Musik yang lembut mengalun merdu mengiringi acara makan malam setelah sambutan dan pembukaan oleh Saga dan Kale lakukan.
Para tamu duduk di depan meja bundar yang bisa di isi oleh empat sampai enam pasangan.
Sarah dan Calvin menjadi pasangan yang paling mencuri perhatian malam ini, mereka berdua berjalan menuju meja yang berisi Edmund dan Nao. Mereka saling menyapa dan mata Edmund tak lepas dari Sarah yang menawan malam ini.
Jangankan Edmund, sepertinya seluruh pria yang hadir di pesta ini tidak berhenti memandang pasangan Calvin itu, baik Sarah maupun Calvin, mereka menjadi pusat perhatian malam ini.
Keduanya bersinar dan terlihat sangat cocok.
Calvin duduk di samping Edmund, setelah Edmund ada Nao, setelah itu ada seorang gadis berambut pirang agak gelap di samping Nao dan kemudian kursi di sampingnya kosong.
Di samping kursi kosong itu ada Sarah yang duduk di samping Calvin. Bentuk meja yang bundar membuat mereka lebih leluasa untuk berbincang satu sama lain.
Calvin memperhatikan Sarah dengan baik, ia membantu gadis itu merapikan gaun nya, hingga rambutnya yang sempat sedikit berantakan. Tatapan Sarah kemudian beralih pada Nao yang sejak tadi menanti gadis itu menoleh padanya.
"Sarah, kau ingat aku?" Nao tiba-tiba bertanya pada Sarah.
Sarah berpikir sejenak, ia memang merasa familiar dengan wajah Nao, namun tadi siang Sarah dalam keadaan tidak karuan sehingga tidak memperhatikannya dengan baik.
"Ah! Aku ingat sekarang, Nao Imara?" Mata Sarah membulat, seakan tidak percaya. "Kau yang membantuku menyembuhkan prajurit dari Stonefield, benar?"
"Benar!" Nao berseru senang. "Kau masih mengingatku dengan jelas, sejak saat itu aku terus mengingat hal yang kau ajarkan padaku."
Sarah tersenyum senang mendengar penuturan Nao. "Maaf tadi siang aku belum mengenalimu."
Gadis itu dari keluarga Imara, awalnya Nao merupakan warga Leafield namun pindah ke Mistfield setelah ujian pelatihan prajurit medis selesai. Kala itu Mistfield yang merupakan sekutu Leafield sedang kekurangan orang.
Calvin tersenyum di balik maskernya, ia senang dengan sikap ramah yang di miliki Sarah, membuat gadis itu bisa dengan mudah dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Perhatiannya kemudian teralihkan kepada Edmund yang tampak ingin berbicara padanya.
"Aku cukup terkejut melihat kalian bersama, jika boleh jujur." Ucap Edmund pada Calvin, "Tadi siang aku berpapasan dengan Sarah, kemudian aku bertanya-tanya, mengapa dia ada sini."
Edmund kemudian menyenggol lengan Calvin. "Ternyata seseorang yang hebat mengajaknya kemari."
Calvin tertawa, begitu pelan namun Sarah menyadarinya hingga ia menoleh sebentar.
"Oh tidak, kau terlalu berlebihan." Ucap Calvin kemudian.
"Dan kalian terlihat sangat cocok malam ini." Lanjut Edmund.
Kali ini Sarah yang menyahut. "Terima kasih, Tuan Edmund." Gadis itu tersenyum begitu manis.
Sarah tau, dibalik tatapan dan ajakan berbincang dari Edmund dan Nao, mereka berdua menyimpan banyak pertanyaan untuknya.
Mereka melihat dengan jelas bagaimana Sarah menangis di lorong penginapan.
Calvin menoleh pada Sarah, melihat tangan Sarah yang bebas kemudian Calvin meraihnya membuat Sarah sedikit terkejut sampai langsung menoleh lagi padanya, ia bisa merasakan genggaman hangat Calvin pada tangan kirinya. Tangan mereka saling bertaut di bawah meja, tidak ada yang melihatnya.
Genggaman itu membuat Sarah semakin tenang dan nyaman.
Perempuan tak di kenal yang duduk di samping Nao terus menatap Sarah, itu sangat mengintimidasi Sarah, padahal mereka baru bertemu malam ini tapi entah kenapa tatapannya seakan sangat membenci Sarah.
Calvin mendekatkan wajahnya pada Sarah dan berbisik. "Tenang, ada aku disini. Ingat, kita sedang berkencan, kalau bisa perhatikan saja aku, jangan pedulikan yang mengganggumu."
Ternyata Calvin menyadari kalau perempuan yang tak di kenali mereka itu tengah memperhatikan Sarah dengan intens.
Sarah hampir menggigit bibir bawahnya namun tidak jadi, ia kemudian menatap Calvin yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Kau protektif, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali." Sarah berbisik juga.
"Karena kau milikku malam ini dan aku milikmu. Jadi kita harus saling protektif, Sarah." Calvin kembali tersenyum tipis di balik maskernya.
Lagi dan lagi, pipi Sarah bersemu tipis karena ucapan Calvin.
"Berapa kali aku bilang untuk jangan menggodaku, Calvin."
"Sarah, aku tidak bisa berhenti melakukannya, bagaimana ini?"
Ingin rasanya Calvin memeluk Sarah saat ini juga, gadis itu membuat hatinya terus berbunga-bunga.
Kursi di samping Sarah tertarik kebelakang membuat interaksi romantis antara Calvin dan Sarah terusik, keduanya saling menjauh namun tangan kanan Calvin masih menggenggam tangan kiri Sarah. Dua pasang mata itu seketika menoleh ke sumber suara yang menginterupsi obrolan mereka.
Oh Tuhan..
Kubur saja aku di tengah gurun.
Kubur saja.
Sarah tidak menyangka, pria yang akan duduk di sampingnya adalah sang pemilik acara. Saga.
Kali ini bukan hanya Calvin yang merasakan suasana tidak enak, tapi Edmund maupun Nao merasakan hal yang sama, aura tidak mengenakan itu berasal dari Saga dan Sarah. Dua insan yang nampak terganggu ketika bersinggungan tatapan, Sarah menghindarinya sementara Saga tidak melepaskan pandangannya terhadap Sarah.
"Selamat malam. Aku senang kita semua duduk di meja yang sama." ucap Saga menyapa pada Edmund, Nao, Calvin dan tentu saja Sarah.
"Selamat malam Tuan Saga, sang Wali Kota Sandfield." Ucap Edmund, seakan mewakili semuanya.
"Aku ingin memperkenalkan seorang gadis beruntung yang ada di sini pada kalian." Saga yang semula memandang Sarah kini beralih pada gadis yang sejak tadi diam sendirian di meja mereka.
Gadis berambut pirang yang tidak di kenali oleh orang-orang di meja tersebut kecuali Saga..
"Dia adalah Monica, pasanganku." Ucap Saga memperkenalkan gadis tersebut, raut wajahnya hanya menampakkan sedikit kebanggaan, membuat orang lain tidak antuasias.
Sarah dan Nao melempar senyum pada Monica yang hanya membalasnya dengan sedikit gerakan di sudut bibinya, hal itu membuat Sarah dan Nao saling berpandangan, selain itu, Edmund jadi ikut meradang melihat sikap kurang sopannya pasangan Saga.
"Maaf, apa Monica sedang sakit rahang sehingga tidak dapat tersenyum pada kami?" Edmund bertanya sarkastik.
Calvin, Sarah dan Nao langsung berdeham karena menahan tawa. Seperti itulah Edmund, to the point dan kadang ucapannya menyakitkan.
Saga hanya tersenyum mendengarnya, di bawah meja kakinya menyenggol kaki Monica dengan keras, memberi ancaman pada gadis itu untuk segera tersenyum dan bersikap ramah kepada semuanya.
Setelah Monica membalas senyuman Sarah dan Nao, yang memang agak terlambat, Saga kembali tenang.
"Silahkan nikmati makanannya." Ucap Saga, pria itu kemudian duduk dengan tenang diantara Sarah dan Monica.
Calvin tidak mungkin membuka maskernya di sini, ia kemudian hanya membantu Sarah untuk mengambil beberapa makanan, memastikan gadis itu tidak kekurangan apapun.
"Kau yakin tidak akan makan? Memangnya kau tidak lapar?" Sarah berbisik pelan.
"Kau ingin berbagi wajahku dengan orang lain?" Calvin malah balik bertanya dengan nada yang lebih rendah dari Sarah.
Mendengar itu Sarah mendengus pelan dan tertawa kecil sekali, hampir terdengar seperti ia sedang berhamim.
Atmosfer di sekitar Calvin dan Sarah membuat Edmund dan Nao saling berpandangan, mereka dapat melihat chemistry yang sangat kuat antara Calvin dan Sarah. Seketika suasana tegang antara Sarah dan Saga sirna, Calvin berhasil membuat tubuh Sarah kembali bergerak leluasa.
Hal itu membuat Nao cukup sedikit iri, Sarah bisa mendapat suasana hangat dan romantis.
"Memangnya aku sudah tau wajahmu? Ya sudah, kalau lapar jangan mengeluh padaku, Pak Wali Kota." ucap Sarah yang kemudian memalingkan wajahnya dari Calvin, beralih kepada makanan yang ada di depannya.
Calvin mengangguk. "Kau tidak akan menyesal nanti setelah melihatnya. Aku jamin."
"Jangan menggodaku Pak, aku akan segera makan." Sarah berseru pelan, kemudian ia mulai mencicipi makan malamnya.
Mereka berbincang pelan namun sudah jelas baik Edmund maupun Saga, orang yang letaknya paling dekat dengan Sarah dan Calvin dapat mendengarnya.
Edmund senang melihat Sarah dapat tersenyum bersama Calvin, berbeda dengan yang tadi sore, menangis di dekat Saga.
Berbalik dengan Edmund, Saga menggenggam erat sendok dan garpunya, urat-uratnya terlihat jelas, pria itu tidak dapat menyembunyikan emosinya.
Monica tidak bicara sedikitpun, gadis itu bahkan tidak memperkenalkan dirinya sendiri dengan baik, hanya Saga yang membicarakannya.
Monica seperti tidak menaruh minat dalam acara malam ini, ia hanya sesekali menatap Sarah dengan tajam kemudian berpaling seolah kesal.
Setelah acara makan selesai, seluruh tamu undangan berpindah ke ballroom untuk berdansa romantis.
Sandfield seperti menyediakan acara kasih sayang, entah memang mereka ingin merayakan hari jadi Saga menjadi Wali Kota dengan cara yang berbeda.
Suasana romantis membuat Sarah merasa sangat takjub. Calvin menariknya ke lantai dansa dan meraih pinggangnya, kemudian Calvin mengarahkan kedua tangan Sarah untuk merangkul leher Calvin dengan longgar, memberi tubuh mereka jarak.
Sarah belum pernah membayangkan akan mengikuti hal semacam ini sebelumnya, apalagi dengan Calvin-mantan gurunya.
Pria itu benar-benar menjadi pribadi yang berbeda di bawah lampu temaram lantai dansa, musik mengalun dengan lembut dan semua pasangan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Hanya satu yang tidak Sarah dan Calvin sadari, yaitu Saga memandang mereka dari kejauhan, meski ia sedang berdansa dengan Monica, matanya tidak pernah lepas dari Sarah dan Calvin yang saling berpandangan dan tersenyum manis.
"Andai semua wanita di Leafield tau kau sangat romantis, pasti mereka akan mengantri untuk jadi kekasihmu." Seru Sarah pelan.
"Mungkin kau sudah memiliki istri sejak lama jika saja kau membuka hati."
"Romantisku hanya untukmu saja, Sarah." Bisik Calvin.
Sarah tersenyum lagi. "Tutup mulut mu, jangan menggombal terus."
Tubuh Sarah dan Calvin bergerak ke kanan dan ke kiri, mengimbangi dengan ritme musik yang santai. Mata hitam itu menyelami emerald hijau yang teduh, memberikannya sebuah kepercayaan, menyalurkan seluruh perasaan yang bisa tumpah ruah kapan saja.
Calvin sudah lama menantikan masa-masa seperti ini, menyukai Sarah dalam diam selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah.
"Sudah kubilang kau tak akan menyesal." Calvin berseru pelan. "Kau akan melihat siapa aku yang sebenarnya malam ini. Mungkin itu akan mempengaruhi keputusanmu saat perjanjian ini berakhir."
Calvin menarik Sarah sedikit lebih dekat, hingga ia bisa merasakan nafas gadisnya yang memburu dan bearoma ceri.
"Bagaimana menurutmu, apa aku pantas untuk berkencan denganmu sekarang?" Calvin bertanya kemudian.
Sarah tidak yakin dengan apa yang terjadi pada wajahnya, ia terus saja tersenyum pada Calvin sampai merasa rahangnya akan lepas. Calvin telah membuat Sarah hilang kendali atas dirinya sendiri.