Perjalanan ke Sandfield

1118 Words
Sarah tertawa mengingat wajah Calvin kemarin, tercetak jelas pada maskernya kalau pria itu tercengang mendengar pengakuan nya. Memang mengejutkan bukan? Seluruh desa juga tau kalau Sarah Vleryn itu cinta mati pada Jack Buckhingham. Tapi mereka tidak tau kenyataan yang Sarah rasakan sejak perang dunia di mulai. Cukuplah Jack menjadi cinta masa lalunya. Ia memang mengantar sampai gerbang Kota saat Jack akan pergi dan Sarah sempat merasa jadi gadis berengsek, saat itu ia masih berkencan dengan Saga namun masih mengharapkan Jack. Setelah Jack pergi dan tak kunjung kembali, Sarah benar-benar tidak memikirkannya lagi. Hatinya berlabuh sepenuhnya pada Saga sang Wali Kota waktu itu, kencan yang cukup lama hingga akhirnya mereka putus. Kalau tidak salah awal tahun ini, masih baru-baru. Alasan mereka putus adalah Sarah yang mulai sibuk saat itu, Saga tidak bisa memaklumi kesibukan dokter yang di butuhkan oleh banyak orang. Ya, lagi pula Sarah tidak merasa sangat menyukai pria itu, jadi mereka berpisah secara baik-baik. Tapi yang jelas Sarah tau, menurut informasi dari Theresa—kakak Saga— yang kini intens datang ke Leafield, Saga masih belum menemukan tambatan hati yang baru dan beberapa kali terpergok oleh Theresa membuat patung Sarah yang terbuat dari tanah liat. Menyedihkan. Dan sedikit... menggelikan? Well, hanya Theresa yang mengetahui kencan mereka, dan kini Calvin Alistair pun telah tau. Saga sendiri yang mengajaknya untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi malah Saga juga yang gagal move on. Sarah merasa takjub dengan yang terjadi dua hari ini, Calvin tidak terlambat sama sekali pada setiap janji temu mereka.Tidak ada alasan menolong seorang nenek ataupun kucing yang naik keatas tiang listrik tapi tidak dapat turun. "Gerai rambutmu." Calvin menarik ikat rambut Sarah begitu mereka menaiki kereta yang sudah akan berangkat, Sarah mendengus kesal karenanya. Calvin terus saja membuatnya kesal, dengan hal-hal kecil dan sepele, tapi sungguh, hal kecil justru membuat Sarah amat geram. "Ini musim panas Pak Wali Kota. Rambutku panjang sekarang dan aku gerah." Sarah mengeluh sampai mereka duduk di kursi mereka. Tangan Calvin dengan sengaja membuang ikat rambut Sarah ke sembarang arah, kemudian ia menujuk ke atas kepala mereka. "Ada AC Sarah. Kau akan tetap dingin." "Tapi—" "Diam, atau aku beri di lehermu itu." Sarah seketika memerah pipinya, suaranya nyaris tidak keluar, "A-A-Apa yang kau katakan!" Calvin menggodanya dan itu mengerikan. Sarah belum pernah seumur kencannya melakukan hal-hal seperti berhubungan intim, dan membuat tanda di sekujur tubuh. Mungkin kalau ciuman ia pernah beberapa kali. Kalau ciuman pertamanya sudah raib di ambil oleh Jack sesaat sebelum dirinya melakukan ujian ketahanan melawan Saga saat kerjasama antar kota dulu. Ini rahasia. Kemudian di depan Saga, saat berkencan dengan pria itu, Sarah terpaksa memberikan nafas buatan pada Nathan karena sahabatnya itu tidak sadarkan diri. Saga tidak mau melihat wajahnya selama dua hari karena kejadian itu, ia bahkan bungkam pada Nathan. Padahal Sarah sudah bilang, itu demi menyelamatkan nyawa temannya karena dirinya tenaga medis. "Aku tau kita sedang kencan, tapi kau tidak perlu mengatakan hal seperti itu." Sarah memelankan suaranya. "Aku tidak suka!" "Makannya, jangan tunjukkan leher jenjangmu pada siapapun." Bisik Calvin tepat di telinga Sarah. "Aku saja tidak tahan apalagi pria lain? Mereka terlihat seperti mahluk haus darah." Kemudian pria itu mengambil buku kesayangannya dan membacanya. "Karena kita sedang berkencan, meski ini sebatas kontrak, aku tidak mau kau menolak kontak fisik." Ucap Calvin sambil menggenggam tangan Sarah dengan tangan kanannya yang bebas. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegang buku. "Bisakah kau menyingkirkan buku m***m itu? Aku benci. Jika tidak batalkan saja semuanya." Tukas Sarah sambil melepas genggaman tangan Calvin secara paksa. What? Calvin membelalakkan matanya, buku ini sudah jadi bagian dari hidupnya. Mana mungkin ia menyingkirkannya! "Oke." Calvin berseru pelan. "Selama bersamamu aku tidak akan menggunakan buku ini, sama sekali tidak. Termasuk buku yang satu nya." Calvin menyimpan kembali buku itu ke dalam tas nya dan Sarah langsung tersenyum penuh kemenangan. Sekitar tiga jam perjalanan menuju Sandfield karena mereka menggunakan kereta express. Jalur kereta ini baru saja di buat beberapa waktu lalu, maka penggunanya belum banyak dan rata-rata di gunakan oleh warga sipil. "Kau serius, soal Saga adalah mantan kekasihmu?" Calvin bertanya untuk memecah keheningan. Ia juga merasa kecolongan info karena merasa bodoh, padahal ia selalu bersama Sarah sejak perang tapi ia tidak mengetahui apapun tentang kencan itu. Sarah tertawa. "Lihat saja nanti ekspresinya ketika kita datang. Aku yakin, ia akan cemburu parah." "Kalau begitu, aku akan repot tidak ya? Atau mungkin Saga akan mengajakku berperang?" Sarah menepuk lengan Calvin pelan. "Jangan berlebihan, kami sudah berpisah maka ia tak memiliki hak apapun atas diriku, termasuk cemburu, sebenarnya sudah tidak pantas lagi dia begitu." "Berarti aku sangat pantas untuk itu bukan?" Sarah menoleh, Calvin sangat pantas untuk cemburu? Ya. Dia harus cemburu malah, jika tidak berarti kencan kontrak ini akan hambar dan Sarah tidak dapat mengharapkan apapun terjadi setelahnya. Jika Calvin tidak memiliki benih rasa suka padanya, maka kencan ini akan berakhir begitu saja sebelum batas waktunya. Dalam hati, Sarah tidak mau itu terjadi. Sudah lama Sarah tidak berkencan dan ia ingin menikmatinya meski itu artinya dia munafik. Pada awalnya kan ia menolak mentah Calvin, tapi melihat pria itu bersikeras maka Sarah memiliki secercah harapan. Kalau Calvin memang sudah menyukai dirinya. Bolehkan, Sarah berharap seperti itu? Ia sudah berubah pikiran terhadap kencan ini, yang awalnya memikirkan status guru-murid dan Wali Kota-Dokter, sekarang sudah tidak terpikirkan lagi. "Bisa di bilang, ini adalah summer love, walaupun memiliki batas waktu, aku ingin tidak ada kepura-puraan dan kau harus bersungguh-sungguh." Tuntut Sarah pada Calvin. "Meski hanya dua minggu, aku ingin semuanya terasa nyata." Calvin tiba-tiba menarik Sarah untuk bersandar pada bahunya, lengannya mendekap gadis itu. Sarah terkejut dengan perlakuan Calvin namun ia menerimanya kali ini. "Bagiku ini nyata. Jadi nikmatilah." Bisik Calvin. Lagi-lagi pipi Sarah bersemu merah, apa ia baru saja mabuk? Baiklah, Calvin memang pria dewasa yang tau bagaimana cara membuatnya senang meski hanya melalui hal kecil seperti ini. Tapi tetap, Calvin Alistair sangat menyebalkan. "Kenapa kau selalu menggangguku?" Sarah tiba-tiba bertanya tentang hal itu. Calvin mengernyit. "Kau merasa terganggu oleh seorang Wali Kota?" "Tentu saja Pak Wali Kota. Hampir setiap hari aku bertemu denganmu dan itu membuatku merasa aneh." "Hm, apanya yang aneh?" Sarah mengendikkan bahu, ia sendiri masih berpikir tentang ketika Calvin mengganggunya dan selalu muncul di hadapannya, setiap hari. Terkadang dalam satu hari mereka bisa bertemu sekitar empat kali? Paling sedikit ya hanya sekali. Jarak kantor wali kota dengan rumah sakit memang hanya beberapa blok, tapi apakah semudah itu mereka bertemu? "Saat aku tak menemuimu, apa kau merasa seperti ada sesuatu yang hilang?" Kini Calvin yang bertanya. Sarah berpikir sejenak, hingga akhirnya ia menghela nafasnya,"Ya." "Artinya kau peduli padaku, dan aku tidak menyebalkan. Aku berhasil menarik perhatianmu." Calvin tersenyum di balik maskernya ketika mengatakan itu, "Kau tidak bisa sehari tanpa bertemu dengan ku kan, Sarah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD