"Kamu terlihat sangat senang sekali hari ini, Mut," sapa seseorang saat Muthia memasuki ruang kelasnya.
Muthia tersenyum kepada orang itu dan menghampiri mejanya.
"Minggu depan ayahku akan berada di rumah seharian," ucap Muthia dengan sangat senang.
"Benar kah? Saranku berjalan dengan lancar."
"Iya, makasih ya Sarannya, Laila." Orang yang dipanggil namanya tersenyum melihat temannya bahagia.
“Jadi, mau pergi kemana kamu hari Minggu nanti?” sambung lagi Laila, membuat percakapan di antara keduanya semakin panjang.
“Tidak kemana-mana. Malah aku hanya ingin di rumah saja. Menurut aku lebih baik aku di rumah saja. Libur kan bukan berarti harus pergi keluar rumah. Lagi pula besoknya ayah dan ibu harus pergi kerja lagi, jadi pasti akan saat melelahkan bagi mereka.”
Laila yang mendengar jawaban bijak dari temanya itu pun semakin terharu. laila bergegas beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk Muthia dengan erat. Muthia terkejut dengan aksi sahabatnya. Namun pelukan itu langsung dibalas oleh Muhtia
“Kamu sekarang sudah berubah, Muthia. Aku bangga melihat kamu.”
“berubah bagaimana?” tanya Muthia.
“Dari pemurung jadi bijaksana. Kamu bukan lagi Muthia yang murung memikirkan soal kedua orang tuamu yang tidak pernah pulang.”
“Apa hubungannya antara pemurung dan bijaksana, Laila,” ucap Muthia dengan nada tertekan karena Laila semakin mengeratkan pelukannya.
“terlebih lagi, bisa nggak kamu lepas pelukanmu? Aku kesulitan bernafas....”
“Oiya maaf-maaf.” Laila melepas pelukannya. Laila melihat ke sekililing dan ternyata seisi kelas memperhatikan tingkah mereka sedari tadi.
“Kan jadi dilihatin orang-orang,” keluh Muthia sambil tersenyum.
Mereka berdua teretawa. Seisi kelas dibuat bingung dengan tingkah mereka. Sebentar ngomong serius, lalu pelukan, sekarang mereka tertawa.
“Jadi bagaimana selanjutnya?”
“Bagaimana apanya?”
“Setelah ayahmu libur belum tentu Minggu selanjutnya dia akan libur lagi kan?”
Muthia pun terdiam mendengar ucapan Laila. Apa yang diucapkan Laila ada benarnya. Belum tentu Ayahnya akan libur untuk minggu berikutnya.
Laila yang melihat reaksi Muthia pun merasa bersalah dengan perkataannya barusan. Dia pun menepuk pundak Muthia untuk menyadarkan temannya yang sedang dalam lamunan.
“Mut, kamu nggak apa-apa?” tanya Laila khawatir.
“Nggak papa kok,” jawab Muthia sedikit tersentak.
Bel masuk pun berbunyi. Muthia melepaskan tangan Laila yang masih memegang lengannya sambil tersenyum, tanda bahwa dia baik-baik saja.
Laila yang menyadari hal itu pun tersenyum dan segera pergi memuju bangkunya sendiri. Sementara itu, didalam pikiran Muthia masih memikirkan perkataan Laila mengenai rencana selanjutnya.
∆∆∆
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid yang sudah menunggu momen itu segera keluar berhamburan keluar gerbang sekolah. Ada juga yang masih berada di sekolah untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
Muthia berjalan dari kelasnya menuju gerbang sekolah. Hari ini adalah hari Senin, artinya tidak ada kegiatan PMR untuk hari ini.
Muthia pulang menggunakan angkutan umum. Pandangannya menatap lurus ke arah jalan namun pikirannya bercabang memikirkan hal lain. Dirinya sudah berhasil membuat ayahnya libur minggu depan, namun bagaimana dengan minggu minggu selanjutnya? Apakah tetap masuk atau libur Muthia tidak tahu.
Muthia sampai di pinggir jalan besar. Saking asiknya berpikir rencana selanjutnya, tanpa dia sadari dia sudah di pinggir jalan. Dia langsung tersadar saat ada seseorang yang meneriakinya.
“Dek, jangan di tengah jalan!”
Muthia tesentak kaget. Dilihatnya ada kendaraan yang datang dari sebelah kanan. Muthia yang seperti baru saja bangun kaget dan secara otomatis berjongkok dan memegangi kepalanya dengan erat.
Supir mobil yang juga sama-sama kaget dengan kehadiran Muthia pun segera menginjak pedal rem secara dadakan, namun seperti usahanya nihil karena jaraknya dengan Muthia sudah sangat dekat.
Muthia yang dalam keadaan takut karena nyawanya terancam pun tanpa sadar menggunakan kekuatannya. Mobil yang sedikit lagi menyentuh tubuhnya yang rentan itu pun langsung berhenti tepat 5 cm di depannya. Sangat dekat dan sangat tepat waktu.
Orang-orang yang melihat kejadian itu pun segera menghampiri Muthia. Pengemudi yang mengendari mobil itu pun segera keluar dan melihat keadaan Muthia.
Muthia yang melihat dirinya selamat pun tersenyum, namun tak lama setelah itu dia pun langsung pingsan
∆∆∆
“Kamu baik-baik saja?”
Muthia membuka matanya. Yang dia lihat pertama kali adalah seorang laki-laki sedang duduk di sebelahnya. Dirinya sendiri sekarang sedang tiduran di atas sebuah kasur berwarna putih.
“Aku ada dimana?” tanya Muthia. Dia melihat ke sekeliling. Yang mampu dia lihat adalah sebuah ruangan yang cukup kecil dengan cat berwarna putih. “Rumah sakit?”
“Hampir benar. Tapi yang benar ini adalah klinik,” jawab laki-laki itu.
Muthia pun ingin beranjak duduk, namun aksinya ditahan sedikit oleh laki-laki itu. “Jangan banyak gerak dulu.”
“Tidak apa-apa, aku ingin minum dulu.”
Laki-laki itu pun mengambilkan air putih yang terletak di meja. Muthia menerima segelas air itu dan langsung meminumnya. Muthia terdiam sesaat setelah selesai minum. Sepertinya masih tersisa sedikit shok akibat kejadian tadi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya orang itu lagi.
“Aku hanya sedikit terkejut,” ucap Muthia.
“Soal kejadian tadi,” kata laki-laki itu, “saya benar-benar minta maaf. Teman saya dan saya tadi sedang berbicara hal serius sampai temanku tidak melihat ke arah jalan. Karena sayayang pertama kali mengajaknya berbicara makanya sayamerasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpamu.”
Muthia kini sudah mendapatkan kesadarannya secara penuh. Dia memperhatikan laki-laki yang ada bersamanya sekarang. Laki-laki itu memakai pakaian setelan kemeja berwarna biru dan juga celana jeans. Penampilannya seperti seseorang yang sedang menempuh pendidikan di suatu kampus ternama.
“Tidak apa-apa. Aku juga salah karena tadi aku sedang melamun sampai-sampai aku tidak sadar kalau sudah berada di tengah jalan,” balas Muthia.
“Saya senang kamu tidak apa-apa.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke arah Muthia. “Nama sayaRidwan, nama kamu?”
Muthia melihat ke arah tangan itu. Dia sedikit ragu untuk menjabat tangan yang ada di depannya. Namun kegusaran itu segera dia tepis mengingat orang itulah yang sudah membawanya ke klinik ini.
“Aku Muthia,” jawab Muthia sambil tersenyum.
Pria itu tersenyum kembali, lalu melepaskan jabatan tangannya. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Saya mau panggil dulu dokternya. Kamu tunggu dulu di sini ya.” Muthia hanya mengangguk dan menunggu dari atas kasur.
Muthia kembali memperhatikan sekitar. Suasana ruangannnya memang terkesan seperti sebuah klinik. Rasa curiga yang ditanam oleh Muthia saat awal siuman tadi pun sirna. Sepertinya tidak ada hal yang harus dicurigai dari pria tadi.
Tak berselang lama semenjak Ridwan meninggalkan Muthia, dia sudah kembali dengan membawa dokter yang bertugas di klinik itu.
“Kamu saya cek dulu ya.” Muthia hanya menurut.
Tak butuh waktu lama sampai dokter selesai mengecek Muthia. “Kamu baik-baik saja. kamu hanya mengalami shock ringan, tidak ada luka serius di bagian organ dalam.”
Muthia hanya mengangguk mendengar perkataan dokter itu. Ridwan yang datang membawa dokter itu pun hanya diam di balik sang dokter.
“Kamu sudah boleh pulang sekarang,” sambung dokter itu lagi. “Kamu...?”
Dokter itu berkata sambil menunjuk ke arah Ridwan. Ridwan pun langsung mengatakan bahwa dirinya yang membawa Muthia ke klinik.
“Saya orang yang membawanya kemari,” ucap Ridwan.
Muthia pun langsung terdiam. Dokter pun langsung pamit meninggalkan mereka berdua.
“Kamu mau langsung pulang, mau diantar atau masih ada urusan di tempat lain?”
“Langsung pulang saja.” Muthia pun langsung bergegas turun dari kasur dan mengambil tasnya yang terletak tak jauh dari tempat dia berbaring.
“Kalau gitu saya antar pulang ya. Saya masih ada tanggung jawab untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat.”
Muthia hanya mengangguk setuju, tidak ada gunanya dia menolak. Lagi pula sepertinya orang ini tidak akan membahayakan dirinya. Jika tidak, pasti sekarang dia tidak akan berada di klinik melainkan terikat di atas kursi di dalam rumah kosong.
Muthia mengikuti Ridwan ke sampai ke mobilnya, mobil yang sama dengan mobil yang hampir saja menabrak Muthia tadi.
Muthia pun berdigik merinding melihat mobil itu, mungkin traumanya muncul kembali saat melihat mobil itu. Tapi rasa takut itu segera di tepis oleh Muthia. Muhtia memejamkan matanya dan menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Silahkan langsung masuk saja,” ucap Ridwan mempersilahkan Muthia masuk.
Muthia membuka pintu belakang mobil. Ternyata di dalam mobil mobil itu sudah ada orang yang menunggu. Orang itu langsung menoleh saat tau bahwa Muthia yang masuk.
“Mba, saya benar-benar minta maaf sama kejadian tadi. Tadi itu bukan salah saya, tapi....”
“Muthia udah masuk? Udah siap?” potong Ridwan saat dia memasuki mobil.
“I ... iya, aku sudah siap.”
“Nanti kamu kasih tau aja ya jalanya lewat mana, biar langsung diantar sama Rendi,” ucap Ridwan sambil menepuk pundak orang yang duduk di bangku kemudi.
Orang yang ditepuk pun langsung menoleh dan tersenyum sambil sedikit cengar cengir. Mobil pun melaju di jalan. Suasana di dalam mobil sedikit ramai karena pembicaraan diantara keduanya. Muhtia yang melihat keanehan itu pun hanya bisa diam melihat tingkah keduanya dengan wajah keheranan.