Romeo: Berusaha Lebih Baik

2100 Words
“Yo, katanya lo mau dukung dan temenin gue.” Andara mendekatkan wajahnya di bahu gue, bahkan deru napas hangatnya terasa. “Tapi enggak gini caranya And, bisa-bisa kaki lo enggak sembuh.” Gue enggak habis piker dengan pola pikir Andara, sikap optimis dan ambisiusnya memang tidak bisa ditolerir. Dia lupa bahwa keadaan kakinya belum sembuh. “SEKALI ENGGAK TETAP ENGGAK!” gue mengatakan ini dengan tegas. Meskipun terlihat begitu kasar, gue Cuma pengen membuat Andara sadar bahwa yang harus ia lakukan sekarang bukanlah hal konyol. Untuk apa melakukan pembuktian kalau dirinya sendiri tersiksa, apakah dia tidak tahu konsep mencintai diri sendiri? “Yo, please. Jangan marah,” Andara melembutkan suaranya, berusaha semaksimal mungkin membuat gue luluh. Gue menghela napas. “Gue Cuma butuh terapi agar kaki gue terbiasa, gue tahu apa yang harus gue lakukan dan apa yang enggak gue lakukan, gue tahu betul karena ini kaki gue, rasa sakit gue. Jadi please, ayo temenin gue.” Andara menjatuhkan dagunya di bahu gue. Gue yang sedang menahan diri, lemas mendadak. Darah di tubuh gue seakan berdesir. Andara tahu banget bagaimana meluluhkan gue. “Janji ya, enggak bakal aneh-aneh.” Gue memelankan suara gue. Lebih pelan dari pada tadi. “Janji!” jawab Andara cekatan. Nada suaranya langsung ceria. “Pegangin.” Andara langsung menyerahkan kruknya ke gue, kini ia mencengkeram jaket gue, mencoba untuk turun. “Jangan turun dulu, biar gue turun duluan.” Sahut gue cepat, menahan badan Andara untuk tidak turun. Andara melepas tangan gue, mencoba untuk turun sendiri, “Gue udah bisa turun sendiri tauuuu.” Setelah mengatakan kata itu dengan percaya diri, ternyata Andara sudah berada di samping motor, berdiri dengan berpegangan pada motor dan bahu gue. Gue tersenyum ke arahnya, “dah pinter yaaaa, sekarang adek.” Andara mendengus, sembari merebut kruk yang sedang gue pegang. Gue tertawa pelan. “Yo.” Ucapnya pelan. “Apa?” balas gue masih dengan tawa. “Bantuin lepasin helm, ribet nih.” Ia menyodorkan wajahnya. Gue tersenyum simpul, melihat tangannya yang memegang kruk menjadikan gue segera melepaskan helmnya. Kenapa sekarang gue sama Andara kayak orang pacaran ya, gemes banget sih. “Bisa enggak sih jangan ketawa mulu. Sebel nih liatnya, jadi pengen nampol.” Cibir Andara yang mulai muak dengan tawa gue. Ya gimana ya, tiap saat kelakuan emak macan ini gemas sekali, kan gue jadi ketawa terus. Setelah turun dari motor, kami berjalan beriringan. Melewati jalan setapak di taman. Taman sore ini sedikit sepi, hanya beberapa orang yang ada di taman ini, mereka sedang berolahraga atau hanya menikmati suasana taman sore hari. Akhirnya setelah berjalan beberapa meter, gue duduk di gazebo taman, Andara menyusul duduk. Gue menghirup napas dengan dalam, menikmati suasana sore di taman kota. Gue termasuk jarang pergi ke sini, karena memang juga mau ngapain. Andara meletakkan kruknya, “Yo, pegangin.” Ia menyodorkan tangannya, gue menerima. Ia mencoba berdiri tanpa kruk. Ketika Andara dapat berdiri, ia tersenyum lebar. Lalu ia melangkah perlahan, tangan kanannya masih berpengan dengan gue. Oh sungguh mesranya sore ini. Bersama teman gue yang awalnya songong sekarang manja dan keras kepala. Gue berdiri, karena langkah Andara mulai perlahan menjauh dari gazebo. Kakinya semakin aktif berjalan meski sedikit tertatih. Senyumnya berkali-kali melebar karena kakinya sanggup berjalan agak lama tanpa kruk. Gue juga semangat membantunya berjalan. “Yo, bentar-bentar.” Kini tangan kirinya mulai ikut menggenggam tangan gue. Ia berhenti, dan raut wajahnya berubah. Sepertinya ada rasa sakit di kakinya. Gue yang menyadari itu, langsung memegang tubuh Andara agar tidak terhuyung dan jatuh. Gue menuntun Andara untuk duduk di gazebo kembali. “Apa gue bilang, masih sakit kan.” Omel gue melihat Andara sedikit merintih. Andara menatap gue, dengan tatapan sedikit sebal. Namun juga merasa bahwa omongan gue ada benarnya. “Kan masih awalan, nanti lama-lama gue terbiasa jalan Yo.” Belanya. Gue melihat kakinya, bahkan gipsnya saja masih melekat di sana. “Kapan gipsnya di lepas?” Tanya gue. “Besok. Temenin ya!” lagi-lagi gue mulu yang menenin dia. “Sekalian nanti latihan jalan lagi. Lusa gue udah harus membuktikan ke Pak Bakri dan teman-teman kalau gue siap ikut lomba. Gue yang mendengar kata lomba disebutkan langsung menatap tajam ke arah Andara. Seoptimis itu dia untuk tidak terkalahkan, baik dari orang lain maupun dirinya sendiri. “Lo serius beneran ngejar lomba?” Andara langsung menjawab dengan cepat, “Yo, gue enggak boleh nyerah. Gue udah dapatkan semuanya, masak gue harus kalah gara-gara kaki gue yang Cuma keseleo.” “Gue udah kehilangan posisi sebagai komandan peleton, gue enggak boleh kehilangan barisan gue juga.” Tambah Andara dengan mantab. Benar-benar enggak mau terkalahkan ini manusia. ••• Gue lagi-lagi menepati janji pada Andara, menemani dia di klinik untuk melepas gipsnya. Andara kini berada di atas ranjang, tersenyum riang melihat gue yang sedang duduk di bangku sampingnya. Gue benar-benar enggak habis pikir dengan keceriaan yang dimiliki sama Andara, gue juga kagum pada pendirian-pendiriannya yang enggak bisa diubah sedikitpun. “Pokoknya besok gue mau nemuin Pak Bakri, dengan kaki gue yang udah sembuh.” Sumpahnya. Ia juga menggerakan jari jemari kakinya yang sudah dilepas gipsnya. Andara bahagia bukan main, dia bahkan menyanyi sejak tadi. “Gimana udah enggak sakit kakinya?” Tanya gue karena melihat wajahnya yang begitu semangat dan ceria. “Udaaaah dong. Niiih liat.” Pamer Andara, bahkan kini ia mengangkat kakinya perlahan. “Yaa, meski agak nyeri sedikit sih.” Tambahnya, setelah merasakan nyeri ketika mengangkat kakinya tadi. Gue tertawa, “Makanya jangan sombong dulu. Kebiasaan sih.” “Tapi udah sembuh beneran loooh.” Sahut Andara meyakinkan gue. “Iyain aja dah biar seneng.” Gue mengangguk-anggukan kepala. Tersenyum lebar. Gue menatap Andara dengan bahagia, karena Andara yang sedang bahagia karena kakinya mulai membaik. Gue sebenarnya juga ikut senang, melihat pancaran bahagia dan positif yang selalu Andara berikan. Gue juga dengan baik hati menemani Andara untuk ke klinik dan mengantarkan Andara. Ya iyalah, kan gue masih membawa motornya, sedangkan motor gue sudah dimuseumkan di rumahnya Fauzan. Gue mengingat obrolan tadi siang di kelas, gue benar-benar disidang sama mereka. “Ayo Romeo, jelaskan apa yang terjadi.” Haikal, seakan menjadi jaksa dalam persidangan siang ini. Gue hanya terdiam, menelan ludah dan mempersiapkan kalimat. Kalau salah kata, gue bisa mendapat hukuman mati. Kan enggak asik, kalau gue mati muda dan di blacklist oleh kaum Josah. Iya, Jomblo-jomblo sabililah. Nama klubnya aja yang sholeh, anggotanya mah begajulan semua. “Terdakwa Romeo, bisa jelaskan.” Rohman, menjadi hakim. Bagaimana bisa Rohman manusia yang tidak beradil ini menjadi hakim. “Jadi, jumat kemarin gue disuruh mengambil motor Romeo malam-malam. Padahal saat itu sedang gerimis dan saya membuat indomie.” Fauzan, menjadi saksi dadakan. Padahal ia belum dipanggil untuk bersaksi. Sia-sia gue mempercayai Fauzan, semua temen gue sama aja. Fauzan hanya kelihatan aja polos, aslinya mah sudah terkontaminasi. Gue tetap diam, persidangan tetap berlanjut. “Mohon segera menjelaskan sebelum saya menambah saksi lagi.” Haikal mencoba memojokkan gue. Gue langsung menatap Haikal, “Siapa woy?” “Saksi dua, Andara Puspita. Saksi tervalid sepanjang masa.” Rohman menunjuk Andara yang duduk di bangkunya, siang ini kelas Bu Febri kosong, jadi kelas ramai. “Ngadi-ngadi lo.” Gue memotong persidangan yang semakin tidak jelas. “Maka jelaskanlah wahai terdakwa Romeo Cakera.” “Nama gue Romeo Cakra ya, bukan Cakeeera.” “Mohon untuk tidak ngeles bapak Cakera yang tidak budiman.” Hakim memotong pembicaraan. Persidangan makin berbelit. Gue memasang wajah datar, menatap sahabat rasa monyet gue satu persatu. Gue menghela napas, menyiapkan kata-kata yang membuat gue akan dibully nantinya. “Jadi begini, kemarin hari Jumat pukul 15.30, saya melihat Andara jatuh dan kakinya terkilir…” “Lalu, saya yang baik hati ini menolong Andara dan mengantarkannya pulang dengann motor Andara, karena motor saya bensinnya habis.” Gue menjelaskan sembari senyum. Pura-pura senyum maksudnya. “Bapak berbohong, tanki motor bapak penuh. Saya lihat sendiri,” Fauzan, sebagai saksi yang tidak bersahabat menyahut. Gue berdecak sebal. Gue mencoba mencari alasan lain, alasan yang tidak memperlihatkan gue terlihat naksir sama Andara. Bisa kacau kalau mereka bisa menyimpulkan hal itu.”Iya bapak saksi, saya memang akhirnya mengisi. Namun Andara sudah terlanjur minta pulang pakai motornya, dia jijik pakai motor saya. Katanya joknya bikin p****t gatal.” Gue mengatakan ini dengan sangat pelan, jangan sampai Andara mendengar ini, bisa makin panjang urusannya. “Sebucin itu ya Anda dengan saksi dua kami.” Jaksa menyahut. Mendengar itu gue langsung membantah. “Anda salah paham Jaksa, saya ini orangnya baik hati. Tidak baik seorang jaksa mensuudzoni saya.” “Kamu membantah saya tambahi hukuman kamu. Menjadi dihukum mati dua kali.” Hakim mengetok meja dengan pulpen, pulpen gue lagi. “Gimana tuh?” celetuk Fauzan. “Ya nanti kan mati, reinkarnasi lagi terus dihukum mati lagi.” Jawab hakim dengan santai. “Tapi dalam Islam kan enggak ada reinkarnasi, Pak Hakim.” Fauzan menggaruk-garuk kepalanya. Bingung dengan pola pikir dan pernyataan dari Rohman. “Dahlah, sidang kelar. Gue mau ke kantin.” Gue bangkit. Meninggalkan teman-teman gue yang semakin random. Kenapa dulu gue bisa berteman dengan mereka. Gue lama-lama juga ketularan aneh kan. “IKUUUT WOY.” Seru mereka bersamaan. “Yo ayokk kita ke taman kota lagi.” Seru Andara menyadarkan gue dari lamun. Gue kembali sadar. Kini Andara bahkan sudah tidak menggunakan kruk untuk berdiri, bahkan juga tanpa pegangan tangan gue. Meski jalannya masih sedikit pincang dan jalannya pelan banget sih. “Jangan lari-lari dulu, entah kambuh lagi rasa nyerinya.” Gue mengatakan itu ketika Andara berjalan keluar dari klinik. “Ish, enggak nih.” Andara juga sepertinya sudah muak dengan omelan gue. Gue juga enggak sadar kalau gue suka banget ngomelin dia, harusnya kan di mana-mana yang suka ngomel kan cewek, kenapa gue yang suka ngomel-ngomel. Gue memboncengkan Andara seperti biasa, menuju taman kota sesuai permintaannya. Sebelum ke taman kota, kami mampir di outlet penjual minuman boba, jeli bundar-bundar yang lagi diminati banyak orang, termasuk gue sih. Andara benar-benar memiliki perkembangan yang signifikan, bahkan sekarang ia sudah mulai bisa baris berbaris meskipun itu perlahan. Ia juga bisa berjalan tegak, meski berkali-kali meringis kesakitan, namun ia tetap bisa menahannya dan tidak meminta bantuan gue. Gue Cuma melihat Andara baris berbaris di atas gazebo dengan menyeruput boba coklat. Sedot sampai boba terakhir. “Gimana keren kan gue?” bangga Andara pada gue. Kini ia juga menghabiskan minuman bobanya yang tinggal setengah. “Keren, keren.” Sahut gue dengan tulus. Memang Andara sore ini keren banget. Dia benar-benar optimis untuk melawan rasa sakitnya. Setelah bobanya habis, Andara bangkit lagi. Mulai melakukan gerakan variasi. Gerakan yang cukup rumit untuk kakinya yang sedang proses penyembuhan. Namun Andara dapat melalui itu dengan baik, ia menikmati tiap sakit dan melawannya dengan gerakan yang lebih aktif. Andara juga sudah menambah ritme gerakan kakinya, yang awalnya begitu pelan, kini sudah terlihat agak cepat. Gue benar-benar salut sama Andara. ••• Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi Andara, hari pembuktiannya. Gue juga merasakan euphoria yang ia rasakan sekarang, bagaimana rasa deg-degannya, gembira dan perasaan campur aduk yang memenuhi hati. Pagi ini gue siap untuk menyambut hari ini. Gue sudah siap dengan seragam gue, seragam identitas warna biru muda untuk atasan dan celana biru tua. Gue tiap hari Rabu sama Kamis memang seperti kembali ke masa SMP, serba biru-biru. “Sampai kapan lo bawa motor cewek lo, motor lo kemana?” Kak Sinta pagi-pagi sekali sudah ngomel. Gue yang sedang memanasi mesin motor langsung melirik. “Di rumahnya Fauzan.” Jawab gue singkat. Gue memang enggak cerita apa-apa ke kakak gue, yang ada gue makin dibully. Kan enggak baik buat mental gue. “Nanti sore ambil, ngrepotin temen lo. Lagian lo juga bawa motor cewek lo mulu. Kakinya belum sembuh?” Kakak gue benar-benar toxic ya, sudah merusak mood adiknya pagi ini. Padahal gue udah bahagia lho, baru melek aja gue udah senyum untuk menyambut hari. Bisa-bisanya dikomenin. Memang ya, terkadang orang yang membuat perasaan kita buruk itu bukan orang lain, tapi adalah orang terdekat kita. Berkedok sebagai orang akrab yang bisa mengucapkan kata seenaknya, sampai lupa bahwa kata yang diucapkan itu berdampak buruk pada mental. “Iya, nanti gue ambil.” Jawab gue akhirnya. Untuk formalitas betapa manutnya gue, sebenarnya mah dalam hati menyumpahi. Kak Sinta berlalu, gue segera mengambil helm dan berangkat menuju sekolah. Tidak sabar rasanya. Ketika gue sudah berada di atas motor, hp gue berdering. Keras banget. Gue segera merogohnya. Andara calling… Ngapain Andara telepon gue sepagi ini? Mau minta jemput? Gue mengangkat telepon dan diseberang sana, suara pertama yang gue dengar adalah tangis. “Yo,” suara Andara serak. Ada apa? “And? Lo baik-baik aja kan?” gue langsung khawatir. Gue takut Andara kenapa-napa. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD