Romeo: Sisa Hujan Kebahagiaan

1482 Words
Setelah makan, gue ngobrol-ngobrol ringan sama Mas Rizal dan Om Raka. Keluarga Andara ternyata welcome banget, mereka ramah bahkan sama gue yang baru saja mengenal mereka. “Romeo jadi teman sekelasnya Dara ya, kok Dara enggak pernah ngajak main ke sini ya,” ucap Om Raka. “Iya Om, cuma dulu pas kelas satu enggak akrab, jadi Om Raka baru kenal.” kini gue menyeruput teh hangat buatan Tante Ine. Andara kini sudah pergi ke kamar, pamit beristirahat. Ada baiknya dia meninggalkan ruangan ini, soalnya sejak tadi gue lihat dia kayak malu banget. Sebenarnya lucu melihat ekspresi Andara sejak tadi, cuma lama-lama gue canggung juga. Gue melihat jam dinding di rumah Andara. Pukul 20.00 WIB, udah jam segini. Pasti Kak Sinta di rumah nungguin gue nih. Gue merogoh saku, dan enggak menemukan hp di sana. Hp gue ketinggalan lagi. “Om, Mas. Saya pamit pulang ya, nanti dicariin orang rumah. Soalnya tadi izinnya cuma nganterin Andara pulang, eh malah kelamaan mampir.” Om Raka dengan ramah juga menanggapi, “Iya enggak papa. Maaf ya Yo, udah buat kamu mampir ke rumah. Mana lama banget lagi.” “Santai aja Om,” gue berdiri, mulai memakai jaket gue. “Maaa, Romeo mau pamit pulang nih.” Om Raka berteriak memanggil Tante Ine yang ada di kamar Andara. Lalu dalam waktu singkat, Tante Ine sudah keluar kamar. “Eh, Romeo mau pulang.” “Iya tante,” jawab gue ramah. “Ya udah hati-hati ya,” Om Raka menambahi. Lalu gue menyalimi mereka. “Oh ya, Tant, Om. Minjem motor Andara ya, soalnya motor saya di sekolahan.” gue meminta izin sama yang punya pawang. kalau gue enggak bawa motornya Andara nanti gue pulangnya bawa apa dong. Gue enggak bawa duit nih, jangankan duit, hp aja bisa ketinggalan. “Eh iya. Bawa aja dulu, lagian Dara juga enggak bisa bawa motor. Nanti biar Dara kalau sekolah di anter Mas Rizal,” jawab Tante Ine dengan enteng. Gila sih, gue kayak dianggep anak sendiri sama mereka. Enggak ada pikiran takut motornya bakal gue jual atau gue curi. Tapi gue juga enggak kepikiran mau jual motor ini, gue masih punya cukup uang saku ya. “Assalamualaikum tant, om.” ucap gue sebelum meninggalkan pelataran rumah mereka. Motor Andara melaju dengan pelan hingga akhirnya gue kebut ketika sudah keluar dari komplek. Di jalan, otak gue memikirkan banyak hal. Seperti awal mula kenapa gue bisa menolong Andara yang sedang jatuh hingga akhirnya kakinya keseleo dan mengantarkan Andara sampai rumah. Bahkan sekarang gue membawa motor Andara pulang. Semua itu di luar ekspektasi, gue yang awalnya mau ngobrol sama Andini kini berakhir bersama Andara, namun gue merasa senang. Gue senang bisa lepas dari Andini, entahlah. Hanya butuh 15 menit, gue sudah sampai di depan rumah, gue langsung memasukan motor ke dalam garasi. Lagi-lagi ketika gue membawa kunci motor Andara masuk gue menatap barang kecil itu. Sebenarnya apa ada yang salah sama gue? Kenapa gue senang hari ini. Apakah karena keluarga Andara yang hangat, atau gue sama Andara yang semakin dekat. “Yoo! Masakin dong.” tiba-tiba gue kaget dengan suara Kak Sinta yang sedang duduk di lantai dekat sofa, berhadapan dengan laptop bututnya. “Masak sendiri ah.” gue berjalan melewatinya, mengambil ponsel gue yang ada sofa. “Eits, tidak semudah itu ya ferguso. Lo masakin gue mie dulu, entar gue kasih ni hp.” dengan gesit Kak Sinta meraih hp gue. Gue mendengus kasar. “Enggaaak malees. Gue capeek.” gue tetap menolak, paling juga nanti hp gue juga udah di serahin. Gue melangkah menuju kamar, hendak tidur. “Temen-temen Josah lo udah tau belum, kalo lo pulang bawa cewek.” seperti tersambar petir lokal. Gertakan Kak Sinta membuat gue berbalik badan. Masalahnya hp gue enggak ada kuncinya, jadi kakak gue bisa dengan mudah mengakses dan mengirim pesan ke grup JOSAH. Grup alay gue dengan tiga kunyuk yang menjadi circle gue. Di sana, Kak Sinta tersenyum dengan kemenangan. Seperti tahu bahwa gue bakal kalah telak dengan ancaman koar-koar di grup. Gue menghela napas, “Mau mie apa?” “Mie ramyeon, yang rasa kimchi.” sahut Kak Sinta dengan semangat. Gue yang menyadari permintaan ngawurnya langsung menolak, “KAAAAAK, JANGAN NGADI-NGADI DEEEH.” “Baiklaaah, jika itu maumu.” Kak Sinta membuka hp gue, mengoperasikannya dan gue yakin itu membuka w******p. “Wah ada notif nih,” Kak Sinta berteriak heboh. “dari cewek.” Cewek? Siapa nih? Gue mengingat cewek terakhir yang chattingan sama gue. Andini? Ngapain dia spam chat ke gue. Atau jangan-jangan Andara? Mampus. Makin jadi dah nih kakak gue. “Iya iya gue pergi ke minimarket dulu.” gue mengambil dompet gue yang ada di samping tivi. Gue harus segera menyelesaikan p********n ini. “Terima kasih Romeo tampan, jangan lupa nitip s**u banana.” tuhkan banyak maunya. “NGGAAAK.” Gue meninggalkan rumah, menuju ke minimarket yang jaraknya hanya 50 meter dari rumah. Bunda dulu ngidam apa coba, sampai melahirkan kakak yang memperbudak adiknya. Coba kalau Bunda masih ada, mungkin gue bakal punya benteng. Kapan juga bokap gue pulang, kerja mulu enggak pulang-pulang. Gue membeli mie pesanan kakak gue. Mie rasa basi itu entah kenapa menjadi favorit nenek lampir. Padahal rasanya kayak sayur basi. Setelah selesai, gue segera pulang dan segera memasaknya. Lalu gue bisa membuka hp gue dengan leluasa. “Assalamualaikum,” gue masuk rumah, langsung menuju dapur. Tidak mempedulikan manusia yang ada di sofa, yang sejak tadi senyum-senyum enggak jelas. Gue segera memasak mie itu, dengan kecepatan maksimal bahkan. Setelah mateng gue segera menyerahkan ke bos romusha. “Nih, mana hp gue.” Tanpa rasa berdosa, Kak Sinta menyerahkan hp gue, “Makasih ya Romeo tampan.” Gue hanya berdeham, lalu segera menuju ke kamar. “Yo, lo nggak ngasih selamat ke gue, skripsi gue udah sampe bab tigaa loh.” “Seraaaaaah, mau sampe bab 12 pun gue bodo amat.” gue mengakhiri kalimat dengan menutup kamar gue. Segera melepaskan penat di hari Jumat. Benar-benar hari yang panjang. Ketika gue sudah sempurna dengan posisi tidur gue, gue membuka hp gue. Mengecek w******p. Ada pesan, dan benar saja itu dari Andara. Gue membuka pesan itu. Thanks ya Yo. Jangan kapok-kapok bantuin gue. :) Tanpa sadar senyum terukir di bibir gue, untuk pertama kalinya Andara mengirimi gue pesan yang begitu manis. Bahkan sampe ada emotikonnya lagi. Gue segera membalasnya. Iya, sama-sama. Maaf kalo selama ini gue nyebelin. :D Gue mengirim pesan itu. Pesan yang membuat gue menurunkan harga diri gue. ●●● Gue ketiduran, ketika menunggu balasan Andara dengan menonton youtube membuat gue terlelap dalam tidur. Gue mematikan youtube yang sudah memutar video enggak jelas semalaman. Gue bangkit dari tempat tidur, segera menuju kamar mandi. Berhubung hari Sabtu, gue bisa bermalas-malasan. Toh paling jam segini Kak Sinta juga sudah pergi observasị. Emang bener ya, semester akhir itu merepotkan, membuat gue males untuk kuliah. Gue melihat catatan di kulkas dapur, kertas berwarna orange itu menjadi perhatian gue. Catatan dari nenek lampir “Yo, gue masak enak pagi ini. Jangan lupa dihabiskan. JANGAN LUPA CUCI PIRING!!!!” Ngegas banget sih nulisnya, tanpa disuruhpun gue juga udah cuci piring sendiri dan mandiri. Tapi sebenarnya kakak gue baik kok, baiknya dikit doang sisanya mah tetap mengeksploitasi adeknya yang pinter masak. Padahal kalau dipikir-pikir masakan gue sama dia sama-sama enak. Gue kembali ke kamar, hendak mengambil anduk untuk mandi, badan gue capek kalau kena air hujan. Makanya gue memutuskan untuk mandi pagi, lalu gue melihat tas Andara tergeletak di meja samping kamar mandi. Apa gue balikin aja ya ke dia. Mungkin ide yang bagus untuk bisa ketemu lagi sama dia, gue juga penasaran gimana keadaan kakinya. Apa sudah baik-baik saja? Gue segera lari ke kamar, mengambil hp gue dan membuka chat Andara. Sialan pesan gue tetap enggak di balas sejak semalem. Apa Andara sibuk ya. Tapi Andara online? Ah lo kenapa jadi baperan gini sih Yo. Ya udah sih, lo tinggal chat lagi biar dia bales chat lo. And, ini tas sama baju kotor lo ketinggalan di rumah gue. Gue juga ingat bahwa baju Andara masih di sini karena semalem Andara pulang pakai baju gue. Kling. Andara membalas pesan. Nah, cocok tuh. Sekalian cuciin ya  Sialan tidak tahu diri sekali ini anaknya Om Raka. Udah di cuci kok. Memang bajunya sudah gue cuci, baru saja gue masukin ke mesin cuci. Dia membalas. Serius nih? Lalu dengan jahil gue membalas pesannya lagi. Tapi boong! Enggak papa, sesekali mempermainkan Andara. Seru banget soalnya kalau bikin dia ngambek, membuat percakapan gue dan dia enggak pernah berhenti. Jika saat ini gue sedang ngobrol langsung sama dia, yang pasti gue bakal kena jawilan maut di pinggang gue. Gue enggak tahu kenapa respon cewek aktif sekali untuk menjawil kaum laki-laki, disangka kita punya kulit baja apa. Gue melakukan aktivitas pagi ini dengan senyum-senyum, mencuci baju dan mandi dengan nyanyi-nyanyi. Sepertinya gue sudah gila sih, takutnya gue naksir sama Andara atau bahkan tanpa gue sadari emang udah naksir sejak lama. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD