DIUNDANG

1550 Words
"Panggilan untuk Muthia Simamora dari kelas 8B harap segera menghadap Bu Sri di ruang guru, sekali lagi panggilan untuk Muthia Simamora dari kelas 8B harap segera menghadap Bu Sri di ruang guru, terima kasih." Muthia yang sedang makan siang di kelasnya saat namanya dipanggil. Laila yang sedang menyalin tugas langsung menengok ke arah Muthia ketika mendengar pengumuman itu. "Kamu ada masalah?" tanya Laila spontan. "Entah, aku nggak tau." Muthia segera berdiri bergegas menuju ruang guru. "Mau kutemani?" tawar Laila. Muthia menggeleng pelan. "Paling cuma sebentar, kamu selesaikan saja dulu tugasnya." Laila hanya mengangguk dan melanjutkan menulis. Muthia berjalan meninggalkan kelasnya. Ada sedikit rasa penasaran dalam benaknya mengapa dia dipanggil, padahal dirinya hampir tidak pernah membuat masalah atau begitu mencolok dikalangan guru. Muthia memasuki ruang ruang. Matanya segera menjalar ke sekeliling mencari Bu Sri. Beliau sedang duduk di mejanya yang terletak di sudut ruangan. Tampaknya beliau sedang menunggu Muthia. "Ibu memanggil saya?" tanya Muthia sopan saat menghampiri Bu Sri. "Kamu Muthia?" tanya Bu Sri balik. Muthia mengangguk sambil tersenyum, mempertahankan kesopanannya. Bu Sri pun berdiri dan berjalan mendahului Muthia. "Ada tamu yang mencarimu, kamu akan ibu antar." Raut wajah Muthia berubah. Tak biasanya ada yang mencarinya saat sedang dalam wilayah sekolah. Muthia pun berjalan di belakang mengikuti Bu Sri sampai ke ruang aula sekolah. Muthia makin bingung mengapa ada tamu yang menunggunya di aula bukan di ruang tamu. "Masuklah, orangnya sudah menunggu di dalam," kata Bu Sri singkat. Tak lama Bu Sri meninggalkan Muthia tepat di depan pintu. Muthia hanya melihat kepergian Bu Sri. Muthia mempersiapkan diri untuk membuka pintu ruang aula. Saat ruang aula terbuka, terdapat seorang pria berjas yang sudah duduk di meja utama tempat biasa orang memimpin rapat atau suatu pertemuan. Muthia mendekati pria itu. "Permisi. Bapak mencari saya?" tanya Muthia. "Iya, kamu Muthia kan, silahkan duduk." Muthia duduk tepat di depan pria itu. Tak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu selain mereka berdua. “Sebelumnya jangan panggil saya ‘Pak’. Perkenalkan nama saya Fuse. Kamu bisa memanggil saya sesukamu asal jangan‘Pak’.” Muthia hanya mengangguk, tak mengerti apa yang pria itu katakan. Yang mampu dia mengerti adalah orang yang ada di depannya sekarang ini tidak mau dipanggil ‘Pak’. "Baiklah, cukup basa-basinya. Selanjutnya saya akan langsung ke topik pembicaraan,” kata pria itu dengan nada serius. "Saya ingin kamu masuk ke dalam tim yang akan saya buat sekarang.” Muthia memiringkan kepalanya keheranan. Dia baru saja masuk ke dalam aula, bertemu dengan orang asing dan tiba-tiba diajak masuk ke dalam sebuah tim yang entah apa namanya. “Kamu pasti tidak mengerti apa yang berusaha saya sampaikan,” kata pria itu. “Maka dari itu saya akan menjelaskan tim apa yang akan saya buat.” Muthia hanya diam mengikuti alur, berusaha sebaik mungkin agar mengeti setiap kata yang dikatakan orang itu. Dia memasang wajah tanda tak mengerti sejak awal dia memasuki ruangan. Pria itu mengeluarkan laptop dan menyambungkannya ke sebuah proyektor. Dari sana tiba-tiba muncul gambar seperti slide yang biasa digunakan untuk presentasi. "Ini adalah ‘Proteen’, sebuah tim yang sedang saya buat bersama dengan beberapa orang pilihan yang sudah saya amati sejak lama agar layak masuk ke dalam tim ini." ucap pria itu mulai menjelaskan. Muthia semakin tidak mengerti dengan apa yang pria itu jelaskan. Bahasanya rumit, sulit dipahami, dan pemilihan katanya buruk. Pria yang bernama Fuse itu pun sepertinya paham dengan kondisi Muthia yang semakin tidak paham dengan apa yang dia jelaskan barusan. Dia pun diam sejenak dan memilih beberapa kata yang pas agar bisa dimengerti oleh Muthia. “Jadi seperti ini. Saya membentuk tim yang isinya orang-orang spesial. Nama timnya adalah ‘Proteen’. Sampai sini kamu paham?” Muthia menggangguk kepalanya. “sekarang tujuan saya datang kemari dan memanggilmu ke sini adalah saya ingin merekrut kamu masuk ke dalam tim.” Muthia terkejut mendengar perkataan orang itu. Apa maksud dari kata-katanya barusan? Mengundangnya masuk ke dalam tim yang tidak jelas asal usul dan tujuannya. “Kenapa saya diundang masuk ke dalam tim?” tanya Muthia spontan. Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan Muthia. Dia pun berdiri dari kursinya dan mendekati Muthia dengan tangan kiri dimasukkan ke dalam kantong. “Aku senang mendengar pertanyaanmu. Pertanyaan yang bagus,” kata pria itu. “Pertama, saya membentuk tim ini karena saya sadar dengan adanya ancaman dari sebuah kekuatan di luar batas kemampuan manusia.” Pria itu mendekat dengan langkah pelan. Muthia masih terdiam mendengar perkataan pria itu. Kekuatan di luar batas kemampuan manusia? Ancaman? Muthia masih tidak mengerti dengan yang dikatakan pria itu. Apalagi pria itu semakin dekat dengan dirinya. “Saya tidak mengerti dengan yang anda katakan,” kata Muthia. Pria itu diam sejenak kembali dan kembali melanjutkan perkataannya. “Maksud saya, saya ingin membentuk sebuah tim yang isinya manusia manusia super, contohnya adalah kamu Muthia.” Pria itu berhenti tepat di depan Muthia. Muthia membisu saat mendengar kata terakhir dari orang itu. Dirinya? orang itu tau mengenai kekuatan Muthia? Muthia berpikir keras agar bisa mengelak pernyataan barusan. “saya? Punya kekuatan super? Saya rasa anda salah orang. Lagian juga orang-orang dengan kekuatan seperti itu hanya ada di cerita fiksi ataupun fantasi.” Pria itu tersenyum kembali mendengar jawaban Muthia. Dia memegang dagunya yang sedikit berbulu sambil berbalik dan menjauh perlahan dari Muthia. Satu langkah, dua langkah, pria itu tetap menjauh sambil tetap memegang dagunya. “Bagaimana dengan ini?” Pria itu tiba-tiba berteriak sambil berbalik dan melempar sesuatu yang sedari tadi dia sembunyikan di dalam kantong kirinya. Ternyata benda itu adalah sebilah pisau lipat. Pisau itu meluncur dengan cepat tepat mengarah ke kepala Muthia. Muthia yang melihat hal itui pun terkejut. Tanpa dia sadari dia menggunakan kekuatannya untuk menghentikan pisau itu saat hampir mengenai dahinya. “Benar kan? Kamu adalah salah satu orang yang memiliki kekuatan super yang aku cari. Muthia Simamora, sang pemilik kekuatan telekinesis.” Nafas Muhtia tesengal-sengal saat melihat pisau itu melayang tepat di depan matanya. Dia memberanikan diri untuk mengambil pisau itu dan menyingkirkannya dari matanya. “Apa yang anda lakukan? Yang barusan tadi sangat berbahaya!” Teriak Muthia marah. “Tapi kamu berhasil menghentikannya kan?” Pria itu tersenyum penuh kemenangan, sementara Muthia hanya berdiam tak percaya perkataan yang baru saja dia dengar. “Aku minta maaf jika memang caraku salah dalam hal mengujimu barusan, tapi itu tidak ada cara lain yang lebih cepat ketimbang cara barusan.” “Tapi bukan berarti tidak ada cara lain kan?” Pria itu menundukkan kepalanya, membuat pandangannya sejajar dengan Muthia yang masih terduduk di atas kursi. “Coba bayangkan sekarang. Jika aku menanyaimu terus-menerus dan berulang, apakah kamu akan mengakuinya dengan mudah? Atau kamu akan secara mengejutkan mengakui kekuatan yang kamu simpan itu?” Muthia tertegun. Posisinya sekarang terpojok. Tatapan pria yang bernama ‘Fuse’ itu terlihat lebih serius ketimbang beberapa menit yang lalu. “Tentu tidak kan?” Pria itu berjalan kembali ke mejanya dan mengganti slide presentasi. Di slide itu tampak sebuah gambar kartun beberapa super hero yang cukup terkenal. Lalu slide berganti lagi dengan profil beberapa orang yang fotonya dihilangkan. “Saya tau kalau kamu berusaha keras akan terus menyembunyikan kekuatan yang kamu miliki, tapi ketahui bahwa itu tidak akan berlansung lama.” Pria itu menghentikan kalimatnya dan kembali mengganti slide ke profil yang selanjutnya, masih tetap dengan foto wajah yang dihilangkan. “Di dunia ini ada banyak sekali jenis kekuatan. Tidak hanya telekinesis, tapi kekuatan yang lainnya juga ada. Bahkan kekuatan yang bisa mendeteksi apakah seseorang memiliki kekuatan pun juga ada.” “Maksud anda keadaan saya sedang terancam?” “Bisa dibilang iya, bisa juga tidak,” balas pria itu singkat. “Bahkan bukan hanya dirimu, tapi juga keluargamu. Bahkan, teman-teman sekolahmu juga bisa terancam.” Muthia kembali diam mendengar penjelasan Fuse. Dia semakin mengerti kemana arah tujuan pembicaraan ini, yaitu kembali mengajaknya masuk ke tim itu, namun dengan cara yang sedikit halus. Tidak seperti cara yang dilakukan oleh Fuse tepat sebelum perbincangan ini. “Jadi apa yang tujuan tim ini dibentuk?” tanya Muthia spontan. Hanya itu yang belum dia ketahui semenjak Fuse mulai menjelaskan soal manusia berkekuatan super. “tujuan tim ini dibentuk adalah agar bisa memerangi bahaya yang mengancam keselamatan manusia, seperti yang saya bilang di awal.” “Bukan tujuan itu yang saya maksud,” bantah Muthia, “maksud saya tujuan yang sebenarnya dari tim ini?“ Fuse terdiam. Slide yang sedari terus berganti kini sudah berhenti dan memperlihatkan sebuah profil yang tidak asing di mata Muthia. Fuse menghela nafas sebentar, lalu menjawab pertanyaan yang tadi ditanyakan Muthia. “Tujuan tim ini sebenarny untuk melindungi orang-orang yang sudah memiliki kekuatan super namun di usia yang terbilang cukup belia, dan juga minim pengetahuan tentang kekuatannya. Salah satunya adalah kau Muthia.” Muhtia tertegun dengan apa yang dia lihat dan dia dengar. Profil yang ditunjukkan Fuse adalah profil yang berisikan data dirinya. Yang membedakan profil dirinya dengan milik orang lain adalah, profil itu sangat lengkap dengan foto dirinya yang juga terpampang jelas. “Yang sedari tadi aku tunjukan kepadamu adalah sederetan orang-orang yang masih dalam pencaharian dan pengumpulan informasi. Tim pelacak kekuatan kami hanya bisa mendapatkan informasi yang terbatas dari kekuatan yang mereka miliki.” Fuse pun dengan tiba-tiba langsung mematikan proyektor dan mengakhiri presentasinya. Dia maju dan mendekati kembali Muthia namun kali ini menyisakan jarak beberapa langkah dan mengulang perkataanya yang sedari tadi sudah ditanyakan. “Maukah kamu bergabung ke dalam ‘Proteen’?” ∆∆∆
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD