Andara: Rasa Sakit

3061 Words
"Dara? Bangun sayang." Suara itu terdengar sayup di telinga. Mengganggu molor gue di siang ini. Gue Cuma menggaruk-garuk pipi. Kemudian melanjutkan tidur siang yang langka ini. "Aduh, bangun ah." Suara Mama terdengar lagi. Dia menyentuh tubuh gue. Gue mengabaikan, masih ngantuk ah. Anaknya kan sakit, kok bisa-bisanya orang sakit dibangunin sih. "Huh, Andara sulit memang kalau dibangunin, Yo." Gue mendengar itu. Setengah sadar gue memikirkan ucapan nyokap. Dia ngobrol sama siapa? Perasaan orang rumah pada kerja semua, ini kan belum sore. Peduli apa gue? Tidur enak kok. "And, bangun dong." Suara lain, suara cowok. Sebentar-sebentar, suara siapa nih?! "And, ini gue Romeo." Romeo? Tik... tok... tik... tok . Otak gue berpikir. Siapa? Romeo. Gue membuka mata. Serius ini Romeo. Gue yang tertidur membelakangi, langsung menoleh ke arah suara. Benar! Ada Romeo! Ada urusan apa nih si kutu kupret. Perasaan gue enggak butuh bantuan dia deh. "Kebo banget sih lo." Kekehnya. Duduk di tepi ranjang. Gue mengucek mata gue, menjernihkan pandangan. Mencoba duduk dari tidur. Gue tadi ngantuk banget, habisnya gue enggak punya aktivitas lain selain rebahan dan main hp. "Ngapain lo ke sini?" tandas gue menatap dia. Dia tertawa. Ditanya malah ketawa? Waras mas? Mana mukanya nyebelin bin nyolot lagi. "Kalo ditanya tuh dijawab. Ini malah ketawa." "Kepo banget sih." Kurang ajar nih manusia! "Suka suka lo ah! Males gue. Ya udah ih, sono keluar dari kamar gue. Gerah nih." Gue membuang muka darinya. Pura-pura marah, padahal, gue juga seneng sih dia tiba-tiba datang ke sini. Tapi kenapa harus pas gue bangun tidur gini. Dua kali Romeo mergokin gue bangun tidur. "Serius nih, gue diusir?" Romeo sempat-sempatnya menanyakan hal itu. Emangnya dia mau pergi beneran. Rese banget sih jadi orang. "Ih, Dara enggak boleh gitu. Masak tega gitu sama Romeo sih." Mama datang dari arah pintu, membawa satu gelas limun dan satu toples kue kering. Nih, anak malah dibawain makanan sama minum, makin betah deh dia. "Iya nih tante, masak tadi Romeo diusir ya Tan." Adu Romeo. Kurang ajar, sejak kapan mereka kompak dan sok akrab gini. Itu kan Mama gue, kenapa yang ngadu malah elo. "Ya, kamu kan tau. Dara tuh ganasnya kayak apa." Apa dibilang? Gue ganas? Model sweet dan kalem gini dikata ganas, nyokap gue aja enggak kenal gue dengan betul. Banyakan gosip sama tetangga nih, sampai lupa anak-anaknya. "Yang tabah ya kalo jadi pacarnya Dara." Bisik Mama sebelum meninggalkan kamar. Menyisakan cekikikan di antara keduanya. Apa katanya? Pacarnya?! Najisun! Amit-amit dan gue jadi pacarnya. “Mamaaa, aku juga haus nih. Es limunnya nambah satu ya,” gue memotong pembicaraan mereka. Mumpung gue lagi enggak bisa jalan, bisa minta apa aja. Mama pergi, tinggal gue dan Romeo di kamar gue. Gue menatap Romeo dengan tatapan selidik. "Lo mau ngapain sih di sini?" gue menatapnya selidik. Mencari tahu motif apa kedatangannya, ya meski bukan kejahatan sih. Bukan mengatakan Romeo malah menyodorkan tas rucksack warna navy ke arah gue. Gue menautkan alis. Jadi, apa yang dia katakan tadi serius? Gue membuka tas dan melihat baju basah kemarin sudah terlipat rapi dan wangi. Gue tersenyum tipis, amat tipis, jaga gengsi di depan Romeo. Romeo benar-benar mencucinya. Gue jadi malu sendiri sebagai cewek. Gue menatap Romeo lagi, dia kini malah sedang memakan biskuit yang dibawakan Mama. Kenapa dengan kedatangan Romeo bosan gue hilang ya. Ada perasaan suka gitu lho. Gue enggak tahu kenapa. Ketika gue menatapnya, mampusnya dia memergoki gue dan dia senyum-senyum. Jangan sampai dia gede rasa gara-gara gue lihatin lagi. Enggak! Dia enggak boleh mikir kalau gue habis ngelihatin gue. Jangan deh jangan. "Ngapain lo senyum-senyum gitu. Gue geli!" tandas gue padanya dia yang sedang minum langsung mengerutkan alisnya. Sialan! Kenapa sih dia selalu begitu. Gue kan jadi parno. "Lo ngapain sih?!" Ulang gue lagi. "Lo beneran enggak mandi." "Eh? Kecium ya? Asem ya?" Gue mencium ketiak kanan kiri, memastikan aroma asam tidak sampa tercium di hidung siapa pun apalagi Romeo. Dia malah senyum. Dia kesambet apa sih? Rumah gue enggak angker deh. "Lo suka make atau emang malas mandi?" Dia ketawa, penuh arti. Gue mengeryit. "Maksud lo?" Beberapa detik gue pun sadar. Gue masih pakai bajunya Romeo, baju itu masih melekat di tubuh gue. Ya, sejak semalam dan sampai siang ini, pukul 11.30, gue belum mandi. Ya habisnya tadi pagi mau mandi, tapi kaki gue nyilu banget. "Jadi, beneran suka pakai?" Tanya Romeo dengan goda. Tatapnya menyebalkan, gue enggak suka ya digoda kayak gitu. "Udah ah, gue mau mandi." Karena malu, gue akhirnya bangkit dari kasur. Tapi lupa kalau gue enggak bisa berdiri. Bahkan kaki gue belum sanggup untuk berdiri dengan satu kaki. "Bisa jalan enggak nih," celetuknya. Gue mengabaikan ucapnya, mencoba berjalan. Meski akhirnya gagal. "Lo yakin bisa?" Gue masih mengabaikannya, tapi juga butuh bantuannya. Ketika Romeo hendak mendekati gue, gue langsung berteriak. “Maaa, Dara mau mandiii.” Akhirnya Mama datang dengan membawa gelas limun. “Sini mama bantu,” Mama langsung merangkul gue untuk membantu turun. “Nanti sore kruk kamu datang,” ucap Mama lagi. Papa akhinya membelikan gue kruk karena enggak bisa berjalan, sayangnya Papa datangnya nanti sore sekalian pulang kerja,. Gue sudah selesai mandi, hanya butuh waktu sebentar karena gue mandi dengan posisi duduk. Kini gue menuju ke kamar lagi. Dan, ternyata manusia itu belum beranjak dari kamar gue, masih duduk di tempat semula, sembari bermain hap dengan posisi dimiringkan, gue yakin Romeo sedang main game. Dan benar, itu game yang sedang marak sekarang, PUGB. Ketika gue kembali, Romeo malah menurunkan hp-nya dan menatap gue dengan senyum. Dan gue selalu salting tiap di lihat, dia itu nyebelin banget sih, suka banget perasaan gue salting. Ya siapa sih yang enggak salah tingkah ketika ditatap dengan sebegitunya. Kayak takut ada celahnya gitu lho. "Bisa enggak sih lo, enggak usah senyum-senyum gitu. Gue risih sumpah." "Santai aja kali, gue enggak naksir lo kali." "Siapa juga yang mau ditaksir sama lo kale! Ih enggak banget deh." gue duduk di kasur, mulai menaikan kaki ke atas kasur. Kenapa Romeo ke sini coba, jika memang akhirnya menyebalkan. Hus! Pulang aja deh lo. "Dara, temen-temen kamu datang tuh" ketika gue sedang berantem dengan Romeo, Mama datang dari arah pintu. Teman-teman gue siapa nih? Temen gue kan banyak. Sebentar? Teman-teman? Gue menatap Romeo yang duduk di samping gue. Dia menautkan alis karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukan masalah Romeo masuk dalam kategori teman. Tapi, kalau teman-teman gue datang dan Romeo ada di sini, bisa-bisa...  Enggak! Romeo enggak boleh ada di sini, nanti mereka berpikir aneh-aneh soal Romeo. Gue enggak mau ada gosip di antara kami. Tatapan gue makin lama ke Romeo, sedangkan dia bingung sendiri kenapa gue menatapnya. "Andara... lo enggak papa kan?" Terlambat, suara itu mengawali bahwa gue harus siap digosipkan. Gue dan Romeo langsung menatap ke arah suara. Gerombolan anak paskib memasuki kamar gue, membuat ruangan kecil ini terasa sumpek. Mampus lo And! Gue enggak mungkin ngusir Romeo dengan frontal.  Romeo yang menyadari banyaknya orang, langsung menyingkir dari kasur, memberi tempat ke teman-teman gue yang cewek. Zika dan Kak Ela duduk di samping gue. Melihat keadaan kaki gue yang diselenjorkan. "Gimana keadaanmu And?" tanya Kak Reno yang berdiri di samping Kak Ela-yang sekarang jadi pacarnya. Senang deh melihat mereka cinlok. "Udah enggak papa Kak, hanya perlu istirahat sih." "Cepat sembuh ya And, biar bisa latihan lagi." Bagas ikut menyahuti. Hati gue berdesir ketika ada Bagas datang ke sini. Gue tersenyum ke arah Bagas, “Thanks ya.”  Tapi gue kembali teringat tentang Romeo, manusia kunyuk yang masih berdiri di pojokan kamar gue, sendirian tak diperhatikan. Semoga mereka enggak menyadari tentang keberadaan Romeo. Tapi perasaan iba gue sia-sia,  Romeo yang merasa dikucilkan malah mulai didekati Andini. Mereka terlihat mulai mengobrol. "And... gimana udah mendingan?" "Iya And, dulu pas SMP gue pernah kseleo, sakitnya bukan main. Lo juga enggak?" Gue masih menatap obrolan mereka, kenapa harus datang sih si Andini! Sumpah bikin keki aja sih. Bete gue. Mana sekarang mereka malah melangkah keluar dari kamar, membuat pikiran gue kemana-mana. Ingin tahu apa yang mereka bicarakan. "Ih, Anda? Lo jangan ngelamun dong." Kak Ela melambai-lambaikan tangannya di depan gue. Gue pun kembali sadar dengan keadaan. "Ohya, tadi siapa sih And? Pacar ya?" tiba-tiba Kak Reno malah mengatakan itu, membuat gue menoleh ke arahnya. "Pacar?" kerut gue. "Iya, pacar. Abisnya suka bareng sama lo terus kan." Gue tidak bisa menjawab, hanya diam. Gue menatap Bagas, apakah dia cemburu? ●●● Hari Senin kembali lagi, hari yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Soalnya gue bete banget dua hari full  di rumah. Dan, hari ini, gue memaksakan diri gue untuk berangkat, meski mulanya Mama tidak menyetujui keberangkatan gue. Tapi tidak masalah, gue cuma keseleo kan. Masih ada kruk yang membantu gue jalan. Hal yang pertama gue lihat ketika masuk sekolah adalah banyaknya tatapan prihatin dari warga sekolah setelah gue keluar dari mobil, ya gue dianterin Mas Rizal. Ada yang blak-blakan bertanya, ada juga yang sibuk berbisik antar teman. "Lho, neng... Kakinya kenapa?" tanya Pak Marjuki, satpam sekolah yang berdiri di pagar tiap pagi bersama guru piket. Gue tersenyum menatap kaki kanan gue yang cuma memakai sandal, soalnya kalau pakai sepatu sakit. "Keseleo aja sih pak," "Aduh, enggak tega liatnya sih neng." Pak Marjuki masih menatap kaki Gue. Geleng-geleng kepala. "Hehe, udah sembuh pak. Ya udah pak, permisi ya." Pamit gue meninggalkan Pak Marjuki. Gue segera menuju kelas agar tidak jadi perhatian warga sekolah. Malu sendiri gue. Ya, emang sih, gue suka diperhatiin, tapi kalau urusan begini, gue enggak suka. Rasanya kayak ada yang salah sama gue gitu. Gue sampai ke kelas dengan susah payah. Jalan pincang dan baru juga sampai kelas, teman-teman mengerubungi gue, apalagi Elisa selaku sahabat gue langsung maju paling depan. Dia memegang bahu gue, hampir aja gue enggak seimbang. "Lah, lo kenapa?" Tanya Elisa saat itu. Ya, soal kejadian Jumat kemarin gue sama sekali tidak menceritakan ke Elisa, ya untuk apa sih menceritakan hal itu. Gue baik-baik aja nyatanya. Jadi satu kelas ini, yang tahu kejadian itu adalah Romeo. "And? Lo kenapa?" kini, malah Viona, si otak encer itu. "Gue enggak apa-apa sih," ucap gue sembari berjalan menuju tempat duduk gue. Meninggalkan teman-teman gue yang menggerombol di depan pintu kelas. Belum selesai sampai situ, Elisa menyusul gue di bangkunya, tepat di samping bangku gue. Ya mana puas Elisa gue kasih satu jawaban tadi. Bukan Elisa kalau enggak kepo sampai akar. "Kaki lo kenapa sih, And?" tanyanya lagi. Kini dia duduk dan menatap gue dengan tajam. "Gue baik-baik aja El," jawab gue simple. Memang gue baik-baik aja. "Kenapa bisa sampai gini?" "Ya jatuh lah, mana ada kaki gue gini gara-gara lupa potong kuku." "Andaraaa.. serius!" Elisa menarik punggung gue, membuat gue yang sedang menaruh kruk sempat hampir oleng. Gila nih, jahat banget sih Elisa jadi temen. Kepo sih kepo, tapi enggak bar-bar juga kali. "Awhh... sakit tau." "Lo jatuh di mana? Terus kenapa? Andara!" Elisa menatap gue selidik, layaknya pencuri kepergok mencuri. "Gue jatuh Jumat kemarin, pas latihan rutin." Gue meralat sedikit fakta bahwa gue kesandung gara-gara lari. Kan enggak keren banget kayak anak SD. Bukan Elisa kalau enggak heboh. "HEH? SUMPAH!!!" Kayak emak-emak dapat gossip baru tentang tetangga sebelah. Hebohnya bukan main, "Terus sekarang gimana?" "Ya udah baikan sih, Cuma keseleo aja." "Kenapa sih And, lo enggak cerita ke gue kalau lo kenapa-napa?" "Ya emangnya, kalau gue menghubungi lo dan bilang kalau kaki gue keseleo. Emang lo bisa menyembuhkan kaki gue? Bisa mijit." "Bukannya sembuh malah tambah parah nih kaki." Lanjut gue dengan mencebik. "Iiih, bukan gitu. Gue nih temen lo tau. Hargai kek sebagai temen." Kini malah Elisa yang mencebik. Ya maap deh, kan juga enggak penting juga mau cerita. Gue Cuma terkekeh melihat tingkah Elisa yang ngambek sama gue. Dan ketika itu juga, dari arah pintu ada Romeo yang mencangklong ranselnya, diikuti ketiga teman nakalnya, Rohman, Fauzan, dan Haikal. Seperti biasa, Romeo akan melewati bangku gue sebelum dia sampai di bangkunya. Gue berharap, Romeo akan menyapa gue menanyakan kabar gue sudah pulih atau belum. Romeo melangkah bersama teman-temannya, mengobrol layaknya anak-anak lainnya. "Tadi lo jemput Ika ya?" Haikal yang ada di belakang Romeo, merangkul Rohman begitu saja. Seingat gue sih, Ika anak kelas sebelah yang jadi pacarnya Rohman. "Iya, lah. Laki!" aku Rohman dengan bangga. Menepuk-nepuk dadanya. "Bucin lo, dasar!" maki Haikal. Bucin, b***k cinta. Istilah yang digunakan untuk orang-orang yang rela berkorban untuk kekasih tercintanya, salah satunya Rohman. "Biarin, dari pada jomblo kayak lo, lo pada." Tuding Rohman pada teman-temannya. Ya habisnya, di geng mereka, Cuma Rohman yang punya pacar. Tanpa sadar langkah mereka main dekat dari bangku gue. Gue berharap Romeo berhenti. Satu langkah... Dua langkah... Dan sampai melewati... Nihil. Romeo sama sekali enggak mengucapkan sepatah kata pun, dia seakan tidak peduli dengan gue. Bahkan kondisi kaki gue pun sama sekali tidak memancing untuk dia ngobrol sama gue meski pun itu basa-basi. Nyebelin! Lalu apa artinya Jumat dan Sabtu kemarin kedatangannya di rumah dan dia juga membantu gue dalam kejadian keseleo kemarin. "Eh, kaki lo kenapa dah, And?" Rohman dan Fauzan berhenti di dekat gue. Padahal gue harap itu yang nanya Romeo, bukan mereka. "Gakpapa." Singkat. Gue benci pagi-pagi gini. ●●● Istirahat kedua, gue langsung menuju kantor menemui Pak Bakri selaku Ketua Bina Ekstra Paskibra. Entah ada hal apa yang membuat gue sampai menemuinya. Yang gue tahu sekarang, gue sekarang tidak baik-baik saja. Gue enggak mau mendengar kabar buruk. Terlebih satu kenyataan kaki gue sekarang sedang sakit. Meja Pak Bakri masih kosong, gue duduk di bangku depan mejanya, menunggu kedatangan guru yang cukup akrab dengan gue. Katanya tadi dia izin ke ruang kepala sekolah, pikiran gue makin buruk. Tarik napas Andara, ini bukan apa-apa. Buang pikiran buruk lo soal apapun ke depannya. Lo enggak apa-apa. Bujuk hati gue pada pikiran gue. Sembari membuang bosan, gue membuka hp dan membuka sosial media, yang penting enggak bosen deh. "Siang Andara..." suara terdengar dari depan gue. Gue mendongak, Pak Bakri sudah ada di depan gue. Gue menaruh hp ke dalam saku lagi, memperbaiki posisi duduk. "Siang pak." "Maaf ya mengganggu istirahat kamu," Pak Bakri basa-basi. "Enggak apa pak." "Gimana keadaan kaki mu, sudah enakan?" Pak Bakri tersenyum ke arah gue. Gue membalas senyumnya. "Saya sudah mendingan pak." Balas gue. Tapi kemudian gue kepo kenapa gue sampai bisa duduk di sini. "Ngomong-ngomong, ada hal apa, Bapak manggil saya?" Tanya gue akhirnya. "Jadi gini..." suara Pak Bakri berubah jadi berat, beliau sempat menarik napas sebelum mengatakan itu. Gue menatapnya. Atmosfer kantor serasa buram, kecanggungan melingkupi kami. "Masalah lomba parade," "Maaf, jadi gini-" jeda, "Komandan peleton diganti Bagas." Seperti disambar petir, kabar itu gue terima dengan tiba-tiba. Gue tak bisa menelan ludah gue sendiri. Gue mencoba kuat dan terlihat baik-baik saja di depan Pak Bakri. "Keputusan ini sudah dirapatkan bersama dengan Pembina lainnya dan Kakak-kakak senior. Ini juga untuk kebaikanmu." Gue tahu Pak Bakri mengatakan itu dengan pelan-pelan, tapi kalimat itu mampu menghunus hati gue. Menembus ulu hati. Kaki gue belum sembuh, tapi hati gue malah sakit. "And, saya mewakili semua mengatakan dengan berat bahwa pilihan ini memang harus di pilih. Bukan berarti kamu tidak baik, bahkan kami merasa, kamu itu salah satu siswa teladan. Kamu siswi terbaik." Pak Bakri membesarkan hati gue. Nihil, tetep aja perih. "Tapi, lomba parade akan dilaksanakan satu minggu lagi. Kita tidak mungkin membiarkan persiapan ini tidak matang, dan kami... tidak mungkin menunggu kamu untuk sembuh Andara..." Hampir saja air mata gue menetes, tapi segera gue cegah dengan memandang ke atas. Ini terlalu perih untuk gue. Ini benar-benar menyakitkan. "Dan ada satu hal lagi," Pak Bakri belum selesai. Gue menatap Pak Bakri dengan nanar, ada apa lagi? "Jika selama dua hari ini, kakimu belum sembuh betul. Kamu jadi peserta cadangan untuk perlombaan minggu depan."  Kaki gue enggak mungkin sembuh dengan secepat kilat, ini terkilir bukan Cuma tergores. “Pak, tapi kaki saya enggak mungkin sembuh secepat itu.” Gue mencoba melakukan pembelaan. “Saya tahu Dara, saya sarankan lebih baik kamu tidak mengikuti perlombaan ya, supaya fokus pada penyembuhan.” Pak Bakri mengucapkan dengan pelan-pelan, tapi gue merasakan itu dengan sangat perih. Dua kali lipat sakitnya. Gue sudah enggak sanggup lagi. "Pak, saya permisi ke kelas dulu." Sesegera mungkin gue meninggalkan ruangan Pak Bakri, sebelum gue tak sanggup menahan tangis. Sepanjang jalan beberapa orang melihat gue, dan bahkan banyak yang menyapa. Tapi dengan kruk gue berjalan secepat mungkin meninggalkan keramaian. Gue butuh tenang, bahkan dentang bel kantor menandakan bel masuk gue abaikan. Gue enggak ingin ke kelas dulu. Taman belakang, adalah tujuan gue satu-satunya, tempat itu kini sudah sepi karena mayoritas siswa sudah kembali ke kelas masing-masing. Gue berdiri di bawah pohon rambutan, membuang kruk, membuat gue jatuh di rumput seketika. Sakit itu tidak ada apa-apanya dari pada rasa sakit gue. Gue membenci ini. Tangis gue pecah. "Kenapa ini harus terjadi sih?" ratap gue pada diri sendiri. Gue payah. Gue bukan lagi ambisius, gue kalah. Gue kalah sama hal sepele. Kaki gue sendiri. Dasar merepotkan!! Berkali-kali gue memukul kaki gue, rasanya memang ngilu. Gue enggak peduli! Gara-gara ini gue jadi kehilangan mimpi gue. Tangis gue pecah, membanjiri pipi gue, gue memilih bolos pelajaran dari pada tidak tenang di kelas. Saat ini jam pelajarannya Pak Banu, guru Matematika. Gue yang biasanya enggak ingin tertinggal materi dari Pak Banu, kini tak peduli. Hati gue butuh sembuh. Patah hati hebat. Kling. Hp gue yang ada di saku rok berbunyi, itu tandanya ada pesan. Gue merogohnya dan mendapati pesan Elisa. Elisa:  And, posisi? Lo baik-baik aja kan. Gue membalasnya. Ok, aja. Cuma d uks aja. Bohong. Gue pengen bolos aja. Beberapa menit kemudian, terdengar dering itu lagi. Gw kesana y, temenin lo. Gue langsung membalas cepat. G usah. Lo kesini Cuma ganggu gw tidur aja. Kemudian gue menaruh hp di saku itu lagi, sebelumnya gue sempat mematikan hp. Gue lagi pengen sendiri. Gue benar-benar butuh sendiri. Akhirnya, setelah agak bisa bernapas, gue memutuskan untuk menuju UKS, karena jika lama-lama di sini dan dipergoki guru akan berdampak buruk. Toh, di UKS gue juga punya alasan kenapa gue di sana. Mungkin dengan tidur bisa meringankan beban pikiran gue sampai bel pulang dua jam lagi. Syukurlah UKS siang ini sepi, tidak ada siswa yang sakit hanya karena alasan sakit pas upacara. Gue menuju ranjang ujung yang tidak nampak dari pintu depan. Sebelumnya gue ijin dengan Habibie, cowok PMR yang sedang piket di UKS. Setelah diperbolehkan, gue membaringkan tubuh. Gue menghela napas, menangis membuat kepala gue pusing. Tangis gue memang sudah selesai, tapi perih di hati masih kerasa. Gue memejamkan mata, berharap rasa itu sembuh setelah bangun nanti. Berharap kaki gue benar-benar sembuh, dan mimpi buruk ini segera hilang. ●●●
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD