BERTEMU KEMBALI

1524 Words
Hari Minggu pun tiba. Hari dimana Putra—ayah Muthia—menepati janjinya untuk meliburkan diri. Putra mengawali harinya dengan membuat sarapan untuk dirinya dan Muthia. Muthia bangun dan segera berjalan menuju dapur. Dilihat ayahnya yang sedang sibuk membuat nasi goreng dengan wajan yang lumayan besar. Cukup banyak untuk dimakan berdua. Muthia duduk di meja makan. Menunggu sarapan jadi. Kepalanya diletakkan di atas tangan yang sudah disilangkan diatas meja. Putra melihat ke arah putrinya. Wajahnya tidak ada tanda-tanda bahwa dia bersemangat menjalani hari. Sudah sejak kemarin Muthia seperti itu. Dia harap kali ini Muthia mau menceritakan sesuatu kepadanya, terutama soal pertengkaran tempo hari dari sudut pandang Muthia. "Muthia, ayo makan," ajak Putra. Kepala Muthia terangkat. Dilihatnya sepiring penuh nasi goreng sudah ada di depan matanya. Muthia hanya diam. Diambilnya sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Enak," komentar Muthia. "Bagus deh kalau enak," timpal Putra. Mereka makan sampai habis. Putra sampai nambah dua kali, sementara Muthia tidak nambah. Setelah selesai makan Muthia segera pergi menuju ruang tengah, menyalakan televisi dan menontonnya dengan tatapan kosong. "Muthia," tegur Putra sambil menghampiri Muthia. "Ayah kan sudah ada di rumah, kenapa sekarang kamu malah memasang wajah cembetut?" Muthia hanya diam. Dia mengganti Chanel televisi. Tak berselang lama dia menggantinya lagi. Terus berulang sehingga tak tahu apa yang sedang dia tonton. "Muthia, kamu tidak ingin berbicara dengan Ayah?" Ujar Putra. Muthia merasa tidak enak dengan ayahnya. Jumat kemarin ayahny sudah sampai mengantarnya hanya untuk menjadi pendengar yang baik baginya, tapi sampai sekarang pun dia tidak berbicara sepatah kata pun. Muthia yakin ayahnya pasti mengerti dengan perasaannya. Itu karena selama ini ayahnya sendiri lah yang selalu menemaninya saat sedang gundah. Tapi entah kenapa untuk masalah kemarin Muthia lebih memilih untuk bercerita dengan Laila ketimbang ayahnya sendiri. “Aku ingin, Ayah di rumah,” jawab Muthia pelan. “Tapi aku juga ingin ibu di rumah, bukan Cuma, Ayah.” Muthia mulai berbicara sekarang. Tapi sepertinya masih tidak mau menyinggung soal pertengkaran waktu itu. Putra hanya diam. Dia merasa Muthia akan mengeluarkan semua keluh kesahnya kali ini. Sudah dari kemarin dia menunggu momen ini. "Aku ingin kita bertiga kembali bersama, tidak ada yang sibuk sendiri. Sudah lama semenjak terakhir kali kita punya waktu luang seperti ini." Mata Muthia mulai berlinang. Suara sesegukan perlahan mulai terdengar dari mulut Muthia. Putra masih menahan diri, menunggu waktu yang tepat untuk merespon ucapan Muthia. "Dan setelah aku bersusah payah untuk membuat ayah di rumah, bahkan kata-kata yang kuucapkan kemarin itu, aku meminta saran dari temanku. Tapi setelah semua itu, giliran ibu yang pergi." Tangis Muthia mulai pecah. Air mata keluar dengan deras. Putra dengan cepat segera mendekap Muthia dal pelukannya. "Kenapa ini semua rasanya sangat sulit? Padahal aku hanya ingin kita bertiga bisa bersama-sama kembali." Tangis Muthia bertambah deras. Putra hanya bisa mengusap punggung anaknya. Tangis Muthia bertambah keras, semakin erat pelukan Muthia ke ayahnya. Putra hanya terus memeluk tubuh Muhtia. Dia merasa hal ini rasanya seperti de javu. 2 hari lalu dia harus menenangkan istrinya, sekarang giliran putrinya yang harus ditenangkan. "Muthia," ucap Putra setelah tangis anaknya mulai mereda. "Ayah pergi kerja karena Ayah tulang punggung tulang keluarga. Ayah wajib memenuhi kebutuhan keluarga Ayah, yaitu kamu dan juga Ibu." "Ayah pergi bekerja, lalu kenapa ibu juga pergi bekerja? Bukankah ayah saja sudah cukup?" "Itu sudah menjadi keinginan ibumu. Bukan berarti ibu tidak menginginkanmu, tapi itu karena dia ingin kebutuhan kamu benar-benar tercukupi." Putra melepaskan pelukan putrinya. "Ingat tidak saat ibu sering membawa kamu ke tempat kerjanya, lalu kamu bermain di sana bahkan sampai merepotkan Ibu yang masih bekerja?" Muthia mengangguk, kali ini dia sudah mulai tenang. "Itu artinya dia sayang sama kamu. Kalau ibu tidak sayang, bisa saja dia menyewa pengasuh bayi dan membiarkan kamu di rumah." "Sekarang kamu paham kan kenapa Ibu harus pergi kerja hari ini? Itu semua dilakukan demi kamu." Muthia hanya mengangguk. Dia menerima dengan yang dikatakan ayahnya, tapi masih ada yang mengganjal di dalam hatinya yang membuatnya masih tidak menerima kepergian Ibunya. "Sekarang ayah ada di rumah. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kan kita akan berdiam diri saja tanpa melakukan sesuatu?" Putra menawarkan untuk pergi keluar, karena sesuai dugaannya akan cukup canggung jika sesudah membahas hal ini dan mereka berdua masih tetap berdiam di dalam rumah. Dia sudah merencanakan beberapa tempat untuk dikunjungi, tapi itu bisa saja berubah jika putrinya meminta untuk ke tempat lain. Muthia mengelap wajahnya yang basah oleh air mata. Dirinya sedikit berpikir. Tadinya dia ingin mereka bertiga bermain bersama di dalam rumah. Tapi karena Fidel pergi, rasanya tidak mungkin jika hanya berdua di rumah. "Bagaimana kalau kita ke toko buku, Yah?" tawar Muthia. "Toko buku ya, nggak biasa jadi tawaran pertama." “Aku rasa aku hanya ingin ke toko buku saja. Sudah cukup lama aku tidak ke sana.” Muthia berusaha meyakinkan Ayahnya, yang juga sebenarnya meyakinkan dirinya sendiri agar mau pergi keluar. Sejujurnya, Muthia sedang tidak dalam mood untuk pergi ke suatu tempat. Tapi karena Ayahnya yang menawarkan, Muthia lebih memilih untuk ikut pergi. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. "Kalau begitu Ayah siap-siap terlebih dahulu. kamu juga siap-siap, Ayah akan tunggu di mobil nanti." Muthia hanya mengangguk . Dia pun masuk ke kamarnya, memilih baju yang ingin dipakai, lalu segera menggantinya. Tak lupa dia mengambil ponsel dan juga tas kecil miliknya yang biasa dipakai untuk menaruh ponsel. Muthia bergegas menuju ke teras rumah. Di sana ayahnya sudah siap di dalam mobil. Muthia pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah bangku kemudi. Tak lama, keduanya sudah berada berjalan menuju toko buku terdekat. ∆∆∆ "Kamu tidak yakin ingin Ayah temani masuk?" Mereka sudah sampai di parkiran toko buku. Muthia langsung pergi keluar meninggalkan ayahnya yang masih sibuk dengan beberapa barang. Mendengar pertanyaan ayahnya Muthia hanya menggeleng. Dia ingin mencari buku yang dia inginkan sendirian. "Ayah boleh ikut, tapi Cuma sampai pintu luar," kata Muthia sambil sedikit ttetawa Putra ikut tertawa. Dia senang sekarang putrinya sudah mulai membaik sekarang. Setidaknya raut wajah menyedihkan sudah tidak ditampakkan oleh Muthia. Putra pun keluar dari mobil, segera menyusul dan berjalan di samping Muthia. Muthia yang melihat Putra yang kini di sampingnya tanpa basa basi langsung memegang tangan ayahnya. “Tumben kamu pegang tangan, Ayah.” “Iya dong. Nggak boleh emang?” Putra tertawa saat Muthia menjawab pertanyaannya. Tingkah Muthia sekarang seperti anak kecil. Entah memang perasaan atau entah apa, sepertinya dia merasa Muthia sedang melepas segala kerinduan terhadap dirinya. “Lain kali mau jalan sama, Ibu?” Muthia mendadak terdiam saat Putra memberikan tawaran tersebut. Entah kenapa dia merasa bahwa hal seperti itu akan sulit terjadi. Kenyataan hari ini ibunya lebih memilih untuk kerja adalah satu-satunya bukti bahwa hal itu akan sulit terwujud. “Tenang saja, kali ini Ayah yang akan mengajak, Ibu. Ini janji Ayah kepada Tuan Putri Muthia.” Muthia hanya tersenyum mendengar jawaban ayahnya. Dia menempelkan pundaknya ke lengan ayahnya. Tubuh Putra cukup tinggi sehingga Muthia hanya bisa menempelkan kepala di lengan atas Putra. Sifat manja Muthia kini sudah mulai terasa seperti anak tunggal pada umumnya. “Sebenarnya aku sudah tidak apa-apa. Cuma Ayah saja di sini aku sudah senang. Tapi kalau Ayah sampai ngomong seperti itu, ya... aku hanya bisa senang. Karena orang tuaku lengkap dan semuanya mau mengambil libur untuk ada di dekat aku.” Putra tersenyum mendengar jawaban bijak dari anaknya. Dia pun mengusap kepala anaknya yang masih saja menempelkan pundak dengan lengannya. "Putri Ayah dudah besar rupanya," balas Putra sambil sedikit tersenyum penuh arti. Muthia tertawa kecil. "Iya dong, Yah, kan anak, Ayah." Mereka berjalan sampai depan toko buku yang Muthia maksud. Mereka pun berpisah di sana. Putra memutuskan untuk pergi ke area makanan dan minuman untuk menghabiskan waktu sembari menunggu putrinya. Muthia segera memasuki toko buku begitu berpisah dengan ayahnya. Dia berjalan berkeliling toko buku. Ada banyak sekali buku yang tidak dia ketahui. Mulai dari novel aksi hingga misteri, semuanya baru pertama kali dia lihat. Ada beberapa buku yang Muthia tahu, tapi dia tidak memiliki buku itu. Sebagian besar yang dia tahu adalah buku yang dimiliki temannya atau yang pernah dia lihat di perpustakaan sekolahnya. Muthia masih terus berkeliling tanpa tujuan, melihat sekeliling sampai dia berhenti dan menatap satu buah buku yang cukup menarik perhatiannya. Buku itu adalah buku tentang kekuatan gaib. Muthia mengambil buku itu dan melihatnya sekilas. Ada satu kata yang membuatnya sedikit tertarik dengan buku itu, kata itu adalah ‘telekinesis’. Muthia melihat buku itu dengan seksama, sampai akhirnya ada yang menepuk pundaknya dan memecah perhatiannya. “Kamu di sini juga Muthia.” Muthia segera menoleh ke belakang dan ternyata orang itu adalah Ridwan. Ridwan yang melihat reaksi terkejut Muthia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. “Kamu tertarik dengan kekuatan magis?” tanya Ridwan sambil menunjuk buku yang dipegang Muthia. “Ah... nggak kok. Kebetulan aku hanya melihat buku ini dan aku hanya membacanya sebentar.” Muthia dengan terburu-buru menaruh kembali buku yang tadi dia pegang kembali ke raknya. “Kamu yakin tidak tertarik? Padahal di dalamnya ada info tentang telekinesis loh.” Muthia langsung mematung saat mendengar ucapan Ridwan. Seakan-akan kalimat barusan adalah sebuah pertanda bahwa dia harus mulai berhati-hati dengan Ridwan. Entah bagaimana, Ridwan sepertinya tahu bahwa Muthia tertarik dengan telekinesis yang terdapat di buku itu. “Maaf?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD