Andara: Tidak Ada Kesempatan

2104 Words
Hari ini adalah hari Senin, menjadi hari yang sedikit panjang. Gue berkali-kali disibukan oleh rapat OSIS yang benar-benar menyita waktu gue. Gue menjadi ketua kegiatan dan benar saja, gue selalu sibuk kesana kemari. Memikirkan konsep dan mengatur semuanya untuk berjalan lancar. Sudah H-2 kegiatan dan gue lagi-lagi harus rapat OSIS sepulang sekolah, padahal besok tanggal merah. "And, besok upacaranya jam berapa?" Elisa bertanya. Kini pelajaran Pak Udin kosong, jadi kelas bebas sampai bel pulang berdentang. "Jam setengah delapan udah mulai." "Pagi amaat! Enggak jam sepuluh kayak yang di tv?" "Ya lo mau dijemur pas panas-panasnya, gue mah bersyukur upacara pagi." Elisa membuang napas kasar, ia memang paling benci yang namanya upacara. Memang pemuda jaman sekarang hidupnya mau enak aja terus. "El ini nanti Pak Udin enggak bakal masuk kelas kan? Gue mau pergi ke ruang OSIS nih." Gue berdiri. Elisa makin tidak bersemangat hidup. Gue berjalan keluar kelas, namun ketika sampai di pintu gue berhenti. "Andaraaa! Tungguin gue." itu Bimo, biasa rekan gue sesama OSIS, jadi wajar aja kalau gue juga sibuk sama dia. Gue menoleh, "Buruaaan." Bimo berlari ke arah gue, lalu merangkul gue. Gue segera melepaskannya, "Nanti dimarahin Viona gue!" Viona yang ada di samping gue—karena mejanya tepat di dekat pintu— tertawa renyah. "Ambil aja Bimo, dia merepotkan dunia saja." Gue tertawa. Bimo juga. Padahal dia yang diejek. Seru juga pacaran ala mereka, bahkan Viona tidak cemburu ketika Bimo bercanda sama gue. Tapi bukan berarti gue naksir sama Bimo ya! "Yaudah, bunda. Ayah mau pamit pergi kerja dulu ya sambil selingkuh." ujar Bimo lalu mendapatkan lemparan buku modul Fisika. "Bimo! Lo ngomongin hal menjijikan lagi gue tampol!" teriak Viona setelah melempar buku itu. Gue kaget bukan main, melihat KDRT di samping gue. "Ampun bos!" Bimo meminta ampun lalu menggeret gue meninggalkan kelas. Untung Bimo temen gue jadi kalau gila bisa termaafkan. "Udah Bim ketawanya, diliatin banyak orang tau." Bimo selesai tertawa, namun wajahnya tetap ingin tertawa lagi. "Seru tahu, bikin perkara." Gue menghela napas panjang. "Untung gue enggak kena lemparan buku, kalo iya tanggung jawab lo." Kini gue dan Bimo berjalan menuju ke arah ruang OSIS, di depan ruangan OSIS sudah banyak persiapan untuk acara classmeeting, dari alat lomba hingga pernak-pernik yang akan mengisi kemeriahan acara besok. "Hai And!" seru Danang, ketua OSIS. "Hai, Nang." gue menuju Danang berada. Ia sibuk mengikat bendera yang akan dipasang di dekat kantin. "Udah berapa persen persiapan hari ini? "Yaaa, kayaknya 70% sih. Nanti tinggal dipasang aja kok." Danang sebagai penanggungjawab dalam acara. Tugasnya penting banget. "Semangaat yok! Gue mau nyamperin anak-anak. Persiapan bagi perkoordinator acara." gue meninggalkan Danang yang ada di depan ruang OSIS. Jadi ketua mungkin terlihat enak, tugasnya hanya menyuruh, memantau sana sini dan ia terlihat hanya riwa-riwi belaka, namun itu berat, tanggung jawab semua ada di pundak lo. Sekali lo lalai, lo bakal hancur. Gue bisa belajar itu, namun bagi gue ketua itu adalah orang yang baik. Dan gue selalu bangga tiap gue diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin. Percayalah semua itu menyenangkan. "Andara, dipanggil Riri!" Bimo berteriak di dalam ruangan. Bimo bisa enggak sih lo, enggak usah teriak. ••• Hari upacara. Hari ini semua siswa SMA BAKTI PRAJA sudah berbaris rapi untuk melakukan upacara. Gue berbaris di baris nomor dua di barisan kelas, depan gue Keke dan samping gue Viona dan Elisa. Elisa lagi-lagi memang manusia yang suka mengeluh. Kini di terik pukul tujuh, Elisa sudah menggerutu sembari menutupi wajahnya dari panas mentari. Padahal kan cahaya mentari pagi itu baik untuk kulit. Bisa-bisanya Elisa tidak menghargai itu. "And, kan hari ini libur nih. Pergi ke bioskop yuk. Ada film baru lucu, nanti mampir ke Miniso sekalian beli pernak-pernik, yuuuk." Elisa menyenggol gue. "Gue habis ini mau rapat, jadi kapan-kapan aja ya nemenin lo ke bioskop." Elisa sejak kemarin ngomel-ngomel ingin nonton bioskop sama gue. Tapi gue enggak bisa menemaninya. Maafin aku ya sahabatku. "Ishhh lo tuh sibuk terus tau nggak." "Ya kan lo tahu, gue jadi ketua kegiatan di class meeting ini, gue enggak bisa dong pergi ke mana-mana. " "Justru karena lo ketua, lo bisa pergi And. Lagian kan mereka yang kerja, lo enggak ngapa-ngapaiin." Elisa tetap ngotot. "Lagian ini kan juga tanggal merah Andaraa, banyak promo-promo lo enggak pengen?" Jujur sih, gue juga pengen kalau ada promo. Apalagi kalau promonya di miniso, makin naksir gue. Tapi sayangnya, hari ini ada rapat teknis, di mana semuanya bakal kumpul termasuk gue. "Mungkin lain kali aja ya El, kan promonya seminggu, jadi kita bisa ke sana pas weekend." "Andaraaaa, kalau lo datang ke sana pas weekend yang ada produknya udah abis. Kan gue pengen beli maskara dan tas unyuuu, mumpung diskon tauu." Gue menatap nanar sahabat gue, "Lo pergi sama Viona aja ya," lalu gue menatap Viona. "Vin, lo mau kan pergi sama Elisa ke Miniso?" mendengar akan ada teman, Elisa sedikit punya harapan. Ia juga menatap Viona dengan harapan besar. Namun sepertinya harapan itu akan pupus, wajah Viona memperlihatkan sorot yang berbeda. "Duh, sorry banget nih El, hari ini bokap gue ulang tahun. Jadi gue enggak bisa pergi." "Yaaah." Elisa benar-benar tidak bisa berharap. Gue teringat bahwa Elisa punya gebetan, "Lo pergi sama Vito ajaaaa." Elisa baru ingat, "Iya ya." Gue dan Viona menyenggol bersamaan. Dasar manusia. Ketika upacara dimulai, seluruh lapangan hening. Ini upacara perayaab kemerdekaan, harusnya disapa dengan suka cita dan semangat muda. Upacara berlangsung 15 menit, namun itu membuat banyak orang mengeluh, pagi ini gue akui memang panas. Tapi its okay tidak sampai bikin gue pingsan dan keganggu. Enggak tahu sih bagi orang lain, apalagi Elisa. Setelah Pak Ade memberi pengumuman, gue segera menuju ruang OSIS, di depan gue ada Romeo, gue baru ingat kalau akhir-akhir ini gue sama Romeo jarang ngobrol. Apalagi gue juga sibuk banget. Ah mumpung lagi bareng, gue mau ganggu dia ah, mungkin dengan mengagetkan dia bisa menjadi awal obrolan yang menarik. Gue berjalan mengendap-endap di belakangnya, bahkan tangan gue sudah ancang-ancang memegang bahunya. "Andaraaa cepetan, dicariin Pak Heru." teriakan Riri menjadikan gue batal mengagetkan Romeo. Gue segera menuju Riri. "Iyaaaaaa!" balas gue keras. Yah gagal deh untuk memulai ngobrol sama Romeo. Gue berlari ke arah Riri dan segera menuju ruang OSIS dengan setengah berlari. Ketika gue sudah sampai di ruang OSIS Pak Heru langsung meminta gue untuk tanda tangan. "Abis tanda tangan langsung bawa ke TU ya, nanti ditemenin sama Danang." Pak Heru menyerahkan lembaran proposal itu di tangan gue. "Bukannya kantor tutup Pak hari ini?" kernyit gue. "Tapi ada Pak Tarman di kantor, nanti bilang serahin aja." mendengar Pak Heru, gue segera meluncur ke kantor tata usaha bersama Danang. Melelahkan ya memang kalau jadi ketua, pergi sana-sini. Tapi di satu sisi gue suka kok. Suka dipandangi banyak orang dan menjadi action figure banyak orang. Hanya butuh 10 menit menemui Pak Tarman gue dan Danang segera menuju ruang OSIS untuk segera mengikuti acara rapat teknis. Gue masuk ruang OSIS yang sudah dipenuhi oleh ketua kelas dari seluruh kelas di sekolah ini. Ada 24 ketua kelas yang ada di sini, dan itu termasuk Romeo. Ia terlihat asik mengobrol dengan sesama ketua kelas, obrolan mereka terlihat asyik sehingga Romeo enggak tahu bahwa gue memasuki ruangan ini. Dari pada gue hanya memandangi Romeo, gue membantu Anggi menata karton untuk lomba besok. Sedangkan Danang sudah menjelaskan teknik perlombaan besok selama class meeting dalam seminggu. Romeo nampak menyimak apa yang dijelaskan Danang. Tanpa sadar gue kangen banget ngobrol sedekat itu sama Romeo. ••• Hari class meeting pertama. Gue benar-benar sibuk sejak pagi, dari tadi mondar-mandir di per acara untuk meminta mereka tanda tangan dan memantau perlombaan. Namun di satu sisi gue juga senang karena gue happy menikmati ini. Gue memandangi kartu tanda panitia yang gue kalungkan di leher. Andara Puspita (Ketua Panitia) Manis bukan melihat nama gue terpampang cantik di sini. Singkat pada dan menyenangkan hati. Gue mengamati lomba pertama pagi ini, lomba tarik tambang perempuan. Semua perempuan kuat dari seluruh kelas menunjukkan kekuatannya di sini, memakai baju olahraga sekolah dan beberapa sebagian menggunakan kaos biasa. Mereka siap menunjukkan sisi kekuatan sebagai perempuan. Aestro sebagai koordinator lomba menulis urutan perlombaan. Meskipun dia cowok, dia benar-benar enggak canggung bersama para cewek. Gue duduk di bangku milik Aestro, mengamati lomba pagi ini. "Futsal kapan mulainya Aest" ingat kalau Romeo ikut bermain futsal. Gue kan juga pengen mendukung sohib gue. Entah sejak kapan Romeo menjadi sohib gue, yang pasti dia tuh orang terdekat gue saat ini. "Jam setengah sembilan And, coba tanya sama Anggi." Aestro sibuk menjadi wasit. Kini para peserta sudah siap untuk main. Gue bangkit dan segera menuju lapangan belakang, melihat Romeo mungkin seru juga, kan gue juga pengen mensupport dia. "Gue tinggal dulu ya Aest." "YOI!" Seru Aestro tanpa menoleh ke gue. Gue segera menuju ke lapangan belakang, dan benar saja di sana sudah ada teman gue sekelas bersama Romeo yang siap untuk lomba futsal. Gue mampir ke kantin untuk membeli air mineral. Barang kali setelah futsal dia kecapekan dan haus, jadi Romeo enggak perlu jauh-jauh ke kantin. "Mak, rame banget ya hari ini." ujar gue pada Mak Ayi, Mak Ayi bahkan sedari tadi tidak berhenti memasak karena memang banyak siswa yang transit di kantin karena tidak ada pembelajaran. "Iya Mbak, kalau udah uangnya taruh situ aja." dagu Mak Ayi menunjuk kotak berisi uang yang sudah cukup memenuhi kotak. "Kalau mau kembalian, ambil aja sendiri ya." "Siap Maak." seru gue seraya mengambil kembalian."Mak Ayi semangat yaaaa!" Gue meninggalkan kantin yang masih dengan keramaiannya, di samping kantin ada stand musik dari anak-anak OSIS, gue menyapa mereka. "Gue riques lagunya Tuluus yaa!" seru gue. "Antri dulu, banyak yang riques!" balas Rully. Gue tertawa membalas mereka, lalu berjalan menuju lapangan. Sekali-kali mampir dan merilekskan badan setelah sibuk kemarin. Kali ini gue merasakan jadi ketua tuh enak, pergi sana pergi sini. Yang penting semua terkontrol dengan baik. Bukankah begitu? Hahaha. Gue sampai di lapangan belakang, ternyata ramainya bukan main. Gue melihat Romeo ada di tepi lapangan bersama teman sekelas gue, ada Bimo, Arjun, Zaki dan geng dari Romeo itu sendiri. Tiga kunyuk, itu kata Romeo. Tapi mendadak gue canggung untuk menuju ke arah mereka, masalahnya gue bukan orang yang se welcome itu, apalagi sama mereka. Gue juga takut bakal dikata naksir sama Romeo. Gue mengurungkan niat untuk menyapa mereka. Gue juga melihat Romeo sedang ngobrol sama teman-temannya. Entah kenapa Romeo selalu asyik dengan dunianya, sepertinya semuanya tuh seru dan tidak ada kekacauan. Demi menjaga martabat gue segera menuju ke arah meja panitia, di sana Anggi bersama Kevin sedang berjaga. Banyak siswa perwakilan yang silih berganti menuju meja untuk mengambil undiam main. Apa Romeo udah main belum ya? "Eh, Nggi? Ini kelas gue udah belom?" tanya gue pada Anggi yang sedang merobek sia nomor undian. "Udah, nomor 9. Bentar lagi main kok." gue menilik lembara kertas karton yang menampilkan bagan pertandingan. Di sana kelas gue bertanding dengan kelas dua belas. "Kayaknya kelas lo bakal kalah deh." celetuk Kevin. Gue belum bersuara, namun Kevin sudah melanjutkan pembicaraannya. "Ya lo liat, lawannya aja ketua futsal di sekolah ini. Menang bolak-balik. Mau dilawaan." Mendengar ucapan Kevin gue menatap ke arah seberang, di mana kelompok kelas itu berkumpul. Kak Iksan, cowok yang jadi idaman banyak cewek. Badannya atletis dan wajahnya fantastis. Lalu gue menatap Romeo, menatap tubuhnya dengan lekat, memandangi kekurangannya yang begitu jauh banding Kak Iksan. Sepertinya memang akan kalah. "Yook, Bimo! Giliran kelas lo." Kevin meneriaki Bimo yang sedang ngobrol bersama Romeo. Kini mereka serentak berdiri menuju lapangan. Romeo blabas mengabaikan gue sebagai manusia, gue pura-pura sibuk memegang pulpen Anggi dan menulis sekenanya di kertas kosong. Takut kalau sewaktu-waktu Romeo tahu gue ke sini karena ada dia. Selama pertandingan mata gue selalu mengikuti kemana Romeo berlari, seakan Romeo jauh dari gue. Bahkan gue lupa kapan terakhir ngobrol bareng dia. Gue kangen bisa chattingan sama dia dengan bebas. Rasanya sekarang seperti enggak ada alasan dan kesempatan buat bisa ngobrol. Romeo benar-benar sulit digapai. Mereka selesai bertanding, mungkin ini saatnya gue menyerahkan air mineral ke Romeo. Ketika gue berjalan menuju Romeo, tiba-tiba dia sudah digaet oleh Haikal dan Fauzan. Mereka langsung lari menuju kantin. Gagal lagi untuk mendekatinya. "Nggi, Gue pergi dulu ya." gue langsung berjalan menuju kantin. Ke sana pura-pura sibuk di stand. Biar gue punya kesempatan ngobrol. Gue sampai kantin, dan melihat Romeo duduk di dekat stand. Memang benar-benar waktu yang tepat, tapi sayangnya di sana ada Haikal. Gue kan gak akur sama Haikal. Lagi-lagi gue akhirnya menuju stand. "Eh mana nih, lagu riques gue." "Kan ini udah lagunya Tulus." balas Rully. "Lagi dong, yang lain." gue langsung menyenggol Rully untuk geser. Gue langsung mencari lagu Tulus yang Langit Abu-Abu. Lalu lagu itu tersetel dengan nyaring. Gue menatap punggung Romeo. Ia terlihat diam, seperti tidak terjadi apa-apa. Apa Romeo enggak sadar ya kalau gue dan dia kini benar-benar jauh?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD