PASCA PERTENGKARAN

1311 Words
“Kamu sudah baikan?” Putra datang dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Fidel yang masih sedikit sesegukan pun hanya mengangguk pelan. Putra hanya tersenyum melihat reaksi Fidel. Putra langsung duduk di sebelah Fidel dan langsung memberikan gelas tadi kepada istrinya. Fidel menerima gelas itu, tapi dia tidak langsung meminum airnya. Dia hanya memegangnya dan kembali melamun. Putra menyentuh kepala istrinya dan mengusap dengan pelan. “Kamu kenapa? Masih kepikiran soal tadi?” Fidel hanya mengangguk pelan. Putra pun hanya menghela nafas pelan. Dia merebahkan dirinya ke sandaran sofa dan melihat kertas pernyataan lembur yang tergeletak di atas meja. Sudah tidak rapih lagi dan sedikit lecek. Mungkin akibat genggaman Muthia. Putra membaca surat itu dengan seksama. Sam seperti Muthia, Putra sedikit terkejut dengan isi yang ada di surat itu. Namun dia bersikap lebih tenang ketimbang Muthia. “Kamu Lembur?” tanya Putra pelan. Fidel hanya mengangguk pelan. “Aku belum tau tentang hal ini. Kamu baru tahu atau kamu memang berencana untuk memberitahuku?” “Aku berencana untuk memberitahu.” Putra hanya mengangguk paham. Dia menaruh kertas itu lagi ke atas meja. Putra mendekatkan posisi duduk ke arah Fidel lalu merangkul tubuh istrinya. “Lain kali, diskusikan dulu . Meskipun kita berdua sama-sama kerja, tapi setidaknya dia masih dekat denganku. Lagi pula, bukan begitu caranya berbicara dengan Muthia.” “Kamu mendengar semuanya?” Putra Hanya tersenyum kecil. “Semuanya?” “Dari saat kalian saling bertatap-tatapan saat Muthia memegang kertas itu.” Putra menunjuk kertas itu lagi. Putra pun memeluk kembali istrinya. Fidel yang sudah mulai tenang kembali pecah tangisnya mengingat apa saja yang sudah dia katakan kepada putrinya. “Apa yang harus aku katakan, Yah. Aku sudah berkata kasar padahal aku sendiri yang salah. Kalian sudah saling membuat janji buat Minggu nanti tapi aku malah mengacaukannya.” Fidel terus bergumam dalam tangisnya. Putra hanya terus memeluk istrinya sambil mengusap punggungnya. Tak lupa Putra juga menjaga agar gelas yang dipegang Fidel tidak jatuh dan tumpah. Setelah sekian lama akhirnya tangis Fidel kembali mereda. Putra pun kembali menunjuk gelas yang sudah dipegang Fidel sedari tadi. Kali ini Fidel langsung meminum air itu. Kini perasaannya sudah mulai membaik. “Sudah membaik?” Fidel hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu kamu siap siap tidur aja. Masalah Muthia nanti biar aku yang tangani. Aku yakin nanti dia pasti akan mengerti.” “Kamu yakin?” tanya Fidel. “Iya. Kamu percaya aja. Ini kan baru yang namanya tim,” ucap Putra penuh yakin sambil tersenyum. Fidel sedikit tertawa melihat tingkah Putra yang kelewat percaya diri. Dia pun beranjak pergi meninggalkan Putra duluan menuju kamar tidur. “Maaf ya. Masalahku jadi kamu yang menyelesaikannya.” “Tidak apa-apa. Lagian ini juga sudah menjadi tugasku juga.” Fidel tersenyum mendengar jawaban Putra. “Lain kali aku sendirilah yang akan meminta maaf kepadanya.” “Ide bagus, tapi jangan sampai kamu memakinya lagi,” goda Putra. Fidel yang mendengar respon itu pun hanya bisa tersenyum dan langsung menuju kamarnya. Putra masih tetap duduk di sofa dan kembali mengambil surat lembur Fidel. “Huft, lembur lagi ya.” Keluh Putra pelan. ∆∆∆ Muthia bangun pagi kali ini. Seperti biasa dia akan selalu berpapasan dengan ibunya saat di rumah. Namun, kali ini Muthia memilih untuk mengacuhkan ibunya. Suasana hatinya masih belum membaik. Putra yang baru bangun pun melihat interaksi antar keduanya. Dia tertawa melihat kecanggungan yang terjadi. Putra menghampiri Fidel dan menepuk pundaknya, memberi tanda untuk tetap diam dan membiarkan Muthia bersikap demikian. Fidel pun paham dan hanya tersenyum sambil mengangguk. Tak perlu waktu lama Muthia sudah beres dan siap untuk pergi sekolah. Saat dirinya akan berpamitan Putra menahan Muthia sebentar. “Kamu hari ini bareng ayah ya.” Muthia hanya diam sambil mengangguk. Putra pun turut pamitan dengan istrinya dan langsung berjalan menuju motor yang sudah menyala sedari tadi. Muthia naik di belakang Putra, memeluk ayahnya yang sudah siap untuk menjalankan motor keluaran 2000-an yang sudah menjadi kesayangannya. Di jalan, Muthia tidak melontarkan sepatah kata pun. Padahal biasanya saat dia dapat kesempatan untuk diantar oleh ayahnya biasanya dia akan sangat berisik sekali dengan cerita cerita yang dia ucapkan. “Mut,” panggil Putra dengan nada yang sedikit kencang. “Iya?” Muthia juga ikut menaikkan volume suaranya. “”Kamu semalam langsung tidur? Kok Ayah nggak liat kamu semalam padahal belum masuk jam tidur kamu yang biasanya.” Muthia hanya diam membisu. Dia tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. “Mut. Ayah nanya loh. Kok nggak mau di jawab?” Putra sedikit memelankan laju motornya, membuat suara bising dari angin yang berhembus tidak terlalu riuh lagi. Sekarang seharusnya Muhtia bisa menjawab tanpa harus dengan volume yang tinggi. Muthia masih diam membisu. Tidak yakin apakah dia harus cerita atau tidak karena dia tahu ayahnya pasti sudah tau. “Aku semalam sudah mengantuk, makanya aku tidur duluan.” Muthia berbohong. Putra hanya tersenyum mendengar jawaban Muthia. Dia tau putrinya sedang menghindari pertanyaan yang mengarah ke kejadian semalam. “Begitu ya. Ayah kira ada sesuatu.” Putra kembali memacu motornya seperti semula. Dia rasa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan yang sensitif kepada putrinya. Sesampainya di sekolah, Muthia segera menyalami ayahnya dan langsung pergi menuju kelasnya. Dia sedikit melempar tasnya ke kursi dan terduduk lemas sambil menaruh kepalanya bersandar di atas meja. Pandangannya kosong, menatap penjuru kelas dengan acak. Siapapun dia tatap tanpa pandang bulu. Siapa pun yang menangkap pandangan Muthia rasanya seperti mendapat pandangan penuh amarah dicampur kelesuan yang mendalam. Laila yang baru sampai pun langsung menyapa seisi kelas. Tapi sepertinya sapaannya sudah kalah oleh tatapan mengerikan Muthia. Hawa lesu mengiringi seisi kelas. Tanpa pikir panjang Laila langsung menghampiri Muthia, tapi dia langsung terkejut melihat senyuman Muthia saat menyapa dirinya. “Halo, Laila, kamu baru datang?” “Kamu Muthia?” Muthia hanya menggerakkan kepalanya sembarang arah. “Rasanya aku jadi tidak mau masuk sekolah.” Saat mengatakan hal itu, Muthia dengan cepat langsung menggenggam tas Laila, dan dengan wajahnya yang memelas membuat Laila duduk di sebelahnya. Muthia langsung menangis di pundak Laila. Laila yang terkejut hanya bisa mengelus-elus kepala Muthia. Seisi kelas yang tadinya suram kini berubah menjadi sedu dan semua orang ikut hanyut dalam kesedihan Muthia. Ada yang perlahan menghampiri Muthia, ada yang berbisik mempertanyakan soal Muthia, ada yang merasa iba dan menutup pintu agar suara tangisan Muthia tidak terdengar sampai keluar. Kebanyakan dari mereka yang perempuan menghampiri Muthia dan ikut memeluk Muthia dari segala arah. Karena merasa panas dan tubuhnya seperti banyak yang memeluk, Muthia pun berhenti sebentar dan melihat ke sekitar. Ternyata semua sudah ikut berlinang air mata. Muthia merasa heran dengan semua temannya yang justru ikutan nangis. Bahkan Laila juga ikut menangis di sampingnya. “Kalian kenapa nangis?” “Karena kamu nangis, jadi pengen ikutan nangis.” Kemudian yang lain melanjutkan aksi menangis mereka yang tanpa sebab, sampai akhirnya guru pelajaran pertama pun datang dan mengakhiri kegiatan tangis menangis itu. ∆∆∆ “Kamu kenapa tadi nangis?” Laila yang sedang memperhatikan guru sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Muthia. “Nggak kenapa kenapa,” jawab Laila singkat. “Tadi pas kamu nangis sebenarnya aku nggak nangis. Tapi tiba-tiba yang lain pada meluk terus ikutan nangis. Karena nggak kuat jadi aku ikutan nangis deh.” Muthia memasang muka datar. Reaksinya membuat Laila menjadi penasaran dan menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan olehnya. “Kamu kenapa sih hari ini? Kayaknya ada sesuatu ya?” Muthia terdiam sebentar. Dia memastikan guru masih terus mengajar di depan kelas sehingga dia bebas untuk bercerita. Muthia mengajak Laila untuk menunduk. Lalu Muthia mulai menceritakan yang terjadi antara dirinya dan ibunya semalam. Laila hanya mendengarkan sepanjang Muthia bercerita. Saat ceritanya sudah selesai Laila langsung menggeser bangku mendekati Muthia dan perlahan kembali mendekap kepala sahabatnya ke pelukannya. “Sabar ya, mungkin sekarang memang lagi sibuk-sibuknya. Nanti juga pasti ada waktu buat bareng kok.” Muthia hanya mengangguk pelan. Kali ini dia tidak menangis agar semua tidak berkerumun lagi memeluk dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD