PROLOG
"Muthia, bangun." Muthia membuka matanya. Cahaya matahari langsung menghujam wajahnya begitu gorden dibuka oleh ibunya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Muthia sembari bangkit dari tempat tidur.
"Jam 7 pagi. Cepat bangun dan sarapan."
Ibunya segera keluar dari kamarnya. Sekarang adalah hari Minggu, wajar baginya untuk bangun sedikit lebih siang lagi.
Langkahnya tertatih keluar dari kamar menuju dapur. Samar terdengar suara televisi sampai dapur yang menyiarkan kecelakaan semalam.
"Aku berangkat sekarang." Mendengar kalimat itu, Muthia segera berlari mengejar ayahnya di pintu depan.
"Ayah," panggil Muthia. "Sekarang kan hari Minggu, kenapa ayah harus pergi kerja?"
Ayahnya tersenyum sambil memegangi kepala anaknya. "Ayah harus kerja, banyak orang yang butuh ayah di kantor."
"Tapi aku juga butuh ayah. Tidak bisakah ayah libur sehari untuk tetap di rumah bersamaku dan ibu?"
"Kalau itu yang kamu inginkan. Ayah akan coba untuk cuti Minggu depan. Kita akan pergi ke tempat manapun yang ingin kamu kunjungi," bujuk ayahnya.
"Tidak perlu pergi, hanya perlu di rumah."
"Iya, terserah kamu. Kalau begitu ayah pergi dulu ya."
PutraAyah Muthiamembungkuk, membuat dirinya kini sejajar dengan putrinya yang sudah beranjak remaja. Dicium kening Muthia, dan langsung kembali berdiri.
Setelah keningnya dicium Muthia segera berbalik menghadap Ibunya yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka.
"Ibu dengar Bu? Minggu depan ayah akan ada di rumah." Wajah Muthia sangat bersinar saat menceritakan apa yang dikatakan ayahnya sebelum berangkat tadi.
Muthia segera mengoceh banyak hal mengenai apa yang akan mereka lakukan bertiga saat ada di rumah. Sementara itu, Fidel-ibu Muthia-masih tetap menatap layar laptopnya memeriksa soal ulangan yang akan dilaksanakan Minggu depan.
"Andai saja aku bisa ikut senang sepertimu, Muthia," keluh Fidel dalam hati.
∆∆∆
Hari sudah larut saat Muthia masih duduk dengan santai di ruang tengah sambil memandangi layar ponselnya.
Fidel yang melihat hal itu segera menghampiri Muthia dan mengambil ponsel milik Muthia dengan pelan. "Sudah malam, tidur sana."
Muthia menatap Fidel dengan wajah memohon agar bisa memainkan ponselnya lebih lama lagi. Namun Fidel tidak bergeming, dia menaruh ponsel anaknya di dalam rak yang cukup tinggi dan tidak bisa dijangkau oleh Muthia.
Muthia hanya bisa cemberut melihat ponselnya diletakkan di tempat yang tinggi, mengingat dirinya masih SMP dan belum cukup tinggi untuk menggapai ponselnya sendiri.
"Sudah, masuk kamar sana," titah Fidel.
Muthia hanya bisa diam saat mendengar perintah Fidel dan Fidel mendahuluinya memasuki kamar.
Suasana menjadi hening. Muthia masih menunggu sampai lampu kamar ibunya dimatikan. Tak lama lampu kamar mati, dan Muthia pun beranjak dari tempat duduknya.
Dia berjalan ke arah rak dan membuka pintu tempat di mana ponselnya ditaruh. Sangat pelan hening, Muthia berusaha sedemikian mungkin agar tidak tercipta suara yang membuat ibunya keluar kembali dari kamar.
Setelah pintunya terbuka dengan sempurna, dia mengangkat tangannya, menggerakkannya dengan aneh ke arah ponselnya.
Tiba-tiba ponselnya seperti melayang mengikuti alunan tangannya sendiri dan kembali ke dalam genggaman tangan Muthia.
Muthia tersenyum saat melihat ponsel sudah berada di genggamannya. Dia lalu menutup pintu itu kembali, lalu beranjak menuju kamarnya. "Saatnya tidur."