Maafkan, jika ternyata kami menjadi pemuda yang buruk, pemuda yang jauh dari ekspektasi para pejuang kemerdekaan. Tubuh kami memang bugar dan sehat, tapi kami tidak punya kekuatan dan keberanian dalam hal ini. Kini harusnya yang menjadi perayaan kemerdekaan yaitu 17 Agustus, di saat upacara malah kami banyak ngobrolnya, gue juga sejak tadi menguap. Apalagi Haikal yang sedari tadi mengepang karet gelang yang ia bawa entah dari mana, katanya dari pada ngantuk lebih baik dia gabut . Sedangkan Rohman sejak tadi kirim-kiriman kode dengan pacarnya yang jauh di sana. Memang ya, gue dan teman-teman gue memang tidak bisa diharapkan menjadi pemuda harapan bangsa. Upacara aja modelannya kayak gini, apalagi diajak perang, baru juga berangkat mau kumpul udah ketembak dah.
Gue menatap pengisi pidato di mimbar tengah lapangan, harusnya ini tanggal merah, tapi sekolah gue tetap meminta murid-murid masuk untuk upacara, enggak papa lah mungkin setelah ini gue dan kunyuk-kunyuk bakal melipir untuk PS.
"Habis ini langsung kan?" Fauzan menyenggol gue.
"Jadi dong, dari pada di rumah gue gabut."
Dalam diam kami bertos ria, seperti memiliki misi rahasia.
Upacara selesai, namun sebelum dibubarkan. Ada guru yang datang mengambil alih mikrofon yang ada di mimbar.
"Baik anak-anak, sebelum upacara ini dibubarkan. Saya minta untuk ketua kelas berkumpul bersama anak OSIS untuk membahas Class Meeting yang akan diadakan besok selama satu minggu." Umum Guru pengurus OSIS.
Mendengar ucapan itu, semua siswa berteriak heboh, senang karena tidak ada pembelajaran dalam seminggu. Namun disatu sisi gue sebel, karena enggak jadi pulang langsung.
"Asyik, gak ketemu sama Pak Banu dan teman-temannya," heboh Haikal dengan pelan, takut kelepasan dan Pak Banu yang ada di seberang sana denger. Kalau denger kan bisa bahaya, nilai sudah hancur semakin tidak tertolong.
Barisan bubar. Haikal dan Rohman masih berjoget ria dengan kebebasan. Gue berjalan menuju arah yang berbeda di mana ruang OSIS berada. Di belakang gue ada Bimo dan Andara. Gue ingin mengobrol sama Andara ketika jalan. Kini langkah gue sedikit pelan.
Ketika gue ingin menyapa Andara, di satu sisi Andara malah berlari menuju temannya.
"And cepetan, dicariin Pak Heru." Teriak temannya.
"IYAAAA." Jawab Andara tak kalah teriak.
Gue langsung mengurung niat untuk mengobrol, melihat dia sibuk banget gue jadi enggan untuk menyapa dan mengobrol dengannya. Rasanya benar-benar berubah.
"Kalem, Andara sibuk." Bimo tiba-tiba datang merangkul gue.
Gue yang gengsi hanya bisa berpura-pura baik-baik saja. "Apaan si Bim, gue enggak papa kok. Emangnya peduli apa gue sama kesibukan Andara."
Bimo tersenyum simpul. Gue tetap cool. Berusaha untuk terlihat cool maksudnya.
Gue sudah sampai di ruang OSIS, duduk di samping Indra ketua kelas sebelah.
"Lama enggak Ndra?" Tanya gue basa-basi.
"Jangan lama-lama dong, kan gue mau tidur siang."
"Ah, elah. Masih jam 9 mau tidur siang lu."
Indra terkekeh.
Mulut gue bercanda dengan Indra, tapi mata gue berada di fokus yang lain, yaitu cewek yang lagi memegang gulungan kertas karton di ujung ruangan.
•••
"Yo, ayo buruan ambil undian." Haikal berteriak ke gue. Haikal berada di tepi lapangan. Hari ini adalah tidak ada pembelajaran di sekolah. Setelah hari perayaan kemerdekaan kemarin, sekolah mengadakan class meeting selama satu minggu. Jadi sekarang gue dan teman sekelas bersiap untuk futsal, namun sebelum itu gue harus mengambil undian untuk bertanding.
Gue mendekati panitia OSIS, ada Bimo dan teman-temannya duduk di kursi panitia. Gue merogoh toples yang berisi nomor undian. Ketika gue sudah menemukan satu gulungan gue langsung mengangkatnya, membuka lebar kertas itu dan menyebutkan angka yang gue lihat.
"Nomor sembilan," ucap gue. Kini anak OSIS menulis kelas gue di kolom Sembilan, dan bertanding dengan kelas XII IPA 1.
"Nanti pertandingan ke lima ya, sama kelas XII IPA 1." Jelas Anggi, cewek yang jadi panitia OSIS. Gue mengangguk setuju, lalu gue menatap Bimo yang sudah memakai jersey, meski Bimo adalah panitia, namun dia diperbolehkan ikut lomba karena paksaan teman-teman kelas. Gila aja atlet gue enggak ikut lomba, gue tampol deh kalau dia menyia-nyiakan bakatnya.
Gue kembali ke gerombolan teman-teman gue di tepi lapangan. Di sana ada empat orang yang siap tempur bersama gue hari ini, Haikal, Rohman, Arjun, Zaki, gue dan Bimo. Gue duduk di samping Rohman, menunggu waktu pertandingan tiba.
Ketika gue duduk dan menunggu, gue melihat Andara datang ke lapangan, sepertinya dia menemui teman OSIS-nya, ya wajar sih kalau di saat seperti ini anak Osis yang selalu sibuk kalau ada classmeeting. Andara berlalu begitu saja, tidak menyapa gue. Wajar sih, dia sibuk banget. Kejadian lomba paskib telah berlalu berminggu-minggu, kini suasana sudah berubah ceria kembali, bahkan kembali seperti semula. Gue dan Andara juga tidak ada alasan untuk bareng-bareng lagi, enggak ada modus-modus datang ke tempat latihannya, enggak ada alesan buat menepuk pundaknya bahkan menghapus air matanya. Dan sebenarnya gue juga merasakan bahwa jauhnya kita benar-benar kerasa.
Bimo datang mendekati gue, duduk berdesakan dengan gue padahal di sisi dekat Zaki ada space kosong.
"Dilihatin terus tuh ibu negara." Bimo menepuk pundak gue, jujur sebenarnya Bimo juga tahu kalau gue juga pernah sedekat itu sama Andara, meskipun enggak jelas kan? Ya mungkin ini yang namanya ghosting, tapi Andara kan enggak ngedeketin gue, tapi gue kok ngerasa ditinggalin.
"Dia sibuk banget tahu akhir-akhir ini, ya gimana ya jadi ketua kegiatan." Jelas Bimo lagi. Mendengar kata ketua, gue agak bernapas lega. Syukur deh kalau dia sudah mulai memiliki ambisi lagi, ya meskipun acaranya Cuma sebentar doang.
"Oh, bagus deh." Jawab gue singkat.
"Tapi aman kok, Andara masih jomblo." Tiba-tiba Bimo berbisik di telinga gue. Gue tersenyum tipis mendengar ucapan Bimo yang seakan sedih dengan meregangnya hubungan gue sama Andara.
Kemudian percakapan gue dan Bimo berakhir, dan gue menikmati suasana yang ramai di lapangan hari ini. pertandingan sudah dimulai jadi suara supporter amatir mengisi keramaian.
Tak terasa waktu untuk gue bengong habis, kini saatnya kelas gue untuk tampil.
"Yok!" ajak gue ke teman-teman.
Zaki menjadi kiper dan gue dan Haikal menjadi flank serta Bimo si idaman kelas menjadi anchor dengan harapan yang begitu baik. Rohman menjadi di tepi lapangan menjadi orang yang ada dan tiada, yaitu hanya pemeran pengganti. Tapi meskipun begitu, ada Ika di sampingnya, bercanda ria dengan romantis macam dunia milik berdua. Kami yang berlalu lalang di sini menjadi pohon dan cameo tak kasat mata.
Gue sudah berdiri tegak, di depan sana, di bagian lawan sudah berdiri anak kelas dua belas yang tinggi-tinggi dan sepertinya gue enggak asing dengan idola sekolah ini, Iksan Maulana, cowok berjangkun tebal dan berwajah agak tampan—ini menurut gue karena gue laki-laki—. Karena dia tampan, sudah jelas di tepi lapangan sudah ada ciwi-ciwi yang memberi semangat padanya. Mereka heboh banget. Padahal permainan saja belum dimulai.
Entah kenapa nasib orang-orang begitu mujur dan spesial, sedangkan gue? Gini-gini aja. Gue diam-diam menatap Andara yang sedang sibuk menulis di tepi lapangan. Sibuk banget memang ya menjadi ketua kegiatan, sana-sini ngurusin acara sampai ada orang yang kesepian macam gue.
Hari-hari berwarna kemarin seakan hilang lenyap, Andara menjadi dirinya sendiri dan gue diabaikan. Memangnya lo siapa Yo? Kok pengen dimengerti?
"Pritttt" lamunan gue harus berakhir. Gue harus segera fokus bermain melawan idaman cewek-cewek sekolah. Jika gue kalah, paling tidak kalah yang bukan memalukan.
Lawan main sudah menendang bola. Kini saatnya untuk mengharumkan nama gue.
•••
Selesai futsal. Gue bersimbah keringat bersama anak-anak lain, dan seperti dugaan kalian? Gue kalah. Tidak bisa mengharumkan nama dan badan gue sekarang bau. Kami kalah 2:3. Ya tidak masalah sih menurut gue, ya itu lebih baik dari pada kalah telak.
"Ke kantin yok! Haus nih." Ajak Haikal, ya kami berdua tidak punya cewek yang bisa diandalkan. Mereka yang memiliki orang terkasih mendapatkan air minum dari pacar mereka, sedangkan gue harus menahan keringnya tenggorokan dan perihnya hati. Tuhkan, gue merasa jadi manusia paling ngenes.
Gue mengiykan ajakan Haikal.
"Rame banget ya, padahal baru hari pertama." ucap Fauzan mengamati sekitar. Fauzan masuk dalam tim gue dan Haikal, jomblo yang harus mandiri.
"Mereka merayakan kemenangan mereka menakhlukan pelajaran, senang terbebas dari beban menghafal dan menebak. Belum lagi mereka letih terlalu lama duduk dalam deretan bangku bangku bak penjara." balas Haikal dengan bijak. Padahal ucapannya adalah kontra dengan bijaknya para motivator dan para pelopor.
"Ngomong mulu lo," gue menyenggol Haikal. Dia nyengir.
"Sekali-kali aku ingin menjadi orang bermanfaat. Menyenangkan diri sendiri degan kebebasan." Haikal meregangkan tangannya. Sepertinya teman gue sudah gila tingkat akut.
"Gimana mau bermanfaat, kalau lo kontra sama pendidikan. Bebas aja teros, lama-lama bodoh." gue memang enggak pintar, tapi gue juga tahu kebenaran.
"Pelopor tidak harus sekolah, ia pandai dengan cara menikmati dan mempelajari sekitar. Dan kini gue sedang dalam proses itu."
"Termasuk mengamati film biru?" sahut Fauzan.
Gue tertawa keras, meskipun tenggorokan gue kering. Tidak tertawa disaat seperti ini adalah wajib.
Obrolan kami ternyata membawa kami sampai depan kantin. Gila kini teras kantin sudah diubah menjadi tempat yang seru. Bahkan musik mengalun bebas di sini, sudah seperti festival sungguhan.
"Manusia-manusia lemah! Itu kita! Jiwa-jiwa yang lemah itu kita." Haikal menyanyikan lagu Tulus dengan merubah liriknya.
"Duduk di sini aja yok! Gue mau nyanyi." Haikal menunjuk bangku ko Gue segera menuju kantin, duduk di bangku yang dekat dengan tempat menyetel musik.
"Gue mau pesen es teh dua gelas" ucap gue pada Fauzan yang siap memesan.
"Kalo gue juga, cuma es sirup ya." seru Haikal. Kemudian dia melanjutkan menyanyi," Kau bisaaaa! Patahkan kakikuu! Tapi tidak mimpi-mimpiiikuuuu."
Gue mencoba menikmati lagunya, tapi tidak dengan suara Haikal. Nyanyinya udah enggak niat, suaranya jelek lagi. Yah bisa kalian bayangkan saja seberapa buruknya fakta itu
Disaat gue menikmati lagu itu, ada Andara datang dari arah lapangan belakang tadi. Sepertinya Andara memang ditakdirkan mengikuti gue, dan itu terjadi di saat gue sedang berada di jarak yang begitu jauh. Bukan jauh dalam arti seperti itu, tapi seperti perasaan orang asing. Di mana gue enggak bisa mengobrol dan berada dalam zona canggung. Padahal gue aja enggak ada masalah sama Andara, itu hanya karena waktu berlalu aja.
Andara sudah mulai dekat, kini Fauzan juga sudah membawa enam gelas es. Gue masih diam-diam menatap Andara, ada banyak hal yang ingin gue obrolkan. Tapi Andara sibuk. Kini gue menatap lekat obrolan yang Andara lakukan, terlihat sibuk namun dengan semangat. Andara menemukan semangatnya, dan gue kehilangan waktu bersamanya
Kini dia berjalan melewati gue, menuju tempat stand asal musik berada.
Haikal menyenggol gue, "Masih lo liatin aja."
Gue langsung mengalihkan pandangan. Gue enggak mau semua orang tahu tentang perasaan gue. Gengsi coy.
Lalu lagu berganti, kini lagu Tulus lagi namun berbeda. Lagu Langit Abu-Abu mengalun lembut namun menusuk.
"Hu-uu uu-uu
Tak mungkin secepat itu kau lupa
Air mata sedihmu kala itu"
Kok deep banget ya, gue semakin merasa bahwa lagu itu diperuntukkan buat gue yang merasa dilupakan. Apa Andara sadar ya? Ahh mana mungkin dia merasa bahwa gue sama di berjarak.
"Mengungkapkan semua kekurangannya
Semua dariku yang tak dia punya
Daya pikat yang memang engkau punya
Sungguh-sungguh ingin aku lindungi"
Gue benar speechless dengan lirik yang jahat itu. Kenangan-kenangan bersama Andara seperti meraja di kepala gue.
"Dan setelah luka-lukamu reda
Kau lupa aku juga punya rasa
Lalu kau pergi kembali dengannya
Aku pernah menyentuhmu apa kau malu?"
Lagu itu mengalun, seperti menunjukkan sisi jahat dari hubungan semetara ini. Hubungan perasaan yang tidak jelas. Gue merasa jadi korban namun Andara tidak sejahat itu.
Gue meneguk es teh gue dengan sangat melankolis, gue kini melupakan Haikal yang bernyanyi dengan suara sumbangnya.
•••