Romeo: Mulai Akur

3100 Words
Siapa yang menyangka bahwa gue yang mengganggunya, kini malah membantunya. Ya namanya juga hati manusia, enggak ada yang tahu. Setelah dia memaki-maki gue, mengabaikan gue sebagai manusia tampan, kini dia malu. Malu bahwa orang yang dia remehkan membantu dia. Bukannya pamrih, semoga saja hal ini bisa membuatnya sadar. Tapi dilain itu, gue ikhlas membantu dia kok. Ketika melihat Andara kecapekan, kepedulian gue mendadak muncul. Sumpah, gue orangnya memang enggak tegaan. Jujur, gue sudah tahu jika ban motor Andara pecah, gue juga tahu kalau bengkel Kang Tohar tutup. Gue yang tadinya pengen pulang, mengurungkan niat setelah melihat cowok yang bareng Andara tadi meninggalkan sekolah dengan motornya sendiri. Jadi gue berpikir alangkah baiknya menunggu sampai Andara keluar sekolah. Karena gue tahu, tanpa gue mungkin dia akan kenapa-kenapa. Sekarang dia sedang duduk di teras bareng Mbak Imas. Sementara itu gue sedang menuntun motor Andara ke dalam rumah. “Kok motor gue, lo masukin?” Andara berkata, menghentikan langkah gue. Membuat gue harus menoleh ke arahnya. Mbak Imas menjawab, “Gakpapa An. Diambil besok aja, soalnya kalau sekarang Kang Tohar lagi pergi cari onderdil.” Gue pun menyetujui kalimat Mbak Imas dan meneruskan menuntun motor masuk ke dalam rumahnya Mbak Imas. “Tapi mbak, nanti aku pulangnya gimana? Kang Tohar enggak lama kan keluarnya?.” “Ya, mungkin nanti jam 9 baru pulang. Dia katanya juga masih ada urusan And.” Mbak Imas masih ngobrol dengan Andara. Gue yang sudah selesai memasukkan motor Andara hanya mendengar percakapan mereka. “Kan ada Romeo yang bisa nganter kamu.” Lanjut Mbak Imas. Ketika mendengar nama gue disebut, Andara langsung menatap gue tajam. Di sana masih tersisa mata sembab sisa menangis. Gue hanya menimpali dengan senyum, itulah kebiasaan gue. Selalu tersenyum apa pun keadaannya, siapa pun lawan bicaranya. Karena dengan senyum bisa menentramkan jiwa, apalagi senyum gue, yang lihat tentram dunia akhirat kan. “Andara enggak mau Mbak, kalo dianter Romeo!!” tolak Andara kemudian. Gue tahu dia gengsi sama gue, dia kan tadi jelas-jelas nolak bantuan gue. Sekarang malah dianterin. Mana ada sih cowok sebaik dan seganteng gue? Enggak ada kan. “Lha kamu mau pulang bareng siapa?” Ucapan Mbak Imas akhirnya membuat Andara bungkam, tapi jiwanya tidak terima. Gue bisa melihat dari tatapannya yang tajam. Akhirnya dengan bujukan yang cukup lama membuat Andara naik di atas jok motor gue. Dengan wajah tak iklas pastinya. Gue bisa tahu itu. Karena berhubung sudah malam gue segera minta pamit sama Mbak Imas. “Mbak duluan ya, Assalamualaikum!” ucap gue dengan meninggalkan pelataran. “Waalaikumsalam. Hati-hati Yo, jaga tuh anak gadis.” Balas Mbak Imas selepas kepergian kami di depan rumahnya. Gue tersenyum mendengar kata “jagain anak gadis” Bukannya yang harusnya dijaga itu gue? Iya kan gue boncengin emak macan. “Langsung anterin gue pulang, jangan mampir-mampir.” Baru juga motor melaju beberapa ratus meter. Andara sudah bawel. Memangnya siapa sih yang mau bawa pergi induk macan? Gue juga menjaga diri dari mara bahaya lah. Yang ada jika gue membawa lo lama-lama bareng gue, gue bisa mati muda. Gue kan enggak mau! “Romeo! Lo dengerin gue enggak sih?” Andara berteriak. Menjawil pinggang gue. Mampus, nih cewek ngeri banget sih dikit-dikit main fisik. Gue rasa gue harus segera memulangkan dia ke kandangnya biar tidak melukai siapa pun termasuk gue. “Iya! Denger.” Jawab gue tak kalah keras. Suara gue terbawa angin membuat gue harus setengah teriak. Jadilah kami teriak-teriak di atas motor berdua. “Pokoknya lo harus segera pulang, jangan macem-macem!” Balas dia setengah teriak juga. “Macem-macem sama lo? Gue masih normal kali!” Balas gue. Dia menjawil gue lagi. Mampus! Cubitan kedua di pinggul sebelahnya. Gue rasa, beneran bakal mati muda nih. Disakiti secara perlahan sama emak macan ini. Nih cewek kenapa sih? Udah judes, sombong, angkuh, bawel, sekarang suka nyubit. Lengkap deh lo And, untuk menjadi seorang induk macan. Gue pun memutuskan diam, dari pada bicara yang akan membuat peluang jawilan lagi. Jalanan malam ini ramai, hari sudah benar-benar gelap. Seragam sekolah gue sudah lecek, berkeringat dan bau. Rasanya gue pengen cepet pulang dan cepet mandi. “Yo, lo kok tadi masih di sekolah sih?” Andara tiba-tiba melonggokkan kepalanya di bahu kanan gue. Mendadak, gue merasa aneh pada tubuh gue. Soalnya gue enggak pernah sedekat ini sama cewek. Meski gue sama geng gue sering membicarakan hal yang menjorok seperti itu, tapi sama sekali gue enggak pernah merasakan ini. Inikah rasanya pubertas? Ah, kenapa harus sama Andara yang jelas-jelas manusia paling sombong sedunia. “Romeo! Lo dengerin gue enggak sih.” Dia menjawil gue lagi. Mampus lagi deh. Kenapa sih Anda hobby banget menyakiti orang lain. Menyesal gue sempat deg-degan sama manusia galak ini. “Andaraa Puspita Ningsih Arumpati Mekarsari... lho bisa enggak sih jangan nyubit gitu. Hargai gue sebagai manusia selayaknya dong. Gue masih baik nih mau nganter lo, tapi kenapa perlakuan lo sama gue tuh sadis banget. Diajarin sopan santun nggak?” Protes gue. Dia masih aja di bahu gue, malah gue rasa dia menaruh dagunya di sana. Aduh, rasanya enggak karuan. Bagaimana pun, Andara cewek, dan gue cowok. Gue cowok normal, gue bisa merasakan itu. Tapi lagi-lagi pikiran gue membantah, masak gue deg-degan sama cewek yang sudah mendzolimi gue. Enggak deh, mending menyayangi diri sendiri aja. “Iya, siapa suruh budek.” Dia kali ini tidak menjawil, Alhamdulillah. “Ada apa lo pulang sore?” dia mengulang pertanyaannya. “Lo kok kepo banget sih? Cie mulai perhatian sama kehidupan gue.” Gue pun menggoda dia. Dan yang gue dapatkan, cubitan mematikan, lagi. Memar deh ini pinggul lama-lama. “Romeo! SERIUS!” dia menjawil lagi. Jawil aja terus And, sampai puas. “Bisa enggak sih, lo. Jangan nyebelin.” “Dan, lo bisa enggak sih lo jangan menganiaya gue?” gue melempar ucapannya. “Gue nanya serius nih. Lo ngapain pulang sore?” “Gue tadi daftar esktra.” Ya, gue akhirnya memutuskan untuk mengisi waktu luang gue dengan ikut ekstrakurikuler Fotografi di sekolah. Selain menyenangkan, gue juga suka aja. Dan, ekstra itu dilakukan setiap hari Senin, kebetulan sama dengan ekstra-nya Andara. Gue rasa hidup gue semakin dekat aja sama dia. Capek juga tiap saat berantem mulu. Ada apa sih sama dunia, dideketin mulu gue. “Oh.” Balas dia singkat. Dasar ya nih cewek. Tadi nanyanya heboh, sampai menganiaya gue yang tak berdosa. Giliran gue kasih tahu, Cuma oh. Dasar cewek! “Yo?” tiba-tiba dia menyebut nama gue. Dengan bahasa halus. Panggilan itu membuat gue refleks menoleh ke arahnya dan membuat tubrukan kecil antara helm kami. Dan, membuat gue hampir aja menyentuh pipinya. Dia mendadak mengundurkan kepalanya. Benturan tadi jelas membuat gue dan dia berada di awkward moment. Jantung gue berhenti berdetak. Ini perasaan apa sih? Sadar Romeo! Fokus! Lo lagi naik motor ya, jangan ngadi-ngadi. “Iya, And? Apa?” ucap gue setelah gue menarik napas dalam-dalam. Kini atmosfer canggung menaungi kami berdua. “Enggak apa-apa. Nggak jadi.” Ucap Andara melemah, gue tau dia juga merasakannya. Gue tahu dia cewek normal juga. Cepat sampe rumah! Cepatlah! ●●● Motor gue berhenti di teras rumahnya. Belum juga gue mematikan mesin motor, terlihat seorang perempuan berdiri dari bangku teras. Gue yakin itu Mama-nya. Ya, kalau enggak salah nama mamanya itu Ine. Gue tahu namanya ketika dulu kelas sepuluh gue enggak sengaja lihat di biodata siswa. Jangan suudzon ya, kalian pikir gue tahu buat ejek-ejekan, mentang-mentang gue enggak punya ibu mau ngejek ibu orang lain. Sebagai ketua kelas yang baik gue kan harus mengenal dekat teman-teman gue. Bentar, gue sama Andara masuk kategori temen deket enggak sih? Perasaan kita enggak ada frekuensinya. “Kenapa baru pulang? Kenapa enggak kabari Mama sih Ra?” Ucap Tante Ine ketika Andara turun di motor gue. Andara hanya memasang wajah merengut. “Hape Dara mati Ma.” Oh, jadi panggilan dia di rumah Dara. “Lho? Motor kamu kemana? Kamu enggak papa kan? Enggak ada yang luka?” Kini Tante Ine membolak-balikan tubuh putrinya. Mengecek bahwa tidak ada licet di tubuh Dara. Gue tersenyum dalam hati, “Siapa sih Tan, yang mau begal emak macan?” “Motor Dara bannya pecah.” Balas Andara dengan ekspresi yang sebenarnya malu dengan sikap parno Mamanya. Gue baru tahu, ternyata Andara termasuk anak yang diposesifkan orang tuanya. Tapi kalau di pikir, orang tua mana sih yang enggak khawatir kalau anaknya belum pulang. Cewek lagi. Gue nanti kalau jadi bapak-bapak juga bakal khawatir kalau anak gadis gue belum pulang. Lah, kenapa jadi bahas anak gini. Gue masih kelas 2 SMA. Apakah ini yang dinamakan overthinking? “Terus ini siapa? Pacar kamu?” Kini, Tante Ine menuding gue. Pacar? Apakah gue mendapat chemistri sama emak macan ini sehingga terlihat kayak pacaran. Amit-amit deh. “Bukan tante, saya temennya. Romeo,” elak gue. Andara juga gue rasa kaget dengan ucapan Mamanya yang ceplas-ceplos. Untung gue orangnya enggak baperan. “Terima kasih ya Romeo, kamu pasti kerepotan ya nganterin Dara? Dia itu manja banget tau.” Ucap Tante Ine dengan disetujui oleh hati gue. Banget tant! Manja tingkat akut, mana jahat banget lagi. Ketika dikatakan “manja” Andara langsung merajuk. “Ih! Mama apaan sih.” “Lho emang bener.” Balas Tante Ine. Gue Cuma bisa tertawa renyah melihat kelakuan ibu dan anak ini. Gue baru tahu kalau Mamanya Andara ini hangat, beda banget sama anaknya yang memiliki sikap yang banyak buruknya dari pada baiknya. Ini real testimoni dari gue ya. “Udah ah, Dara capek.” Dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan gue dan Tante Ine di pelataran rumah. “And, besok gue jemput ya!” tanpa tedeng aling-aling. Gue malah berteriak dengan ucapan yang sangat gue sesalkan kemudian. Kenapa gue mengatakan ini? Aduh! Lo itu kenapa sih Yo? Ngrepotin diri sendiri aja. “Gausah, gue besok dianter Mas Rizal.” Ketika dia hampir menutup pintu dia menoleh ke arah gue. “Pokoknya titik!” Tuhkan gue malah maksa. “Terserah!” dia meninggalkan gue tanpa ekspresi apapun. Membuat Tante Ine geleng-geleng melihat kelakuan anaknya. “Ya udah ya, Tan. Romeo pamit.” Ucap gue sebelum pulang. Tante Ine pun membalas. “Enggak mau mampir dulu Yo? Pasti belum makan?” Tawaran hangat Tante Ine membuat gue tersenyum. Membuat gue teringat seseorang yang gue rindu. “Enggak usah Tant. Udah malem.” Tolak gue halus. Tante Ine pun tersenyum. Wajahnya mirip dengan Andara, andai cewek itu bisa senyum, mungkin akan semanis Tante Ine. Gue mengerjap-ngerjap mata. Kenapa harus Andara sih. Kayak enggak ada cewek lain yang gue imajinasiin deh. “Assalamualaikum Tant.” Salam gue sebelum benar-benar meninggalkan pelataran. ●●● Pagi harinya, gue benar-benar kembali ke pelataran rumah Andara. Gue enggak tahu kenapa malah melawan arah ke rumah Andara yang jelas-jelas lebih jauh, ketimbang langsung berangkat ke sekolah. Pagi-pagi gue sudah berdiri di atas motor gue. Terlihat terdapat mobil Ayla sedang dipanaskan di teras rumahnya. Berarti sebentar lagi dia akan keluar rumah. “Pagi, Romeo.” Tiba-tiba Tante Ine sudah ada di dekat gue sambil membawa plastik sampah. Gue membalas sapaan Tante Ine dengan senyuman. Enggak tahu kenapa, gue langsung dekat sama Tante Ine. Ya gimana ya, gue kan orangnya friendly, ketemu Tante Ine yang baik jadi nyaut deh. Beda lagi kalo sama anaknya. Beda banget pokoknya. “Mau jemput Dara ya?” Tante Ine membuang sampah di tong sampah depan rumahnya. “Iya tante. Andaranya mana?” “Baru selesai sarapan, mungkin bentar lagi keluar. Ohya, kamu udah sarapan?” Gue tersenyum, jujur Tante Ine benar-benar hangat. Gue merasa nyaman kalau dekat beliau. Gue mengobrol dengan Tante Ine dengan perasaan senang dan bahagia. Mungkin ini alasan kenapa gue tiba-tiba datang pagi-pagi ke rumah induk macan . Karena tante Ine, karena gue suka sama sikap hangat tante Ine. Iya, karena sama tante Ine, bukan karena Andara. Titik. “Lo ngapain di sini?” tiba-tiba Andara sudah keluar rumah. Dia sudah siap dengan seragam yang serupa dengan gue. Dia keluar bersama seorang pemuda yang gue tebak berusia 24 tahun. Mungkin dia yang namanya Mas Rizal. Abangnya. Ingatan gue cukup bagus untuk mengingat nama yang disebutkan sekali saja. Tapi bodoh banget kalo di kelas. Enggak tahu kenapa nih. Gue tersenyum ke Andara, menyapanya hangat seperti biasa. “Selamat pagi Partner.” Dia tidak membalas, hanya ekspresi datar yang dia berikan. Sampai kapan sih Andara tidak mau mengakui gue sebagai ketua kelas? Apa gue sebegitu menjijikkannya ya? Terus kenapa dia sebal sama gue? Aneh banget kan kita membenci orang yang baik ke kita. Ya emang Andara aneh, makanya dia membenci gue. “Lho, Ra? Enggak jadi bareng Mas?” Mas Rizal, yang sedang mencangklong sling bagnya, kini menatap heran gue yang seperti alien. Ditatap segitunya. Mungkin aneh ya, gue datang pagi-pagi. “Enggak mas, jadi bareng kok.” Andara mengelak. “Lha ini pacar kamu gimana? Sudah jemput lho.” Ucap Mas Rizal kemudian. Aduh, pacarnya lagi... kenapa sih semua keluarganya menganggap gue ini pacarnya Andara. Apa dia sama sekali enggak pernah dijemput cowok sampai gue dianggap pacar. “Dia bukan pacar aku, mas.” Sangkal Andara. “Pokoknya Andara mau bareng sama mas aja.” “Tapi kamu enggak kasihan sama pacar kamu?” “Dia bukan pacar aku, Mas.” “Oke, oke. Meski bukan pacar kamu, setidaknya hargailah kehadiran temanmu ini yang datang pagi-pagi. Kan kalian juga satu sekolahan.” Ucapan Mas Rizal kini gue dukung sepenuh hati. Bener banget mas! Adek lo ini emang enggak pernah bisa menghargai manusia! Andara menggerutu, dengan berat hati akhirnya dia mengatakan. “Iya! Iya!”. Kemudian gue dan dia benar-benar meninggalkan kompleks rumahnya. Kapok deh jemput nih cewek, bisa-bisanya dia tidak menghargai usaha gue yang rela menyisihkan bensin gue untuk sampai ke rumahnya. 15 menit perjalanan. Gue baru sampai sekolah. Sepanjang perjalanan, gue lebih baik diam dari pada gue bakal menerima cubitan dari dia lagi, rasa memar yang semalem aja masih terasa. Andara juga kayaknya enggak mau mengobrol juga. Sampai di parkiran, dia membanting helmnya di spion kanan gue. Tanpa sepatah kata pun meninggalkan gue di parkiran. Nih cewek enggak ada terima kasihnya sama gue ya? Semalem udah gue bantu, sekarang udah gue jemput. Sama sekali enggak mau balas budi, minimal senyumin gue kek, ramahin gue kek? Keki sendiri kan, kalo gue dicuekin kayak patung gini. “Anda! Tunggu.” Gue mengejar laju jalannya yang cepat. Dia dengan jahatnya enggak menoleh dan enggak memelankan langkahnya. Sabar, Romeo… kalau sabar kan nanti pacarnya dua. “Anda,” gue sama sekali enggak di gubris. Ah bete gue pagi-pagi dicuekin. Kenapa sih nih cewek. Gue berhenti mengejar dia. Mengatur napas. Ketika gue berhenti, Andara malah menoleh menatap gue, dengan tatapan biasanya. “Nanti enggak usah anterin gue pulang. Dan, terima kasih, udah mau bantu gue.” Meski gue tahu mimik mukanya tidak mengenakan, kalimat itu memang diucapkan dari hati dengan melawan gengsinya. Senyum gue mengembang, ada perasaan lega. Sama-sama emak macan. ●●● “Romeo! Cepetan ah, lemot amat sih lo!” Andara menoleh ke belakang. Tepat di mana gue berdiri. Gue kali ini sedang membawa buku tulis yang akan dikumpulkan di kantor. Gue membawa puluhan buku tulis siswa dan Andara membawa peralatan guru yang di tinggal di kelas kami. Lama-kelamaan ternyata Andara juga lumayan enak dijadikan partner. Dia rajin, kalau lagi mood. Dan dia pintar, apalagi kalo satu kelompok sama dia. Bahagia deh, hampir semua konsep dia yang ngerjain. Apalagi sekarang dia sedikit respect sama gue. Sedikit ya, masih banyak judes dan sadisnya. “Romeo! Malah ngelamun.” Andara menghampiri gue, membangunkan lamunan gue dengan mencubit lengan gue. Membuat gue mengaduh dan menjauhkan lengan gue dari jangkauannya. Untung aja bukunya enggak jatuh berantakan. Kenapa cewek ini suka main fisik sih?! “Buruan! Bentar lagi gue ada esktra.” Dia menggamit baju seragam gue. Membuat gue Cuma mengiyakan dengan deru napas pasrah. Gue juga ada esktra kali. Gue pun Cuma diam dan berjalan menuju kantor, menaruh buku tugas teman-teman di meja guru. Setelah menaruh peralatan guru, dia meninggalkan gue begitu saja. Begitu terus kebiasaannya, tidak pernah bisa menghargai orang. Gue menghela napas. Sabar Romeo, lama-lama juga kebiasaan kok. Tapi udah lebih dari dua minggu enggak terbiasa sama sekali. Masih aja sebel. Setelah keluar dari kantor, gue langsung menuju studio sekolah. Ya! Hari ini gue sedang ada ekstra Fotografi, ini minggu ke 3 gue sekolah. Ekstra ini adalah ekstra satu-satunya yang gue ikuti di sekolah ini. Enggak tahu kenapa di kelas 11 ini gue pengen ikut kegiatan biar enggak banyak menganggurnya. Di depan ruang studio terdapat Anjas kelas 12 yang menjabat sebagai ketua ekstra. Gue yang sudah akrab sama dia langsung melakukan tos ria dengannya. Itu juga alasan kenapa gue ikut ekstra ini, ada temannya. “Wah mantap nih junior gue. Rajin banget!” sambut Arya, teman seangkatan gue tapi sudah mengikuti ekstra ini sejak kelas 10 awal. “Sialan lo!” “Ya udah, yuk masuk. Hari ini praktek foto lapangan.” Anjas melerai gue, mengajak kami berdua masuk ke dalam studio. Hari ini praktek foto lapangan, gue ikut mengejar materi bareng kelas 10. Jadilah gue yang paling tua di antara lain-lainnya ketika diterangkan materi. Gue sah-sah saja sih, gue kan juga masih imut. “Untuk materinya cukup di sini aja, yuk kita keluar. Kita praktek foto lapangan.” Ajak Arya yang sejak tadi menjelaskan runtut materi. Kami semua keluar dari studio, keluar menuju lapangan belakang sekolah yang memang terdiri dari beberapa lapangan. Arya menjelaskan tehnik khusus dalam memotret. Gue menyimak takzim. Ketika pandangan gue menuju selatan lapangan, gue melihat ekstra Paskibra sedang dilaksanakan. Di sana terdapat Andara yang sedang berdiri menjelaskan banyak materi di depan juniornya. Andara yang sedang memakai kaos lengan panjang warna putih tersebut terlihat senang dan berwibawa berbicara dengan pede. Ternyata Andara punya kelebihan juga ya. Publik Speakingnya gue acungi jempol. Meski gue juga enggak bisa denger apa yang dia omongkan. “Yo, giliran lo, buruan potret.” Arya menepuk bahu gue. Membuat gue yang sedang melihat kegiatan latihan paskibra mendadak kaget. Gue Cuma menoleh ke arah Arya sebagai respons. “Sekarang lo potret dan cari obyek yang cocok buat difoto. Sekarang.” Gue pun manut saja dan mulai membidik kamera. Mencari sudut yang bisa gue fokuskan. Gue lagi-lagi menghadap selatan, mencari obyek yang enak difoto. Dan lensa gue mendadak menemukan satu obyek yang jaraknya 30 meter dari jarak gue. Dia, Andara. Gue menelan ludah. Tanpa sengaja, gue menekan shutter dan memotret Andara yang saat itu sedang berdiri dengan senyuman. Gue mengerjapkan mata gue, melihat hasil bidikan gue. Cantik... “Bagus juga foto lho, Yo.” Arya menyeletuk di samping gue. Membuat gue tersadar. Gue langsung refleks menekan tombol delete. “Enggak-enggak tadi Cuma kepencet pas nyari obyek.” Elak gue. Arya terkekeh. Gue tersenyum kecut. Gue enggak ngerti gue kenapa. Fokus Romeo! Fokus. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD