Ketika bersama Romeo, perasaan gue mulai membaik, bahkan Romeo juga mendukung gue seratus persen. Itu benar-benar melegakkan, peluknya, suara lembutnya dan segala hal yang ia miliki sore ini menjadi benar-benar seperti power. Menguatkan gue yang saat ini sedang redup.
“Thanks ya Yo,” ucap gue ketika turun di depan rumah gue. Romeo masih saja mengendarai motor gue. Sudah terhitung tiga hari motor gue bersamanya, gue memikirkan apa kabar motornya. Soalnya dia sama sekali enggak pernah cerita.
“Lain kali, lo bisa telfon gue kalau memang butuh temen.” Ucapan itu sederhana, tapi benar-benar membuat gue lebih baik.
“Kalau memang butuh pundak lagi, telfon aja lagi, suruh dateng. Mau nginep pun oke-oke aja.” Tambahnya lagi. Tapi kali ini berlebihan.
“Jangan nginep, Kak Sinta galak.” Balas gue dengan senyum tipis, tapi itu sebuah candaan. Romeo menyahuti dengan riang juga.
“Bisa diatur itu mah.”
Gue tertawa renyah, hanya sedikit tapi suara itu bisa membuat senyum Romeo mengembang sempurna.
Matahari sore mulai tergelincir menuju kegelapan yang sempurna, dan Romeo harus pulang ke rumah. Enggak nyangka gue menghabiskan waktu yang lama sama Romeo. “Gue masuk dulu ya.”
“Siiip, salam buat keluarga.” Tukasnya sembari menyalakan motor itu kembali. Motorku sayang, baik-baik ya sama Romeo, jangan rewel.
Gue melambaikan tangan ke arah Romeo, dan dibalas dengan lambaian. Bedanya dia melambai sembari motor itu berjalan. Gue tersenyum tipis, memang kelakuannya itu absurd, kalau kita enggak mau mengenalnya lebih jauh, maka semuanya akan terlihat menyebalkan. Kadang itulah daya Tarik seseorang yang humoris. Tidak bisa ditebak kelakuannya yang random.
Gue akhirnya masuk rumah, disambut Mama yang langsung melepas tas gue. “Capek ya?”
Gue menggeleng dengan senyum, memang melelahkan, tapi semua dapat gue atasi dengan baik. Bersama Romeo yang pasti. Gue bersyukur bisa mengenalnya lebih dekat.
“Ma, Dara mau mandi dulu ya, gerah banget.” Gue langsung meminta tas gue dan menuju ke kamar.
Gue merebahkan badan gue di kasur. Gue mengingat apa yang terjadi hari ini, namun gue malah mengingat kejadian perih hari ini, ucapan Pak Bakri bahkan masih teringat dengan jelas tiap kata. Hati gue mendadak sakit lagi, dan air kata gue menetes tanpa sadar. Gue menghirup udara dengan dalam, mencoba mengisi rongga d**a yang sesak, lalu membuangnya perlahan bersama rasa perih itu.
“Lo kan udah janji sama Romeo enggak nangis lagi,” gue mengusap air mata gue. Menengangkan hati gue, mencoba untuk kembali ter-charging.
Drttt drtt.
Hp gue bergetar, gue segera meraihnya di saku seragam gue.
Romeo: Gue udah sampe rumah dengan baik-baik aja. Semoga lo yg di rumah sana juga baik-baik aja ya. :)
Membaca pesan Romeo, air mata gue mengalir lagi. Kenapa sih, perasaan tadi pas sama Romeo gue baik-baik aja, kenapa pas sampai kamar gue cengeng lagi. Ingat Andara, kasian mata lo kalau seharian nangis terus.
Gue membalas pesan Romeo,
Iya, gue baik-baik aja. Ini nyatanya gue males mandi.
Gue bangkit, kini posisi gue duduk di atas ranjang. Gue mau mandi, semoga saja semua bisa luruh dan masalah ini bisa selesai.
Gue benar-benar pengen melupakan ini semua, gue pengen bangkit lagi. Gue capek putus asa kayak gini, seakan-akan ini bukan gue.
Gue mandi sekitar 30 menit, cukup lama karena gue repot dengan kaki gue yang belum sembuh. Gue juga mencoba agar kaki gue enggak basah karena gipsnya bisa basah dan bau.
Sesampainya gue di kamar, gue melihat hp gue kembali. Ada pesan masuk dari Romeo.
Besok jemput enggak?
Gue membalas pesan Romeo,
Besok anterin pulang aja, gue berangkat bareng Mas Rizal.
Lalu setelahnya Romeo enggak membalas pesan gue. Gue meninggalkan hp di kamar, gue laper dan pengen makan. Sebisa mungkin gue melupakan kata-kata Pak Bakri yang membuat hati gue sesak. Pokoknya gue enggak boleh sedih, gue yakin gue bisa ikut mereka ke lapangan. Gue hanya perlu sembuh dan mencoba bersahabat dengan kaki gue. Ayo kaki, kita kibarkan semangat membara milik gue. Lo harus bisa bersahabat. Besok gue bakal melatih kaki gue berdiri tanpa kruk. Sepertinya itu bisa dilakukan dengan baik. Nyatanya sekarang gue udah enggak ngerasain rasa sakit di kaki. Rasanya juga sudah mulai berkurang, hanya nyilunya yang gue yakin bukan masalah besar.
•••
Meskipun kemarin menangis sesegukan, kini gue menjalani hari dengan ceria. Di dalam mobil, gue sudah meneguhkan hati gue untuk selalu optimis. Gue percaya, ketika lo memiliki kekurangan, semuanya dapat teratasi ketika lo berusaha dengan maksimal. Jangan pernah berhenti berusaha dan menyemangati diri sendiri. Rasa optimisme itu tumbuh dalam diri lo, jadi lo sendiri yang harus memulai.
“Kakinya udah enakan?” tanya Mas Rizal yang sedang fokus menyetir.
Gue merespon dengan ceria, “Udah, sebenarnya lumayan enakan jadi enggak perlu pakai kruk. Tapi Mam marah kalau aku ngelepas ini.”
Mas Rizal mengacak-acak rambut gue, “Emang ya adik Mas tuh semangatnya enggak bisa diragukan.”
tersenyum manis. Seperti senang dimana seperti ini. Kakak gue tipikal orang yang penyayang, wajar aja gue selalu happy kalau sama dia. Jangan nikah dulu ya Mas, Dara belum puas nih disayangnya.
Hanya butuh lima belas menit, mobil Mas Rizal berhenti di depan gerbang sekolah. Gue bersiap-siap turun, lalu salim kepada Mas Rizal.
“Nanti pulang bareng Romeo kan?”
Gue mengangguk senang. “Tenang aja, semua aman terkendali.”
Gue keluar dari mobil. Lalu melambai ke arah mobil Mas Rizal yang mulai meninggalkan jalanan sekolah.
Gue masuk menuju sekolah, dengan senyum yang mengembang perlahan. Gue harap ini adalah mula di mana gue kembali bangkit, semoga ambisi gue selalu membuahkan hasil.
“Pagi neng,” sapa Pak Marjuki.
“Pagi juga, pak.”
Gue berjalan ke kelas dengan tertatih, itu karena gue terbiasa mengangkat kaki gue jadi meskipun enggak sakit gue jadi pincang. Sesampai kelas gue duduk di bangku, menunggu kelas yang akan dimulai sepuluh menit lagi. Romeo belum datang, memang kebiasaan dia sih suka datang terlambat.
Gue duduk di samping Elisa. Elisa menatap gue dengan kernyit di alisnya. “Udah sembuh? Seger banget.”
Gue tersenyum membalasnya, “Doain gue ya El.”
“Doain apaan dah?” Elisa masih bingung dengan apa yang terjadi pada gue.
“Yaa pokoknya doian aja, masak gue enggak didoain yang baik-baik sama temen gue sendiri.”
“Lo kesambet apaan sih And?” Elisa kini mendekatkan tubuhnya ke gue, melihat gue dengan lebih dekat, mencari celah kesalahan gue hari ini.
“Pokoknya doaian yang baik-baiiiik, ya biar gue selalu bahagia, selalu sehat dan selalu bersyukur.” Gue mengakhiri pembicaraan, kini bangkit dan bertemu dengan Romeo yang memang sudah datang. Gue mengabaikan Elisa yang masih bingung.
“Yo, nanti pulang sekolah enggak buru-buru pulang kan?” Tanya gue pada Romeo yang baru datang. Romeo kini yang sedang mode ramah hanya bisa menautkan alis dengan senyum tipis di bibirnya.
“Mau ngapain?”
“Temenin gue ke taman kota.” Gue tersenyum, kini menepuk pundak Romeo yang masih mencangklong tasnya.
•••
Sepulang sekolah Romeo benar-benar menunggu gue di dekat bangku gue, menunggu gue memberesi buku pelajaran jam terakhir. Romeo belum tahu rencana gue, dia hanya menuruti dan penasaran.
“Kalian mau kemana sih?” Tanya Elisa yang sama sekali enggak mengetahui rencana gue.
“Mau nganterin gue pulang lah, kan Romeo bawa motor gue.” Jawab gue simple. Gue udah tahu kalau Elisa tahu tentang ini. Tapi Elisa enggak tahu dengan apa yang gue rasakan.
“Romeo ngapain bawa motor lo?” Haikal, tiba-tiba sudah nyelonong masuk dalam obrolan. Gue kaget, Romeo makin kaget. Sepertinya Romeo enggak cerita soal ini deh ke mereka.
“Terus motor lo kemana?” Tanya Rohman, entah sejak kapan dia menimbrung di sini.
“Kan masih di rumah gue.” Fauzan, yang biasanya polos dan pendiam kini ikut berbicara. Gue memandang Romeo yang gelisah, sepertinya dia tertangkap basah gara-gara omongan gue.
“Yo, jelaskan apa yang terjadi?” Kini ketiga temannya mengerubungi Romeo. Memojokkan Romeo yang bingung harus merespon apa.
Gue yang merasa bersalah langsung mengajak Romeo, “Yo, ayo anterin gue pulang. Kaki gue udah sakit banget nih.” Mereka yang mengerubungi akhirnya menyingkir. Namun masih dipenuhi tanda tanya yang besar.
Gue mengajak Romeo keluar kelas, kami berjalan dengan cepat menuju parkiran, meskipun kaki gue keseleo, gue masih bisa berjalan dengan cepat. Sesampainya di parkiran, gue berhenti, Romeo juga sudah bisa bernapas lega. Dia bersyukur banget gue tolong ketika teman-temannya siap menelan Romeo hidup-hidup.
“Jadi ke taman kota?”
“Jadi dong.” Sahut gue dengan mantab.
Romeo membawa motor gue menuju taman kota, hanya butuh sepuluh menit kita sudah berada di tempat parker taman. Gue melepas helm dan menurunkan kruk.
“Mau ngapain sih di taman kota?” Tanya Romeo akhinya.
“Mau belajar baris berbaris.” Jawab gue dengan ringan, gue sudah harus siap untuk dua hari lagi. Paling enggak kaki gue udah bisa buat berdiri dan berjalan lancer, dan gue harus berlatih.
“Ha! Ngapain?” Romeo setengah berteriak, menoleh ke belakang. Wajahnya seperti terkejut dengan rencana gue.
“Mau latihan,” jawab gue pelan, gue agak takut melihat respon Romeo yang kayak gitu.
“Lo serius? Kalau kaki lo kenapa-napa gimana? ENGGAK! Mending kita sekarang pulang aja.” Romeo menyalakan mesin kembali. Hendak meninggalkan taman kota. Gue yang tidak disetujui hanya meringik.
“Yo, katanya lo mau dukung dan temenin gue.”
“Tapi enggak gini caranya And, bisa-bisa kaki lo enggak sembuh.” Sepertinya Romeo memang enggak setuju.
“SEKALI ENGGAK TETAP ENGGAK!” ucap Romeo dengan sangat tegas.
•••