagi di badanku?" "Nggak! Bukan gitu, Za..." sahutnya cepat, saking cepatnya hingga suaranya pecah. Aku menghela napas kasar, memejamkan mata rapat-rapat. Kepalaku mendadak penuh dengan fragmen kejadian tadi malam. Bentakan Ibu yang memekakkan telinga, tatapan jijik yang seolah menganggapku kuman, dan yang paling menyakitkan—diamnya Ria. "Lo tadi malam cuma diam, Ria," kataku, setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang kuarahkan padanya. "Lo lihat semuanya. Lo denger gimana mereka maki-maki gue. Terus sekarang, setelah gue nggak punya apa-apa, lo baru nyari gue?" Sunyi kembali menguasai sambungan telepon itu. Hanya ada suara statis tipis sebelum akhirnya dia terisak. "Aku takut, Za..." bisiknya lirih. Jawaban itu sempat membuat pertahananku goyah. Ada bagian dari diriku yang ingin memaafkannya, tapi rasa sakit ini terlalu segar. Aku mengeraskan rahang, menatap lantai semen losmen yang kusam. "Takut?" ulangku dengan nada mengejek. "Gue juga takut, Ria. Tapi gue tetep berdiri di situ, sendirian. Lo milih diam, berarti lo milih aman. Jadi jangan bersikap seolah lo peduli sekarang." "Udah, Ria. Gue capek," potongku sebelum dia sempat membela diri. Aku benar-benar berada di titik nadir energiku. Namun, napas Ria di ujung sana makin tidak teratur. "Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa, Za. Karena... karena aku denger sesuatu dari Ibu tadi," katanya, suaranya makin mengecil seolah takut dinding rumahnya sendiri ikut menguping. Alisku bertaut. Rasa ingin tahuku mulai mengalahkan rasa marah. "Dengar apa?" Ria ragu-ragu. Aku bisa membayangkan dia sedang menoleh ke kanan dan kiri, memastikan pintu kamarnya terkunci rapat. "Ibu... dia ngomong sama Anton di ruang tengah. Mereka kira aku sudah tidur," lanjutnya dengan suara gemetar. "Lusa... rumah itu mau dijual, Za." Aku membeku. Seluruh otot di tubuhku menegang seketika. "Apa kamu bilang? Dijual?" "Mereka butuh uang cepat. Katanya ada utang yang harus segera dilunasi. Ada orang yang mau beli di bawah harga pasaran, asalkan surat-suratnya beres besok," suara Ria makin serak karena tangis. "Anton yang urus semuanya. Dia bilang, yang penting rumah itu cepat lepas... sebelum kamu punya kesempatan buat balik atau nuntut apa pun." Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. Jadi ini alasan sebenarnya aku ditendang keluar secepat kilat. Mereka bukan cuma ingin mengusirku, mereka ingin menghapus setiap jejak yang ditinggalkan Ayah. Rumah itu bukan sekadar bangunan; itu adalah tempat satu-satunya Ayah menitipkan kenangan terakhirnya. "Kapan kesepakatannya?" tanyaku cepat, nadaku kini penuh urgensi. "Besok siang orangnya mau datang lihat rumah buat tanda tangan." Aku langsung berdiri, mondar-mandir di kamar sempit yang pengap itu. Otakku bekerja dua kali lebih cepat, menyusun kepingan rencana yang masih berantakan. Kalau rumah itu terjual, aku benar-benar kehilangan segalanya. Dan yang lebih menjijikkan, mereka akan berpesta di atas penderitaanku dengan uang hasil jerih payah Ayah. "Reza? Kamu masih di situ?" Suara Ria terdengar cemas. "Iya," jawabku pendek. Pikiranku sudah berada di tempat lain. "Kamu... kamu mau ngapain?" Aku menatap dinding kosong di depanku dengan tatapan nyalang. "Bukan urusan lo, Ria. Lo udah milih posisi lo tadi malam. Jadi sekarang, jangan ikut campur." Aku sempat berhenti sejenak, menelan harga diriku sebelum menambahkan, "Tapi... makasih sudah kasih tahu." Tanpa menunggu balasan, langsung kumatikan telepon itu. Kamar kembali sunyi, tapi hatiku sedang dilanda badai. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. Rumah itu satu-satunya warisan Ayah yang mereka rampas dengan paksa. Aku menyambar tas ranselku, membongkar isinya dengan gerakan brutal. Kartu ATM, dompet, ponsel—semuanya kuletakkan di atas kasur. Jika mereka ingin bermain kotor, maka aku tidak punya pilihan selain membuang etikaku ke tempat sampah. Mereka terdesak uang, dan itu adalah celah yang sangat lebar. "Kalian mau main-main dengan warisan Ayah?" gumamku pelan, sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibirku. "Ayo kita lihat siapa yang bakal hancur duluan." Aku mengenakan jaket, merapikan letak tas di bahuku, dan melangkah menuju pintu. Tujuanku sudah jelas sekarang. Besok siang akan menjadi panggung pertamaku untuk melawan balik. Aku tidak akan lagi menjadi anak pungut yang bisa mereka injak-injak. Namun, tepat saat kakiku hampir mencapai pintu keluar losmen yang remang-remang, suara pemilik losmen menghentikan langkahku. "Mas!" Aku menoleh, alis berkerut bingung. Pria tua yang tadi melayaniku berdiri dari kursinya dengan raut wajah yang sulit dibaca. "Ada yang cari dari tadi," katanya datar. Jantungku berdegup kencang. "Cari saya? Siapa?" Pria itu mengedikkan dagunya ke arah pintu kaca buram yang menghadap ke jalanan. "Seorang laki-laki. Sudah menunggu di luar dari tadi. Dia tidak mau masuk." "Saya tidak kenal?" tanyaku lagi, waspada. Tanganku diam-diam meraba saku jaket, mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata jika ini adalah orang suruhan Anton. Pemilik losmen menggeleng pelan. "Tapi dia bilang satu hal yang aneh..." jedanya sejenak, seolah memastikan dia tidak salah ucap. "Dia bilang, dia teman lama ayah kamu. Dan dia punya sesuatu yang harus segera kamu tahu." Darahku mendadak terasa dingin, seperti dialiri air es. Perlahan, aku memutar tubuhku menghadap pintu keluar. Di balik kaca buram yang kotor itu, aku bisa melihat siluet seorang pria jangkung berdiri diam di bawah temaram lampu jalan. Dia menunggu di sana, tegak seperti monumen tua yang penuh rahasia. Siapa dia? Dan bagaimana dia bisa menemukanku di tempat sekumuh ini secepat itu? Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberanianku, lalu melangkah menuju pintu. Masa lalu Ayah yang selama ini tertutup rapat sepertinya baru saja mengetuk pintu hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD