“Maaf?”
Muthia mulai waspada terhadap Ridwan. Dia mulai melangkah mundur secara perlahan menjauhi Ridwan.
“Kamu tau, menurutku semua orang ingin punya kekuatan telekinesis. Kekuatan itu bisa menggerakkan semua bend tanpa harus menyentuhnya. Kamu tau kan kekuatan telekinesis?”
Muthia berhenti melangkah, berusaha mencerna maksud sebenarnya dari kalimat Ridwan. Rasanya seperti dia sedang diperdaya dengan kata-kata yang dipotong agar memiliki makna ganda.
Muthia berhenti melangkah. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, tapi setidaknya menurutnya itu sudah jarak yang cukup agar tidak terlalu dekat dengan Ridwan.
“Aku nggak begitu mengerti apa yang, Kak Ridwan maksud. Aku juga baru pertama kali tau kekuatan itu.”
Muthia menjawab sebisa mungkin.
“Oh begitu. Kukira kamu sudah tau.”
Ridwan berjalan mendekati Muthia, memperpendek jaraknya dengan Muthia. Muthia yang menyadari hal itu langsung menghentikan langkah Ridwan.
“Tolong, Kak, jangan mendekat,” ucap Muthia sedikit keras.
“Kenapa?”
“Aku hanya sedikit tidak nyaman saja saat dikejutkan seperti tadi, aku masih belum biasa yang seperti itu. Jadi tolong, jangan mendekat.”
Muthia berbohong. Kalimat tadi hanyalah dusta agar dia bisa menjaga jarak dengan Ridwan.
Ridwan yang mendapat respon seperti itu hanya bisa menghentikan langkahnya dan diam di tempat. Dia pun memulai pembicaraan basa basi lagi.
“Kamu berniat membelinya?”
“Aku tadi sudah bilang kalau aku hanya melihat buku itu sebentar. Aku tidak ada niat untuk membelinya.”
Muthia mulai merasa tidak nyaman. Ingin sekali rasanya dia mulai berlari dan Meninggalkan Ridwan begitu saja.
Muthia mulai berjalan mundur lagi, kali ini langkahnya sudah siap untuk pergi dari hadapan Ridwan. Muthia sudah menyiapkan alasan agar tidak menyinggung perasaan Ridwan.
“Aku mau pergi ke...”
Ucapan Muthia terhenti saat punggungnya terasa menabrak seseorang di belakangnya. Badannya bertubrukan dan membuat Muthia dan juga yang dia tabrak terkejut.
“Maaf aku tidak sengaja,” ucap Muthia spontan.
Muthia menunduk sebentar untuk merapihkan pakaiannya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang dia tabrak. Alisnya mengkerut saat dia tahu ternyata yang dia tabrak adalah Fuse.
“Pak Fuse?”
“Muthia?”
“Kenapa, Bapak di sini?”
Muthia spontan bertanya kepada Fuse dengan sebutan ‘Pak’. Fuse yang mendengar sebutan itu ikut mengkerutkan dahinya sambil menyeringai kecil.
“Tolong jangan diulang untuk memanggil saya ‘pak’ ya.”
“Saya tadi hanya refleks memanggil anda ‘pak.’”
“Tidak apa-apa,” sambung Fuse singkat. “Kamu di sini sama siapa? Tadi saya dengar suara kamu agak keras makanya coba cari kamu.”
“Oh itu. Tadi saya ngobrol sebentar sama kenalan saya namanya Rid...”
Muthia menjawab sambil membalik badannya. Betapa herannya dia saat dia sadari ternyata Ridwan sudah tidak berada di hadapannya lagi.
“Siapa tadi namanya?” tanya Fuse penasaran.
“Ridwan, namanya Ridwan. Dia tadi berdiri di sini di depan saya tepat di sini, tapi sepertinya dia sudah pergi ke tempat lain.”
Fuse hanya terdiam mendengar jawaban Muthia. Nama yang barusan dia dengar terasa tidak asing di telinga.
“Namanya Ridwan? Kamu yakin?”
Tanya Fuse memastikan seuatu.
Muthia mengangguk dengan pasti. Dia lalu menjelaskan postur tubuh Ridwan semampu dia.
“Dia berbadan tinggi, rambutnya pendek rapih, dan masih SMA saya rasa.”
Fuse terdiam sebentar, berusaha mengingat-ngingat postur tubuh Ridwan versi yang dia kenal. Fuse lalu mengeluarkan ponselnya, namun masih tetap dalam genggamannya.
“Kamu sibuk setelah ini?”
Muthia menggelengkan kepalanya. Fuse pun tersenyum lalu mengajak Muthia untuk pergi dengan dirinya sebentar.
“Kamu mau ikut saya sebentar? Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu. Hanya kita berdua, tentu saja tidak di tempat seperti ini.”
Muthia hany mengangguk setuju. Mereka pun keluar dari toko buku, mencari sebuah tempat yang cocok untuk ngobrol berdua. Mereka segera menuju foodcourt yang tak jauh dari sana.
“Bisa kamu sebutkan lagi bagaiman ciri-cirinya tadi?”
“Dia berbadan tinggi, rambutnya pendek rapih, dan masih SMA saya rasa.” Muthia mengulangi kalimatnya sama persis seperti yang sebelumnya dia ucapkan.
“apakah wajahnya persis seperti ini? Dia yang ada di sebelah kiri.”
Fuse menunjukkan foto dari ponsel yang sedari tadi dia pegang. Di foto itu terdapat foto dua orang yang sedang berpose di sebuah acara di semua SMP.
“Iya, persis seperti ini. Kata temanku juga bilang kalau Kak Ridwan itu kakak kelasku selisih 2 tahun. Tapi aku merasa tidak pernah melihat dia sama sekali di sekolah.”
Fuse semakin terdiam mendengar jawaban Muthia. Tidak dia sangka kalau ternyata orang yang dia kenal juga di kenal oleh Muthia. Dalam benak Fuse ini sangat membantunya.
“Ngomong-ngomong, yang disebelah ini siapa?”
Muthia mempertanyakan orang yang berada di sebelah Ridwan. Dengan percaya dirinya, Fuse menunjuk dirinya sambil berkata dengan lantang. “Itu saya!”
“Okeee, tidak heran jika anda terlihat terlalu percaya diri saat anda memperkenalkan Proteen kepada saya.”
Fuse tersenyum dengan wajah bodoh. Kini Muthia mulai sedikit akrab dengan Fuse. Dia melancarkan pertanyaan lagi kepada Fuse.
“Jadi Ridwan itu murid anda?”
“Murid?” Muthia hanya mengangguk.
“Dia itu teman saya, teman waktu saya SMP.”
Muthia terkejut bukan main. Pantas saja dia menolak untuk dipanggil ‘Pak’, itu karena usianya memang tidak jauh beda dengan Muthia.
Fuse masih saja tersenyum dengan wajah bodoh. Kali ini dia merasa menang setelah memberitahu informasi itu. Sudah jelas ‘bapak’ bukanlah suatu kata yang tepat untuknya.
“Oke, seperti biasa, kita cukupi dulu basa-basinya. Tadinya aku yang ingin banyak tanya terhadapmu tapi yang terjadi malah sebaliknya.”
Muthia hanya tersipu malu saat mendengar perkataan Fuse. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa menjadi seperti itu. Rasanya seperti bertemu dengan kenalan lama.
Fuse pun kembali melihat ke ponselnya, mengetik beberapa nomor lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Saya permisi sebentar ya?”
Muthia hanya mengangguk. Dia pun memilih diam demi menghormati Fuse yang sedang menghubungi seseorang.
“Epa, bisa kamu lacak perimeter kekuatan di sekitar tempatku?” tanya Fuse begitu terhubung.
Muthia hanya melihatnya keheranan. Dia pun memberanikan untuk bertanya apa yang dikatakan Fuse barusan.
“Itu tadi apa?” tanya Muthia.
“Saya meminta teman saya untuk melacak orang dengan kekuatan spesial di sekitar sini. Karena orang yang barusan kita bicarakan memiliki kekuatan untuk menghilang diri dari orang lain.”
“A... Apa artinya itu?”
“Artinya dia memiliki kekuatan transparant human, atau mudahnya disebut invisible.”
“Maksudnya Kak Ridwan juga punya kekuatan super?”
Fuse hanya diam mengangguk. Dia sudah menduga bahwa Muthia tidak menyadari hal itu. Fuse menganggapnya wajar karena mungkin ini pertama kalinya Muthia bertemu dengan orang-orang super lainnya.
“Jika aman maka disekitar sini seharusnya hanya ada ada kamu dan aku.” Fuse masih menunggu info dari temannya. Tak lama ponsel Fuse berdering dan dia segera membukanya.
“Yup, kita aman. Hanya ada kita berdua yang memiliki kekuatan di sekitar sini,” ucap Fuse setelah melihat ponselnya.
“Anda juga memiliki kekuatan?” tanya Muthia penasaran.
“Tentu saja. Jika tidak, tidak mungkin aku berani menemuimu hanya sendirian. Meskipun kamu pemula aku juga harus tetap waspada.”
Fuse kembali memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya, membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak, tidak santai seperti tadi.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau Ridwan juga memiliki kekuatan super. Karena kamu sudah lebih dulu mengenalnya makany aku hanya bisa mengatakan hal ini kepadamu.”
Muthia juga ikut membenarkan posisi duduknya. Sekarang kupingnya sudah dipasang dengan benar agar bisa mendengar lebih fokus lagi.
“Berhati-hatilah dengan Ridwan. Kekuatan dia cukup spesial dan bukan hanya menghilang seperti yang kamu bayangkan.”
“maksudnya?”
“Kekuatannya termasuk mengerikan. Dia bisa memilih orang yang tidak bisa melihat tubuhnya.”
“Artinya?”
“Artinya dia bisa saja berada di samping kita tanpa kita sadari, tidak terlihat oleh kita padahal orang lain melihat dia ikut duduk bersama dengan kita.”
Muthia terkejut mendengar perkataan Ridwan. Dengan sigap Muthia melihat sekeliling dengan waspada takut-takut jika Ridwan melihat dirinya dari kejauhan.
“Tenang saja, dia tidak ada di sini sekarang. Itulah kenapa tadi aku meminta temanku untuk mengecek apakah ada orang berkekuatan super selain kita berdua.”
“Jadi maksud telepon tadi untuk ini?”
Fuse mengangguk pelan. Fuse pun mengeluarkan sejenis kancing baju dari dalam saku bajunya dan memberikannya kepada Muthia.
“Untuk sekarang pakailah ini. Ini bisa membantu kamu untuk melacak Ridwan jika ada di dekat kamu. Setidaknya ini bisa membantu kamu lebih waspada lagi.”
Muthia menerima kancing baju itu. Dia segera menyimpannya baik-baik agar tidak hilang.
“Ada lagi yang ingin disampaikan?”
Muthia melihat ke layar ponselnya. Sepertinya ini sudah cukup lama untuknya berpisah dengan Putra. Rasanya masih ada tempat lain yang bisa dia kunjungi hari ini selain toko buku saja. Itu pun ayahnya tidak dia ajak untuk masuk ke dalam.
“Ada lagi. Di kancing tadi kamu bisa langsung menghubungi aku. Kamu cukup cari tahu sendiri saja, soalny aku sendiri lupa bagaimana cara mengaktifkannya. Tenang saja, tidak mudah rusak mau diutak Atik seperti apapun.”
Sebenarnya dia tidak ingin memberitahu hal itu, tapi dia terpaksa. Lagipula lambat laun Muthia akan segera masuk ke dalam organisasinya.
Muthia hanya mengangguk. Dia merasa sedikit lega, setidaknya sekarang dia tahu siapa Ridwan sebenarnya dan sedikit bisa menjaga dirinya.
Muthia pun pamit, karena merasa sudah cukup dengan informasi yang didapatnya. Muthia segera pergi dan menelepon ayahnya.
Fuse hanya tersenyum ke arah Muthia. Dia terus melihat Muthia sampai dia merasa bahwa Muthia sudah cukup jauh.
Fuse mengambil kembali ponselnya dan kembali menelepon ke nomor yang tadi dia telepon. Tak butuh waktu lama panggilan segera terhubung.
“Ada apa lagi kali ini,” celetuk orang diseberang saat panggilan terhubung.
“Jangan jutek seperti itu,” jawab Fuse dengan nada santai.
“Kurasa kali ini kita menemukannya.” Epa diam kebingungan dengan yang Fuse ucapkan.
“Siapa?” tanya Epa langsung.
“Ridwan. Setelah dua tahun menghilang akhirnya dia muncul kembali.”