Hari ini, masih menyebalkan. Masih membuat gue pengen nangis, pengen marah, dan pengen bunuh diri aja daripada hidup begini amat, eh tapi jangan bunuh diri, dosa. Romeo benar-benar menguji kesabaran gue. Sejak pagi tadi, ah nggak, tapi sejak kemarin. Dia selalu membuat gue darah tinggi. Dan hari ini saja, belum juga istirahat pertama, dia sudah membuat gue pengen mengubur diri.
Sebenarnya apa sih, yang dia pikirkan sampai bilang yang enggak-enggak ke Bu Indah? Rasanya, gue pengen menculik Romeo dan membuangnya ke rawa-rawa aja daripada hidup menyusahkan dan buat orang marah. Tapi untuk dua jam ini, lumayan lah. Dia mempersilahkan gue untuk bolos, yah meski ini bolos pertama sih, sesekali tidak masalah kan. Gue sejak tadi ngejogrok di kantin mengisi perut yang kosong.
Gue masuk kelas, dan di depan ada beberapa geng Maura yang ketawa lihat gue. Gue nggak peduli sih, tapi ketika gue hendak duduk Rohman datang menghampiri gue.
“Gimana And, sudah mendingan?”
“Apanya?” kernyit gue yang memang enggak tahu apa sebabnya kenapa Rohman tiba-tiba mengatakan itu.
“Katanya Romeo lo diare? lo udah sembuh kan?! Gimana?”
Ha?! Ulangi! Apa tadi?! Gue diam. Pantas saja tadi geng cewek-cewek di depan pada ketawa waktu lihat gue?! Sekarang, dimana Romeo? Gue melihat Romeo sedang duduk santai di bangkunya. Gue melabrak dia, lagi. Cowok ini benar-benar kurang ajar. Berani-beraninya dia melecehkan nama gue? Menurunkan martabat gue?! Sumpah, pas ditanya soal begituan dan cowok yang bilang, malunya setengah mati. Gue rasanya pengen mati aja. Ada masalah apa sih kok dia bisa-bisanya gituin gue.
“ROMEO!!” Gue sudah kehabisan sabar. Mendobrak meja miliknya, nggak peduli tangan gue panas karena menggebrak meja terlalu keras. Kemarahan gue lebih panas dari apa pun.
Melihat gue mendobrak mejanya, dia menurunkan handphonenya dan menatap gue lekat-lekat. Gue semakin marah, bisa-bisanya dia memasang wajah tak berdosanya ke gue?! Dia pikir dengan begitu, bisa meredakan emosi gue?! Enggak!!
“Lo tuh ya.” Gue nggak bisa berkata jika emosi. Akhirnya hanya erangan yang gue berikan. Kemudian menggebrak meja milik Romeo, melempar buku tulis miliknya ke wajahnya. Dan lo tahu responsnya? Cuma diam, kemudian senyum. Benar-benar merasa nggak punya dosa banget tahu nggak?! Gue curiga lama-lama kalo dia itu psikopat.
Gue kembali ke bangku gue, di samping Elisa yang sedang menulis jadwal pelajaran baru. Ketika gue duduk dengan kasar, membuat temannya menoleh. Mungkin, dia pikir kenapa gue sekarang emosian. Ya, gimana nggak emosi coba? Kalau sehari-hari gue di kerjain manusia kutu kupret itu. Kayaknya gue nggak betah dengan masa bakti jadi wakil ketua satu tahun ini deh. Pensiun dini aja boleh nggak?
“And?” lirih Elisa di samping gue. Gue yang sedang menelungkupkan wajah frustasi menatap Elisa.
“Apa?”
“Em, itu bener kata Romeo kalau lo diare? Lo makan apa sampai kayak gitu? Kenapa nggak chat gue,” tanya Elisa polos.
“El, bisa diem enggak!!” Bentak gue membuat Elisa tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekitar gue, teman-teman yang menertawakan gue pun juga benar-benar bungkam. Gue tahu Elisa sebenarnya khawatir sama gue. Tapi gue udah kepalang malu difitnah Romeo. Ah. manusia itu memang benar-benar nyebelin ya.
Tuhan, pengen nangis. Bu Indah, lengserkan gue sekarang.
●●●
Bel sekolah berbunyi empat kali. Itu tandanya, saatnya pulang! Gue benar-benar muak dengan sekolah hari ini. Sudah dua kali dikerjai Romeo, dan suasana kelas yang ramai membuat gue frustasi tingkat akut. Kenapa sih mereka suka menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol tidak penting.
Karena jam kosong, membuat cowok-cowok kelas lebih dulu meninggalkan kelas, tak terkecuali dengan si kutu kupret Romeo. Bersama dengan gengnya itu, mereka sudah meninggalkan kelas sejak 30 menit yang lalu. Gue cukup bersyukur, geng rame tersebut segera enyah dari sini.
“And. Gue minta maaf ya,” Elisa kini menatap gue dengan tatapan bersalah. Gue pun bisa tersenyum sedikit karena memang dia enggak salah. Yang salah itu kan Romeo. Ah kenapa Romeo lagi sih yang dibahas.
“Oke nggak papa kok El, so tenang aja.”
Elisa tersenyum lega. Kemudian meninggalkan kelas yang memang sudah sepi. Gue tersenyum lagi ketika Elisa pamit pulang.
Gue pun menyusul keluarnya Elisa, gue mencangklong tas dengan perasaan sedikit lega. Gue capek kalau harus marah-marah terus. Yang ada gue makin tua kan. Ketika gue hendak meninggalkan kelas, gue hampir saja menabrak seseorang yang memiliki tubuh lebih tinggi dari gue. Dia, cowok. Ketika gue menatap wajahnya, gue menelan ludah speechless.
Gue belum cerita kan, kalau gue punya orang yang gue suka. Dia saat ini ada di depan gue, tersenyum manis ke arah gue. Namanya Bagas Armana, dia anak IPS namun sangat akrab sama gue. Bagas sama-sama anggota Paskibra di sekolah ini. Teman berjuang, yang siapa tahu nanti bisa menjadi teman hidup.
Satu detik…
Dua detik…
Dan detik ketiga, dia menyadarkan pikiran gue. “Eh, Andara.” Ucapnya kepada gue. Gue yang tadi melihatnya dengan tatapan kagum, langsung mengalihkan pandangan gue.
“Eh Bagas, mau kemana?” Pertanyaan b**o. Jelas-jelas Bagas pakai jersey. Ya jelas dia mau futsal lah.
“Mau ke lapangan, latihan futsal.” jawabnya santai.
“Ah semangat ya.” Akhirnya gue hanya bisa memberi semangat. Dia tersenyum ke arah gue. Gue bisa diabetes mendadak nih, manis dan ganteng.
“Andara!” panggilnya ketika gue hendak melangkah meninggalkannya. Ketika nama gue dipanggil, jantung gue mendadak berdetak cepat banget. Bisa nggak sih, lo jangan nyebut nama gue kayak gitu.
“Lo sibuk nggak? Ikut gue yuk latihan ke belakang, di belakang sudah banyak anak-anak tuh. Gimana? Tertarik?”
Sebentar-sebentar? Ditawari Bagas menonton latihan. Mau banget, gue kan juga pengen lihat Bagas lari-larian pake jersey serba pendek. Pasti ganteng banget. Gila, badannya Bagas bagus. Gue pun mengiyakan ajakannya. Dan mendadak, gue melupakan hal yang menyebalkan seharian ini.
Gue memulai banyak obrolan dengan Bagas, wajar saja selama ini gue cukup dekat dengan dia. “Lo kemarin kenapa nggak dateng Gas?” gue mengingat pertemuan ekskul kemarin, tidak ada Bagas.
“Wah, maaf nih jadi dicariin. Kemarin aku harus pulang cepat, nganterin Mama kondangan.” jawabnya. Memang anak berbakti banget ya, Mamanya aja disayang banget, apalagi yang jadi pacarnya nanti.
Ketika sampai belakang, ternyata sudah banyak siswa dari kelas 10 sampai kelas 12 yang sedang bersiap untuk latihan. Para siswa kelas 11 dan dua belas terbedakan dengan jersey mereka yang sudah beridentitas sekolah, yaitu warna biru muda dengan corak putih. Sementara untuk siswa baru masih memakai seragam SMP mereka dan beberapa kaos bebas.
Gue pun duduk di tepi lapangan, duduk manis memandang Bagas yang mulai turun ke lapangan. Senang juga ya, melihat cowok ganteng. Daripada berantem terus sama Romeo yang tidak ada habis-habisnya. Ah, kenapa jadi bahas Romeo, sih. Kan gue jadi badmood lagi. Lupakan Romeo!! Mari kita fokus pada Bagas yang ada di depan.
“Halo, Anda? Ngapain di sini?” tanpa gue menoleh pun, gue juga tahu itu suara siapa.
Itu dia! Romeo!! Orang yang baru aja terlintas di pikiran, eh sekarang malah sudah ada di sini. Mood gue semakin buruk, dia merusak sore gue yang lebih baik. Kenapa dimana-mana selalu ada Romeo? Kenapa dia nggak sekali aja menghilang dari hadapan muka gue. Capek gue lihat mukanya. Dan dia sekarang tambah menyebalkan semenjak tahun pelajaran baru. Gue mencoba fokus ke Bagas yang sedang melakukan pemanasan.
“Halo? Anda? Lo nggak mati kan?” dia melambaikan tangannya di dengan wajah gue, menghalangi Bagas yang tampan. Gue pun kembali menatap dirinya dengan tatapan sinis dan tidak suka. Gue nggak pernah suka panggilan dari dia. Nama gue kan, Andara! Bukan Anda. Dan gue juga nggak suka bercandanya. Norak! Aneh! Dan Nyebelin!
“Apa urusannya sama lo?” jawab gue ketus, kembali menatap lapangan daripada menatap wajahnya yang menyebalkan. Gue benci apapun dari Romeo.
“Ya, gue kan Cuma pengen tanya.” Jawabnya, mendekatkan diri pada gue. Bukannya mendekatkan pada Tuhan, biar cepat waras.
“Enggak ada manfaatnya juga kalau lo tau.”
“Lo pasti kesini, karena lo tahu gue bakal kesini. Dan, yee kita ketemu deh. Ya, kan?” dia menoleh ke arah wajah gue, membuat gue harus membuang muka ke arah sebaliknya.
“Geer amat sih lo!” jawab gue ketus.
“Apa salahnya berpersepsi.”
“Lo bisa nggak sih, nggak usah ganggu gue. Gue benci tahu nggak." Gue mengatakan itu dengan kalimat yang menyiratkan kebencian terdalam. Biar! Biar dia tahu rasa apa yang gue rasakan. Gue nggak suka dia, nggak suka kehadirannya dan nggak suka cara dia ganggu gue. Tapi bukan berarti gue mau diganggu dengan cara yang lain.
“Oke, gue pulang. Terima kasih, partner!” dia meninggalkan gue di lapangan. Dengan senyuman yang sok manis, sok berkarisma. NAJIS!!
●●●
Pukul 17.16
Bagas selesai latihan. Gue kini berjalan beriringan dengannya sepanjang koridor. Membicarakan hal-hal yang ringan tapi menarik. Gue pun terkadang tertawa ketika mendengar celotehnya tentang hal-hal yang dia alami. Sampai lupa waktu jika sudah hampir magrib.
“Mau pulang bareng enggak?” tawarnya ketika hendak pulang. Gue pun berbinar mendengar ajakannya. Kapan lagi gue bisa pulang bareng Bagas. Tapi, kenyataan menyadarkan gue kalau gue bawa motor sendiri.
“Eng, gue bawa motor sendiri nih.”
“Sayang deh, lain kali bisa tapi kan?"
“Jelas bisa dong,” Jawab gue mantap. Dia pun tersenyum, dan Tuhan senyumnya itu sangat memesona.
“Ya udah, gue duluan ya, motor gue ada di parkiran timur.” Ucapnya kemudian meninggalkan gue. Senangnya bisa dekat sama Bagas dan hanya berdua doang.
Ketika Bagas sudah hilang, gue pun menuju parkiran barat di mana keberadaan motor gue. Parkiran sekolah sudah sepi, bahkan hanya ada motor gue yang ada di sana. Ketika gue hendak merogoh kunci motor, hp gue berdering terdapat pesan.
Gue membukanya.
Mama:
And? Kok gak pulang2? Hari ini ga ada ekstra kan? Ayo cepetan pulang..
Ketika gue hendak membalas, hp gue mendadak mati karena kehabisan daya. Yah nggak papa lah, toh gue juga mau pulang kan. Bisa diurus di rumah nanti.
Gue menyalakan motor, dan ketika motor gue baru berjalan beberapa meter, gue menemukan keganjilan di motor gue. Gue melongok ke bawah. Dan.... mendadak ban motor gue kempes.
Mampus!
Kenapa bisa terjadi di saat seperti ini?! Akhh, udah enggak ada orang lagi di sekolah ini. Pasti Bagas juga udah pulang. Gue sekarang nyesel nolak ajakannya. Rasanya pengen nangis.
Gue mendadak ingat seseorang. Ya! Gue rasa bengkel milik Kang Tohar nggak jauh dari sini. Cuma beberapa ratus meter sih. Gue melihat jam tangan gue.
Pukul 17.20
Sebentar lagi bengkel Kang Tohar tutup, gue harus segera sampai sana. Sebelum gue benar-benar nginep di sekolah. Gue pun mendorong motor kesayangan gue yang mendadak berat banget. Hari ini tuh bener-bener hari yang menguras segala energi gue. Sejak pagi yang udah marah-marah gara-gara manusia kutu kupret itu, kini gue harus mendorong motor. Semangat Andara!! Lo bisa!
Gue berhenti di gerbang sekolah, meluruskan tangan yang mulai pegal dorong motor. Ah! Gue benci deh. Nanti gue mau sampai rumah jam berapa kalau harus dorong motor gini.
“Ngapain And?” tanya seseorang. Yang lagi-lagi nggak asing lagi suaranya. Itu Romeo. Dan mampus! Ada dia di saat-saat begini. Ini tidak boleh terjadi, bisa hancurlah martabat gue. Enggak! Bakal malu banget gue. Apa kata dunia kalau seorang Andara Puspita dorong motor.
“Bukan urusan lo!” jawab gue ketus. Kini gue seolah mengaca pada kaca spion motor.
“Ya barangkali gue bisa bantu.” Ucapnya membuat gue menoleh ke arahnya. Tapi, rasanya gengsi deh kalau gue dibantu sama Romeo, gue kan lagi marah sama dia, dan gue juga benci sama dia. Gue tak bergeming dengan ucapannya, lebih memilih melanjutkan menuntun motor.
Ketika gue sudah meninggalkan dia beberapa meter, Romeo berkata lagi, " Kang Tohar udah tutup."
Skakmat!
Gue berhenti, menatap dia yang duduk di atas motor vixion hitamnya. "Lo bohong kan?" Tak lupa tatapan tajam gue. Romeo hanya mengedikan bahunya, tersenyum. Gue benci senyumannya, tega-teganya dia senyum melihat gue ngos-ngosan sejak tadi. Dia jahat pake banget. Paket komplit segala hal-hal buruknya.
“Ya udah kalau nggak mau gue bantu.” Romeo mengatakan itu, gue sama sekali nggak menoleh. Gue melanjutkan berjalan, menuntun motor yang gue rasa udah berat banget. Gue sepertinya memang enggak sekuat kelihatannya, tenaga gue tetap aja tenaga cewek yang memang lemah. Gue jadi nyesel nolak tawaran bantuan Romeo. Tapi gue gengsi juga kalau harus dibantu dia, bagaimanapun gue kan udah marah-marah terus sama dia. Tapi, soal marah kan emang salah dia.
Gue berharap, Romeo mau bantu gue. Please Romeo, lo harus peka dong sebagai cowok.
“And?” dia memanggil gue. Yes! Dia pasti mau nawarin bantuan. Dia pasti enggak tega lihat gue dorong motor. Ya kan, Yo?! Gue benar-benar berhenti. Dan diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Romeo katakan.
Tapi, bukan suaranya yang gue dengar, malah suara gas motor miliknya. Dia masak mau langsung nganterin gue pulang langsung? Bagaimana sama motor gue. Motor itu terdengar melaju mendekati gue. Dan Romeo tepat di samping gue, sembari mengatakan, “Gue duluan ya.”
Setelah itu, dia melenggang pergi. Meninggalkan gue dengan tercengang. Melongo. Dia pergi gitu aja, ninggalin gue? Sendirian di sini. Tangan gue yang tadi mencengkeram stang motor kini lemas tak berdaya. Gue menoleh ke arah sekitar, sepi. Adzan magrib sudah terdengar di masjid sekitar sini. Romeo meninggalkan gue?! Jahat banget.
Gue sudah tidak kuat mendorong motor untuk jarak yang lebih jauh lagi. Tenaga gue benar-benar habis. Sekolah gue berada di gang jalan, jadi jelas kalau jarang kendaraan berlalu lalang. Lama-lama gue mulai merasa ketakutan. Gue takut sendiri, gue takut ditinggal. Gue sekarang benar-benar sendiri. Hp gue mati, dan gue benar-benar bingung. Apalagi jarak rumah gue yang cukup jauh dari sekolah. Gue nggak mungkin jalan kaki, mau naik angkutan umum, jalan raya terlalu jauh. Kalau gue naik angkutan umum, lalu motor gue mau ditaruh mana?
Gue pun men-standar motor gue, lalu menjatuhkan tubuh di aspal, menelungkupkan wajah di balik motor. Gue benar-benar pasrah dan bingung. Yang gue bisa sekarang hanya menangis sesegukan, meratapi nasib gue.
“Mama, Papaa, Mas Rizal... Romeo,” Kenapa nama dia gue sebut, dia aja ninggalin gue di sini sendiri. Gue mohon, siapa saja bantu gue. Gue benar-benar takut suasana begini. Gue takut ditinggal. Badan gue capek. Semoga paling tidak ada orang baik di sini. Tolong banget.
Oke-oke! Gue emang nggak mau mengakuinya. Tapi, gue sebenarnya adalah lemah, sikap sombong dan angkuh gue hanya sekedar menutupi lemahnya gue. Gue lemah tapi nggak mau disebut lemah. Gue sekarang, benar-benar nggak bisa berbuat banyak. Gue takut terjadi sesuatu sama gue. Gue benar-benar takut.
Ketika gue masih sibuk menangis, motor gue tiba-tiba tegak kemudian disusul suara standar gue yang ditutup. Gue menatap ke atas, dimana siluet tubuh pemuda. Dia membawa motor gue berjalan, ketika tubuhnya diterpa cahaya, gue bisa melihat siapa cowok itu. Dia, Romeo.
Gue refleks mengelap air mata gue. Mampus! Jangan-jangan dia lihat gue nangis. Aduh, gue kelihatan lemah. Gue harap dia nggak dengar.
“Lo mau ke mana?” ucap gue membuat Romeo berhenti dan menoleh ke arah gue.
“Sampai kapan lo mau di sini terus? Mau pulang nggak?!”
Gue pun bergegas mengejar dia. Entah mau ke mana pun dia pergi, yang penting gue nggak capek-capek dorong motor ini. Tapi ngomong-ngomong motor Romeo kemana? Terus kenapa dia sampai di sini?!
Sepanjang jalan, gue memutuskan lebih banyak diam. Karena jika bicara, suara gue bakal ketara banget seraknya karena habis nangis. Romeo pun juga nggak seperti biasanya, yang aneh, usil dan banyak bicara. Sekarang dia lebih sering diam, menuntun motor gue dengan tenaga kuatnya. Gue bisa melihat otot bisepsnya yang samar pada lengannya. Gue baru tahu kalau Romeo enggak sekurus yang gue bayangkan.
Berjalan cukup jauh, Romeo membelokkan motor gue di bengkel Kang Tohar yang tutup, tapi Mbak Imas, istri dari Kang Tohar sedang berdiri di depan rumah, di samping motor Romeo. Jadi disini motornya.
“Haduh, Andara pucet banget. Ayo mampir minum dulu And, capek?” Mbak Imas menyambut gue. Gue pun tersenyum ke Mbak Imas. Gue memang nggak dekat sama Mbak Imas, kami hanya sekedar saling tahu nama. Tapi ketika malam ini, gue merasa bahwa Mbak Imas dekat dan akrab sama gue.
Ketika gue duduk di bangku depan rumah Mbak Imas, gue disuguhkan air putih, gue membasahi sedikit kerongkongan gue yang kering karena menangis tadi. Gue masih nggak tahu apa jadinya gue tanpa kedatangan Romeo. Pada malam ini gue menyadari bahwa Romeo masih pantas disebut manusia.
●●●