Andara: Ambitious Girl

2560 Words
“Jadi, itulah kiat-kiat menjadi pemimpin yang baik. Untuk teman-teman, yang meski tidak berminat menjadi pemimpin, setidaknya kalian akan memimpin diri kalian masing-masing untuk menjadi pribadi yang selalu baik. “Sekali lagi Kakak katakan untuk menjadi pemimpin yang baik adalah selalu mengakui kesalahannya, mau mendengarkan masukan, memiliki wawasan luas, merangkul tim, dan tidak membeda-bedakan. Seperti Kak Elawati contohnya.” Gue menunjuk Kak Elawati yang sedang bersandar di tiang basket, kaget namanya di panggil. Gue hanya tersenyum ke arah Kak Elawati yang kini menjadi tatapan kagum dari banyak pasang mata junior. “Apakah ada yang ingin ditanyakan?”  Gue saat ini sedang melakukan ekstra Paskibra rutin tiap hari Senin. Dengan materi sharing  “Pemimpin yang baik” gue menjelaskan panjang kali lebar di depan adik-aduk kelas 10. Gue senang dipercaya untuk membawakan materi dengan tema pemimpin. Gue semakin merasa dan belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik. “Kak saya mau bertanya?” seseorang siswa mengacungkan tangannya.  Gue tersenyum menimpali. “Iya, silahkan.” “Apa pendapat kakak, jika seorang pemimpin ternyata bersikap tidak seperti yang dijelaskan tadi. Apakah kita sebagai anggota harus melengserkan  dia?” Gue sejenak berpikir. Pertanyaan dia cukup sulit, gue sampai bingung untuk menjelaskannya. Tapi kuasai, Andara! Buktikan kalo lo mampu dan kritis. Gue menghela napas, mengambil persiapan untuk menjawab pertanyaannya, “Baik, saya akan menjawab pertanyaan kamu. Hal pertama yang kita lakukan sebagai anggota adalah kita ingatkan. Kita rangkul sang pemimpin, dan coba bicarakan dari hati ke hati. Jangan kita langsung men-judge ‘wah enggak baik nih jadi pemimpin. Lengserkan!’ Jangan…” “Jadi, kita ingatkan dia, kita coba ingatkan dengan visi misinya. Teman-teman, jadi pemimpin itu tidak mudah. Mereka harus mengatur anggotanya, selalu mencoba jadi yang lebih baik. Tapi malah diremehkan. Kadang, mereka juga perlu disupport. Mereka juga butuh rangkulan dan apresiasi dari anggotanya.” Gue tersenyum setelah mengakhiri kalimat gue. Semua orang bertepuk tangan, gue Cuma bisa mesem-mesem malu. Ketika gue menatap lurus ke depan, gue melihat gerombolan siswa sedang melakukan latihan. Sepertinya itu ekstra Fotografi, dan gue melihat Romeo. Dia saat ini sedang melihat ke arah sini, dan sepertinya dia ngelihatin gue. Tapi ngapain dia ngelihatin gue? Tapi bodo amat ah, gue kembali fokus ke kegiatan. Palingan juga dia nyari cewek kelas sepuluh yang cantik. Lalu pandangan gue mengarah ke Bagas, dia sedang berdiri santai mendengarkan materi gue. Melihat gue yang menatapnya, Bagas membalas dengan senyum. Tentram sekali hidup kalau begini terus. ●●● Hari ini adalah hari Jumat, hari terakhir untuk sekolah. Sekolah gue menerapkan sekolah 5 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur. Meski hari terakhir dalam pembelajaran, gue membenci hari Jumat. Bukannya gue tidak menghargai hari mulia ini ya, tapi gue lebih membenci ke isi aktivitasnya. Masalahnya, guru-guru sengaja menaruh mata pelajaran paling menyebalkan di kelas gue. Fisika, Matematika, Kimia. Semua bercampur di hari ini. Dan gurunya mayoritas tidak menyenangkan semua. Pak Banu guru Matematika yang sekarang melihat gue dengan tatapan aneh karena tragedi alibi diare dari Romeo, Bu Desi; guru Kimia yang sekarang lagi suka sensi karena hamil, dan yang terakhir Pak Udin; guru Fisika yang menyebalkan, lebih senang menceritakan kehidupannya dari pada rumus Fisika. Sekarang pukul 11.45, sudah istirahat. Murid cowok kelas ini sudah berhambur ke luar kelas menuju masjid sekolah, melaksanakan salat Jumat. Kini kelas hanya berisi kaum-kaum hawa yang lebih senang tiduran dan banyak kegiatan tidak jelas lainnya kala tidak ada kaum cowok. Gue dan Elisa memutuskan untuk menuju kantin yang pasti sepi. “Tenang ya And,”  ucap Elisa yang kini ada di samping gue. Gue mengiyakan ucapannya. Benar sekali. Tenteram sekali jika tak ada mereka. Ketika kami menuju ke kantin, Bu Widya mondar-mandir membawa sebilah kayu yang digunakan untuk menyabet siswa yang tidak berangkat salat Jumat. Beliau setiap Jumat selalu mengitari sekolah untuk memastikan semua siswa mengikuti salat Jumat. “Iya, tenang, bahagia dan sentosa.” Balas gue. Ketika sampai di koridor kelas IPS, gue bertemu Bagas. Dia tersenyum ke arah gue, gue membalas senyumnya.  “Lo kenapa belum berangkat ke masjid Gas, di depan kelas gue ada Bu Widya tau.” ucap gue. “Ini abis nemuin Kak Ela. Lo udah buka w******p belum?” tanyanya. Gue menggeleng. “Ada apa?” “Cek aja,” belum juga selesai menjelaskan sudah ada Bu Widya di ujung lorong, seketika Bagas berlari. “ADA SESUATU YANG PENTING.” Teriaknya. Gue tertawa melihat tingkah Bagas yang seperti itu. Meskipun dia rajin dan sempurna, bisa-bisanya dia dikejar Bu Widya gara-gara telat ke masjid. Gue yang saking penasarannya langsung merogoh hp gue yang ada di saku. Belum juga gue membuka hp Elisa segera menarik gue untuk segera menuju kantin. Pasalnya, setelah salat Jumat, biasanya murid-murid cowok bakal menggerombol di kantin. Dan itu bakal enggak nyaman. Dengan memesan dua gelas es jeruk, gue kembali membuka hp . Membuka grup w******p dan melihat Kak Ela mengirim beberapa pesan di grup dan balasan dari anggota lainnya. Kak Ela:  Hallo gengs, gue baru aja dapat info dari Pak Bakri, bakal ada kompetisi lagi. Nanti kalau  ada yang minat bisa kumpul di tempat spt biasa. Sepulang sekolah. Dan Kak Ela melampirkan dokumen yang berjudul “Jurnal Pelaksanaan Kompetisi  Merah Putih.” Gue enggak membaca pesan balasan lainnya. Gue Gue kepalang bahagia. Gue siap berkompetisi lagi. Menyenangkannya sekali. “El! El!” heboh gue pada Elisa yang sibuk mencomot bakwan jagung. Dia hampir tersedak. “Gue, gue punya kabar baik!”  Dia meneguk jus jeruknya, menatap gue lekat. “Gue tahu bakal ada kompetisi lagi. Iya kan?” Jawabnya seperti sudah hapal luar kepala dengan satu-satunya kebahagiaan gue. Ya iyalah, kan Cuma Elisa yang dekat gue sejak jaman pertama masuk sekolah. Dia tahu segala kelakuan gue dari yang enggak bagus sama yang bagus. “Aaa, lo emang sohib gue deh.” Peluk gue dramatis. Dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan gue. “Dasar, ambisius!” kata Elisa kemudian. ●●● Bel pulang berbunyi, gue enggak langsung pulang. Seperti pemberitahuan pesan di grup, gue berkumpul ke lapangan belakang. Mengikuti kumpul singkat yang akan membahas kegiatan nanti. Gue bahagia deh hari ini. Bodo amat dengan pelajaran yang rumit hari ini, yang penting gue siap berkompetisi. “Tumben nih bahagia?” celetuk seseorang di samping gue. Itu Romeo. Gue pun tersenyum ke arahnya, menebar kebahagiaan yang sudah lama tidak gue dapatkan. Dia bergeming, tersenyum simpul. “Gue kan selalu bahagia.” “Masa?” “Iya.” Jawab gue mulai mengeyel. Meski Romeo sudah tidak begitu menyebalkan ketika pertama masuk, tapi kelakuannya kadang-kadang buat gue pengen makan batu. Tapi, kebahagiaan ini tidak akan hilang hanya dengan mengurusi manusia seperti Romeo. “Ya udah ya, gue mau ke belakang. Bye bye...” Gue meninggalkan Romeo dengan riang, jingkrak-jingkrak bahagia. Romeo geleng-geleng ketika melihat gue sebahagia ini. Gue langsung menuju lokasi. Di lapangan belakang gue disambut beberapa rekan gue di ekstra. Bagas si tinggi dan ganteng manis orang yang selalu ikut berjuang bersama gue, Zika teman gue seangkatan dan lain-lain yang tidak bisa gue sebut satu-satu. Kak Ela juga langsung menyapa gue. “Gue udah yakin kalo Andara Puspita bakal datang.” Ucapnya merangkul gue.  Gue tersenyum. Zika menyahut, “Manusia ambisius dan semangat membara, masak sih enggak ikut.” Gue tertawa membalas Zika. “Andara semangat ya, yok kita bawa piala lagi.” Bagas ikut bersuara, yang jelas suaranya itu yang terbaik dong. Di sini, sudah banyak siswa yang ingin ikut dalam seleksi. Dari kelas sepuluh dan beberapa seangkatan gue. Kira-kira hampir 40 orang berangkat seleksi, sedangkan yang dipilih hanya 15 orang untuk mewakili peleton sekolah. Gue dengan senyum, yakin bisa lolos dan masuk dalam peleton lomba. Gue sudah sering ikut ini. Dan sepertinya, gue juga berpeluang menjadi komandan peleton.  “Oke, semua berkumpul.” Kak Ela mengambil alih  perhatian semua yang ada di sana. Membuat mereka langsung duduk rapi menghadap perempuan hebat ini. Gue duduk bersama yang lainnya. “Seperti yang kita ketahui, sekolah akan mengirim satu peleton peserta untuk melakukan Kompetisi Merah Putih gun memperingati Hari Jadi NKRI. Lomba tersebut akan dilaksanakan pada bulan depan. Jadi kami, angkatan kelas 12 akan melakukan seleksi untuk memilih yang terbaik dari yang baik untuk menjadi perwakilan sekolah ini.” “Seleksi yang kami buat, berisi praktek dan wawancara. Bagi yang ingin mengikuti, besok datang ke sekolah dengan memakai baju bebas.” Kak Ela menjelaskan sistem seleksi. Gue sudah tahu sistem yang biasa dilakukan untuk menyaring. Gue sudah pernah melakukannya, ini mudah bagi gue. “Besok, juri wawancara ada di saya, Elawati. Sedangkan untuk praktek nanti di pegang oleh Kak Reno. Jika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan.” Kak Ela menunjuk Kak Reno yang berdiri di sampingnya. Jika Kak Elawati si hebat dalam sisi perempuan, Kak Reno adalah senior yang paling murah senyum tapi tegas. Skill-nya dalam gerakan baris berbaris sudah tidak bisa diragukan. Bahkan, gue masih bingung siapa penerusnya nanti di angkatan gue. Tahun lalu, dia menjadi komandan peleton dan menang. Gimana enggak idaman tuh orang. Sepertinya gue dan Bagas akan menjadi seperti mereka. Dua kekasih yang solid. Setelah menjelaskan banyak hal, barisan dibubarkan. Gue yang paling terakhir beranjak dari duduk. Gue menghampiri Kak Ela dan Kak Reno, mereka sedang berbincang-bincang. Gue menimbrung. “Tumben kelas 12 enggak ikut kak?” tanya gue. Benar, baru pertama kali kelas 12 tidak mengikuti. Padahal, jika kedua senior ini dimasukkan lagi dalam peleton sudah yakin akan memboyong piala banyak lagi. Keduanya menoleh ke arah gue. Kak Reno menyahut, “Sudah saatnya pensiun. Sudah ada keluhan encok-encok, And.” Guyonnya. Gue menepuk lengannya. Dia tertawa. Gue sudah biasa jika bersama mereka, karena gue termasuk orang yang sudah dikenal dekat oleh mereka. “Ih, Kak Reno jayus amat. Serius nih gue!” “Gini lho, And. Sebenarnya jika pengen, kita juga pengen banget ikut. Tapi Pak Bakri melarang gue ikut, kita sih sebenarnya. Pak Bakri ingin melihat sejauh mana kemampuan mereka dalam berusaha untuk meraih kemenangan.” Kak Elawati menjawab. “Tapi apa enggak takut kalau bakal down, jika tanpa ada pegangan seperti Kak Ela dan Kak Reno?” “Lo tuh ya, And. Suka aja membesarkan kepala gue dengan segala pujian lo.” Kini giliran Kak Reno menepuk bahu gue, “Gue percaya pada kalian. Lo semua enggak bakal mengecewakan kita kan?” “Lagian, gue melihat potensi anak kelas sepuluh juga oke sih. Tinggal dilatih dengan giat pasti akan hebat. Kan juga ada lo, Bagas dan Zika yang sudah ikut lomba pada kelas 10 tahun lalu. Jadi lo sudah ada pengalaman untuk mengarahkan adik-adik lo.” Kak Ela menjelaskan. Gue Cuma bisa tersenyum tipis, kagum dengan sudut pandangnya yang luas. Jika Kak Ela dan Kak Reno tidak ada di sini, gue bisa jadi orang penting di perlombaan ini. “Ya udah pulang gih, jangan pulang malem-malem besok kan lo seleksi. Lo wajib lolos!” Kak Reno mengusir gue. Gue manyun. ●●● Gue merengut. Pagi-pagi begini, ban motor gue sudah bocor lagi. Perasaan baru kemarin deh ditambal sama Kang Tohar? Kok sekarang bocor lagi. Posisi sekolah masih jauh, dan pagi-pagi jam segini, tukang tambal ban belum pada buka. Kondisi jalan raya mulai ramai dan sudah terasa panas. Gue bingung mau menghubungi siapa? Sebaiknya gue chat Kak Reno dulu deh. Setidaknya kalau gue telat dia tahu. Kak Reno:  Kak, gue izin berangkat telat ya. Motor gue tiba2 bannya bocor lagi. Memasukkan hape. Gue kembali dibuat bingung dengan motor yang terasa berat ini. Andai ada Romeo kayak kemarin, mungkin menyenangkan ya, bisa didorongin motor lagi. Tapi bagaimana caranya bisa ada Romeo di sini. Posisi gue enggak tahu alamat rumahnya, mau chat juga gue enggak punya kontaknya. Jadi enggak mungkin banget ada Romeo. Tapi, kenapa gue malah memikirkan Romeo, gue kan punya banyak teman. Tapi kira-kira siapa ya yang bisa gue minta bantuan. Tapi siapa sih yang mau diganggu pagi-pagi begini? “Lho, lo ngapain di sini?” ucap seseorang di belakang gue. Gue menoleh, dan terdapat seorang pemuda yang mengenakan kaos oblong dan celana di atas lutut. Keringatnya membanjiri badannya. Gue kaget. Bukan kaget dengan suaranya yang tiba-tiba, tapi kaget kenapa ada dia di sini... ya! Dia yang gue bicarakan tadi. Romeo, Romeo Cakra, iya Romeo yang gue sebel itu. Gue menelan ludah. Gue belum berbicara, dia mulai menatap ganjil motor gue. “Bannya bocor lagi?” Dia jongkok, melihat kondisi ban motor. Gue benar-benar enggak menyangka kalau Romeo lagi yang bakal menolong gue ketika di kondisi yang seperti ini. Tapi, bagaimana dia bisa berpenampilan seperti itu di sini? Bukannya Romeo tipe cowok yang suka bangun siang? Sejak kapan dia hobby joging. “Ya udah, motor lo gue bawa ke rumah gue dulu. Kayaknya ban motor lo perlu diganti biar enggak sering bocor.” Dia mengambil alih motor gue, mendorong motor gue menuju arah sebaliknya dari sekolah. Gue masih diam, dia menoleh, “Udah ayo, rumah gue enggak jauh dari sini. Cuma beberapa ratus meter aja  dari sini. Nanti sekalian sarapan di rumah gue.” Dia menyerocos dengan kalimat panjangnya, gue Cuma diam di belakangnya. “Lo udah sarapan?” ucapnya lagi. Gue menggeleng, “Nyokap gue jarang masak pagi kalo weekend.” “Bagaimana bisa lo enggak sarapan padahal nanti lo seleksi buat lomba.” Romeo menatap gue, tatapannya sekarang beda. Lebih seperti kakak yang melindungi adiknya. Gue Cuma tersenyum kecut. “Pokoknya lo nanti sarapan di rumah gue ya. Dari pada lo pingsan dan enggak lolos seleksi. Siapa yang rugi?” Gue menyanggah ucapannya, “Enak aja lo bilang. Gue pasti lolos, gue enggak mungkin pingsan.” Gue meninju bahunya. Dia mengaduh. Tapi tertawa.  Gue sebelumnya enggak pernah seakrab ini sama Romeo, meski menyebalkan, tapi gue merasa saat ini gue nyambung sama dia. Ngomong-ngomong dia kenapa ya? Apa dia gilanya cuma pas di sekolah? Dan di rumah dia jadi anak alim. Alah, enggak mungkin, paling Cuma perasaan gue aja yang baru aja dibantu sama dia. Ternyata dengan mengobrol selama perjalanan membuat perjalanan terasa singkat. Gue sudah tiba di depan rumah Romeo yang sederhana, dengan latar taman beberapa petak dan teras yang diisi dengan dua kursi kecil dan satu meja di tengah. Romeo memarkirkan motor gue di depan rumahnya. “Bentar ya, gue masuk. Lo duduk di dalam aja. Jangan berdiri di luar, cowok-cowok sini banyak yang kegatelan. Digoda mau lo?” Gue bergeming. Mungkin itu hanya akal-akalan Romeo mau ngisengin gue. Gue sudah kebal dengan godaan mas-mas depan kompleks. Gue tetap duduk di teras depannya, duduk di kursi warna biru dongker miliknya. Menatap sekitar rumah Ketua Kelas gue. Gue baru tahu ternyata Romeo rumahnya sini. Berarti, dulu waktu Romeo jemput gue dia harus pergi lebih jauh dari jarak sekolahnya nih. Kasian juga. Tapi kenapa Romeo begitu baik sama gue? Padahal gue kalau sama dia galak banget, judes banget, tapi tetap aja bersikap hangat. “Nih, makan. Gue Cuma punya ini sih,” Romeo menyerahkan sandwich dan segelas s**u coklat hangat. Romeo menaruh makanan tersebut di meja, kemudian menyusul gue duduk. “Ya udah, makan.” Dia menyodorkannya, gue perlahan mengambil sandwich lapis tiga yang berisi telur dadar dan saus lain. Gue menggigit sedikit ujung sandwich mengunyah perlahan dan merasakannya. Gue tertegun, rasanya kok beda sama buatan gue atau pun Mama. Rasanya lebih enak, jago juga ya nyokapnya Romeo. Gue melahap  sandwich itu dengan menikmati. Kemudian gue meneguk s**u hangat di gelas, dan lagi, rasanya enak. Kayaknya gue emang laper deh, ada benarnya juga Romeo nyuruh gue sarapan. Romeo tersenyum-senyum melihat gue memakan dengan lahap, dan sifat galak gue kembali muncul. Gue menatap dia tajam, “Bisa enggak lo jangan kayak gitu?!” Romeo tetap senyum. Sialan.  ●●●  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD