Andara: Senin Membahagiakan

2701 Words
Gue baru tahu kalau ternyata Romeo orangnya itu baik. Meski sifat menyebalkan masih dibudayakan sih. Tapi, dia kemarin benar-benar melakukan hal baik buat gue, sejak pagi yang sudah membantu dalam tragedi ban bocor, dikasih sarapan, diantar ke sekolah sampai dimasakin juga, mana enak lagi masakannya. Dan, hal yang buat gue makin kayak merasa enggak enak lagi tuh ketika dia bayari servis gue yang sekitar tiga ratusan, apalagi motor gue sekarang rasanya makin enak di bawa lagi. Meski uang itu hanya pinjaman, tapi gue merasa kayak dia menolong gue ikhlas. Kenapa sikapnya yang ini enggak setiap hari dilakukan sih? Kenapa dia malah menyebalkan? Gue jadi teringat percakapan gue di bengkel bareng dia yang ribut terus. “Pokoknya enggak mau tahu, motor gue harus udah bener.” Gue mengomel sejak selesao makan. Apalagi setelah makan, gue semakin punya tenaga untuk cerewet. Lagi-lagi Romeo selalu mengalah ketika gue bantah terus-terusan, kenapa dia sama sekali enggak ada niat membantah biar makin seru. “Romeo? Lo itu diem terus? Lo kenapa?” gue melonggokkan kepala di bahu kanannya, dia selalu membalas dengan hal yang membuat gue bingung mau meneruskan topiknya. Ya, saat ini kami sudah pergi ke bengkel, diboncengin dia yang pasti. “Gue males bicara sama lo.” Tuhkan, singkat padat dan menyakitkan. Masak iya dia gitu. Kan jahat.  Akhirnya gue bingung mau obrolkan apa lagi sama dia, apa yang mau gue bahas sudah kehabisan. Gue memutuskan diam, dan dia juga sama sekali enggak mau mengucapkan sepatah dan mencari topik. Sesampainya di bengkel, gue melihat motor gue sudah terparkir cantik di bengkel. Sepertinya sudah selesai. Romeo langsung menemui seseorang yang gue rasa adalah pemilik bengkel itu. “Berapa bang?” “Khusus buat lo, 385 ribu aja deh.” Ucapnya sambil menggosok-gosok tangannya yang berlumuran oli ke kain perca. Gue mendengar jumlah uang pembayarannya gue melongo, gue sama sekali enggak bawa uang sebanyak itu sekarang. Gue juga enggak berpikir sejauh ini jika habisnya sebanyak itu. Ini kan enggak Cuma tambal ban yang Cuma habis 12 ribu. “Ini bang.” Romeo menyerahkan sejumlah uang ratusan ribu ke pemilik bengkel. Gue langsung berlari menuju mereka berdua. “Enggak usah!” Romeo menoleh ke arah gue. Melihat perilaku gue, “emang lo punya uang?” Gue kembali sadar, gue enggak membawa uang itu. “Punya sih-” “Ya udah bayar gih.” Romeo tahu posisi gue sedang tidak membawa uang sebanyak itu. Tapi dia mencoba mempersilahkan gue. “Gue tahu lo enggak bawa kan?” Gue meringis, “Iya.” Setelah itu transaksi diurus Romeo. Membuat pemilik bengkel berpikiran aneh-aneh soal perilaku Romeo yang sok care ke gue. Pasti gue di kira pacarnya. Huuh! Males banget sih.  “Dara?” terdengar panggilan dari arah pintu kemudian disusul oleh ketukan. Itu Mama. “Iya Ma? Ada apa?” Ini masih pagi, gue baru saja selesai mandi dan mengganti pakaian rumah dengan seragam. Putih abu-abu sudah melekat, gue juga sudah mengenakan kaus kaki putih selutut, ditambah sepatu sneakers warna hitam. Gue adalah siswa yang tertib, gue harus punya wibawa karena apa yang kamu pakai mencerminkan apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Makanya gue selalu tampil rapi, cantik, dan anggun. Rambut dikepang satu cukup menambah kesan manis. Selamat pagi dunia. Saatnya berangkat sekolah. Sampai sekolah dengan perasaan tidak terburu-buru. Hari Senin, hari ini ada satu yang menyebalkan, ya?! Apalagi kalau bukan upacara rutin. Dan melewati pelajaran Matematika, tapi masih mending masih pagi, daripada sudah mepet pulang diberi Matematika, pasti otak serasa mau pecah. Setelah Matematika terlewati kini saatnya istirahat. Kali ini istirahat gue bukan ke kantin, melainkan ke mading dekat aula. Ya kalian tahu, hari ini adalah hari dimana diumumkannya seleksi Lomba Paskibra Merah Putih. Dan ternyata benar, gue melihat satu lembaran kertas baru terpasang di mading. Gue langsung bergegas menuju ke sana. Dan deretan nama itu tercantum. Siswa yang lolos sebagai Peserta Lomba Parade Merah Putih 2018. 1. Bagas Armana (XI IPS 1)  2. Faresa Yunus (X IPS 1)  3. Abelia Zika Fidiana (XI IPA 1)  4. Andini Mega Irfanda (X IPA 4)  5. Andara Puspita (XI IPA 3)  6. Alex Bagus Patrio (XI IPS 3)  7. Fardan Budi Agustio (X IPS 1)  8. Inaya Akmilia Dian (X IPA 4)  9. Fika Ameera Salsha (XI IPS 3)  10. Nehan Antonio (X IPS 1) Itu adalah nama yang tercantum sebagai peserta perwakilan lomba parade nanti. Gue, Bagas, Zika, dan Sasa dan Alex yang sering mengikuti perlombaan di kelas 10 dulu. Gue tersenyum simpul, memang mudah untuk ikut lomba sekolah ini, apalagi untuk gue yang sudah mengenal dan dikenal banyak orang. Sepertinya gue harus buka grup w******p Paskibra nih. Andara :  Semangat yang lolos sebagai peserta.  Gue tersenyum menatap layar ponsel, semua baru mulai. Agustus, selamat datang! “Misi kak, saya mau lihat hasil pengumumannya.” Dua orang siswi datang mendekati mading, permisi meminta tempat untuk melihat papan mading. Gue menyingkir dan tak memikirkan kehadiran orang tersebut. Gue sedang bahagia saat ini. Kak Reno:  Congratulation ya Andara! Adikku yang paling ambisius semasa hidupnya, semoga dengan semangatmu yang membara bisa membawa sekolah kita menuju kemenangan. Giat-giat latihan dan jaga kesehatan. Sukses! Gue tersenyum membaca pesan Kak Reno yang masuk. Kak Reno memang kakak terbaik deh, dia selain senior dia juga sebagai kakak yang selalu ada buat gue. Bentar-bentar, Kak Elawati juga mengirim pesan ternyata. Hati gue benar-benar mengembang. Kak Ela:  Selamat Andara!! Kamu lolos bukan semata-mata kamu baik di mata kakak, tapi kakak yakin kamu bisa membawa peleton ini menuju mimbar kemenangan. Yakinlah! Jangan sombong oke! Dan banyak pesan lain yang sempat gue baca. Apalagi rekan-rekan seperjuangan gue yang memberondong gue minta difotokan hasil dari seleksi kemarin. Gue enggak peduli, kalau pengen tahu ya ke sini. “Anda!!” teriak seseorang dari jarak beberapa meter dari gue. Dari panggilannya gue mengetahui siap dia, ya Romeo! Siapa lagi kalau bukan dia. Kan Cuma dia yang memanggil gue nama itu. Gue menoleh ke arahnya, melihat dia melambai tangan. Kemudian berlari menuju gue. “Beneran?! Gue lolos And?! Eh? Ada nama lo juga And?” salah satu dari dua cewek tersebut sedikit berteriak. Membuat gue menoleh ke arah suara. Gue sempat terkecoh ke panggilan ‘And’ yang ternyata bukan gue. “Ah masak Mil? Mana?!” “Itu, nomor empat. Di atas namanya Kak Andara, tuh lihat, Andini Mega.” Teman satunya itu menunjuk kertas di mading. Gue sempat heran ternyata siswa kelas 10 ini mengenal gue. Gue sekarang percaya bahwa gue dikenal banyak orang. Tapi gue kembali ke arah Romeo yang sudah berdiri di samping gue. “Traktiran dong! Yang lolos.” Romeo menyenggol bahu gue. Membuat gue sempat mengaduh karena perlakuan kasarnya. Dasar ya, enggak berubah sikap bar-barnya. Untung sekarang sedikit akrab, enggak kayak dulu yang sok kenal sok dekat. Dan untung juga gue lagi bahagia. “Apaan sih Yo. Yang ada gue tuh ditraktir lo, biar gue latihan dan lombanya tuh terjamin secara lahir dan batin.” Elak gue. Gue masih membuka ponsel, membalas pesan dari beberapa siswa. Apalagi ada pesan masuk dari Bagas. Senang dunia akhirat deh. “Enggak ah, kemarin kan gue udah seharian jadiin lo ratu, lo udah gue traktir, udah gue jemput tanpa dibalas uang bensin, dan membawa motor lo menuju bengkel. Masak iya sekarang gue di suruh traktir lo.” Romeo mengomel layaknya emak-emak. Gue yang mendengar segala pernyataannya langsung menatap ia tajam. “Jadi lo pamrih?!” Gue membuang nafas kasar. “Ya enggaklah, gue enggak pernah pamrih sama lo, gue Cuma mengingatkan ke lo bahwa gue itu baik ke lo selalu, tapi lo tidak pernah menghargai gue yang selalu sabar menghadapi kelakuan lo seperti emak tiri, eh enggak deh emak macan” Celotehnya lagi, tapi sebentar kemudian dia membekap mulutnya, seperti salah bicara. Tapi gue terlanjur mendengar. Apa emak macan?! Apa dia kata?! Gue baru aja bahagia melihat pengumuman, sekarang ada Romeo yang merusak kebahagiaan itu. Menyesal gue welcome banget sama dia tadi. “Ya udah, lets go! Kita menuju kantin.” Tanpa kesepakatan, Romeo menarik tangan gue. Membawa gue menuju arah kantin, gue juga gobloknya manut-manut aja digeret. Ya mau bagaimana lagi, tenaga Romeo lebih besar dari gue. Sesampai di kantin, Romeo memesankan makanan yang gue rasa kesukaannya, habisnya setiap gue melihat dia ke kantin makanannya itu-itu aja. Ah kenapa gue jadi perhatian gini, enggak penting.  “Mak, soto ayam sama es tehnya satu. Gulanya dikit ya, biar enggak manis-manis.” Pesan Romeo pada Mak Ayi yang berjualan di kantin. Gue geleng-geleng melihat lincahnya Romeo memesan makanan. “Iya siap mas Romeo! Karena kalah kemanisan, bisa mengalahkan kemanisan mas Romeo kan?” Mak Ayi menyahuti kalimat anehnya Romeo, dengan bahasa yang makin aneh. “Betul Mak.” Gue Cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah laku mereka berdua. “Partner, mau pesen apa, gue pesenin, tapi tetep Anda yang bayar ya.” Kini Romeo menoleh ke arah gue. “Terserah.” Singkat padat dan jelas, saking sebelnya sama kelakuan Romeo. “Ya udah mak, buat Anda, air putih satu gelas aja.” Mendengar ucapan Romeo yang super mengawurnya.  "Eh, eh. Enggak mak! Aku samain aja kayak Romeo." Sergah gue sebelum Mak Ayi menyiapkannya . “Apa enggak dikasih gula sedikit aja sama kayak Romeo?” ucapan Mak Ayi membuat gue pengen mati muda. Dunia absurd macam apa sih yang gue tempati. “Terserah Mak Ayi aja deh.” Sahut gue frustrasi. Selanjutnya kami duduk berdua di salah satu meja kantin. Gue enggak tahu kenapa gue manut aja bareng Romeo saat ini, berawal dari mading sampai ke kantin dan di suruh mentraktir manusia ini gue tetap mengikut gitu aja. Apa gue di guna-guna ya?! Ah enggak mana ada Romeo yang bentuknya seperti ini main dukun. Mukanya aja b**o-b**o nyolot. “Selamat ya partner!” Romeo menyalami tangan gue, tersenyum ke arah gue. Sepertinya kelakuan edannya mulai tampak lagi deh setelah kelakuan baiknya Sabtu kemarin. Apalagi dia memanggil gue dengan panggilan partner lagi. Bisa enggak sih?! Dia memanggil nama gue dengan panggilan 'Andara', bagus-bagus dikasih nama ortu gue, pake diganti-ganti segala. Dia melepas tangan gue dan masih mengoceh dengan kalimatnya, “Semoga nilai lo enggak turun gara-gara sering ninggal jam pelajaran nantinya.” Ucapannya membuat gue cepat menyanggah, “Enak aja lo. Enggak mungkin, nilai gue tetep baik. Seenggaknya sih, enggak kurang dari lo.” “Masak?” ucapannya di susul dengan Mak Ayi membawa makanan yang di pesan. Dua mangkok soto yang mengepul dan dan dua teh yang sudah mulai berkeringat. Gue mendadak lapar, padahal masih pagi begini. Kemudian Romeo mengabaikan gue, sibuk dengan makanannya, gue pun juga mengabaikan dan sibuk dengan makanan gue. Jadilah kami satu meja sibuk dengan makanan masing-masing. Sekitar sepuluh menit kegiatan makan berlangsung, Romeo mengakhiri dengan satu sendawa yang nyaring. Membuat gue mendelik jijik. Jorok banget sumpah. Kemudian dia mengelap mulutnya dengan tisu di meja, dan menyeruput sisa es tehnya hingga tandas tak sisa. “Masuknya entar ya, perut gue kekenyangan. Lagian, habis ini Bu Indah enggak masuk. Dia pergi rapat ke pusat.” Ucap Romeo. “Iya gue tahu. Tugasnya ada di hape gue, entar gue serahkan ke Viona biar di tulis di depan.” Balas gue. Karena dia ketua dan gue wakil, jadi kami berdua adalah tempat penitipan tugas dari guru-guru jika ijin tidak mengisi kelas. Dan Viona, adalah sekretaris kelas, menggantikan gue kelas sepuluh dulu. “Pinter deh Partner.” Ucapnya membuat gue tersenyum sombong. Ya iyalah pinter, gue aja rangking dua. Kalah sama lo dong, yang masuk lima besar aja enggak. Perlahan-lahan gue mulai menerima keadaan, gue harus menerima lapang tentang tanggung jawab gue sebagai wakil ketua kelas dan memiliki ketua kelas seperti Romeo, apalagi gue dan dia sekarang sering banget deket. Lebih sering dari Viona apel sama Bimo. Tapi bukan berarti gue lagi pedekate ya sama Romeo, amit-amit deh. Cuma sering deket aja. Lebih tepatnya dia mulu yang gangguin gue. “Anda? Beneran kan yang bayar lo?! Gue lagi enggak bawa uang saku nih.” Ucap Romeo menatap gue lekat. “Iya, iya. Berhubung gue bahagia, dan berhubung lo juga udah tilap makanannya mau enggak mau gue yang bayar lah.” Balas gue jutek, tapi kemudian gue sedikit teringat Sabtu kemarin setelah menelaah kalimatnya. ‘dia enggak bawa uang saku?’ yang artinya dia memang sudah kehabisan uang karena membayar uang bengkel motor gue. Mau gue bayar sekarang tapi gengsi, toh gue juga enggak bawa uang. Tapi ucapan Romeo tadi benar-benar membuat gue tertohok. “Makasih ya, Anda! Cantik deh” genitnya sembari menjawil pipi gue. Dan gue refleks menepis karena merasa risih. “Ehem-ehem! Dicari kelas malah kelayapan di sini. Jangan pacaran mulu dong.” Datang tiba-tiba dari arah luar kantin. Itu Rohman. Mendengar kata pacar spontan gue dan Romeo berkata bareng dengan kalimat yang sama. “Pacaran gundulmu!” Rohman langsung menyahut lagi, tak peduli dengan protes kami berdua. “Pokoknya lo sekarang semua ke kelas. Soalnya tugasnya kan ada di lo berdua. Kalau lo enggak segera ke kelas jam ya keburu habis dan lagi-lagi gue enggak bisa nyontek Viona dong.” Kemudian Rohman menyeret gue dan Romeo kanan kiri. Gue tidak bisa mengelak sedangkan Romeo masih bisa membalas hal yang sama ke Rohman. “Enggak usah pegang-pegang. Entar orang mikirnya aneh-aneh. Gue enggak mau difitnah pacaran sama lo.” Romeo membuang kasar tangan milik Rohman. Gue pun juga melakukan hal yang sama karena pegangan Rohman sudah mengendur. “Idih najis!” balas Rohman. “Makanya gue juga najis difitnah pacaran sama lo. Mendingan difitnah pacaran sama Andara deh.” Deg! Ucapan Romeo membuat jantung gue berhenti berdetak beberapa detik. Kenapa gue jadi gugup gini. Ah, itu kan Cuma candaan. "Ye... itu mah mau lo aja." Balas Rohman memoles kepala Romeo. Gue masih sedikit canggung dengan perkataan Romeo tadi. “And?” panggil Romeo lirih. Gue yang sedang di fase ambang langsung tersadar. “Apa?” jawab gue lirih. “Lo udah bayar makan kita kan?” Mendengar ucapan Romeo gue langsung tersadar. Gue kembali ke kantin dengan berlari. Gara-gara Rohman gue sampe lupa bayar. ●●● Senin sepulang sekolah, seperti biasa gue melakukan ekstra Paskibra seperti minggu-minggu sebelumnya. Tapi hari ini beda, gue pertama kali latihan di lomba parade nanti. Sejumlah 10 siswa yang lolos kini membuat satu barisan. Kak Reno dan Kak Ela yang berdiri di depan memimpin sedang tersenyum memandang satu persatu wajah kami. “Selamat untuk adik-adikku semuanya. Tapi jangan senang dulu, ini bukan ajang piknik tapi adalah ajang dimana kalian mati-matian membawa nama baik sekolah kalian.” Kak Reno bercuap-cuap. Seperti biasa dia seperti terlihat berwibawa ketika memimpin di depan. Kak Ela pun juga sama. Mereka berdua memang pasangan yang serasi, memiliki minat yang sama. Kapan coba gue bisa dapat yang kayak gitu? Stop?! Kenapa gue membahas cinta-cintaa enggak jelas. Tapi tanpa sadar gue juga melirik Bagas yang ada di barisan paling depan. “Kami turut bangga atas semangat kalian untuk mengikuti lomba ini.” Kegiatan latihan berlangsung sampai petang. Yang mengikuti ekstra biasa sudah pulang, kami masih sibuk latihan. Sekitar pukul 5 petang. Barisan di bubarkan. Gue mengelap wajah dengan tissue di tepi lapangan. Menyenangkan sekali. “Selamat ya,” suara seseorang datang dan duduk di samping gue. Sebentar? Itu bukan suara Kak Reno, apalagi suara Romeo. Itu tidak mungkin suara kelas 10, karena tidak mungkin selancang itu ngomong tanpa permisi ke gue. Gue menoleh, dan menemukan orang berperawakan tinggi tegap. Itu Bagas. Gue cukup kaget tiba-tiba duduk di samping gue. “Eh, iya makasih.” Jawab gue sembari memasukkan botol air minum ke dalam tas. “Selamat juga udah jadi ketua peleton.” ucapnya dengan senyum tulus. Gue sebenarnya enggak enak bisa menjadi ketua peleton sedangkan Bagas tidak terpilih. Tapi mendengar ia mengucapkan ini, gue cukup lega. “Kamu juga semangat ya.” “Semangat dong, kan ketua peletonnya juga semangat.” Ucapnya sembari menepuk-nepuk pundak gue. Membuat gue mematung selama beberapa detik karena sentuhannya. Kenapa dia bisa membuat gue degdegan gini. Kenapa Bagas mendadak jadi baik banget kayak gini. Apa Bagas juga suka sama gue ya. “Ya udah aku pulang dulu ya.” Pamitnya. Sementara gue masih mematung tak percaya. Tuhan, ah masak secepat ini sih. Drtt drtt drtt... Suara getaran itu membuat gue kaget, itu berasal dari saku kanan celana gue. Gue merogohnya dan mendapati pesan dari Mama soal pesan di suruh pulang. Gue pun memutuskan pulang, sejenak melupakan Bagas yang membuat jantung gue mati mendadak tadi. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD