Suasana sekolah riuh sekali. Sekarang adalah hari Kamis, hari dimana kebanyakan eskul akan melaksanakan kegiatan mingguannya.
Muthia juga termasuk siswa yang mengikuti ekstrakurikuler, bersama Laila mereka mengikuti ekskul PMR.
Tidak banyak hal yang mampu menarik perhatian Muthia, dia mengikuti ekskul PMR hanya sebagai formalitas saja, tidak lebih.
Berbanding dengan Muthia, Laila justru sangat bersemangat dengan ekskul ini. Bisa dibilang Laila adalah anggota yang paling niat dalam mengikuti ekskul PMR.
Hari ini mereka tidak mendapatkan materi karena Pak Tyas selaku pelatih ekskul PMR tidak datang, jadi mereka hanya bermain saja. Sebagian dari mereka sudah ada yang pulang, namun tak sedikit yang masih menetap di sekolah.
Muthia yang perlahan mulai merasa bosan meraih tasnya dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam tas. Laila yang melihat itu menghampiri Muthia.
“Mau jajan?” tanya Laila.
Muthia hanya mengangguk. Dia berjalan meninggalkan ruang ekskul, diikuti Laila sampai keluar gerbang sekolah.
“Kamu mau jajan apa?”
“Entahlah, aku tidak tau.” Jawab Muthia singkat.
Laila hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah temannya yang labil sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi Laila.
Keduanya diam, melakukan kesibukannya masing-masing. Laila sibuk menghitung uang yang tersisa di saku celananya. Sementara Muthia hanya terus menjalan menatap jalanan dengan tatapan kosong.
“Muthia.” Terdengar seseorang memanggil nama Muthia.
Muthia yang masih sibuk dengan lamunannya tidak menggubris panggilan tersebut.
“Hei, Muthia.” Suara itu terdengar lagi.
Laila yang merasa terganggung dan mengetahui temannya tidak merespon pun menepuk pundak temannya dan itu membuat Muthia sedikit terkejut dan tersadar dari lamunannya.
“Kenapa?” tanya Muthia seketika.
“Ada yang manggil.” Laila langsung menunjuk ke seberang jalan. Di sana terdapat seseorang yang terus melambai.
Muthia memperhatikan orang yang melambai itu. Tapi semakin dia perhatikan, rasanya semakin sulit untuk Muthia mengenali wajah orang itu. Muthia adalah orang terburuk untuk mengingat wajah orang yang pernah dia temui.
Pria itu menyadari Muthia tidak mengenalinya. Dia pun menyebrang dan menghampiri kedua gadis itu.
“Hei, Muthia. Kamu masih ingat saya?” sapa pria itu terlebih dahulu.
“Kak Ridwan!” Laila berteriak lebih dulu.
Laila yang tadinya juga sama sama tidak mengenali wajah yang memanggil Muthia pun langsung menyadari bahwa Ridwan lah yang sedari tadi memanggil Muthia.
“Kak Ridwan?” Muthia terlihat kebingungan.
“Kak Ridwan....”
Muthia terdiam sejenak. Dia terlihat sedang berpikir keras dan berusaha mengingat siapa orang dari nama itu.
“Ah iya,” teriak Muthia. “Orang yang menolongku beberapa hari lalu.”
“Akhirnya kamu mengingatnya,” jawab Ridwan singkat.
“Kak Ridwan kenapa bisa ada di sini?” tanya Laila spontan.
Dengan sigap, Laila langsung menguasai obrolan diantara mereka. Sikap Laila yang cukup ramah dan supel membuatnya cukup mudah untuk berinteraksi dengan orang.
“Loh? Memangnya aku tidak boleh ada di sini?” timpal Ridwan singkat.
Muthia hanya terdiam melihat keduanya sedang sibuk berbincang. Rasanya tadi dirinyalah yang menjadi sorotan utama sampai akhirnya Laila lah yang mengambil perannya itu.
“Eh, ngomong-ngomong,” potong Laila cepat.
“Tadi Muthia bilang kalau Kakak nolong Muthia. Memangnya Muthia kenapa, Kak?”
“Oh dia tidak cerita ke kamu?” Laila menggeleng sambil melihat ke arah Muthia.
Ridwan pun juga ikut melihat ke arah Muthia. Muthia yang merasa dirinya mulai menjadi sorotan pun segera mencari alasan.
“Aku mungkin lupa ngasih tau kamu, Laila,” jawab Muthia cepat.
Mereka berdua hanya saling berpandangan, tak lama mereka pun tertawa sebentar. Rasanya seperti menjadi orang asing jika melihat seberapa cepatnya mereka akrab satu sama lain.
Ridwan pun dengan lugas menceritakan kejadian yang menimpa Muthia beberapa waktu lalu. Laila yang mendengar cerita itu terkejut dan melihat Muthia sebentar, lalu kembali menatap lawan bicaranya.
Muthia yang sudah mulai lelah dengan tingkah mereka pun berniat meninggalkan keduanya dan kembali ke sekolah. Namun langkahnya dihentikan oleh Ridwan.
“Kamu mau kemana, Muthia?”
“Aku mau kembali ke sekolah.”
“Benar juga. Jam segini seharusnya kalian masih ikut ekskul. Kalian ikut ekskul apa?”
“PMR.” Laila menjawab dengan spontan.
“Oh, PMR. Ya sudah, aku pergi dulu kalau begitu. Muthia, jangan meleng lagi ya.”
Muthia sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan ridwan. Sementara itu, Ridwan pun pamit dan segera berlalu dari pandangan Muthia dan Laila.
Karena lamanya waktu yang digunakan Laila untuk mengobrol, Muthia pun memutuskan untuk kembali ke sekolah saja. Laila pun hanya mengikuti kemana Muthia melangkah.
“Kamu kenal dia, Lai?” tanya Muthia.
“Kamu nggak tau dia, Mut?” Muthia hanya menggelengkan kepalanya.
“Dia alumni sekolah kita. Kalau tidak salah dia 2 tahun di atas kita.”
Muthia hanya mengangguk paham. Kini dia mengerti kenapa Laila bisa sangat akrab dengan Ridwan. Saat baru masuk sekolah, Laila adalah orang yang sangat supel sekali. Dia kenal dengan semua orang dari kelas 7 sampai kelas 9. Bahkan sekarang pun sampai adik kelas pun tahu tentang dirinya.
“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Laila balik.
“Nggak. Cuma heran aja kenapa kamu bisa seakrab itu. Ternyata kamu sendiri sudah kenal toh.”
“Ya begitulah. Dulu aku asik sekali mengobrol sama orang sampai lupa sudah berapa banyak orang yang aku kenal.”
“Bagus untukmu,” ketus Muthia singkat.
Laila yang mendengar jawaban Muthia pun segera memeluk erat sahabatnya dengan tiba-tiba.
“Tapi tenang aja. Kamu itu tetap yang terutama untuk aku.”
Muthia yang dipeluk pun sekejab merasakan hangatnya persahabatan yang dia rasakan. Rasanya mungkin juga indah jika keluarganya juga melakukan hal yang sama terhadapnya.
∆∆∆
Muthia sampai di rumah pukul 6 sore. Dia segera membuka sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Tak lupa dia menaruh tasnya di atas meja belajar dan kembali ke ruang tengah. Tak seperti biasanya, rumah kali ini terasa kosong.
Dia mengecek ke segala penjuru rumah, namun tak menemukan seorang pun.
“Mungkin ibu sedang keluar,” gumam Muthia pelan.
Dia merebahkan dirinya ke atas sofa. Muthia berencana untuk menyalakan televisi agar suara terasa sedikit lebih ramai.
Saat sedang mencari remote, tak sengaja Muthia melihat secarik kertas tergeletak di atas meja. Muthia mengambil kertas itu dan membacanya dengan cepat.
“Muthia? Sudah pulang?” panggil Fidel dari luar rumah.
“Iya, Bu.”
Fidel menghampiri Muthia. “Sedang baca apa, Nak?”
Fidel ikut membacanya dari samping. Matanya terbelalak, sungguh ceroboh dirinya. Itu surat dinas dari Ridwan yang tadi dia terima di kantor.
“Ibu ini punya, Ibu?”
“Kamu ketemu dimana surat ini?”
“Ibu akan tetap pergi kerja di hari Sabtu dan Minggu?”
“Ibu minta kertas itu, Mut.”
“Ibu akan pergi di hari dimana ayah sudah mau meliburkan diri agar kita bertiga bisa ada di rumah?”
“Ibu bilang Ibu minta kertas itu.”
“Jawab pertanyaan aku, Bu.”
Suara yang tadinya terdengar semakin kencang tiba-tiba menjadi hening setelah sebuah tamparan mendarat di pipi Muthia.
“Iya Ibu akan pergi, Ibu akan tetap pergi bekerja untuk menyelesaikan proyek yang dipercayakan kepada Ibu. Memangnya kenapa?” Suara Fidel terdengar sangat keras, bahkan sampai keluar rumah.
Emosinya memuncak. Dia segera merampas kertas yang ada di tangan Muthia dengan cepat.
“Memangnya apa yang kamu tahu tentang dunia kerja, hah? Ibu lakukan ini demi kamu, agar kehidupan kamu tercukupi,” bentak Fidel.
“Kamu masih dalam tanggungan Ibu. Ibu kerja demi memenuhi kebutuhan kamu.”
Muthia mulai tidak tahan. Emosinya juga tak dapat tertahankan. Dirinya segera berjalan dengan penuh emosi ke dalam kamarnya.
“Jika, Ibu mau memenuhi kebutuhanku, maka mundur dan biarkan orang lain yang menggantikan posisi, Ibu.” Muthia langsung membanting pintu kamar setelah selesai mengucapkan kalimatnya.
“Muthia!” tangan Fidel terangkat seraya ingin membuka paksa pintu kamar Muthia dan menampar pipi anaknya lagi.
Tiba-tiba ada seseorang yang menggenggam tangan Fidel dan menahannya. Ternyata orang itu adalah Putra.
Putra memejamkan matanya sambil menggeleng pelan ke arah Fidel. Putra kemudian meraba halus telapak tangan Fidel sambil berkata, “dia anak kita.”
Fidel terdiam sejenak dan menyadari apa yang barusan dia lakukan. Tangannya menutupi wajahnya yang perlahan mulai basah dengan air matanya. Putra pun langsung mendekatkan dirinya untuk memeluk tubuh istrinya, mendekapnya dalam hingga suara tangisan itu tidak terdengar sampai ke kamar Muthia.
Dielus kepala istrinya dengan lembut, sementara itu Fidel masih terus mengeluarkan suara tangisannya. Dekapan Putra semakin kencang saat dia merasa suara Fidel semakin kencang.
Sementara itu Muthia yang sudah berada di kamar pun juga ikut menangis. Suaranya tertahan bantal yang sengaja dia pakai untuk menutupi wajahnya. Dia menyesali perkataannya barusan. Rasanya buruk sekali setelah mengucapkan kata-kata tadi kepada ibunya.
Suasana rumah pun kini dipenuhi kesedihan yang disebabkan oleh tangisan dari kedua perempuan yang sudah saling meluapkan kekesalannya satu sama lain. Mereka berdua saling mengutuk perkataan yang tadi mereka keluarkan.