Mataku terpaku pada siluet pria di balik kaca buram itu selama beberapa detik. Ada t rasa penasaran yang nyaris menang, namun kelelahan batinku jauh lebih besar. Dunianya baru saja runtuh, dan aku tidak punya ruang lagi untuk teka-teki baru.
Aku memalingkan wajah, menatap pemilik losmen dengan sorot mata yang kosong. "Nggak kenal," kataku singkat, suaraku terdengar lebih parau dari yang kukira. "Saya nggak kenal siapa pun yang punya urusan sama saya sekarang."
Pria tua di balik meja itu tampak ragu, wajahnya berkerut bingung. "Tapi Mas, dia bilang benar-benar kenal sama almarhum ayah kamu. Katanya ini penting..."
"Saya lagi capek banget, Pak." Aku memotong kalimatnya dengan nada datar. "Kalau dia memang penting, dia bakal tahu di mana harus nyari saya besok-besok. Sekarang, saya cuma butuh tidur."
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, aku berbalik. Aku tidak peduli lagi siapa pun yang berdiri di luar sana, entah itu malaikat penolong atau iblis dari masa lalu Ayah. Saat ini, prioritas tunggal dalam hidupku adalah diriku sendiri.
Aku kembali ke kamar nomor 6, menutup pintu kayu yang sudah mulai lapuk itu, dan memutar kunci.
Klik.
Aku menghempaskan tubuh di atas kasur yang pernya sudah mulai protes. Cahaya dari layar ponsel yang retak menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan pengap ini. Tanganku bergerak mekanis, jempolku menyapu layar, membuka puluhan lowongan kerja yang berderet di aplikasi.
Semuanya tampak mustahil. Lowongan kantor butuh pengalaman bertahun-tahun, posisi administrasi butuh koneksi yang tidak kupunya. Aku menghembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar yang penuh noda rembesan air.
"Ya sudah… kita mulai dari titik nol," gumamku pada kegelapan.
Gengsi adalah kemewahan yang sudah kubuang di tong sampah depan rumah kemarin malam. Aku mulai melamar secara membabi buta. Gudang, pabrik, kurir paket, helper bongkar muat—apa saja yang penting halal dan bisa membuatku tetap bernapas.
Waktu merayap lambat. Satu jam, dua jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Tidak ada balasan. Aku merasa seperti sedang melempar surat ke dalam lubang hitam.
Namun, aku terus menekan tombol Lamar, sampai jariku terasa kaku. Hingga akhirnya, mataku menangkap satu judul dengan huruf kapital yang mencolok.
BUTUH KARYAWAN GUDANG – TANPA PENGALAMAN – SIAP KERJA KERAS – LANGSUNG INTERVIEW.
Gajinya mungkin hanya cukup untuk makan nasi bungkus dan bayar losmen murah, tapi itu adalah sebuah peluang. Tanpa pikir panjang, kukirimkan lamaranku.
Aku menjatuhkan ponsel ke bantal, membiarkan tubuhku luruh ke dalam kantuk yang luar biasa berat.
Pikiranku melayang kembali ke rumah itu. Wajah Ibu yang dingin, senyum sinis Anton, dan kata-kata mereka yang menyebutku sampah serta benalu.
Tanganku mengepal kuat di bawah bantal.
"Kalian tunggu aja," bisikku dengan suara yang penuh tekanan amarah. "Aku bakal balik. Bukan buat minta maaf, tapi buat ambil apa yang seharusnya jadi milikku."
Malam itu terasa sangat panjang, namun akhirnya kesadaranku tenggelam juga.
Keesokan harinya...
Gedoran keras di pintu menghancurkan mimpiku yang berantakan.
"Mas! Sudah jam delapan! Masih mau sewa nggak?!" teriak suara serak pemilik losmen.
Aku terlonjak bangun, jantungku berdegup kencang karena kaget. "Oh iya, Pak! Sebentar!" jawabku buru-buru. Aku segera meraih ponsel.
08:12.
"Sial," umpatku pelan. Aku langsung bangkit, mencuci muka dengan air keran yang dinginnya menusuk, lalu mengenakan pakaian paling layak yang tersisa di tas. Kaos polos hitam dan celana jeans yang sedikit pudar.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Sebuah nomor asing. Aku menelan ludah sebelum menekan tombol terima.
"Halo?"
"Ini dengan Reza?" suara seorang pria di ujung telepon, terdengar profesional namun terburu-buru.
"Iya, saya sendiri."
"Saya dari bagian personalia PT Sinar Logistik. Kamu kirim lamaran semalam buat bagian gudang? Bisa datang hari ini? Kita ada interview jam sepuluh pagi."
Darahku mendadak mendidih oleh semangat yang baru. Jantungku berpacu, kali ini bukan karena takut, tapi karena adrenalin. "Bisa, Pak! Saya pasti datang tepat waktu!"
"Oke. Alamat lengkapnya saya kirim via pesan singkat."
Telepon ditutup. Aku masih berdiri mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Senyum kecil yang getir muncul di wajahku.
Ini dia. Retakan pertama di dinding yang mengurungku selama ini. Langkah pertama untuk membalikkan keadaan.
Aku menyambar tas ransel, memastikan amplop kuning dari Ayah, kartu ATM, dan dompetku aman di dalam. Sebelum melangkah keluar, aku berhenti sejenak di depan cermin kecil yang buram di sudut kamar.
Wajahku tampak kusam, mataku sayu karena kurang tidur, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Ada binar yang lebih keras, lebih hidup, dan lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Aku akan mulai hari ini," ucapku pada bayanganku sendiri.
Aku membuka pintu kamar dan keluar dengan langkah yang mantap. Tidak ada lagi keraguan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak sedang melarikan diri dari bayang-bayang Ibu atau Anton. Aku sedang menuju sesuatu yang nyata.
Di depan pintu keluar losmen, aku sempat berhenti sebentar. Mataku menyapu trotoar di seberang jalan, tempat pria misterius itu berdiri semalam.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana selain tumpukan sampah yang belum diangkut.
Aku menghela napas panjang, lalu memutar tubuh dan berjalan menjauh dari tempat itu. Aku tidak akan menoleh lagi ke belakang. Karena sekarang, yang aku kejar bukan lagi rahasia masa lalu atau siapa orang tua kandungku yang membuangku seperti sampah.
Yang aku kejar adalah masa depan yang akan membuat mereka semua berlutut.