PENOLAKAN

1724 Words
“Maukah kamu bergabung ke dalam Proteen?” Fuse menatap Muthia sambil mengulurkan tangannya, berharap tangannya disambut oleh Muhtia dan memutuskan bergabung ke dalam timnya. Namun yang ada dipikiran Muthia adalah hal yang jauh berbeda dari harapan Fuse. Muthia terdiam. Sekali lagi dia terdiam mendengar tawaran dari Fuse ke sekian kalinya. Kali ini dia sedang memikirkan bagaimana kalimat yang pas untuk menolak tawaran Fuse itu. “Aku menolaknya,” kata Muthia singkat. “Hhhmm? Kamu menolaknya?” “Iya. Aku menolak tawaran anda untuk bergabung ke dalam Proteen.” “Tapi kenapa? Dengan semua yang sudah kujelaskan bukankah lebih mudah bagimu untuk bergabung ke dalam tim kami ketimbang harus berjuang sendirian?” “Aku tidak mengerti maksud dari yang anda katakan barusan. Tapi yang saya mengerti adalah anda termasuk orang asing bagi saya. Saya tidak mungkin menerima ajakan seseorang yang asing bagi saya dengan begitu mudahnya.” Kali ini Fuse yang dibuat tertegun dengan jawaban Muthia. Memang benar jika dirinya memberikan pengamanan untuk Muthia yang terbilang masih cukup muda. Tapi lain dari itu, Fuse sendiri adalah orang asing bagi Muthia. Fuse pun tersenyum. Memang sesuai dugaannya bahwa mengajak Muthia tidak semudah seperti saat dia mengajak 2 orang sebelumnya. Ini akan menjadi hal yang sulit sampai Muthia benar-benar mau masuk ke dalam timnya. “Baiklah kalau begitu. Aku menghargai keputusanmu,” jawab Fuse. “Tapi bukan berarti ini adalah terakhir kalinya aku mengajakmu. Suatu saat nanti aku akan datang kembali dan menawarkan hal yang sama kepadamu.” Fuse berbalik. Mengemasi laptopnya dan bersiap untuk meninggalkan aula sekolah Muthia. “Aku tadinya berharap kamu akan masuk ke dalam tim saya dengan mudah, tapi sepertinya kamu memiliki pemikiran yang lain terhadap saya.” Fuse mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku bajunya. “Ini kartu nama saya. Kamu bisa menghubungi nomor yang ada di sini jika kamu perlu sesuatu.” Muthia melihat kartu yang diberikan Fuse. Di sana tertulis secara singkat nama dan nomor Fuse. “Terima kasih, tapi sepertinya aku tidak membutuhkan ini.” Muthia berniat menolak kembali kartu nama yang diberikan oleh Fuse, namun Fuse bersikeras dan memaksa Muthia untuk menerimanya. “Terima saja. kamu bisa menghubungi nomor ini jika ada suatu masalah nantinya. Anggap saja sebagai ganti nomor polisi, tidak mungkin kan kamu menghubungi polisi untuk melaporkan kasus yang berhubungan dengan kekuatanmu.” Muthia pun mau tak mau menerima kartu yang diberikan oleh Fuse. Dia pun mengambil kartu itu dari tangan Fuse dan langsung memasukkan ke dalam saku bajunya. “Kalau begitu saya permisi dahulu.” Fuse pun mendahului Muthia keluar dari ruang aula. Fuse segera kembali ke pergi menuju gerbang sekolah dan memasuki mobil yang sudah menunggunya. “Gimana, Fuse? Berhasil mendapatkan Muthia?” tanya seseorang yang duduk di bangku kemudi. “Gagal, tapi hanya untuk kali ini. Aku yakin dia akan menghubungiku jika nanti dia mendapatkan masalah.” “Begitu ya. Ternyata memang sulit ya menerima ajakan seseorang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali. Pasti dia akan menganggapmu aneh, apalagi sampai sengaja datang ke sekolahnya hanya untuk merekrutnya.” Orang yang berada di bangku kemudi itu pun tertawa kecil. Fuse yang mendengar itu sedikit merasa tidak senang. “Bagaimana jika lain kali kamu yang merekrut orang, Bintang?” tantang Fuse. “Aku? Aku pasti bisa melakukannya lebi baik dari dirimu, Fuse.” Fuse hanya menghela nafas mendengar jawabn dari temannya itu. Dia pun memgeluarkan ponselnya dan melihat beberapa pesan yang muncul. “Jadi sekarang mau kemana dulu?” tanya orang yang tadi disebut sebagai Bintang. “Gimana kalau ke markas dulu? Aku tadi sudah terlanjur izin sakit ke sekolah, jadi tidak mungkin tiba-tiba muncul di sekolah dengan keadaan seperti ini.” “Benar juga. Kalau begitu kita ke markas sekarang.” Mobil pun melaju di jalanan, meninggalkan tempat dimana pertama kalinya Fuse mendapatkan penolakannya. ∆∆∆ Muhtia masuk lagi ke dalam kelasnya, namun ternyata kelas sudah di mulai dan guru sudah memulai pelajarannya. Melihat Muthia yang baru sampai, sang guru langsung menyuruh Muthia untuk langsnug duduk di mejanya. “Saya tadi ada keperluan dulu, Pak sama Bu Sri, Pak,” lapor Muhtia di depan gurunya. “Iya saya tau. Tadi Bu Sri sudah ngomong ke saya. Kamu langsung aja duduk.” Muthia hanya mengangguk dan langsung berjalan menuju bangkunya yang ternyata sudah di isi oleh siswa lain. Muthia memasang muka keheranan karena seharusnya bangku yang dia duduki adalah tepat di pojok belakang kelas. Dia melemparkan pandangannya dan melihat Laila melambaikan tangannya memberi isyarat agar Muthia duduk di sebelahnya. Muthia hanya menghela nafas melihat perbuatan temannya. Dia pun cepat cepat menghampiri Laila dan dudk di sampingnya. “Aku meminta Dion untuk bertukar tepat duduk denganmu,” kata Laila saat Muthia sudah duduk. “Kenapa nggak ngomong dulu ke aku?” “Kan tadi kamunya pergi di panggil Bu Sri. Gimana sih.” Laila memasang muka cemberut mendengar pertanyaan tidak logis Muhtia. “Muthia hanya tertawa mendengar celetukan Laila. Dia pun membenarkan posisi duduknya dan kembali menggoda Laila. “Kamu pasti ada maunya kan.” “hehehe, ketahuan.” Raut wajah Laila langsung berubah kembali. “Kamu tadi abis ngapain?” Muthia terdiam sejenaknya. Memandangi wajah temannya yang sudah memasang wajah penuh harap akan jawaban yang akan Muthia berikan. Setelah sekian lama keduanya bertatap, Muthia akhirnya hanya menggelengkan kepalanya ke arah Laila. “Kok geleng. Apa maksudnya? Kenapa kamu geleng-geleng kepala?” Laila mengoyangkan badan Muthia tanda tidak terima dengan jawaban ambigu yang Muthia berikan. “A...ku ng...gak mau ja...waaabbb.” “Kok nggak mau?” Laila masih saja terus menggoyangkan badan Muthia. Tanpa Laila sadari ternyata aksinya terlihat oleh guru yang sedang mengajar. “Laila kamu sedang ngapain? Berhenti mengganggu temanmu yang sedang berusaha konsentrasi belajar.” Laila sontak menghentikan perbuatannya dan langsung meminta maaf. Muthia yang melihat itu hanya bisa menahan tawanya sambil menutup mulut. “Kamu gimana sih. Kalau minta itu yang lembutan dikit dong, akunya di rayu biar mau ngasih tau,” ucap Muthia sambil masih sedikit menahan tawanya. “Ya udah, iya-iya,” jawab Laila kesal. “Muthia sayang, aku penasaran nih kamu tadi abis ngapain. Aku boleh tau nggak kamu abis ngapain aja?” Muthia semakin berusaha menahan tawanya mendengar nada halus Laila yang terkesan dibuat-buat dan terdengar aneh. Cukup lama Muthia terkekeh pelan sampai akhirnya memberi jawaban penolakan lagi kepada Laila. “Cukup cukup, aku nggak kuat,” pinta Muthia. “Maaf Laila, meskipun kamu merayu seperti apapun aku tetap tidak akan kuberitahu.” “Tuh kan bener.” Laila kembali memasang wajah cemberutnya. Muthia pun hanya tersenyum kepada sahabatnya. “Aku bukannya pelit. Tapi aku rasa memang ini seharusnya tidak aku beritahu kepada orang lain. Nanti jika waktunya tepat aku akan kasih tau ke kamu.” “Palingan nanti kamu lupa, liat aja nanti,” celetuk Laila kesal. Dia pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah guru yang masih mengajar sedari tadi. Muthia hanya terdiam melihat Laila yang merajuk. Muthia pun juga mengalihkan perhatiannya ke arah guru yang sedang mengajar. Namun, pikirannya tidak sedang berpikir tentang pelajaran yang dijelaskan. Dalam benak Muthia, dia masih saja memikirkan soal yang dijelaskan oleh Fuse tadi. ∆∆∆ “Presentasi yang bagus Fidel.” Suara sorakan memenuhi seluruh ruangan yang merayakan suksesnya suatu presentasi yang dilakukan oleh Fidel. Fidel yang menjadi sorotan dalam kemeriahan itu hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada seisi ruangan yang memberinya ucapan selamat. Tak perlu berselang lama, sorakan itu pun perlahan meredup dan suasana kembali hening. Fidel yang merasa kualahan menghadapi ramainya sorakan tadi akhirnya meras lega karena dirinya sudah bisa kembali fokus. Dia menarik kursinya dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. “Permisi, Bu Fidel,” panggil seseorang tiba-tiba. “Iya, ada apa?” Fidel sedikit terkejut dengan kedatangan orang tersebut. Dia pun membenarkan posisi kacamatanya dan menoleh ke sumber suara. “Pak Ridwan meminta anda untuk segera datang ke ruangannya sekarang,” ucap pria tersebut. Fidel mengkerutkan dahinya. Tidak biasanya dia dipanggil langsung oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja. “Baiklah, saya akan langsung ke sana.” Fidel pun beranjak dan segera pergi menuju ruangan atasannya. Tak lupa dia merapikan sedikit pakaiannya yang terlihat sedikit kusut. Begitu sampai di depan ruangan Fidel langsung dipersilahkan masuk dan duduk di depan Ridwan. Suasana terasa canggung sampai Ridwan membuka topik obrolan tentang kesuksesan Fidel dalam presentasi. “Selamat atas presentasimu, Fidel,” ucap Ridwan basa-basi. “Iya, Pak, terima kasih.” balas Fidel cepat. “Pak, saya dipanggil ke sini kira kira ada apa ya?” Fidel langsung menanyakan alasannya di panggil ke ruangan Ridwan. “Nggak ada alasan khusus sebenarnya,” potong Ridwan, “sebenernya saya secara khusus meminta kamu untuk masuk kerja di Hari Minggu nanti.” “kenapa saya harus sampai lembur, Pak?” Fidel terkejut dengan keputusan atasannya tersebut. “Begini, presentasi kamu mengenai metode pembelajaran yang baru itu ternyata cukup menarik perhatian saya. Buktinya, hasil presentasi kamu terbilang memuaskan dan banyak disetujui oleh dewan direksi. Saya pun mengakui itu adalah ide yang bagus.” Fidel hanya mengangguk. “Berhubung kamu juga termasuk ke dalam tim guru pembimbing, maka saya meminta kamu untuk segera menyelesaikan proyek yang sudah kamu presentasikan tadi, paling lambat tujuh hari ke depan sudah rampung 75%.” Fidel terbelalak mendengar ucapan atasannya. Pasalnya metode pembelajaran yang dia presentasikan masih dalam perencanaan dan belum ada percobaan secara langsung ke anak didik. “Tapi saya tidak mungkin menyelesaikannya dalam waktu 7 hari, Pak.” “Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya meminta kamu secara khusus untuk lembur minggu ini. Surat lembur akan saya buatkan khusus untuk kamu dan juga orang orang yang kamu tunjuk untuk mendukung proyek kamu.” Ridwan mengatakan dengan wajah yang cukup serius. Tatapan yang diberikan seakan-akan mengatakn bahwa dirinya sedang tidak ingin dibantah. Fidel yang dihadapi dengan tatapan yang serius dari Ridwan hanya bisa berdiam diri dan menyetujui perkataan ridwan. Fidel pun menyebutkan beberapa nama yang dia rasa mampu untuk membantunya dalam proyek kali ini. Total ada lima orang termasuk dengan dirinya. “kalau begitu kamu bisa kembali ke meja kamu. Untuk surat lembur nanti akan saya berikan sendiri ke masing-masing orang yang sudah kamu sebut tadi namanya.” Fidel hanya bisa diam. Dia pun segera beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Ridwan sendirian. Pintu tertutup dengan perlahan, menghasilkan derit yang juga perlahan terdengar di telinga. Ridwan terus menatap ke arah pintu. Senyumnya perlahan mengembang seiring pintu bergerak menutup. “Dengan ini persiapan sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu hasil dari usahaku selama ini,” bisik Ridwan pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD