“Itu rumahku.” Tunjuk Muthia ke arah rumah bercat hijau.
Mereka akhirnya sampai di rumah Muthia. Mobil yang melaju itu perlahan berhenti tepat di depan rumah yang tadi ditunjuk Muthia.
Muhtia pun langsung keluar dari mobil yang juga diikuti oleh Ridwan. Ridwan yang baru saja turun melihat ke sekitar seperti orang pendatang baru.
“Ini rumah kamu?” Muthia hanya mengangguk singkat. Dia pun berbalik dan menghadap Ridwan.
“terima kasih sudah mau membawaku ke klini, bahkan sampai repot-repot diantar ke rumah. Sekali lagi terima kasih.”
“Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf atas kejadian tadi,” balas Ridwan.
Muthia berjalan mendekati pintu rumahnya, sementara Ridwan beranjak masuk ke dalam mobilnya. Muthia menunggu kepergian Ridwan dari depan pintu. Ridwan yang menyadari hal itu pun melambai dan segera pergi dengan Rendi yang masih setia duduk di bangku kemudi.
Muthia membalas lambaian Ridwan dengan senyumannya. Dia pun masuk ke dalam rumah dna langsung berlari ke dalam kamarnya. Dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur dengan perasaan lega.
∆∆∆
Suara mesin berderu sepanjang jalanan. Ridwan yang sedari tadi terus memerhatikan ponselnya pun mulai terusik dengan kondisi jalanan yang masih saja macet sedari tadi.
“Ren, kita nggak ada jalan lain selain lewat sini?” tanya Ridwan.
“Tidak ada, Pak. Hanya ini jalan yang bisa kita lewati,” jawab Rendi dengan nada lembut.
“Ngomong-ngomong, Rendi. Kenapa kamu tadi ingin membongkar semuanya saat Muthia masuk ke dalam mobil?” tanya Ridwan dengan nada bicara yang mulai tidak enak di dengar.
“A ... aku hanya tidak ingin dia salah paham soal kejadian itu.”
“Kan sudah kubilang soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku sudah membicarakan itu dengannya juga soal aku yang mengajakmu bicara terlebih dahulu.”
“Tapi kan anda yang meminta saya untuk menabrak di....”
“Diam, Ren. Kamu hanya kuminta untuk menabraknya dan mengerem sat sudah hampir menabraknya, tidak lebih tidak kurang.”
“Tapi kan, Pak....”
“Tidak ada tapi-tapi, atau kau ingin menerima akibatnya?”
Ridwan menunjukkan sebuah foto sekelompok orang dari ponselnya. Rendi yang melihat itu pun menelan ludah. Foto yang ditunjukkan oleh Ridwan adalah foto milik keluarganya. Rendi pun memilih diam agar situasi tidak bertambah parah.
“Maafkan atas kelancangan saya, Pak.”
“Bagus. Aku suka jawabanmu.” Ridwan meletakkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Kondisi di dalam mobil kembali sepi.
Beberapa orang harus ditunjukkan besarnya sebuah kuasa baru mereka akan menurut,” ucap Ridwan sambil memejamkan matanya.
∆∆∆
Muthia keluar kamar dengan wajah yang tidak enak. Sepertinya tadi dia ketiduran dan bangun seperti telah mendapat mimpi buruk. Ditambah lagi bayangan mengenai kejadian tadi siang kembali menghantuinya meskipun hanya sedikit.
Muthia melihat ibunya sudah berada di ruang tengah, sedang memainkan ponselnya di sofa depan tv. Tanpa pikir panjang Muthia langsung menghampiri ibunya dan turut bergabung.
Suasana terasa canggung. Muthia yang baru duduk pun tak tahu harus membahas apa dengan ibunya. Sementara Fidel-Ibu Muthia-masih sibuk dengan gawai yang ada di tangannya.
“Ibu,” panggil Muthia memecah suasana. “Tumben ibu pulang jam segini.”
Fidel menoleh ke arah putrinya, lalu membalas pertanyaan anaknya. “Iya, hari ini kerjaanya sedikit.”
“Ooohhh.” Suasana kembali hening. Muthia lagi-lagi kehabisan akal untuk memperpanjang obrolan dengan ibunya.
"Ibu,” ucap Muthia lagi. “Tadi aku hampir ketabrak mobil."
Muthia akhirnya terpaksa menceritakan kejadian tadi kepada ibunya. Dia tau dia sebenarnya tidak ingin membuat ibunya khawatir, tapi dia tau bahwa orang tua seharusnya tahu apa yang dialami anaknya setiap hari.
Lagipula sepengelaman Muthia, dia jarang sekali melihat ibunya khawatir terhadap dirinya. meskipun dirinya adalah anak satu-satunya, tapi perlakuan yang dia dapat tidak seperti anak tunggal pada umumnya yang selalu mendapat perhatian maupun kasih sayang.
Hanya beberapa kali Fidel sedikit cemas kepada Muthia, salah satunya saat kecelakaan yang membuat Muthia harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit 2 Minggu yang lalu.
Sedikit berbeda dengan ayahnya, Putra—ayah Muthia—mampu memberikan perhatian yang cukup. Namun dibalik itu semua Putra harus bekerja dan terkadang pulang saat Muthia sudah tertidur di kamarnya. Karena hal itu juga lah dia merasa kurang jika hanya menerima perhatian dari ayahnya.
"Tadi aku sempat pingsan. Lalu saat aku sadar, ternyata aku sudah ada di klinik. Orang yang hampir menabrakku ternyata langsung membawaku ke klinik." sambung lagi Muthia.
Fidel tak bergeming. Matanya hanya sedikit melirik ke arah Muthia yang masih menatap ke arahnya.
"Ibu," panggil lagi Muthia. "Masa Ibu tidak khawatir kalau anaknya hampir ketabrak."
Muthia berpikir apakah jangan jangan ibunya baru akan khawatir kembali saat dia masuk rumah sakit. Tapi dia tidak suka berada di rumah sakit. Baru masuk klinik saja rasa trauma yang dia terima masih sedikit membayanginya setiap dai mengingat kejadian tadi.
"Muthia." Fidel mulai teralihkan.
"Ibu tidak suka kata-kata kamu yang bilang Ibu tidak peduli sama kamu. Ibu khawatir, tentu ibu sangat khawatir. Apalagi saat kamu masuk rumah sakit waktu itu."
"Tapi Ibu berpikir lagi. Kamu sudah beranjak dewasa, kamu juga selalu telaten dan rapih. Dan saat ibu melihat kamu tidak terluka sedikit pun, Ibu yakin kamu bisa menjaga diri. Ibu hanya tak bisa mengekspresikannya kepadamu."
Muthia terdiam saat mendengar ibunya sedang berbicara. Bukannya mengerti apa yang sudah dikatakan Fidel, di dalam benak Muthia semua kata-kata itu hanyalah alasan yang dibuat-buat.
Raut wajah Muthia terlihat tidak senang. Dia mengambil tasnya dan segera memasuki kamarnya. Tidak membanting pintu, namun tetap terlihat kesal saat memasuki kamar.
Bola mata Fidel berkaca-kaca. Tak kuat dia menahan tangis di depan anaknya sendiri. Dia bersyukur anaknya segera memasuki kamarnya sendiri.
Fidel meraih tisu yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dia menyeka air mata yang mulai membasahi pipi sambil sesekali terisak pelan.
"Maafkan Ibu nak, Ibu tidak bisa memberitahu yang sebenarnya," ucap pelan Fidel.
∆∆∆
Keesokan paginya Muthia datang lebih pagi. Dia datang tepat sebelum temannya Laila datang lebih dulu.
Wajah Muthia tampak tidak senang. Dia masih memikirkan jawaban tidak logis dari ibunya. Dia masih mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata menghampirinya.
"Dor!!! Melamun aja." Muthia sontak kaget mendengar teriakan temannya.
Laila yang melihat reaksi temannya hanya bisa tertawa puas melihat rencananya untuk mengejutkan Muthia berhasil.
"Ada apa, Mut? Pagi-pagi sudah melamun," tanya Laila spontan.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada beberapa masalah kecil saja," jawab Muthia singkat.
"Ada apa? Cerita dong. Siapa tau aku bisa ngasih saran seperti kemarin."
Muthia terdiam. Dia tidak tau apa yang harus dia ceritakan kepada temannya. Dia sudah cukup lelah dengan semua yang sudah terjadi.
"Ngomong-ngomong," sambung lagi Laila.
"Kamu sehat sehat aja kan? Nggak ada yang luka kan? Ada yang sakit nggak badannya?" tanya Laila bertubi-tubi.
"Sehat kok, Lai. Baik-baik aja," jawab Muthia singkat. "Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Ya jelas aku tanya. Kamu kemarin hampir ditabrak mobil kan?"
Muthia sedikit terkejut mendengar perkataan Laila. "Kok kamu tau?"
"Ya aku tau. Kebetulan aku juga mau menyebrang waktu itu. Nggak sengaja aku lihat kamu hampir ditabrak, untungnya mobilnya bisa berhenti tepat waktu.”
Muthia terdiam. Dia baru sadar kalau kejadian kemarin terjadi dekat dengan sekolahnya. Sudah pasti Laila akan tahu mengenai hal itu meskipun itu bukan dari mulutnya.
"Jadi ini soal kejadian kemarin?" tanya Laila lagi.
"Bukan," bantah Muthia. "Ini soal ibuku."
Laila terdiam. Dia menarik nafas panjang lalu membuangnya sambil tersenyum. "Tentang itu lagi ya?"
Muthia mengangguk. Dia mulai menceritakan apa yang terjadi di rumahnya saat dia sudah sampai di rumah.
Laila mendengarkan dengan baik. Tidak ada selaan, tidak ada pemotongan, dia terus mendengarkan sampai Muthia akhirnya selesai bercerita. Sungguh pendengar yang baik.
"Menurut aku sih." Laila mulai angkat bicara.
"Menurut aku ibu kamu sepertinya ada alasan tersendiri mengapa dia sampai seperti itu. Pasti ada suatu alasan yang kuat yang membuatnya sampai terlihat seperti tidak peduli atau perhatian ke kamu, karena pada dasarnya jika hanya memiliki anak satu-satunya, seharusnya tingkat perhatian semakin tinggi."
Muthia mengangguk setuju dengan yang dibicarakan oleh Laila.
"Sekarang yang aku tahu adalah dia sebenarnya peduli, tapi aku tidak tau alasan mengapa dia seperti itu."
Laila menepuk sekali tangannya dan menopangkan dagu ke tangan tersebut. "Lalu, apalagi yang mengganggu pikiranmu wahai sahabatku?"
"Tidak ada." Muthia sedikit tersenyum ke arah Laila.
Laila ada benarnya. Bisa saja ada suatu alasan yang membuat ibunya seperti itu. Tapi menanyakan hal itu ke ibunya akan menjadi pertanyaan yang sia-sia. Jika ibunya menganggap itu rahasia sudah tentu tidak akan mudah menemukan alasannya.
Muthia pun ikut memikirkan soal ayahnya setelah mendengar jawaban Laila. Apakah ayahnya juga memiliki alasan yang sama untuk selalu pergi kerja bahkan hanya berada di rumah jika diminta saja.
Muthia berencana akan menanyakan hal tersebut kepada ayahnya. Ayahnya cukup terbuka kepadanya, mungkin saja dia bisa mendapatkan jawaban yang berbeda dari yang ibunya berikan.
"Kalau begitu, boleh aku melihat tugas sejarah, Mut?" pinta Laila.
Muthia hanya memutar bola matanya. Ini sudah menjadi rutinitas diantara keduanya. Muthia mengambil buku sejarah dan diserahkan kepada Laila.
"Makasih."
∆∆∆
Jadi di sini ya, tempat dia bersekolah," ucap orang yang duduk di belakang bangku pengemudi.
"Iya, sekolah yang cukup bagus." Pintu mobil terbuka, seorang pria dengan tubuh tinggi berpakaian jas rapih keluar dari mobil tersebut.
"Semoga dia mudah untuk diajak bergabung, Muthia Simamora."