Romeo: Makan Jiwa Kuli

1589 Words
"Udah gue turun sini aja. Hus... pulang sana!" Andara turun dengan kasar di depan gerbang sekolah. Gue menatapnya dengan tatapan datar. Sudah biasa. Manusia ini memang biasa tidak menghormati dan berterima kasih pada orang lain. Kini Andara menyerahkan helm dengan kasar juga. Akhirnya, Andara menurut lagi dengan apa yang gue kehendaki. Pagi ini ia sarapan, juga mau  diantar gue. Meski hatinya tidak menurut, setidaknya fisiknya tidak menolak. "Gue harap, nanti sepulang gue seleksi, motor gue harus udah selesai. Awas aja kalo belum! Ohya gausah dijemput! Gue pulang bareng temen gue." Andara menatap gue dengan culas dan tatapan sengit. Gue tersenyum. "Pede banget lo mau gue jemput." Gue membalas dengan senyum nakal. Membuatnya semakin menatap gue sengit. “Ish!!!" gerutunya. "Iya iya, bawel! Ntar lo jemput jam berapa?" "Kan udah gue bilang enggak usah dijemput. Ntar dikira kita ada apa-apa lagi sama anak paskib. Gue enggak mau bikin kabar buruk ya!" sanggahnya membuat gue tertawa. "Begitu jonesnya ya lo sampek ada cowok antar jemput lo, dikata gebetan." Ledek gue membuat Andara memukul lengan gue. Pukulannya bukan main, sakit banget, sampai gue berhenti tertawa. Dia memelototi gue. "Bisa enggak jangan bercanda!" “Iya.. ini gue udah berhenti bercanda.” Gue pun berhenti tertawa, kemudian kembali terdiam. Sebelum Andara benar-benar meninggalkan gerbang, dia menoleh ke gue. “Makasih ya!!" Tak lupa meninggalkan senyum manis. Gue juga membalasnya, tumben banget ya gue akur sama dia. Eh, bentar. Akur? Dia sama sekali enggak respect sama gue? Ketika Andara sudah benar-benar masuk kawasan sekolah, gue menstater motor gue. Dengan senyum mengembang. Senang melihat Andara menjadi hangat seperti itu. Setidaknya perilakunya tidak seperti emak macan deh. Kalau sekali ke pancing, selalu teraniaya gue. Tekanan batin. Capek, cyin. Gue langsung memutar balik motor gue. Segera pulang untuk membawa motor emak macan menuju bengkel. Melihat motornya, gue amat geleng-geleng. Motornya sama sekali enggak pernah di service, tarikannya enggak nyaman. Dan ban motornya rawan bocor. Untung dengan kebaikannya gue, gue membawa motor ini. Gue tetap membantu dia meski dia selalu mendzolimi gue. Kurang baik apa lagi nih?! Kapan coba tuh emak macan dapat hidayah. Ya, gue sebagai anak soleh mendoakan yang terbaik deh buat kelangsungan hidup manusia ganas itu. Tapi lucu juga ya kalau lihat dia susah. Yah, bukan maksud gue jahat sih, tapi gimana ya, kalau lihat dia susah tuh tanpa sengaja gue selalu jadi penolong dia yang serupa malaikat. Dan dia memohon bantuan gue. Gue berasa, perlakuan dia itu sedikit merendah kalau lagi susah doang. Tapi enggak apa-apalah. Suatu saat, dia akan takluk dan mau menghargai gue. Entah itu kapan. Doakan saja. Jarak bengkel dengan rumah gue tidak terlalu jauh. Hanya butuh jarak tempuh satu kilometer. Bengkel ini memang sudah biasa menangani motor gue. Service dari Mas Ipul memang tidak bisa diragukan lagi. Karena sudah biasa, gue langsung menyerahkan motor ini ke Mas Ipul. "Mas, service ya. Sampai oke. Ban yang belakang ganti luar dalam." Tak perlu diulang. Mas Ipul sudah hafal tugasnya, melayani dengan cekatan. Motor biru itu segera di bawa masuk ke area bengkel. Gue duduk di kursi tunggu sembari membuka ponsel butut gue. Membuka aplikasi yang isinya itu-itu saja. Klik menu, geser-geser dan kembali lagi ke layar awal. Gitu aja terus. Buka w******p juga enggak ada notifikasi dari siapa pun, yang ada hanya riwayat chat beberapa hari lalu yang memang karena kepentingan. Sisanya, hanya sepi. Sepertinya juga enggak ada efeknya gue menggunakan nada dering sebagus apa pun jika tidak ada notifikasi. Gue kembali memasukkan ponsel gue ke dalam saku. Gue menatap motor milik Andara, kini motor itu sudah kehilangan ban belakangnya. Mengamati Mas Ipul mondar-mandir mengambil peralatan untuk perlengkapan pembedahan. Semakin lama, gue semakin bosan. Gue sudah enggak tahu mau ngapain kalau lagi boring begini. Apa gue pulang dulu ya? Masak jalan kaki? Lumayan jauh nih. Entar kalau gempor gimana? Udara juga udah mulai panas, entar kalau gue kulit gue hitam gimana? Entar makin enggak laku dong. Akhirnya gue memutuskan untuk memesan ojek online, satu kilometer itu lumayan bisa buat gue item ya. Berhubung gue masih memegang ponsel gue langsung beralih ke ruang chat milik Andara. Nama kontak yang gue beri nama 'Andara Ganas' terlihat last seen beberapa jam yang lalu. Gue tersenyum dan mengetik. Semangat seleksi ya, emak macan. :) Tapi gue mengurungkan lagi, menghapus kalimat yang sudah gue ketik di kolom chat. Enggak deh kalau gue kirim kayak begini, yang ada gue dikira sok care sama dia. Entar dia pasti besar kepala. Enggak usah deh. Mana emotikonnya enggak banget lagi. Sok manis banget Gue mengurungkan niat membuat kolom chat kembali kosong. Gue menulis lagi. Kali ini dengan kalimat lain. Andaaa, service motor lo mahal. Gimana dong? Gue enggak punya jaminan apa-apa nih? Masak motor lo gue jual? Toloong Andaaa... Ah, enggak-enggak. Hapus lagi. Kalau begini gue kelihatan miskin lagi. Ah, hapus-hapus. Gue enggak mau semakin diremehkan sama ratu songong itu. Gue kembali memasukkan ponsel itu di saku. Mengurungkan kolom chat yang masih kosong. Tepat gue memasukkan ponsel, mas-mas ojek online datang dengan jaket identitasnya, gue langsung naik dan menuju rumah. Cuma sebentar, dan bayarnya cuma murah. Zaman sekarang memang orang mulai enggak suka yang repot-repot ya. Jalan kaki satu kilometer aja harus pesan ojek online. Gue memasuki rumah dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.45. Gue baru sadar ternyata sesiang ini. Gue tadi sih habis mengantar pakai acara harus sarapan dulu. Ya bagaimana lagi, kan habis joging lapar. Ah, palingan juga Andara pulangnya masih nanti-nanti. Jemput enggak ya? Enggak usahlah. Mending tidur aja. Gue merebahkan tubuh di sofa depan tipi. Sofa malas kesayangan gue. Banyak kegiatan yang gue lakukan di sofa malas ini. Dari menonton tipi, tiduran, mainan ponsel, belajar-ini jarang dilakukan. Dan kegiatan yang bersangkut pautkan dengan kemalasan gue. Lalu tanpa sadar gue tertidur di siang hari yang masih begitu awal. Tok! Tok! Suara berisik itu membangunkan tidur siang gue Itu suara pintu di ketok, sembari dengan mengumpulkan tenaga. Gue bangun menuju pintu. Ketika pintu sudah terbuka, terdapat dua orang di depan sana. “Kenapa gue telfon lo enggak di angkat.” omel Andara tepat pintu itu terbuka. Di sampingnya terdapat cowok yang mengenakan baju serupa dengan Andara, kaos panjang dan celana training. Itu Bagas, cowok yang sering bareng sama Andara. “Ya mana gue denger, kan gue tidur.” jawab gue dengan suara serak. Eh, tapi kan memang suara gue serak-serak basah. “And, kayaknya gue enggak bisa lama-lama deh. Soalnya gue harus nganterin nyokap sore ini. Duluan ya gue.” Bagas pamit. Andara langsung berubah rautnya. “Buru-buru ya?” balasnya lirih. “Hati-hati ya Gas. Makasih.” lanjutnya. Ketika Bagas pergi meninggalkan pelataran rumah gue. Wajah manis Andara langsung berubah jutek lagi. “Motor gue gimana?” tanyanya tanpa basa-basi. “Belum selesai. Kan baru jalan dua jam.” sahut gue santai. “Kok lama banget.” “Lu kata bikin mie, bentar doang. Sabar, bentar lagi juga selesai.” Tanpa dipersilahkan Andara duduk di ruang tamu gue. Gue kaget. “Eh, gue di rumah sendirian ya. Jan ngadi-ngadi lu masuk ke rumah gue.” Gue menengok pelataran rumah gue, melihat apakah ada tetangga yang melihat. Andara sepertinya mengabaikan gue, malah menyandarkan tubuhnya di sofa. “Yo, gue laper deh.” “Maksud lo? Pengen gue masakin?” lirik gue ke arahnya. “Emang lo bisa masak?” tanyanya meragukan. “Terus roti yang lo makan tadi pagi siapa yang bikin? Pembantu gue? Sultan banget gue punya pembantu.” gue akhirnya ikut duduk di sofa, bersebrangan dengannya. Kekalutan gue tentang fitnah tetangga agak berkurang. Sepertinya juga gue enggak bakal terjadi apa-apa sama Andara, ya gila gue bisa tertarik. ●●● Akhirnya gue menuruti apa maunya, gue memutuskan untuk masak. Andara berdiri di samping gue, menunggu ayam goreng itu matang dengan sempurna. "Tadi gimana seleksinya?" gue pun mencoba obrolan. Ya, dari pada sepi banget. "Hasilnya belum keluar. Gue tadi langsung pulang, enggak tunggu pada bubar. Biar bisa bareng Bagas," Kini Andara berada terlalu dekat di samping gue, gue juga heran kenapa dia enggak bisa menunggu duduk aja. Andara berbicara menatap gue, akhirnya gue bisa melakukan bicara face to face yang sebenarnya dengan cewek ini. "Lo iklas kan, masakin gue? Kok pake ayam gini,”. Kalau enggak iklas kenapa gue masakin dia. Nih cewek meremehkan harga diri gue ya. Ayam sekilo enggak ada dua juta ya. "Enak aja. Keluarga gue nih kaya tujuh turunan tau." Gue membalas tak terima. "Tapi sayangnya, lo itu turunan ke delapan. Hahahaha." Tawanya yang sepertinya puas dengan ejekan itu. Sialan nih cewek. Ketika ayam itu sudah matang, Andara tanpa permisi sudah mengambil nasi dan bersiap diri untuk menyantapnya. Gue pun menatapnya heran, selapar itu sampai enggak bisa nunggu ayamnya adem dulu. Seperti tidak diberi makan selama satu minggu. Gue baru tahu juga, ternyata Andara itu omnivora ya, iya pemakan segalanya. Lihat makannya tuh kayak kuli gitu, gue aja yang lapar enggak segitunya sih. Andara yang sudah duduk dan melahap makannya langsung menatap gue sinis, "Ngapain lo liatin gue?" Gue balas tertawa renyah, "enggak papa, cuma lucu aja. Lo lahap banget kayak habis ngapain aja." Dia menaruh sendoknya, meneguk air putih, membantu menelankan makanannya yang memenuhi mulut. "Abisnya tadi seleksinya bikin capek. Makanya gue cepet laper." "Alesan aja lo. Bilang aja lo jiwa kuli." Gue tertawa. Dia yang mendengar dirinya disamakan dengan kuli, melempar gue dengan tissue. Gue masih tertawa, sedang dia marah-marah. Lo lucu banget sih And! "Andara Kuliii..." ejek gue terus-terusan. Kini ia siap melempar sendoknya ke arah gue. Seketika gue langsung diam. “Jangan pake properti itu ya.” balas gue takut. Masalahnya sendok rumah gue itu berat dan tebal. Kan nggak lucu kalau gue benjol. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD