Perubahan acara Sandfield

1546 Words
Calvin menghela nafas panjang berkali-kali, seolah nafasnya akan terputus maka ia mengambil oksigen sebanyak mungkin. Ruang Kantor Wali Kota ini luas, tidak terlalu banyak berkas yang sedang ia kerjakan, tapi ia benar-benar merasa pengap. Apa yang salah dengan dirinya? Andai Calvin tau, dia tidak akan seaneh ini. "Pak Wali Kota?" Yamada sejak tadi duduk di dekat Calvin, ia memperhatikan sikap seniornya yang menjabat sebagai Wali Kota itu tengah seperti orang panik. Menghela nafas berkali-kali kemudian mondar-mandir, hingga pada akhirnya ia membuka jendela ruangan nya lebar-lebar. Calvin Alistair sebenarnya kenapa? Yamada masih belum mendapat respon dari Calvin. "Senior Calvin!" Yamada berseru memanggil Calvin Senior pada akhirnya, yang mampu membuat Calvin untuk menoleh,"Kau kenapa? Sejak tadi aku memanggilmu, apa yang kau cemaskan?" Calvin menghela nafas lagi kemudian memijit pelipisnya. "Aku telah kehabisan akal. Aku bingung Yamada, apa yang harus aku lakukan?" Yamada kini menghela nafas, ia bertambah kesal, Ia tidak mengerti apa yang sedang di bingungkan Calvin, pria itu sama sekali tidak menceritakan apapun, bagaimana Yamada mau memberi saran jika begitu? "Apa yang membuatmu bingung? Aku sama sekali tidak tau, Pak Wali Kota." "Sarah Vleryn!" Calvin mengerang pelan. "Kenapa dengan Sarah?" Yamada bertanya. "Aku sudah mengajaknya untuk acara gila yang di buat oleh Saga." Jawab Calvin seadanya. "Tapi ternyata Saga memberiku kabar lagi tadi, kalau acara itu harus aku hadiri dengan perempuan yang akan menjadi pendamping hidupku! Awalnya aturan nya tidak begitu, awalnya hanya perlu kesana dengan perempuan saja. Seperti kencan prom night ala anak muda." "P-prom apa? Porom-prom-?" Yamada tampak bingung. Ia tidak terbiasa dengan istilah-istilah itu. "Saga mengubah informasinya seenak jidat, bagaimana aku menjelaskan pada Sarah nanti?" Calvin mengerang frustasi. "Kau harus jujur padanya, karena jika tidak mungkin dia akan sangat marah padamu." Yamada memberi saran. "Siapa tau Saga dan yang lain memberikan pertanyaan yang mengejutkan, maka Sarah sudah siap untuk menjawabnya, meski mungkin kalian berdua harus berbohong." "Maksudmu, jelaskan semua situasinya? Sarah mana mungkin mau menerimanya. Aku bahkan tidak memiliki pilihan lagi jika Sarah berubah pikiran setelah tau hal ini." Calvin tampak khawatir. "Sarah hanya perlu kau suruh berakting, kurasa tidak sulit. Kau terlalu banyak pikiran sehingga tidak dapat berpikir jernih hari ini, Pak Wali Kota." Saran Yamada lagi. Calvin mendengus kesal, ia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, ia tipe pria santai dan kalem, namun Saga benar-benar telah mengajak otaknya berperang. "Jika kau berada di posisiku, pasti kau rasakan yang sama." Calvin mendesah. "Ugh, sulit kubayangkan harus berkencan dengan muridku sendiri meski itu pura-pura. Di tambah lagi, tadi pagi Sarah seperti tidak suka dan aku sudah susah payah untuk membujuknya hingga setuju." Yamada menghela nafas lagi, "Aku yang akan bicara padanya. Sebaiknya, Pak Wali Kota selesaikan dulu dua tumpuk berkas itu, barulah kau boleh memikirkan hal lain." "Tugasmu cukup banyak Pak Wali Kota. Kalau begitu, aku pamit. Aku akan segera menemui Sarah dan memberitahukan segalanya." Sepeninggalan Yamada, Calvin tidak langsung meneruskan kembali pekerjannya yang tertunda, tapi ia memikirkan apa maksud Saga mengadakan acara seperti itu, dan juga kenapa harus berubah statusnya? Semula, Saga hanya menentukan kalau para Wali Kota harus datang dengan kencannya masing-masing seperti kencan buta atau prom night, anggaplah seperti itu. Katanya Saga ingin mengadakan pesta kekinian. Tapi peraturan yang berubah meski nanti di pesta hanya akan ada para Wali Kota saja, tetap membuat kepala Calvin rasanya mau pecah. Ia takut Sarah akan membencinya karena hal ini. Belum lagi, gadis itu tengah stres karena kesibukannya di rumah sakit. Dan lagi, para Wali Kota yang datang bukan hanya dari lima besar negri ini yang berdekatan, melainkan beberapa pemimpin dari wilayah kota yang tidak termasuk ke dalam lima besar turut di undang juga. Calvin menghela nafas lagi, sudah berkali-kali ia melakukannya hingga bosan mendengar helaannya sendiri. Calvin duduk di antara jendela yang terbuka dan memandang jalanan dekat gedung Wali Kota. Mata hitamnya menelusuri jalan, ada beberapa orang yang berlalu lalang, ia juga bisa melihat Yamada yang baru saja keluar dari gedung ini. Kepala merah muda menarik perhatiannya, satu-satunya yang memiliki warna rambut seperti itu ya hanya Sarah, siapa lagi? Calvin belum pernah melihat yang rambutnya sama persis seperti Sarah. Gadis itu memilikinya secara alami karena kelainan genetik. Sarah terlihat berpapasan dengan Yamada, Calvin tidak tenang, apa Yamada akan menyampaikan hal itu pada Sarah? Bagaimana kalau gadis itu menolak? Oke, Calvin merasa dirinya seperti remaja labil sekarang di usianya yang sudah lebih dari tiga puluh lima tahun, dua tahun lagi ia berusia empat puluh. Harusnya yang bersikap tidak tenang itu kan Sarah, ya? Gadis itu akan segera berusia dua puluh empat musim semi tahun depan, belia sekali. Apa Calvin tidak masalah membawanya ke pertemuan itu? Apakah perbedaan usia yang jauh akan menjadi skandal? Tapi pikiran Calvin sendiri sudah buntu, tidak ada wanita yang cocok untuk di ajak ke sana. Sarah adalah kandidat yang paling meyakinkan, Calvin sampai harus mengocek uang saku pribadinya untuk liburan yang akan ia hadiahkan pada Sarah nanti. Terlihat gadis itu memasuki gedung ini membuat Calvin segera duduk di bangkunya dengan hati yang dag-dig-dug tidak jelas. Ia kenapa? Takut. Sarah akan membencinya. Saga memang sialan. Calvin mengumpat dalam hati. Apapun yang akan Sarah katakan padanya siang ini maka Calvin akan menerimanya dengan lapang d**a, meski artinya ia batal pergi ke Sandfield dengan gadis itupun, tidak masalah. Ia akan mengorbankan Yamada untuk menyamar menjadi wanita daripada harus mengajak wanita lain. Itu semua karena tidak ada yang paling mengerti dan tau tentangnya lebih dari pada Sarah Vleryn. Beberapa bulan terakhir memang Calvin yang selalu mengusik ketenangan gadis itu, ia sampai hampir di beri bogem mentah oleh Diana, selaku guru dan senior Sarah dalam dunia medis yang sudah menganggap gadis itu sebagai putrinya sendiri. Saat itu ada rapat penataan kembali Kota Leafield dan juga Kota Hidelieaf yang harus segera di rekontruksi, Calvin merasa butuh bantuan Sarah untuk menemaninya, jadwal Sarah yang sibuk di rumah sakit terpaksa di gantikan oleh Irish— rekan kerja Sarah sekaligus sahabatnya yang sering melakukan perbantuan ke rumah sakit karena dia bukan pegawai tetap. Rapat yang diadakan di Kota sebelah, Sarah yang sedang lelah terpaksa harus ke pedalaman Leafield dimana Kota tersembunyi yang di lindungi oleh Leafield berada, mengikuti Calvin saat itu. Setelah rapat selesai, Calvin tidak langsung membawa Sarah kembali ke Leafield, melainkan menambah lagi perjalanan ke sebuah kolam pemandian air panas yang khas di pedalaman itu. Alhasil setelah kembali tiga hari kemudian, Diana marah besar dan ia mengajukan cuti selama dua bulan. Itulah mengapa Sarah sibuk selama dua bulan ke depan. Pintu ruangan Calvin terketuk kemudian Calvin berseru menyuruh yang mengetuk untuk segera masuk. Keringat rasanya sudah di ujung dahi Calvin. "Pak Wali Kota.” "Yamada?" Nampaknya Calvin kecewa, ia kira Sarah yang masuk ke ruangannya, jelas-jelas tadi ia melihat gadis itu ke masuk ke dalam gedung, tapi kemana sekarang? Calvin sudah percaya diri kalau gadis itu akan masuk ke dalam ruangan nya. "Sarah setuju asal penawaran dari anda ada tambahan lagi." Yamada memberitahu. "Tapi penawaran apa, aku tidak mengerti." Alis Calvin naik sebelah. Sarah tidak ingin rugi sendiri, gadis itu memang cerdik. "Apa ada lagi yang dia katakan?" Yamada nampak berpikir, kemudian ia mengingat sesuatu. "Dia hanya bilang 'Dua lonceng, sore hari', apa anda mengerti? Dia memberi teka-teki dan aku sendiri sudah menebaknya tapi tidak tertebak." "Tentu saja kau tidak bisa menebaknya, hanya aku dan Sarah yang tau teka-teki itu." Tukas Calvin. Calvin mengerti maksud dari teka-teki Sarah, dua lonceng sore hari, kode yang selalu di pakai jika mereka akan bertemu. Mereka akan bertemu di tempat latihan tim kecil mereka yang beranggotakan Sarah, Nathan dan Jack—sebelum ia menjadi buronan— selama persiapan perang untuk pertama kali, dimana Calvin menguji mereka untuk mengambil dua buah lonceng dari tangannya. Calvin akan menemui Sarah di sana sore ini. ••• Sarah merebahkan dirinya ke kasur, dia sendirian flatnya. Cukup sulit baginya untuk bangkit pasca perang dunia, dimana dirinya tidak lagi dapat mendengar candaan ayahnya ataupun omelan ibunya di pagi hari karena mereka gugur menjadi korban perang ketika Kota di serang mendadak sementara Sarah sedang berada di medan pertempuran menolong prajurit yang terluka. Semuanya hanya tinggal kenangan di rumah kecil mereka yang sudah roboh tak tersisa. Kini Sarah tinggal sendirian di flat yang cukup jauh dari para prajurit lain, ia bergabung dengan warga sipil, non prajurit. Sarah sendiri adalah prajurit medis ketika masa perang. Kota-kota kecil di Negara Eudikia, sebagian warganya sudah terlatih menjadi prajurit sejak kecil, mirip seperti Korea Utara dan Negara militer lainnya. Alasan Sarah tinggal dengan warga sipil karena ia ingin membantu ketika keadaan darurat dan mereka kesulitan untuk pergi ke rumah sakit. Ia memiliki alasan yang cukup mulia karena belajar dari pengalaman, ketika keluarganya membutuhkan dia tidak ada di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Sarah beranjak dari kasurnya menuju cermin. Ia merapikan penampilannya yang sedikit berantakan. "Mataku sembab lagi." Sarah memoleskan sedikit riasan untuk menutupi mata sembabnya, beginilah dia, jika rindu mendiang kedua orang tuanya, sudah pasti tangisan meluncur tanpa bisa ia larang. "Aku harap Calvin tidak menyadarinya. Dia sering mengomentari penampilanku." Setelah itu, Sarah segera bergegas menuju tempat pertemuannya dengan Calvin. Meskipun ia cukup kesal jika ternyata acara itu harusnya di hadiri oleh wanita yang akan di pinang Calvin atau calon nyonya Wali Kota, tapi Calvin malah mengajaknya? "Ah yang benar saja.. memangnya dia mau melamarku? Eh tunggu.. Sialan Saga! Untuk apa pria itu mengadakan acara tidak jelas begitu?!" Sarah mengumpat di sepanjang perjalanan untuk menemui Calvin. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD